Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 38 Batuk Kering


__ADS_3

Dua pasangan pengantin itu kembali saling menyentuhkan diri mereka satu sama lainnya dengan penuh gairah. Putra semakin tak terkendali, tangannya sudah mulai bergerak kemana-mana. Sedangkan Marwah hanya bisa pasrah dengan apa yang diberikan oleh suaminya.


"Uhukkk uhukkk uhukkk." Marwah dan Putra tersentak kaget. Seketika kegiatan menyenangkan yang mereka berdua lakukan di dalam kamar perawatan itu terhenti.


"Mas, ibu bangun," ujar Marwah dengan suara yang sangat rendah diantara belaian suaminya yang sangat memabukkan. Bibir Putra yang sedang berada didadanya seketika berhenti. Mereka berdua saling membeku tak bisa bergerak sedikit pun.


"Uhukkk uhukkk uhukkk, Marwah, kamu dimana nak?"


"Mas, ibu bangun," ujar perempuan itu lagi masih dengan suaranya yang sangat rendah bagaikan bisikan. Tangannya dengan pelan mendorong tubuh suaminya yang sedang menindihnya.


"Marwah?"


"Iya Ibu..." Putra langsung turun dari tubuh sang istri kemudian meraih baju istrinya yang sudah dilepasnya beberapa saat yang lalu. Setelah pria itu memakaikannya kembali pakaiannya, ia pun bangun dari posisinya.


"Maaf Mas," ujarnya pelan seraya mencium pipi suaminya sekilas. Setelah itu langsung berdiri dan menghampiri ranjang ibunya.


"Ibu, ada apa?" tanyanya dengan nafas memburu karena masih sangat tegang dan deg degan.


"Saya mau minum air hangat. Leherku terasa sangat kering nak." Saidah menjawab dengan suara serak karena batuk.


"Ah iya ibu. Aku akan ambilkan air hangat untukmu." Marwah langsung bergegas ke sebuah mesin dispenser yang berada tak jauh dari ranjang sang ibu. Ia mengisinya dengan air dingin dan dicampur dengan air panas agar bisa lebih nyaman diminum.


"Uhukkk uhukkk uhukkk, ibu tidak tahu kenapa jadi malah batuk seperti ini, uhukkk uhukkk uhukkk."


"Mungkin suhu kamarnya terlalu dingin untuk ibu ya?" tanya Putra yang sudah berada di samping tempat tidur sang ibu mertua setelah berhasil meredakan gairah yang sempat tersulut tadi.


"Ibu juga tidak tahu nak tapi itu bisa saja sih, uhukkk uhukkk uhukkk." ujar Saidah seraya berusaha untuk bangun dari posisinya. Putra membantunya untuk duduk.


"Ini ibu minumnya." Marwah menyerahkan segelas air putih hangat kepada sang ibu.


"Pelan-pelan ya Bu dan ingat untuk membaca bismillah," lanjutnya mengingatkan sang ibu.

__ADS_1


"Iya nak. Terimakasih banyak." Saidah pun menyeruput air hangat itu dengan pelan setelah membaca Bismillah sebelumnya.


"Aaaaakh, Alhamdulillah, rasanya tenggorakan ibu langsung plong dan nyaman," ujarnya dengan senyum diwajahnya. Ia menghabiskannya kemudian meminta lagi pada sang putri.


"Kalian sudah tidur ya?" tanyanya setelah menghabiskan gelas yang kedua. " Saya tidak menyadari kalian datang dari Kantin," ujarnya seraya menatap dua orang itu bergantian."


"Eh iya Bu. Kami sudah lama kok pulang dari Kantin. Lihat, jam di dinding saja sudah menunjukkan pukul 12 malam," jawab Marwah dengan cepat.


"Aku juga tadi udah sempat tertidur kok," lanjutnya dengan tangan mengelus punggung perempuan yang telah melahirkannya itu.


"Aduh, maafkan ibu ya. Nak Putra juga. Ibu jadi merasa sangat bersalah ini. Kalian lanjutkan tidur lagi deh. Ibu sudah tidak ngantuk lagi." Marwah dan Putra saling berpandangan kemudian membuang nafas mereka dengan pelan.


