
"MasyaAllah, handphonemu ini bagus banget Wa'. Aku yakin harganya pasti mahal, " ujar Risma dengan tatapan takjub pada benda pipih elektronik yang sedang dipegang oleh Marwah.
"Aku gak tahu juga sih tapi Alhamdulillah dikasih sama Si PAW itu," ujar Marwah seraya memberikan handphonenya pada Risma.
"Hah? Yang bener kamu?" Bola mata Risma rasanya ingin keluar dari kelopaknya mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia meraba benda pipih itu dengan penuh drama.
"Ya iyalah Is. Cowok itu benar-benar baik. Gak nyangka aku ada orang yang mau kasih barang semahal ini padahal kami tidak saling kenal."
"Eh, jangan salah. Aku yakin deh kalau dia itu kenal sama kamu. Ingat gak waktu ia ngirim paket yang pertama? Dia ngomong tentang permen karet. Dan itu pas waktu ada kompetisi itu kan? Apa jangan-jangan?" Risma mulai membeberkan analisanya.
"Iya sih aku curiga sama itu, yang nolongin aku memperbaiki gaun kamu itu. Dan kalau gak salah namanya siapa ya? Yang penyelengara lomba itu lho Is."
"Hah yang bener? Wah hebat dong. Artinya beliau memang orang baik Wa'. MasyaAllah, dia pasti ada perhatian sama kamu. Eh, bukannya katanya mau ngelamar kamu ya?"
__ADS_1
"Nah itu dia masalahnya Is. Akhir-akhir ini Aku jadi sering gak akur sama ibu gara-gara lamaran H.Ismail padaku yang aku tolak. Ibu mencurigai aku menolak karena aku sudah pacar, padahal kan enggak."
"H. Ismail bapaknya Putri?"
"Iya Is."
"Waduh gawat dong. Masak kamu mau dijadikan sebagai ibu tirinya Putri sih? Bisa-bisa kamu disiksa sama anak tirimu Wa' ih ngeri aku." Risma bergidik takut.
"Ih, kamu ngomong apaan sih? Aku dilamar untuk putranya mbak Risma, bukan untuk h. Ismail. Kamu gimana sih?" Marwah berucap dengan wajah gregetan.
"Naudzu billahi. Makanya itu aku menolaknya. Putri Ayuningtyas itu benar-benar gak bisa diajak berteman. Orangnya suka menang sendiri. Aku gak akan tahan dengannya." Marwah melempar pandangannya ke arah luar jendela rumahnya. Sudah terlalu sering ia dizolimi oleh gadis itu hingga ia berniat untuk tidak mempunyai hubungan dengannya.
"Hem, kok jadi rumit begini sih?" Risma berubah serius. Ia jadi ikut merasakan perasaan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hahaha, kamu kok jadi lebih stres daripada aku sih? Pokonya aku mau bahagia. Aku gak mau mikirin itu. Aku cuma mau mikirin jadwal operasi ibu setelah lebaran."
"Ah ya kamu betul sekali Wa'. Kita harus bahagia. Dan kalau si PAW itu datang dan benar-benar melamar kamu, bagaimana?"
"Ya gak tahu lah Is. Yang paling penting bagiku sekarang adalah kesehatan ibu. Aku belum mau berpisah sama orang yang telah melahirkan Aku."
"Terus kalau dia mau membawamu pergi bersama dengan ibumu, bagaimana?"
"Udah ah, aku belum tahu. Gak usah bahas hal itu lagi. Kita mikirin kue lebaran aja yuk, hehehe," Marwah terkekeh karena merasa malu sendiri membicarakan tentang pernikahan. Apalagi ini adalah bulan Ramadhan, ia takut mengingat-ingat wajah pria baik hati itu.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