MAWAR MILIK TUAN MUDA

MAWAR MILIK TUAN MUDA
Ngidam Yang Membahagiakan..


__ADS_3

"Paket apa ini.? nggak ada pengirimnya lagi.?" gumam Mawar


"Ada apa War.?"


"Ini mih, ada yang ngirimin paket sepagi ini.."


"Paket.? paket apaan.?"


"Nggak tahu mih, belum di buka.."


"Apa damar yang pesan.?"


"Nggak tahu juga mih, coba nanti nunggu Mas Damar turun.." Sementara itu sambil menunggu Damar, Mawar menaruh paket itu di meja kecil yang ada di ruangan dan berlalu pergi menuju meja makan.


"Gimana kuliah kalian.?" tanya Kusuma. sembari memasukan sendok berisi makanan delam mulutnya. Jelas saja pertanyaan itu dilontarkan untuk kedua adik angkat Mawar.


"Alhamdulillah lancar Om,.." jawab Sinta.


"Fokus kuliah dulu, masalah pacar mah gampang nanti.."


"Iya om.." jawab keduanya sambil saling lirik.


"Kalian kenapa.? lirik lirikkan gitu.? kalian sudah punya pacar ya.?" tanya Mawar. Sebenarnya bukan bermaksud bertanya, tapi Mawar ingin meledek adik adiknya. Anggap saja ini balas dendam Mawar karena dulu Mawar lah yang serimg diledek mereka berdua sebelum pacaran sama Damar.


Sontak saja Mita dan Sinta langsung gelagapaan ditodong pertanyaan seperti itu oleh Mawar. bahkan Kusuma sampai mendongak dan menatap tajam ke arah mereka. Sedangkan mawar menutup rapat bibirnya berusaha menahan tawanya.


"Om sih nggak pernah melarang kalian pacaran. cuma Om ingin kalian fokus kuliah dulu. jika sambil pacaran takut fokus kalian terganggu. apalagi om punya pengalaman buruk tentang anak om yang kebablasan.." Jelas Kusuma panjang lebar. Raut wajahnya nampak sedikit kecewa menginat kelakuan Damar dulu.


"Baik om, kami ngerti kok om, makasih, om begitu perhatian pada kami.."


Tak lama kemudian Damar terlihat sedang menuruni tangga. Namun saat dia menuju meja makan, matanya nampak menangkap benda asing di pojok ruang keluarga. Dan Damar pun mengambilnya.


"Paket untuk mamah.? kok nggak ada pengirimnya.? Mana kaya nggak ada isinya lagi.." Gumam Damar. dan diapun diam diam memasukan paket itu kedalam tas kerjanya karena kebetulan paket itu bentuknya tidak terlalu besar.


"Selamat pagi sayang.." Sapa Damar sembari mencium kedua buah hatinya yang nampak sedang asyik makan sendiri tanpa disuapi. diapun duduk tak jauh dari Mawar berada. Dan seperti biasa Mawar melayani sang suami dengan baik.


"Mah, sudah ngomong sama mamih.?" tanya Damar. dan semua mata seketika terjutu pada Mawar.


"Ngomong apa pah.?"


"Itu yang tadi pagi kita bahas..?"


"Oh, belum pah, ada bocah.."

__ADS_1


"Ngomong apaan War.?"


"Gini loh mih, entah kenapa akhir akhir ini Mawar tuh bawaannya pengin meluk aku terus. penginnya seharian di kamar nempel terus. Aku cuma takut Mih, itu bawaan bayi.." Damar yang menjawab pertanyaan yang Airin lontarkan.


"Iya mih, dulu sebelum hamil ya nggak kaya gini banget.." jawab Mawar.


"Hebat kamu Mar, istrimu ngidamnya nggak aneh aneh, malah selalu pengin dekat dengan suaminya, nggak kaya mamih mu, duhh" tukas Kusuma.


"Itu ngidam apa doyan mba.?" Celetuk Mita.


"Hust, diam kau.." Ucap Mawar sembari melotot membuat Mita dan Sinta pun senyum senyum bareng


"Karena itu pih, aku jadi berat pergi ke kantor. nggak tega ninggalin istri dirumah.."


"Kabulin saja apa susahnya sih Mar.?"


"Aku sih bisa aja mih mengabulkan. tapi kan mamih tahu, anak anak nanti nggak ada yag ngurusin kalau mamahnya seharian di kamar terus pelukin badan papahnya. Ntar anak anak gimana.? seenggaknya kita harus pergi berdua kan kesuatu tempat.?"


