
"Sah!" H. Ismail dan Abdillah bersamaan meneriakkan kata Sah saat Putra Adam Wijaya berhasil melafalkan akad nikah dalam satu kali tarikan nafas.
"Alhamdulillah, Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fiil Khairin”." Penghulu itu membacakan doa setelah akad selesai.
"Aamiin ya Allah." Putra menarik nafas lega. Ia bersyukur karena ia telah menghalalkan seorang gadis cantik yang sangat ia inginkan menjadi istrinya.
"Selamat. Kamu telah menjadi seorang suami bagi Marwah Jingga binti Hendra Setiawan."
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak pak penghulu," ujar Putra dengan wajah yang sangat bahagia. Bibirnya tak berhenti tersenyum karena sangat bersyukur dengan apa yang sudah terjadi.
"Sekarang sematkan cincin pernikahan kalian dijari masing-masing." Kali ini Sasmita yang ikut bicara. Ia pun menyerahkan satu kotak kecil tempat dua cincin couple yang sudah lama Putra persiapkan.
"Terimakasih banyak Ma," ucap sang pengantin pria seraya berdiri dari duduknya. Ia pun menghampiri Marwah yang duduk di samping ranjang sang ibu mertua.
"Ibu, izinkan aku memiliki putrimu yang cantik ini," ujarnya meminta izin pada Saidah yang masih dalam posisi berbaring di atas ranjangnya. Posisinya yang lebih tinggi menyerupai orang duduk memungkinkannya melihat semua peristiwa sakral yang terjadi beberapa saat yang lalu.
"Silahkan nak Putra. Hari ini kuserahkan Marwah Jingga yang telah ku rawat selama 18 tahun untuk kamu miliki seutuhnya dan selamanya," ucap Saidah tersenyum dengan lelehan airmata di pipinya.
"Terima kasih ibu, karena kamu mau memberikannya padaku. Insyaallah aku akan memberinya banyak kebahagiaan dengan limpahan cinta yang aku miliki." Putra membalas seraya meraih tangan kanan istrinya dan menyematkan sebuah cincin pernikahan pada jari manis Marwah Jingga. Setelah itu Marwah pun melakukan hal yang sama. Ia meraih tangan Putra dan menyematkan cincin dengan model yang sama dengannya.
Putra meraih dahi Marwah dan mengecupnya dengan penuh perasaan. Sedangkan Marwah mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Ia hanya bisa menangis penuh haru. Perasaannya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata apapun di dunia ini.
Lepas sudah masa lajangnya. Ia bukan seorang gadis seperti dulu yang tidak mempunyai tanggung jawab pada siapapun juga.
Dan sekarang ia sudah berpindah tanggungjawab dari orangtuanya ke seorang pria yang ditakdirkan untuknya untuk menjadi suaminya.
Meskipun cinta belum hadir, tapi ia yakin Allah akan menuntunnya untuk merasakan anugrah itu.
__ADS_1
"Selamat ya, kalian sudah resmi menjadi suami istri. Semoga sakinah mawadah warahmah, Aamin," harap Saidah pada Tuhan, ketika mereka meminta doa dan restu pada perempuan yang sedang sakit itu.
"Aamiin ya Allah," ujar keduanya dengan penuh pengharapan. Setelah itu mereka menyalami semua orang yang ada di dalam kamar perawatan itu tanpa terkecuali. Mereka meminta doa dan restu pada mereka yang hadir.
"Wah, kami tidak menyangka kalau akan menghadiri peristiwa baik ini," ujar Bu Ramlah dengan ekspresi bahagia dan takjubnya.
"Iya, Bu Ramlah. MasyaAllah, hari ini adalah hari yang membahagiakan. Marwah kita yang telah mengajar anak dan cucu kita membaca dan menulis Al-Qur'an menikah dengan putranya H. Ismail," kata Bu Tika dengan ekspresi wajah yang sama dengan Bu Ramlah yang bahagia dan sangat takjub.
