
Senyum Sasmita semakin lebar saat mendengar perkataan putranya yang ingin segera menikahi Marwah. Ia tak menyangka kalau Tuhan akan memberinya hadiah sebesar ini pada hari kemenangan.
Ia pun menghampiri dua orang muda-mudi itu dengan sangat bahagia. Tangannya segera meraih Marwah kedalam pelukannya.
"MasyaAllah, ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Mama tak menyangka kalau kalian sebenarnya sudah saling kenal. Tahu begitu Mama tidak perlu stress beberapa hari ini," ujarnya dengan senyum tak lepas dari wajahnya.
Marwah hanya bisa tersenyum. Sebenarnya ia belum terlalu akrab dengan Putra Adam Wijaya tapi ia berusaha untuk tidak memikirkan itu. Ia menerima lamaran ini karena Allah. Urusan cinta, insyaallah akan datang seiring waktu.
"Tante maafkan aku karena sudah pernah mengecewakan tante dan om." Akhirnya hanya kalimat itu yang bisa diucapkan oleh Marwah. Mengingat bagaimana ia sangat menolak lamaran dua orang itu, ia kini sangat malu.
"Heh, kamu tidak salah sayang. Kamu hanya terlambat menerima lamaran kami. Tapi itu tidak masalah yang penting pernikahan ini harus segeralah dilaksanakan. Mama takut Putra tidak akan nyaman bekerja di ibukota kalau ia selalu merindukanmu, hehehe." Sasmita terkekeh sedangkan Putra langsung tersenyum meringis.
"Mama aku lapar," ujar Pria itu karena baru sadar kalau ia belum juga makan sesuatu sedangkan matahari sudah mulai meninggi.
"Oh ya ampun, ternyata orang jatuh cinta bisa lapar juga ya," timpal H. Ismail dengan senyum diwajahnya. Sejak tadi pria itu hanya diam saja menyimak apa yang terjadi dihadapannya.
"Hahaha. Sebenarnya aku gak lapar kalau cuma berdua dengan Marwah Pa, tapi karena banyak orang disini makanya aku jadi merasa lapar."
"Ah bisa saja kamu," ujar H. Ismail seraya menepuk bahu putranya itu.
"Marwah, gombalnya orang jatuh cinta itu bisa lebih dari ini. Jadi kamu harus banyak-banyak minum air putih mulai sekarang," lanjut pria paruh baya itu.
"Kok air putih Pa?"
"Ya iya. Karena kata-kata mu pastinya akan terlalu manis dan bisa membuat diabet. Jadi air putih adalah penetralisir nya."
"Hahaha, bisa aja nih Papa kalau ngomong. Sekarang ayo kita makan, mama udah siapin makanan yang enak-enak." Sasmita tertawa kemudian mengajak semua orang makan hidangan lebaran pada hari itu. Perempuan itu pun memandang Marwah kemudian berucap, "Marwah, mulai sekarang kamu adalah putri kami nak. Jadi layani calon suamimu ya." Marwah mengangguk dengan tak lupa untuk tersenyum. Entah kenapa dadanya ia rasakan berdebar. Kata "Suami" baginya sangat berarti sangat dalam di telinganya.
__ADS_1
"Ayo, Putra, bawa calon istrimu ke meja makan. Siapa tahu ia masih malu-malu jalan sendiri." Sasmita meraih tangan Marwah dan memberikannya pada Putra. Dua pasangan yang nampak sangat serasi itu pun berjalan ke arah meja makan yang tak jauh dari tempat mereka berada saat ini. H. Ismail mengikuti mereka berdua karena ia juga sudah sangat lapar.
Sedangkan Sasmita dan juga Saidah masih berada di ruangan itu dan saling berpandangan. Mereka saling melempar senyum sebagai perwakilan dari rasa bahagia mereka saat ini.
"Idah, saya sangat bersyukur pada Tuhan karena telah menjawab doa-doa ku. Insyaallah kita akan semakin dekat dan jadi saudara."
"Iya Mit. Saya tak menyangka kalau pria yang selama ini selalu mengirimkan paket hadiah ke rumah adalah Putra yang saya kenal."
"Ih jadi mereka sebenarnya sudah saling kenal?" Sasmita nampak sangat kaget dibuatnya. Ia semakin geregetan aja jadinya.