Dan Airin sepertinya paham apa maksud ucapan anaknya itu.


"Dian Dion, kalau misalkan mamah sama papah pergi berdua kalian keberatan nggak.?" tanya Airin setelah mencerna keinginan menantunya.


"Pergi kemana yang.?" Tanya Dian.


"Emang calon adik sudah bisa ngomong yang.?"


"Ya maksud eyang bukan gitu, aduh susah ngomongnya.."


"Maksud eyang, mamah harus ke dokter memeriksakan kandungan sama papah, tapi nginep, soalnya tempatnya jauh. kalian nggak apa apa kan ditinggal.?" ujar Mita yang langsung maksud dan dapat ide.


"Oh. berapa lama mah..?"


"Seminggu. nggak apa apa.?"


"Seminggu.? buat adek yah mah.?" dan Mawar mengangguk.


"Gimana kak.?" Tanya Dian ke kakaknya. sedangkan Dion yang ditanya nampak serius sekali memandang mamahnya.


"Kalau kaka sih ngga apa apa mah, buat adik kan.?"


"Iya sayang.." jawab Damar.


"Mamah pergi saja, biar adik dirumah sama kaka, ya dek yahh." dan Dian langsung mengangguk.

__ADS_1


"Duh anak anaknya papah pengertian banget sih, cium dulu sini.."


"Tapi pah, kaka minta sepeda boleh..?"


"Boleh dong sayang, apapun yng kakak dan adek minta pasti papah turutin.."


"Bener yaa pah kita di beliin sepeda.?"


"Iya sayang, tapi papah cium dulu dongg." Dan keduanya serentak meraih tubuh papahnya dan mendaratkan kecupan dipipinya. Sedangkan semuanya nampak lega setelah mendengar anak anak setuju dan bersedia di tinggal.


Dan pagi pun mulai beranjak menuju siang. Sejak menikah dengan orang terkaya, hidup Mawar benar benar berubah total, selain kini penampilannya semakin cantik, di rumah pun dia benar benar tidak melakukan pekerjaan apapun. Apalagi setelah tahu dirinya hamil. sehari hari dia lalui hanya dengan menonton drakor, membaca novel, main sosial media dan berjalan jalan ditaman belakang rumah serta menggosip dengan para asisten rumah tangga.


"Loh ini paket kemana.? kok ngga ada.?"


Mawarpun sibuk mencari paket yang tadi pagi dia terima. Namun sayang paket itu lenyap. padahal dia hendak menanyakan paket itu ke suaminya.


Sementara itu, Damar sedang sibuk mengamati paket yang dia ambil tadi dirumah. paket yang sedang dicari Mawar kini berada di suaminya. Karena sangat penasaran Damar pun membuka paket itu. Dan setelah dibuka, mata Damar terperangah. Ada sepuluh butir obat lengkap dengan aturan pakai dan ada pesan kecil bertuliskan Dokter Anita.


"Dokter Anita kirim paket buat Mawar.? Bukankah kita kemarin habis ketemu.? Gumam Damar.


Rasa penasarannya pun bertambah. Damar langsung mengambil ponselnya dan mencari nama dokter yang di maksud.


"Hallo dok.."


"Ini dok, saya mau tanya. Apa benar dokter yang mengirim paket berisi obat untuk istri saya.?"


"Iya, sepertinya orang rumah yang menerimanya, tadi pas mau berangkat kerja saya yang menemukan paket berisi sepuluh butir obat.."


"Kalau bukan dari dokter, lalu dari siapa.?"


"Baik dok, nanti saya mampir bawa obatnya.."


"Ok dok, terima kasih, selamat pagi.."


klik..


Damar menatap tajam ke arah plastik pembungkus obat dengan tatapan yang mengerikan.


"Sepertinya ada yang mau mengusik keluargaku, baiklah aku akan ikuti permainannya.." Gumamnya dan senyum jahatnya pun hadir menghiasi bibirnya.


Sementara di tempat lain di sebuah kamar. seseorang sedang berbicara dengan memandang foto foto di dinding.


"Mawar sayang, obatnya dimimun yah.? itu dari dokter kandungan kamu loh sayang.? bukan dari aku. Nanti sebelum tidur kamu minum. Biar besok pagi aku datang mejemputmu okeh muachh.."

__ADS_1


@@@@@


__ADS_2