"Saya ingin berfoto dengan pengantin sebagai bukti untuk orang-orang di kampung." lanjut Bu Tika tak kalah heboh lagi. Ia langsung meraih handphonenya untuk segera mengambil gambar.
"Maaf nak Putra, bolehkan kami mengambil gambar kalian?' izin Bu Tika dengan senyum lebar di wajahnya.
"Insyaallah boleh Bu." Putra menjawab seraya menatap wajah istrinya yang sangat cantik itu.
"Boleh 'kan sayang?" tanyanya pada sang istri. Marwah tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Seketika kamar perawatan itu jadi sangat ramai dan ribut. Dan Risma lah yang dijadikan sebagai fotografer dadakan. Putra meraih pinggang istrinya untuk merapat padanya agar foto rombongan mereka bisa kelihatan semuanya.
"Eh?" Marwah merasa dadanya berdebar kencang. Untuk pertama kalinya ia dan suaminya berada pada jarak yang sangat dekat seperti ini. Ada desiran lembut yang menyentuh relung hatinya. Entah kenapa ia merasakan perasaan yang aneh tapi membuat pipinya menghangat bahagia.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Akhirnya semua orang pun ikut mengambil gambar bersama dengan kedua mempelai. Tak terkecuali dengan Risma dan Abdillah. Mereka berdua tampak malu-malu berfoto bersama. Bagi Risma, ia masih sangat malu pada dokter itu karena insiden lift dan sendalnya Bu Ramlah..
__ADS_1
Abdillah sendiri secara impulsif mengambil kameranya juga untuk mengabadikan momen indah itu. Ia ikut berswa foto bersama pengantin dan juga gadis itu.
Setidaknya ia sudah pernah berusaha untuk mendekati seorang gadis yang ternyata akan menikah, begitu pikirnya dalam hati. Dan akan ia pajang sebagai insta storynya dengan caption MasyaAllah, Semoga nular.
"Terimakasih banyak dokter karena sudah memfasilitasi kami di Rumah sakit ini untuk melakukan sebuah kebaikan yang insyaallah diridhoi oleh Allah SWT." H. Ismail menyalami Abdilah yang sudah meminta pamit untuk melaksanakan tugasnya yang lain.
"Ah ya. Tidak masalah Pak. Saya terus terang sangat bersyukur dengan apa yang saya lihat hari ini. Sungguh kekuasaan Allah maha besar," sahut Abdilah dengan senyum diwajahnya. Pria itu akhirnya benar-benar pergi dari tempat itu dengan wajah senangnya. Ada banyak hal yang ia dapatkan hari ini. Dan rasanya itu sangat ia syukuri.
Tak lama kemudian, rombongan ibu-ibu itu minta pamit untuk pulang juga. Mereka sudah makan dan minum yang banyak di ruangan itu layaknya seorang tamu undangan pernikahan. Masing-masing diberikan souvernir berupa parsel yang Isinya bermacam-macam.
"Alhamdulillah, ada enaknya menjenguk Bu Saidah hari ini. Kita jadi menyaksikan banyak hal. Dan tentu saja kita juga mendapatkan parsel lebaran." Bu Ramlah berucap seraya memeluk parselnya yang dibagikan oleh keluarga H. Ismail.
"Iya Bu Ramlah. Hari ini kita sudah cukup kenyang. Makanannya enak-enak dan juga banyak. Benar-benar nikmat menjadi orang kaya ya, semua yang kita inginkan terkabul." Bu Tika ikut menimpali.
"Nah, sebelum kita pulang. Bagaimana kalau kita berpamitan pada Ibu Saidah."
"Ah Iya, tentu saja. Kita harus mendoakannya agar cepat sembuh dan melihat cucu mereka lahir."
"Ayolah semuanya. Kita berpamitan dan pulang. Para keluarga kita pasti sudah lama menunggu.
"Ah iya ayok." Mereka semua pun berpamitan pada Saidah mereka berniat untuk pulang ke kampung mereka.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar , dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