Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 29 Nyasar Di Lift


__ADS_3

Risma dan beberapa orang tetangga mendatangi Rumah Sakit siang itu. Mereka baru mendengar kabar kalau Saidah dibawa ke kota karena sedang kambuh lagi penyakitnya.


Bunyi langkah kaki mereka benar-benar menguasai koridor rumah sakit yang sangat lengang dan juga sepi. Suara mereka yang ribut membicarakan apa saja seakan-akan menjadi hiburan tersendiri ditengah kesepian lorong itu.


"Kamu tahu dimana kamarnya Is?" tanya Bu Ramlah, yang jadi pemimpin paling depan pada rombongan itu. Ia merupakan tetangga dekat Ibu Saidah di kampung.


"Tahu Bu. Marwah udah chat aku. Katanya di lantai 3 VIP Dahlia 2." Risma menjawab dengan nafas ngos-ngosan. Orang-orang yang ia temani seperti dikejar hantu. Langkah mereka sangat cepat jadi ia pun ikutan cepat juga.


"Nah, itu lift nya." Risma menunjuk sebuah kotak besi yang tertulis lift. Mereka harus menggunakan lift untuk sampai ke lantai 3 di Rumah sakit besar itu atau kaki mereka akan bengkak seperti sendal high heels yang mereka pakai. Maklumlah hari ini adalah hari pertama mereka berlebaran. Jadi pakaian yang mereka gunakan adalah pakaian baru dan sangat ngejreng.


Tring


Lift pun terbuka. Semua orang itu langsung masuk setelah dipersilahkan oleh Risma.


"Lho, kok pada buka sendal sih?" tanya gadis itu saat mereka semua pada membuka sendal mereka di depan pintu lift.


"Lho. Emangnya boleh pakai sandal?" tanya Bu Risma sang pimpinan geng. Yang lain juga menunjukkan wajah tanyanya untuk beberapa saat sampai lift itu tertutup kembali dengan Bu Ramlah sudah berada di dalam sendirian.


"Waduh! Kok gini sih acaranya? Bu Ramlah juga melupakan sendalnya oh, ya ampun. Astagfirullah." Risma panik. Begitu pun ibu-ibu yang ada disampingnya. Keributan pun terjadi. Mereka semua ikut berbicara menyampaikan pikiran mereka masing-masing tentang Bu Ramlah.


"Jadi bagaimana dong Is. Bagaimana kalau Bu Ramlah gak keluar-keluar dari lift itu." Bu Tika tiba-tiba jadi sangat khawatir meskipun sedikit bahagia juga karena Bu Ramlah yang sangat sok tahu itu jadi nyasar di dalam lift.


"Kita akan cari Bu Ramlah di lantai 3. Tenang saja Ibu-ibu." Risma berusaha menenangkan ibu-ibu itu dengan cepat menekan tombol pada dinding bagian luar dari lift itu.


Tring


Lift terbuka. Mereka semua langsung menyerbu masuk karena takut kelamaan seperti tadi. Abdillah yang ternyata ada di dalam kotak besi itu sampai tidak bisa keluar karena diserbu oleh ibu-ibu rempong yang sangat ramai bercuit ini dan itu.


"Lho, permisi Bu." Abdillah berusaha untuk keluar tapi sayangnya pintu lift sudah tertutup lagi karena ia telat menahan pintunya. Akhirnya ia hanya bisa diam dengan menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Apalagi suara mereka berbicara cukup mengganggu juga telinganya.

__ADS_1


"Duh, Is, goyangannya. Saya mabuk nak," ujar Bu Siti langsung menggenggam tangan Risma karena tiba-tiba merasa pusing dengan goyangan kotak besi itu saat mulai bergerak ke atas.


"Gak apa-apa Bu Siti, ini cuman sebentar kok." Risma berusaha menenangkan perempuan tua itu dengan memberinya pelukan.


"Tapi kok seperti terkena gempa ya kita?" tanya Bu Siti dengan wajah pucatnya. Risma tersenyum tipis saja. Ia ingin menjawab akan tetapi lift itu sudah berbunyi pertanda mereka sudah sampai.


