
Airlangga kembali dari rumah Putri Ayuningtyas setelah berbuka dan sholat berjamaah magrib bersama dengan teman-temannya. Sejak kejadian tadi di rumah Marwah, pria itu semakin merasa tidak nyaman.
Perkataan Putri yang menyatakan kalau Marwah sudah dilamar oleh keluarga H. Ismail tak urung membuatnya terganggu. Apalagi Sasmita memang sengaja berbicara padanya dengan sangat serius sebelum ia pulang.
"Jangan pernah berani bermain-main dengan dua hati nak Angga. Saya tidak rela kalau kamu menyakiti hati Putri begitupun dengan Marwah." Airlangga hanya terdiam. Ia pikir perempuan paruh baya itu sudah tidak ingin mengungkit perasaannya pada Marwah ternyata tidak.
"Lupakan perasaanmu pada Marwah. Gadis itu adalah calon menantu kami. Dan kamu, kalau mau serius pada Putri, kamu harus bisa membahagiakannya." Airlangga menarik nafas panjang kemudian tersenyum.
"Mohon maafkan saya Tante, tapi bukankah putra tante juga tidak bersedia menikah dengan Marwah, jadi apa salahnya kalau saya yang diberikan kesempatan untuk itu. Saya juga ingin menghalalkan dan membahagiakannya."
"Tidak Saya tidak pernah setuju dengan niatmu itu. Kamu kecil-kecil sudah berpikir untuk mendua ya," balas Sasmita dengan emosi diwajahnya. Untungnya ia sudah berbuka puasa jadi ia tidak akan menahan dirinya untuk memberikan kuliah tujuh menit para pria muda itu.
"Putraku pasti setuju saat sudah bertemu dengan Marwah. Saya sudah menjodohkannya sejak mereka kecil." Sasmita kembali berkeras dengan keinginannya.
"Jadi jangan pernah sekalipun kamu berpikir untuk membuat dua orang putriku bersedih. Mengerti kamu?!" lanjutnya dengan tatapan tajam pada wajah Airlangga.
"Jodoh siapa yang tahu tante, saya permisi Assalamualaikum." Pria muda itu pun segera pergi dari rumah itu sebelum Putri melihatnya. Ia tidak mau gadis itu mengikutinya lagi.
Dan sekarang ia sudah bertekad untuk memantapkan hatinya untuk Marwah. Saat idul Fitri nanti, ia akan memutuskan hubungan dengan Putri dan meminta Marwah menjadi kekasihnya. Syukur-syukur kalau ibu dan bapaknya langsung setuju melamar gadis itu untuknya.
"Dasar anak kurang ajar. Gak ada sopan-sopannya pada orangtua!" Sasmita menggerutu kesal pada pria muda itu. H. Ismail yang sejak tadi menyimak percakapan dan perdebatan antara istrinya dan pria muda itu hanya bisa mengurut dada.
"Hem, anak jaman sekarang. Mereka kadang terlalu percaya diri dan suka memaksakan kehendak," ujarnya pelan. Ia pun mendekati istrinya itu dan memberinya air dingin.
"Dinginkan otakmu dulu dengan banyak beristigfar. Jangan jadi kekanak-kanakan seperti Airlangga dan juga Putri sayang."
"Ah iya, terima kasih banyak Mas." Sasmita tersenyum. Ia akui kalau ia jadi ikut-ikutan tidak dewasa dengan pria muda bernama Airlangga hanya karena hal yang sepele.
__ADS_1
"Assalamualaikum Ma Pa," ucap seseorang dari arah pintu. Mereka berdua menoleh dan menghentikan pembicaraan mereka.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. " Jawab mereka berdua kompak.
"Putra,.kamu sudah datang nak!" Sasmita langsung menghampiri putranya itu dan memeluknya. Rasanya kegundahan hatinya tentang perjodohan ini akan segera teratasi.
š»
AllÄhu akbar, AllÄhu akbar, AllÄhu akbar.
AllÄhu akbar kabÄ«rÄ, walhamdu lillÄhi katsÄ«rÄ, wa subhÄnallÄhi bukratan wa ashÄ«lÄ, lÄ ilÄha illallÄhu wa lÄ naābudu illÄ iyyÄhu mukhlishÄ«na lahud dÄ«na wa law karihal kÄfirÅ«n, lÄ ilÄha illallÄhu wahdah, shadaqa waādah, wa nashara āabdah, wa hazamal ahzÄba wahdah, lÄ ilÄha illallÄhu wallÄhu akbar.
