Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 25 Ada Saingan


__ADS_3

Abdillah duduk di samping Marwah setelah memberikannya sebotol air mineral dingin. Ia sedang sepi pasien sekarang. Mungkin karena sedang hari raya hingga orang yang datang haruslah benar-benar gawat dan sangat darurat.


"Dokter tidak mudik?" tanya Marwah pada sang dokter. Abdillah tersenyum lalu mengangguk.


"Aku tadinya mau mudik dan bertukar shift dengan dokter lainnya, tapi karena sudah tidak punya orang tua yang ingin aku kunjungi jadi aku pikir lebih baik tinggal dan berlebaran disini saja."


Dokter muda itu menarik nafas kemudian melanjutkan, "Ada banyak orang yang ingin pulang dan berkumpul dengan keluarga mereka sedangkan aku, tidak ada. Hanya pasien yang membutuhkan aku."


Pria itu sepertinya sedang ingin mencurahkan isi hatinya pada gadis cantik disampingnya. Marwah sudah menarik perhatiannya sejak pertama kali mereka bertemu.


"Oh ya? Anda baik sekali dokter." Gadis itu tersenyum mendengar cerita pria muda yang merupakan dokter baru di Rumah sakit itu.


"Iya. Dan aku rasa Tuhan juga sudah mengatur pertemuan kita jauh sebelum aku lahir di dunia ini. Tidak ada sesuatu yang kebetulan bukan?"


Marwah mengangguk setuju. Ia percaya dan yakin bahwa memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah diatur oleh Tuhan.


"Apakah aku bisa menjadikanmu sebagai teman dekatku Marwah?"


"Eh?" Marwah mengalihkan pandangannya ke arah dokter itu dengan wajah kaget. Ia merasa bahwa pria di sampingnya ini terlalu terbuka atau blak-blakan.


"Kenapa?" tanya pria itu saat melihat wajah kaget gadis disampingnya.


"Ah tidak dokter. Kita baru saja bertemu dan aku juga tinggal jauh dari kota ini. Jadi rasanya kita tidak bisa dekat seperti hubungan dekat yang mungkin aku pahami."


"Apa yang tidak mungkin Marwah. Aku rasa kita bisa melakukannya."


Marwah hanya bisa menarik nafas panjang. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan pria yang sangat percaya diri seperti ini.


"Maaf dokter. Aku harus masuk melihat kondisi Ibu." ujar gadis itu seraya berdiri dari duduknya. Ia sungguh tidak nyaman berada bersama dengan pria yang sudah memulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak menyenangkan.


"Ah iya, silahkan. Aku berharap kamu memikirkan apa yang aku katakan." Abdillah tersenyum dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke ruang IGD. Gadis itu pun pergi dari sana dengan cepat.


"Marwah, sayang." Sebuah suara yang memanggil namanya membuatnya menoleh. Ia berbalik sebelum sampai di pintu ruang IGD itu.


"Tante Mita?" ujarnya dengan wajah gembira. Sahabat ibunya itu ternyata datang untuk melihat ibunya. Dan ia sangat senang karena akhirnya mempunyai teman duduk untuk mengobrol.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan ibumu nak?" tanya perempuan paruh baya itu dengan perasaan khawatir.


"Ibu sedang istirahat Tante. Sudah diberikan obat pereda nyeri jadi Alhamdulillah, sudah bisa tertidur."


"Syukur Alhamdulillah. Semoga ibumu segera melewati masa kritisnya."


"Aamiin Tante."


"Tante datang sama siapa?"


"Om Mail. Kami datang berdua. Dan maaf karena kami datang terlambat."


"Ah tidak apa Tante. Ini juga sudah sangat merepotkan keluarga Tante. Aku jadi malu."


"Marwah, jangan sekali-kali kamu berkata seperti itu nak. Kamu adalah keluarga kami sekarang. Jadi apapun yang terjadi padamu adalah masalah kita semua."


