
"Sakit pah.." Rintih Mawar sembari menggenggam erat tangan suaminya.
"Mamah pasti bisa, yah, ayo ikuti yang dikatakan dokter. ada papah, jangan takut.." Ucap Damar memberi kekuatan pada sang istri meski dia sendiri juga dalam ketakutan yang luar biasa.
Ya. Damar dan Mawar sekarang sedang di dalam ruang bersalin. Setelah sembilan bulan waktu berjalan tanpa terasa, kini saat yang ditunggu oleh sepasang suami istri itupun tiba.
Mawar yang sebenarnya sudah merasakan tak enak perut sejak dari pagi memaksa ikut suaminya ke kantor, sedangkan sang suami sudah memberi peringatan. Bahkan Damar juga berniat akan mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah saja.
kibat sang suami yang tidak bisa menolak Keinginan sang istri, akhirnya Damar pun memutuskan tetap berangkat ke kantor dan sang istri juga ikut bersamanya.
Ketika dalam perjalanan menuju kantor, tiba tiba sang istri merasakan perutnya sakit yang luar biasa. bahkan di kaki Mawar terlihat cairan yang diperkirakan keluar dari sarang kesayangan suaminya.
Tentu saja rasa panik seketika menyelimuti mereka. Tanpa pikir panjang Damar langsung melajukan moblnya ke rumah sakit terdekat. Beruntung ketika sampai dirumah sakit, hampirnsemua aryawan mengenal siapa Damar. Dan tentu saja kedatangannya disambut istimewa dan sang istri langsung mendapatkan penanganan perbaik dari pihak rumah sakit.
Disinilah mereka berduaa berada. Terlihat sangat jelas wajah ketakutan Damar yang melihat dengan mata kepala sendiri betapa sang istri sedang berjuang antara hidup dan mati demi kelahiran buah cinta mereka. Air matanya berusaha dia tahan demi menguatkan sang istri yang sedang merintih menahan sakit yang luar biaa. Tim dokter terbaik pun tak henti hentinya memberi pengarahan agar proses persalinan berjalan dengan mudah.
"Oekkk oekk oekk.." Terdengar suara tangis yang menggetarkan jiwa sepasang suami istri tersebut. Setelah berjuang beberapa saat, lahirnya bayi pertama mereka. Bahkan Damar tak tahan membendung airmatanya lagi saat bayi pertama berhasil dikeluarkan. abayi itu langsung di ambil alih sang dokter lain yang bersiaga disitu dan kini tinggal proses pengeluaran bayi yang kedua.
Kembali teriakan terikan keskitan melengking dari bibir Mawar dan sang suami juga tak berhenti memberi kekuatan dan semangat meski hatinya sendiri juga dalam ketakutan yang luar basa.
"Oek oek oek.." Kembali suara tangis terdengar. Rasa syukur dan lega tentu saja seketika terucap dari bibir keduanya. Damar langsung mencodongkan tubuhnya dan memuluk erat tubuh lemah sang stri denhan airmata yang mengalir deras.
"Makasih sayang, terimakasih. terimaksih telah kuat untuk anakk kita." Ucap Damar dengan nada yang sangat mengiris hati bahkan beberapa dokter yang mendengarnya pun ikut meneteskan airmata. Betapa mereka ikut terharu kepada tuan muda yang setia menemani sang istri melahirkan. Apalagi Damar adalah pria paling berpengaruh di negeri ini.
Mawar hanya tersenyum lemah. Sang dokter langsung melanjutkan penanganan selanjutnya setelah melahirkan.
Saking paniknya, Damar bahkan tak sempat memberi kabar ke semua orang kalau saat ini istrinya melahirkan.
Tak lama kemudian, dua bayi yang sudah bersih itu diantarkan oleh suster menghampiri kedua orang tuanya. Nampak jelas sekali wajah bahagia tuan muda terpancar menyambut bayi mungil buah cintanya.
"Silahkan tuan, anda sudah bisa mengadzani putra putri tuan." Ucap sang suster ramah.
Dengan tangan gemetar, Damar mengulurkan tangannya menyambut salah satu bayi. Yang pertama dia adzani adalah bayi yang berjenis kelamin laki laki. Airmata Damar kembali mengalir saat bibirnya dia dekatkan ke telinga sang buah hati. Dan dengan nada bergetar Damar mulai mengumandangkan adzan ditelinga kanan sang anak. Dan hal itu juga dia lakukan pada anak kedua yang berjenis kelamin perempuan.
