Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 46 Rindunya Putra


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh semua orang, berada hampir 2 pekan di Rumah Sakit rasanya merupakan hal yang sangat menguras tenaga, pikiran, dan juga materi. Ibu Saidah sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.


Semua barang dan perlengkapan sudah dikepak dan diatur rapih oleh Marwah dan juga Risma. Ya, sejak setelah operasi pengangkatan serviks itu Putra harus kembali ke ibu kota karena urusan bisnis yang tidak bisa ia tinggalkan. Jadi Risma lah yang ikut menemaninya di rumah sakit selama itu.


"Alhamdulillah, ibu sudah bisa pulang dan menghirup udara kampung kita lagi," ujar Marwah setelah memakaikan pakaian yang bagus untuk sang ibu.


"Iya nak. Alhamdulillah. Allah masih memanjangkan umur ibu."


"Iya Bu. Allah maha penyayang," sahut Risma seraya mendudukkan tubuhnya di kursi dekat ranjang ibu Saidah. Rupanya ia lelah juga setelah mengatur barang yang begitu banyak itu. Satu botol air mineral dingin ia teguk dengan sangat rakus sampai bunyi tegukannya cukup membuat suasana sepi di kamar itu jadi berwarna.


Glek


Glek


Glek


"Duh kayaknya haus banget nih," tegur Marwah tersenyum.


"Iya nih. Gimana tidak, barang-barang di kamar ini seperti orang habis pindahan rumah. Baru kali ini aku lihat orang nginap di rumah sakit sampai bawa kasur dan bantal seperti ini. Hadeeh," jawab Risma dengan mata memandang barang-barang yang sudah ia rapikan.


"Itu karena mas Putra gak bisa tidur kalau gak ada kasur dan bantal. Untungnya pacarmu itu memberi banyak keringanan sama kita. Jadi bisa deh kita bawa semua tanpa ada protes dari pihak rumah sakit," ujar Marwah seraya mengedipkan matanya sebelah.


"Ih pacar konon. Pacar apa pula? Aku sama pak dokter itu gak ada hubungan apa-apa kok," senyum Risma dengan pipi menghangat malu.


"Duh gak mau ngaku, Padahal pak dokternya udah berani nelpon si bapak di kampung, hehehe," Marwah terkekeh menggoda sahabatnya itu.


"Udah ah, malu tauk," ujar Risma seraya mengibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Nanti pulangnya kita kemana nih Bu?" tanya Risma mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin dikerjai oleh Marwah. Sejak kemarin ia ingin menanyakan hal ini pada dua orang itu.


"Maunya sih pulang ke rumah sendiri tapi mas Putra ngelarang. Katanya lebih bagus dan nyaman di rumahnya." Marwah menjawab dengan tarikan nafas berat. Sungguh, ia tidak mau merepotkan lagi keluarga suaminya tapi karena ini permintaan Putra sendiri ia jadi harus mengikutinya.


"Aku sih lebih mau tinggal di rumah sendiri. Akan tetapi rumah itu pasti sangat kotor sekarang. Dua pekan kita disini pastinya ada banyak debu dan sampah disana."


"Iya, kita numpang aja dulu di Rumah Mita, nanti kamu dan Risma kembali 'kan ke rumah untuk membersihkannya. Setelah itu barulah kalian bawa ibu ke tempat tidur ibu sendiri." Saidah pun ikut memberikan idenya.


"Ah iya ibu, itu adalah ide yang sangat bagus." Marwah dan Risma saling mengangkat jempol mereka berdua kemudian tersenyum.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Marwah melihat handphonenya dan melihat kalau Putra Adam Wijaya, sang suami yang meneleponnya.


"Assalamualaikum mas," ucapnya mendahului pria yang mulai mampu menguasai isi hatinya itu.


"Waalaikumussalam warahmatullahi. Gimana kabarnya ibu?" tanya sang suami dari ujung telepon.


"Alhamdulillah baik mas."

__ADS_1


"Jadi pulang hari ini?"


"Iya mas. Tinggal nunggu kang Udin aja sih."


"Oh gitu? Administrasi udah selesai belum?"


"Udah mas. Dan aku minta maaf ya, karena uang mas aku habiskan banyak sekali." Marwah langsung merasa sangat tidak nyaman karena telah menguras isi kartu ATM suaminya hampir tak bersisa.


"Ya gak apa-apa. Itu artinya uangnya tuh bermanfaat daripada disimpan di dalam bank saja."


"Iya Mas. Terimakasih banyak."


"Iya. I Miss you, sayang," ujarnya dengan sangat pelan bagaikan bisikan. Marwah langsung tersenyum dengan dada berdebar bahagia.


"Miss you too," balas Marwah dengan suara malu-malu. Alhasil Saidah dan Risma langsung berdehem membuat Marwah jadi malu sendiri.


Pria itu benar-benar ingin menelan istrinya hidup-hidup saking rindunya ia pada istrinya yang sana cantik itu. Untungnya ia tidak menghidupkan loud speakernya hingga suara suaminya tidak terlalu kedengaran.


"Marwah, aku ingin itu sayang. Bisa gak sih kamu masuk ke kamar mandi dulu. Aku ingin vitamin mata agar aku bisa semangat bekerja." Putra merajuk dengan sangat manja.