"Terimakasih banyak Tante, Om,"ujar Marwah seraya menyalami tangan dua orang itu.


"Iya sayang. Kami sangat ingin mengetahui kabar terkini dari Ibumu."Sasmita mengelus lembut kepala kepalanya.


"Mari kita masuk dulu ke ruangan IGD Tante." Marwah pun mengajak perempuan paruh baya itu untuk menemui sang ibu.


"Sendirian saja dokter?" tanya H. Ismail seraya mendudukkan tubuhnya di samping dokter itu muda itu.


"Ah iya Pak." Abdillah menjawab dengan sopan.


"Apa dokter mengenal gadis tadi?" tanya pria paruh baya itu dengan tatapan menyelidik. Entah kenapa ia merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan pria itu pada sang calon menantu.


Beberapa saat yang lalu ia sempat melihat Marwah dan Abdillah nampak mengobrol dengan sangat santai seperti orang yang sudah saling mengenal lama.


"Maksud Pak Haji, Marwah?"


"Iyya, siapa lagi?"


"Oh, saya baru mengenalnya hari ini. Tapi saya sangat berharap bisa mengenalnya lebih jauh. Sepertinya ia sangat cocok menjadi istri daripada pacar." H. Ismail mendengus pelan. Baru kali ini ia bertemu dengan dokter yang sangat lancar bicara untuk orang yang belum lama dikenalnya.

__ADS_1


"Maaf pak Haji ini siapanya Marwah ya kalau boleh saya tahu."


"Saya adalah calon mertuanya Marwah. Dan sebaiknya anda mengubur niat anda untuk mendekati calon menantu saya itu."


"Hum, maaf, maaf, Saya cuma bercanda kok. Jadi Pak haji jangan marah-marah dong. Kan jodoh ditangan Tuhan. Jadi boleh lah saya berusaha."


"Tugas anda adalah memeriksa pasien, jadi jangan campur aduk urusan tugas anda itu dengan hal yang bersifat pribadi. Mengerti anda dokter?"


"Ah ya, saya mengerti Pak haji. Akan tetapi saya belum kalah ya, saya cuma mengalah saja." senyum Abdillah begitu kuat seraya menatap pria paruh baya di sampingnya.


Dokter muda ini sepertinya tidak pernah bergaul dengan orang lain hingga ia selalu merasa kesulitan dalam hal menjaga perasaan orang lain.


"Bagaimana keadaan pasien anda yang bernama Ibu Saidah itu?" Pria itu tersentak dari lamunannya.


"Ibu Saida terkena kanker serviks Pak haji untuk itu dalam waktu cepat Saya yang akan mengoperasinya."


H. Ismail tampak sangat kaget dengan apa yang ia dengar. Ia tidak tahu kalau Saidah tenyata mempunyai penyakit yang sangat parah seperti itu.


"Lakukan yang terbaik dokter. Saya yang akan menanggung semua biayanya."


"Wah, pak haji memang calon mertua yang sangat baik." Dokter itu pun berdiri dari duduknya. Ia sudah lama duduk di sana dan sekarang ia mempunyai pasien baru.


"Mari pak Haji."


"Iya dokter, terimakasih banyak." H. Ismail hanya memandang kepergian dokter itu dengan perasaan yang tak terbaca.


"Putra bisa marah nih kalau tahu ada pria lain yang menginginkan Marwah," gumamnya pelan.


"Apa papa mengucap sesuatu?" tanya seseorang yang langsung membuatnya tersentak kaget. Ia mengangkat wajahnya dan melihat kalau Putra Adam Wijaya, putra pertamanya berdiri dengan seorang pria paruh baya yang tidak ia kenal.


"Ah tidak nak. Papa mungkin mengigau yang tidak jelas," balas pria paruh baya itu dengan cepat. Ia tidak mau kalau putranya itu tahu kalau ada seseorang yang menginginkan Marwah selain dirinya.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2