"Ah tidak Mit. Gak tahu lah mereka itu bagaimana awalnya. Tapi Alhamdulillah, keinginan kita terkabul. Semoga hubungan mereka diridhoi dan diberkahi oleh Allah."
"Aamiin. Sekarang kita makan yuk. Setelah itu kita bicarakan pernikahan mereka. Lebih cepat halal lebih baik. Jangan sampai mereka malah melakukan hal yang diluar batas. Apalagi Putra tuh, udah gak sabaran banget kayaknya. Jatuh cinta setengah mati dia, hahaha."
"Iya Mit. saya sih setuju saja."
"Bagaimana keadaan mu Idah. Kamu tampak pucat." Sasmita memandang wajah sahabatnya itu seraya melangkah ke arah meja makan.
"Ah iya. Alhamdulillah saya baik kok," jawab perempuan paruh baya itu berusaha untuk tersenyum meskipun ia merasakan kalau tubuhnya sedang tidak sehat saat ini. Perut dan pinggangnya terasa sangat sakit.
"Tapi wajahmu tidak menunjukkan itu Idah. Kamu istirahat saja di kamar. Dan saya yang akan membawakan makanan untukmu." Sasmita sangat khawatit dibuatnya. Ia pun segera membawa sahabatnya itu ke dalam kamar tamu.
"Terimakasih banyak ya Mit. Kamu baik sekali," ujar perempuan itu seraya membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk di dalam kamar itu. Sungguh ia sedang merasa penyakitnya sekarang sedang ingin mengujinya. Ia ingin mengeluh tapi tak ingin suasana di rumah itu terganggu karena keadaannya yang sangat mengkhawatirkan.
"Katakan bagian mana yang sakit Dah?" tanya Sasmita seraya mendudukkan tubuhnya di atas ranjang tempat Saidah berbaring. Istri dari H. Ismail itu benar-benar sangat khawatir.
"Tidak Mit, kamu keluar saja menjamu tamu-tamu yang sudah banyak datang. Mereka pasti ingin bertemu denganmu sebagai tuan rumah."
__ADS_1
"Tidak Idah. Saya akan menemanimu disini. Diluar ada Mas Mail, Putra, dan yang lainnya jadi tidak perlu kamu pikirkan itu. Sekarang katakan yang mana yang sakit biar saya bisa mengoleskan minyak ini." Sasmita tampak memaksa seraya memperlihatkan sebuah botol berisi minyak untuk mengurut.
"Hem, saya tidak ingin merepotkan mu Mit. Jadi sekarang panggilkan Marwah saja kemari. Biarkan ia yang merawat saya."
"Ya ampun Idah. Saya tidak merasa repot. Kamu adalah sahabatku yang sudah ku anggap sebagai saudara. Jadi tolong untuk tidak sungkan padaku."
"MIT, saya sedang merasa berdarah. Dan kamu tidak mungkin membersihkan saya bukan?" Sasmita terdiam. Ya, ia tidak mungkin melakukan hal seperti itu.
"Tolong, panggilkan Marwah saja kemari Mit, biar dia saja yang merawat ku." Sasmita pun bersedia keluar dari kamar itu untuk memanggil Marwah sang calon menantu.
"Iya baiklah. saya akan memanggilnya kesini," ujarnya pasrah. Ia pun segera keluar dari sana untuk mencari Marwah.
"Marwah, kamu bisa ikut Tante gak?"
"Oh boleh kok Tante. Ada apa ya? Dan dimana Ibu? Kenapa ia tidak ikut bersama dengan Tante?" Sasmita langsung tersenyum.
"Ibumu sedang tidak sehat sepertinya. Dan sekarang ia sedang berada di kamar tamu. Kamu kesana gih."
"Ah iya Tante, saya akan kesana sekarang. Dan titip mas Putra ya," ujarnya pelan. Gadis itu pun pergi dari sana untuk melihat sang ibu. Sedangkan Putra mempercepat makannya karena ingin mengikuti Marwah.
"Ibu... Apa yang telah terjadi padamu?!" gumamnya pelan dengan perasaan yang sangat khawatir.
πΊπΊπΊ
*Bersambung
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π