Suara takbiran bersahut-sahutan dari seluruh penjuru Masjid subuh itu. Hari raya telah tiba. Semua orang Islam mengucapkan syukur karena telah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Mereka kembali suci dan bersih.
Tak terkecuali dengan Marwah dan ibunya. Pagi-pagi sekali mereka sudah mandi dan bersiap menuju lapangan untuk merasakan sholat Ied. Marwah tampak sangat cantik dengan gaun muslimah merah marun nya. Saidah menatapnya takjub. Ia tak sadar menitikkan airmatanya.
"Kamu tidak pernah punya salah sama Ibu. Harusnya ibu yang meminta maaf karena tidak memberimu kebahagiaan seperti semua anak lainnya nak."
Saidah semakin merasakan perasaan bersalah.
"Ibu jangan berkata seperti itu. Ibu bersedia melahirkan aku ke bumi ini saja sudah merupakan nikmat yang sangat besar buatku Bu. Jangan lagi mengatakan kalau ibu belum memberikan ku kebahagiaan." Marwah menyapu air mata sang ibu dengan ibu jarinya.
"Ayahmu meninggalkanmu karena Ibu. Kamu jadi tidak merasakan kasih sayangnya karena ibu," tangis perempuan paruh baya itu semakin deras saja.
"Ibu. Kita ke lapangan sekarang. Jika perasaanmu sedih maka kesehatanmu akan menurun. Jadi kumohon untuk tidak memikirkan sesuatu yang membuat ibu sedih."
Marwah meraih tangan ibunya kemudian mengambil mukena dan sajadah yang sudah ia persiapkan di ruang tamu. Ia sungguh tidak ingin merusak kebahagiaan hari ini dengan cerita sedih yang menyangkut urusan dengan ayahnya.
__ADS_1
"Marwah, maukah kamu memaafkan ayahmu nak?" perempuan itu kembali bertanya saat mereka sedang melangkahkan kakinya ke arah lapangan di kampungnya itu.
"Ibu, bisakah kita tidak membicarakan ini? Ibu selalu memintakan maaf untuknya. Sedangkan dirinya, apakah laki-laki itu ada niatan untuk datang dan menemui mu Bu?" Marwah menatap ibunya dengan intens. Ia sungguh tidak habis pikir jalan pikiran ibunya yang masih saja mengharapkan laki-laki itu kembali lagi.
"Laki-laki itu bersalah pada ibu dan ia harus datang meminta maafmu ibu bukan padaku." Marwah menjawab seraya memasukkan sedekah ke dalam celengan sumbangan yang ada di depan gerbang lapangan tempat sholat Ied akan dilaksanakan.
"Marwah," ujar ibunya dengan dada sesak. Perempuan itu menarik nafas untuk melonggarkan paru-parunya agar ia bisa bernafas lebih lapang. Sungguh ia sangat sedih dengan perkataan putrinya itu. Akan tetapi ia diam saja. Ia berusaha bersabar dan mengerti maksud baik dari putrinya itu.
"Mari Bu, hati-hati jalannya. Ada banyak lubang disini," ujar seseorang yang langsung membuat dua orang itu melihat ke sumber suara.
"Angga, makasih banyak ya," ujar Marwah dengan senyum diwajahnya. Airlangga sempat terpaku selama beberapa detik. Ia sangat suka akan senyum gadis dihadapannya.
"Ah iya aku lupa kalau kamu jadi anggota panitia hari besar."
"Iya, sekarang ikuti tanda ini ya, kamu seharusnya gak lewat sini. Ini khusus jalanan untuk laki-laki. Sebaiknya kamu ikuti jalan yang disana itu. Disana itu tempat shaf perempuan."
"Ah iya maaf ya, kalau begitu kami kesana ya." Marwah pun meraih tangan ibunya dan menuntunnya ke arah yang dimaksud. Dan tanpa sadar kalau sedari tadi ia diperhatikan oleh seorang pria tampan yang sudah lama merindukan nya.
'"Marwah, kamu memakai pakaian pemberianku. Kamu cantik sekali," gumamnya pelan dengan suara yang sangat rendah.
"Kamu bilang sesuatu nak?" tanya H. Ismail dengan senyum diwajahnya. Pria tua itu tahu kalau ada yang sudah terjadi tanpa sepengetahuan mereka.
š»š»š»
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading š