
Marwah Jingga segera menghampiri ranjang sang ibu setelah Putra Adam Wijaya pergi ke Masjid komplek Rumah Sakit. Ia menatap wajah sang ibu yang sedang terlelap dengan dada menghangat.
Wajah kurus dan keriput perempuan yang telah melahirkannya itu tampak semakin mengkhawatirkan perasaannya. Ia tak sadar meneteskan air matanya.
Ibu, semoga kamu tetap bersabar menghadapi ujian ini. Engkau adalah ibu terbaik yang aku miliki di dunia ini.
Ya Allah, angkatlah penyakitnya, ringankanlah penderitaannya. ampunkan segala dosa dan kesalahannya selama hidupnya.
"Marwah, apakah sudah masuk waktu sholat nak?" Perempuan cantik berhijab itu tersenyum kemudian menyusut airmatanya. Ibunya telah bangun dan melihatnya kembali menangis.
"Iya ibu. Sholat magrib dah masuk. Apakah ibu ingin sholat?" tanyanya pada sang Ibu.
"Iya Marwah. Ibu ingin sholat nak."
"Tapi ibu sedang berdarah, jadi ibu berzikir saja ya," ujar Marwah seraya mengelus tangan keriput perempuan tua itu. Saidah mengangguk setuju. Ia pun mulai menyebut kalimat-kalimat yang bisa mengingatkannya pada sang maha pencipta.
"Teruslah berzikir untuk mengingat kekuasaan Allah ibu, insyaallah bisa jadi penyembuh saat hati sedang galau dan resah."
"Iya nak."
"Aku sholat dulu ya Bu. Waktu magrib sebentar lagi berlalu."
"Ah iya sholatlah. Tapi kemana suamimu nak?" tanya Saidah seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar itu.
"Mas Putra lagi ke Madjid untuk sholat magrib ibu. Apakah ibu mau makan sesuatu? Sebelum ia kembali ke kamar ini. Aku bisa menghubunginya Bu."
"Tidak sayang. Ibu tidak membutuhkan apapun. Kamu sholatlah, ibu akan membaca doa ini dulu." Saidah mengangkat sebuah buku kecil yang ia simpan di bawah bantalnya.
Marwah tersenyum saja kemudian segera menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar perawatan itu untuk bersuci dan sholat magrib.
Doa panjang terus ia panjatkan agar Tuhan berkenan mengampuni dosanya dan dosa kedua orangtuanya.
Gadis berusia 18 tahun itu menyudahi waktunya dengan Tuhannya setelah ia mendengar pintu kamar yang ia tempati ini terbuka dari luar.
"Pasien atas nama ibu Saidah, ini obat yang harus ibu minum setelah makan malam ya Bu."
__ADS_1
"Ah iya suster. Terimakasih banyak." Saidah mengambil obat itu dan menyimpannya karena ia belum makan malam. Sang suster pun segera keluar dari ruangan itu setelah memeriksa suhu dan juga tekanan darah Saidah.
"Ibu makan dulu ya, selanjutnya baru meminum obatnya." ujar Marwah seraya memperlihatkan makanan yang ada di dalam makanannya.
"Iya, bawa kesini cepat makanannya. Saya sangat lapar nak." Marwah tersenyum. Ia bersyukur karena ibunya kembali Ingin makan seperti sedia kala.
"Masya Allah, ibu luar biasa karena bisa menghabiskan makanannya dalam waktu singkat. Aku sungguh bersyukur ibu." Marwah tersenyum dengan peningkatan kesehatan yang sedang ia lihat pada ibunya.
"Itu karena kamu sangat bersemangat menyedikan waktu untuk ibu. Terimakasih banyak ya nak."
"Iya ibu, itu sudah merupakan kewajiban saya sebagai anak."' Saidah hanya bisa tersenyum.
"Nah kalau begitu minum obatnya kemudian tidurlah ibu."
"iya nak makasih banyak."
"Ibu, kumohon untuk tidak mengucapkan hal itu. Aku jadi apa saja di bawah kakimu itu tidak masalah buatku."
"Iya. Tapi sekarang ibu ingin bangun dan duduk. Tolong bantu ibumu ini nak," ujar Saidah lagi. Rupanya ia sudah merasakan rasa bosan karena tiduran terus seperti itu.