Bulu kuduk istrinya langsung meremang sempurna. Ia tidak tahu apa yang diinginkan suaminya sampai menyuruhnya ke kamar mandi segala.


"Mas udah ah, malu banget tahu. Risma sama Ibu pada senyumin kita nih." Marwah berucap seraya menyentuh pipinya yang semakin menghangat.


"Iya deh, aku tutup telponnya. Tapi kirimkan aku fotomu saja sayang yang sedang itu ya," ujar Putra lagi dengan hasrat liar dari dalam dirinya. Sungguh, ia sangat merindukan istrinya saat ini.


"Iya mas. Bentar ya. Aku tutup dulu telponnya."


"Iyaa sayang. Aku tunggu ya. Salam sama ibu. Bilangin aku minta maaf karena gak bisa jemput dan pulang bersama."


"Hum, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam.


Tut


Panggilan telepon itu pun terputus dan membuat Risma dan Saidah kembali ke mode polos tak berdosa karena telah menguping pembicaraan sepasang pengantin baru itu.


"Hey ada apa?" tanya Marwah pada dua orang perempuan itu dengan wajah bingung.


"Gak ada apa-apa kok iyya kan Bu?" jawab Risma seraya menatap wajah Saidah.


"Ya udah." Marwah pun berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah kamar mandi untuk memenuhi permintaan suaminya. Perempuan cantik itu membuka hijabnya dan memotret dirinya kemudian mengirimkannya pada suaminya.


Tring.


Sebelum Marwah keluar dari kamar mandi itu sebuah pesan balasan langsung masuk ke nomornya lagi.


Aku mau dua squisy mu sayang, yang agak terbuka, aku rindu sekali sama rasa lembutnya.


"Ya ampun mas, aku malu," ujar Marwah dengan suara pelan nya. Meskipun ia berada di dalam kamar mandi, ia tetap merasa malu juga.

__ADS_1


Tring


Satu lagi pesan masuk dari suaminya yang langsung membuat dadanya semakin berdebar kencang.


Kirim sekarang sayang, aku rindu sekali.


Marwah pun segera membuka pakaian bagian atasnya dan mengarahkan kamera pada miliknya yang sangat dirindukan oleh suaminya itu.


Dalam hati ia membujuk dirinya kalau ini bukanlah dosa karena ia melakukannya untuk seseorang yang halal buatnya.


Cekrek


Ia pun mengirim gambar-gambar dalam berbagai pose yang ia yakin suaminya pasti akan sangat senang melihatnya.


Tring


Makasih Marwah ku sayang. Biar ini yang akan jadi pengobat rinduku padamu. Love you 😚😘


Marwah tersenyum senang. Ia pun memakai pakaiannya lagi dan langsung keluar dari kamar mandi itu.


"Lama banget sih di dalam?" tanya Risma yang sejak tadi berdiri di depan kamar mandi.


"Ya boleh dong lama. Ngapain sih ganggu aja," jawab Marwah dan langsung pergi dari hadapan sahabatnya itu.


Dan ternyata di dekat ranjang ibunya, dokter Abdillah sedang duduk dan mengobrol dengan sang Ibu.


"Selamat ya karena ibu akan pulang hari ini. Tapi kami masih menunggu kunjungan ibu untuk kontrol hasil operasinya. Jadwalnya ada disini ya Bu," ujar sang dokter sambil menunjuk tanggal atau jadwal kontrol berikutnya."


"Iya dokter terimakasih banyak." Saidah menjawab dengan senyum penuh syukur diwajahnya.


"Iya Bu sama-sama. Setelah kontrol nanti akan ada jadwal untuk Radioterapi dan kemoterapi," ujar Abdillah lagi dengan senyum diwajahnya.


Radioterapi, Pada tahap ini, tubuh akan dipaparkan dengan radiasi. Jika kanker sudah masuk tahap lanjut, radioterapi dengan kemoterapi akan menjadi rekomendasi guna mengurangi pendarahan serta rasa sakit pasien.


Kemoterapi selalu dikombinasikan dengan radioterapi dalam menangani kanker serviks. Metode ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan sel kanker.


"Makasih banyak atas bantuannya selama ini dokter," ujar Marwah pada sang dokter yang sejak awal mereka bertemu sudah menunjukkan keramahan layaknya keluarga ataupun sahabat.


"Sama-sama," balas dokter itu dengan tatapan mata ke arah gadis yang selama ini telah mencuri perhatiannya.


Risma yang mendapati dirinya ditatap seperti itu oleh sang dokter langsung merasa grogi sendiri. Ia jadi salah tingkah dan tak bisa bergerak dengan bebas.


"Ekhem." Marwah sengaja menggoda keduanya dengan berdehem. Alhasil tatapan kedua muda-mudi itu langsung terlepas dengan dada yang sama-sama berdebar.


"Aku akan datang menemui orang tuamu Ris, aku ingin melamar kamu."


"Uhukkk uhukkk uhukkk " Marwah langsung terbatuk-batuk mendengarkan perkataan dokter yang langsung tanpa basa-basi itu. Sedangkan Risma langsung merasakan dadanya sesak tak bisa bernafas.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2