__ADS_1
Setelah semua yang disarankan dokter sudah dikukan, kini Damar duduk di tepi brangkar menatap wajah cantik istrinya yang masih tergolek lemah.
"Papah bahagia?" Tanya sang istri lemah dengan airmata yang mengalir. Damar mengangguk. airmatanya kembali
"Papah sangat bahagia, karena mamah dan anak anak dalam keadan baik baik saja."
"Papah sudah kasih kabar mamih papih?"
"Belum, nanti saja setelah mamah istirahat."
Di saat Mawar berisitirahat, Damar beranjak menengok bayinya yang masih satu ruangan dengan mereka. Airmatanya kembali menetes bersama dengan senyum yang tersungging dari bibirnya.
Rasa bersalah juga mencuat kembali saat pikirannya melayang ke waktu dimana si kembar Dian dan Dion lahir. Meski waktu itu telah berlangsung sangat lama, tetap saja rasa bersalah itu akan terus hadir membayanginya.
Bebrapa jam setelah melahirkan, Damar baru memberi kabar kepada semua orang dengan mengirim salah satu foto bayinya.
Tentu saja kabar kelahiran itu sangat mengagetkan siapa saja. terutama orang orang terdekat keluarga Prapanca.
Seketika orang orang terdekat tuan muda langsung menuju rumah sakit di mana tuan mda dan istrinya berada. Raut bahagia jelas sekali terlihat di wajah mereka.
"Yeee, akhirnya adik menjad kakak." Ucap Dian dengan cerianya saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Adek seneng?"
"Seneng dong eyang, kakak juga seneng kan?" Tanya Dian kepada kakaknya yang terus terdiam. Namun dibalik diamnya terpancar kebahagiaan dari sinar matanya. Dan sang kakak hanya mengangguk.
Mereka semua hampir bersamaan sampai dilokasi ruamah sakit.
"Bisa bisanya melahirkan dari pagi, jam segini baru ngasih kabar." Gerutu tuan Kusuma begitu memasuki gedung rumah sakit.
Dan pastinya kedatangan tuan Kusuma sangat disambut baik pihak rumah sakit. Mereka benar benar memberi pelayanan khusus meski tuan Kusuma tak memintanya.
Tak butuh waktu lama kini mereka semua sudah berada di ruangan di mana Mawar dirawat. Damar yang memang sengaja ingin memberi kejutan kepada keluarganya hanya menunjukkan salah satu bayi berada disana. Sedangkan bayi yang lain sengaja dia sembunyikan di ruangan lain dengan penjagaan seorang suster.
__ADS_1
"Ya ampun Mawar, selamat ya?" Ucap Airin.
"Makasih mih."
"Kenapa ngga ngasih kabar dari pagi sih mar?"
"Damar terlalu panik mih, Lagian Mawar juga harus banyak istirihat setelah melahirkan."
"Selamat datang adik.." aucap Dian dengan cerianya menatap wajah lucu sang adik yang sedang berada dalam pangkuan sang eyang.
Tak lama kemudian yang lain pun datang. Ada Mitq dan Sinta bersama suaminya dan juga Bagas bersama sang istri turut hadir memberikan selamat kepada Mawar dan sang suami.
Di saat mereka semua sedang asyik bercengkrama tiba tiba seroang suster masuk membawa seorang bayi dalam box kaca.
"Maaf tuan, mungkin dia haus, dia rewel." Ucap sang suster.
Tentu saja dahi semua yang ada disana berkerut serentak.
"Oh iya maksih sus." Jawab Damar enteng dan menerima bayi itu lalu menyerahkan ke Mawar tanpa mempedulikan wajah heran orang orang ada disana.
"Itu anak siapa?" Tanya Airin.
"Anak kita lah mih, ini yang cewek."
"Apa? Jadi kalian?"
Mawar dan Damar hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Astaga.."
...》》》》》 T A M A T 《《《《《...
Makasih yang sudah mengikuti Damar dan Mawar hingga akhir. Semoga terhibur ya? sebagai gantinya. Masih banyak kok karya saya yang sama bagusnya. Terima kasih atas dukungannya selama ini. Sampai ketemu dikarya ku yang lainnya.
__ADS_1