Tring


"Kita sudah sampai Bu Ibu. Hati-hati keluarnya ya," ujar Risma memberi aba-aba agar mereka tidak saling mendorong saat ingin keluar seperti saat pembagian sembako di kampung yang kadang ribut dan rusuh.


Risma tersenyum dan ikut melangkahkan kakinya keluar sebagai peserta terakhir. Tapi tiba-tiba ia ditahan oleh Abdillah. Tali tas selempangnya ditarik dari belakang oleh dokter tampan itu.


"Kenapa ya dokter?" tanya Risma bingung. Ia ingin cepat keluar karena pintu lift itu sudah hampir tertutup lagi.


"Jangan keluar kalau tidak membawa sendal mu," ujar pria itu dengan wajah tanpa ekspresi. Risma tengsin. Ia sangat malu pada dokter tampan itu karena membawa sendal dan menyimpannya di lantai lift.


"Maaf, pak dokter." Risma cepat-cepat mengambil sendal itu dan langsung lari keluar. Ia sungguh malu dengan apa yang terjadi hari ini. Dan ia berharap tidak akan bertemu dengan dokter itu lagi.


Risma menarik nafas lega karena akhirnya bisa sampai di lantai 3 Rumah Sakit itu meskipun penuh dengan drama.


"Ayo Is kita langsung ke kamarnya Bu Saidah." Bu Siti yang sudah tidak pucat lagi itu langsung menarik tangan gadis itu menjadi petunjuk jalan.


"Iya, Bu. Akan saya antar. Dan semoga saja Bu Ramlah sudah sampai di sana." Risma menjawab dengan tatapan pada kotak besi yang mungkin sudah melanjutkan tugasnya mengantar penumpangnya.


Lama ia berdiri disana karena mengingat Bu Ramlah yang pastinya sedang nyeker sekarang. Pandangannya ia arahkan pada sendal ditangannya kemudian ia lanjutkan ke arah kamar VIP Dahlia nomor 3.


"Ayo ibu-ibu semuanya, kita akan cari dimana kamarnya ibu Saidah. Para ibu-ibu itu pun melangkahkan kakinya mengikuti Risma, sang penunjuk jalan.


Akan tetapi sebuah suara nyaring terdengar dari arah belakang mereka semua. Ibu-ibu itu menoleh dan melihat Bu Ramlah keluar dari lift bersama dengan dokter yang tadi.

__ADS_1


"Ya ampun mereka bertemu dimana?" gumam Risma dengan wajah meringis semakin malu.


"Kalian pada sok pintar ya, ninggalin saya di dalam benda berjalan itu. Untungnya saya bertemu dokter tampan ini. Kalau tidak, saya akan menuntut Rumah Sakit ini!" Ramlah berucap dengan berapi-api dan penuh semangat.


"Ini sendalnya Bu Ramlah. Dan ya, terimakasih banyak dokter," ujar Risma seraya tersenyum kepada dokter muda itu.


"Gak perlu berterima kasih. Aku juga mau ke ruangan di lantai ini. Tadi itu turun karena ditakdirkan bertemu dengan para ibu-ibu ini." Abdillah pun berlalu dari hadapan Risma dan ibu-ibu itu.


Mereka semua pun melangkahkan kaki mereka lagi untuk mencari ruangan kamar ibu Saidah.


"Lihat tanda panahnya Bu Ramlah, jangan terlalu cepat. Nanti malah nyasar ke Tulip lagi." Bu Tika menegur perempuan berhijab hijau botol itu agar menurunkan kecepatan langkahnya.


"Eh, saya kan juga bisa membaca tanda panahnya Bu Tika. Gak usah sewot gitu dong." balas Bu Ramlah dengan mata mendelik kesal.


"Udah, ini udah sampai ibu-Ibu. Gak jauh Kok. Nomor Kamarnya Kan 1." Risma segera merelai keributan kecil yang akan mulai lagi di dalam lantai sepi itu.


Tok


Tok


Tok


Setelah mengetuk, mereka pun masuk ke dalam ruangan yang sangat luas itu dengan wajah terpukau. Dalam hati para ibu-ibu itu mulai menghitung berapa biaya yang harus ibu Saidah keluarkan untuk rawat inap di Rumah Sakit itu.


"Heh, dapat uang darimana si Saidah ini?!" bisik Ramlah dalam hati.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2