"Ah iya, bangunlah ibu. Dan katakan kalau ada yang sakit atau apa." Marwah pun membantu sang ibu untuk duduk dengan santai.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Saidah dan Marwah menjawab dengan kompak. Mata mereka masih memerhatikan pria yang akan muncul dan memasuki ruangan kamar itu.
Putra muncul dari sana dengan senyum lebar di wajahnya. Tangannya penuh dengan kresek dari sebuah Mart. Udin juga berada di belakangnya membawa sebuah koper yang berisi semua pakaian dua pengantin baru itu berikut perlengkapan tidur mereka.
"Mas, bawa belanjaan banyak gini kayak orang mau pindahan aja. hihihi,' ujar Marwah menyambut suaminya itu.
"Ya emang kita pindah kesini sampai ibu bisa pulang." jawab Putra dengan tatapan lurus ke dalam mata istrinya.
"Iya mas, Semoga mas gak bosan aja."
"Gimana mau bosan kalau bersama denganmu sepanjang hari. Aku tidak akan bosan."
"Iya iya, mas tidak akan bosan, tapi lelah."
__ADS_1
"Hahaha. Insyaallah aku tidak akan lelah karena kita akan merasakan yang namanya pacaran setelah menikah Marwah." Perempuan itu tersipu malu. Dengan cepat ia meminta Udin untuk memberikannya tas yang sedari tadi dibawah oleh pria itu. Ia kadang sangat malu pada Udin dan juga ibunya dengan keromantisan suaminya.
"Aku mandi dulu ya Mas, gerah banget nih, mau ganti pakaian dulu." Marwah segera pergi ke kamar mandi setelah mendapatkan pakaian ganti untuk ia pakai malam itu. Putra hanya tersenyum dan meminta Udin untuk menyiapkan tempat tidur untuk mereka berdua di dalam kamar perawatan itu. Ia juga sudah merasa lelah dan ingin meluruskan punggungnya.
"Kamu nginap di hotel aja Din malam ini," ujar Putra seraya memberikan sejumlah uang untuk pria muda itu. Karena rusak mungkin ia dan istrinya sekamar dengannya.
"Ah yang bener nih den Putra?" tanya Udin dengan wajah kagetnya. Menginap di hotel adalah impiannya sejak dulu.
"Ya bener lah Din. Sekarang kamu segera berangkat. Di depan rumah sakit ini ada hotel jadi kamu kesana saja," ujar pria itu dengan nada perintah yang harus segera dilaksanakan oleh Udin.
"Iya den. Saya berangkat ya," ujar pria itu lagi dan segera keluar dari kamar itu. Putra bernafas lega. Itu artinya ia bisa bebas berdua saja dengan Marwah malam ini di dalam ruangan ini. Tapi eh ibu Saidah? Seketika ia teringat akan ibu mertuanya yang merupakan pemilik asli dari kamar perawatan ini.
"Ibu, bagaimana keadaan ibu saat ini?" tanyanya pada Saidah yang sedang duduk di atas ranjangnya.
"Alhamdulillah, ini agak baikan sudah minum obatnya."
"Alhamdulillah, ibu mau makan sesuatu? Ada buah dan cake."
"Tidak perlu nak Putra. Ibu sudah makan sama Marwah tadi. Terimakasih banyak ya nak, karena kamu mau mengambil kami menjadi keluarga mu."
"Ibu, ini semua karena Allah. Dia yang sudah mengatur ini semua untuk kita. Jadi ibu fokus aja dengan kesehatan ibu."
"Ya nak. Dan lihat kamu dan Marwah tidak bisa menikmati malam pertama kalian."
"Ibu, insyaallah kami menikmatinya bersama dengan ibu. Dan apa ibu tahu kalau ini cara yang unik menikmati masa-masa pacaran setelah menikah. Aku sangat senang ibu." Saidah tersenyum, menantunya ini tampak berseri-seri karena sedang jatuh cinta.
"Ya sudah, ibu tidak akan menggangu kalian, nikmati saja dan jangan pedulikan ibu ya."
"Terimakasih banyak ibu, kamu sangat pengertian sekali." Putra berucap dengan tatapan terpukau pada seorang perempuan cantik dari dalam kamar mandi yang sedang memakai pakaian santai yang belikan untuknya.
MasyaAllah, Marwah memang sangat cantik. ujarnya dalam hati.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