"Ibu tidur saja, kalau ibu tidak tidur tensi ibu mungkin akan turun besok pagi." ujar Putra seraya menepuk bantal sang ibu mertua. Ia berharap perempuan itu mau melanjutkan tidurnya lagi karena ia juga ingin melanjutkan apa yang sudah dilakukannya tadi dengan Marwah.


"Tidak nak. Ibu memang selalu terbangun setiap waktu seperti ini. Biasanya ibu akan sholat dan membaca Alquran sampai kemudian mengantuk lagi. Jadi ibu sudah biasa."


"Oh begitu ya?" ujar pria itu dengan wajah meringis.


"Iya nak. Sekarang kalian saja yang tidur. Ibu ingin mengaji."


"Ah iya sayang.Tapi apakah ibu punya Al-Qur'an?" Putra tersenyum saja meskipun ia memang merasa sedikit kecewa.


"Tidak ada mas. Kami lupa membawanya tapi ada kok aplikasinya di dalam handphone aku. Ibu bisa membacanya lewat benda itu saja." Marwah menjawab kemudian mencari dimana ia menyimpan handphonenya itu. "Ini Bu. Surah apa yang ingin ibu baca? Nanti aku Carikan untuk Ibu."


"Ibu ingin membaca surah Al Baqarah saja nak. Ibu ingin melanjutkan yang sudah ibu baca di rumah kemarin malam."


"Ah iya. Ini ibu. Sudah terbuka."


"Terimakasih banyak nak. Kalian tidak apa-apa kan tidur di lantai sementara ibu di atas ranjang?"


"Tidak masalah ibu. Ada kasur juga Kok yang dibawa oleh Udin," jawab Putra tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu kalian tidurlah. Jangan pedulikan saya. Nanti kalau sudah mengantuk saya pasti akan tidur juga."


"Marwah, sini sayang. Kita tidur lagi," panggil Putra pada sang istri. Marwah tersenyum tetapi menggelengkan kepalanya pelan.


"Mas, tidur aja duluan. Aku temenin ibu terlebih dahulu. Siala tahu ibu ibu ingin minum atau makan sesuatu."


"Tidak Marwah. Jangan berkata seperti itu nak. Kamu bisa tidur bersama dengan suamimu sekarang. Kalian pasti sudah sangat lelah dengan banyaknya kegiatan siang ini."


"Ibu," ujar Marwah merajuk.


"Kalau begitu siapkan air hangat untuk ibu dan letakkan di meja ini. Cake pisang tadi juga, simpan di dekat sini juga. Jadi kalian tidak akan saya ganggu kalau membutuhkannya."


"Iya ibu, baiklah." Marwah segera menyiapkan semua kebutuhan perempuan itu kemudian ia pergi berbaring disamping suaminya. Saidah tersenyum. Ia bersyukur karena putrinya sudah menikah sehingga ada yang menemaninya di sini. Ia pun melanjutkan bacaan Alqurannya dengan suara rendah. Sementara itu sepasang pengantin baru itu saling berpandangan dengan senyum diwajah mereka.


"Mas, maafkan ibuku ya, kamu jadi tidak bisa istirahat dengan baik seperti di rumah mu."


"Hey, jangan berkata seperti itu. Ibu Saidah adalah ibuku juga. Aku berkewajiban merawat dan menjaganya jika ia sedang sakit seperti ini." Putra menjawab seraya mengelus lembut pipi istrinya.


"Tapi mas, kamu jadi tidak bisa tidur di kasurmu yang nyaman gara-gara kami."


"Ya Allah, istriku ini sengaja bikin aku kesal ya? Sudah aku katakan kalau kamu tidak boleh mengatakan hal itu. Aku tidur di manapun asalkan bersama denganmu, aku sudah sangat bahagia sayang. Jadi jangan lagi mengucapkan kata-kata itu ya, aku tidak suka." jelas Putra seraya mencium ujung hidung istrinya.


"Ah iya Mas, Maafkan aku."


"Tidurlah. Besok kita tunggu pemeriksaan dokter untuk kondisi ibu," ujar pria itu seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Untuk saat ini ia akan bersabar dan menahan diri untuk menyentuh tubuh istrinya.


Tempat dan kondisi mereka saat ini tidak memungkinkannya untuk melanjutkan kegiatan menyenangkan mereka tadi. Mereka pun akhirnya bisa tertidur dengan nyenyak ditemani sayup-sayup suara Saidah yang sedang membaca surah Al-Baqarah.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2