
Tubuh polos itu kini meringkuk. Tubuh polos itu kini terbaring tak berdaya. Tubuh polos itu kini kesakitan. Dan tubuh polos itu terisak menahan luka. Selama dia bekerja sebagai bunga ranjang, baru kali ini dirinya merasa terhina. Diperlakukan bak binatang oleh tiga pria.
Wanita murahan. Julukan yang memang pantas dia sandang untuk saat ini. Dia dipaksa melayani tiga pria yang seperti kesetanan melapiaskan amarah mereka dengan tubuh polosnya. Sentuhan sentuhan yang disertai tamparan, cubitan, jambakan mewarnai permainan tiga lawan satu itu.
Perempuan itu merintih menahan sakit akibat serangan membabi buta dua jam yang lalu. Dengan susah payah dia bangkit dan meraih pakaiannya yang sudah terkoyak dan tak layak pakai dan dia menghempas pakaian itu kemudian diraih tasnya yang juga tergeletak di lantai. Dia membuka tas itu dan mengambil isinya. Barang pertama yang dia ingat adalah ponselnya. Dia menyalakan layar benda pipih tersebut. Dahinya berkerut saat matanya menatap layar ponsel dan ada begitu banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari satu nama kontak seseorang yang berjanji akan ketemu dengannya hari ini.
"Tuan Damar?" gumamnya.
Ya. pesan dan panggilan itu berasal dari tuan muda Damar. Sebanyak dua pulus satu panggilan tak terjawab dan tiga puluh tiga pesan yang isinya, "Sonya kamu dimana? saya sudah nyampai lokasi nih?"
"Akhh, sial, gara gara pria pria brengsek itu aku harus kehilangan kesempatan berrtemu Damar.." rutuknya. dan dia pun mencoba menghubungi tuan Damar.
"Awas saja kalau sampai aku sudah menjadi nyonya Prapanca, kalian akan aku balas lebih menyedihkan dari perbuatan kalian saat ini.!!" Sumpahnya.
Dan di tempat lain, tepatnya di kediaman Prapanca.
"Papah..!" panggil sang istri. Damar yang sedang sibuk dengan laptopnya pun menoleh ke arah ranjang dimana istrinya berada. Terlihat istrinya menunjukkan layar ponsel yang menyala tanda ada panggilan masuk.
"Dari siapa mah?" tanya Damar tanpa beranjak dari sofa yang dia duduki.
"Selingkuhan papah.."
"Oh, biarin aja dulu, biar dia menganggap papah kecewa." dan Damar kembali menatap layar laptopnya.
"Suamiku jahat sekali ternyata yah?" ucap Mawar dan dia pun beranjak mendekati suaminya.
"Daripada kita yang dijahatin, mending kita yang jahat duluan, namanya waspada." ucap Damar tanpa menoleh ke istrinya yang kini sudah duduk disebelahnya dan melingkarkan tangannya serta bersandar dibahunya. dengan terpaksa sang suami pun menghentikan kegiatannya
"Kenapa? nyesel?" tanya suami sembari merobohkan punggungnya kesandaran sofa.
"Enggak, seneng dan heran saja mamah tuh.." jawab Mawar sambil menautkan jari jarinya ke jari suaminya.
"Heran kenapa?"
"Sisi lain suami mamah ternyata mengerikan.." dan Damar pun tergelak mendengarnya.
"Kok malah ketawa sih pah? huu.." protes Mawar ditandai dengan dengusan.
__ADS_1
"Mengerikan gimana maksud mamah?"
"Ya ini yang papah lakukan sama Sonya? dan beberapa orang kemarin kemarin."
"Ya wajar dong mah, papah kan hanya melindungi apa yang seharusnya. Siapapun pasti akan marah jika ada yang mengusik ketentraman seseorang. Apalagi mereka ingin memisahkan kita, ya sudah pasti itu namanya mencari mati sendiri.."
mawar manggut manggut tanda paham dengan apa yang dikatakan suaminya.
"Tapi kok rencana papah bisa mulus banget yah? padahal Sonya sudah meembayar beberapa karyawan restoran itu, tapi kok bisa bisanya dengan mudah berkhianat."
"Jika uang sudah berbicara, semua akan nampak lebih mudah mamah sayang. Apalagi siapa sih orang dari kalangan dibawah kita yang mau menolak tawaran keluarga kita. Karena menurut mereka kita tuh orang orang baik mah. Ya sudah pasti kan siapa yang nggak mau nolong orang baik dengan imbalan yang menggiurkan."
"Ya ampun suami mamah memang nggak ada duanya." ucap Mawar bangga sembari mencium dan menghisap aroma tubuh suaminya melalui bahu yang dijadikan sandaran.
"Memuji tapi bibir papah nggak dicium, percuma." rajuk Damar dan Mawar terkekeh sejenak. Mawar pun kini berpindah posisi duduknya menjadi berada dipangkuan suaminya dengan tangan yang melingkar di leher sang suami. dan Mawar segera menempelkan bibirnya ke bibir sang suami hingga sejenak bibir itupun beradu.
"Trus apa lagi yang akan papah rencanakan untuk perempuan itu?" Tanya Mawar sesaat setelah perang bibir berakhir.
"Kita lihat saja nanti." dan Mawar kembali manggut manggut.
"Kenapa kamu bisa berantakan seperti ini?" Tanya seorang laki laki dengan papper bag ditangannya begitu memasuki kamar sebuah hotel.
pria itu adalah Kei. dia tercengang dengan apa yang dilihat di hadapan matanya. Teman ranjangnya terlihat sangat kacau dengan tubuh polosnya.
Setelah beberapa kali gagal melakukan panggilan ke tuan muda Prapanca, nama lain yang Sonya ingat adalah pria yang sekarang membawakan baju buat dirinya.
"Apa ini gara gara Damar?" tanya Kei penasaran.
"Bukan.."
"Lalu?"
"Pria pria brengsek.."
"Pria pria brengsek? maksudnya?"
Sonya yang hendak memakai pakaian yang dipesannya lewat Kei pun mengurungkan niatnya. Dia kembali bersandar di tepi ranjang menghampiri Kei yang juga dalam posisi yang sama duduk bersandar diatas ranjang.
__ADS_1
Dan setelah itu Sonya mulai menceritakan kejadian beberapa jam yang lalu dengan penuh amarah.
"Kok bisa? darimana mereka tahu?" tanya Kei heran.
"Aku sendiri juga heran, tapi alasan mereka masuk akal semua kan?"
"Iya sih, tapi kok aneh yah? ini kaya sudah direncanakan kayaknya?" tanya Kei curiga.
"Direncanakan? direncanakan bagaimana?"
"Gini deh kamu bayangkan, masa iya ada tiga orang datang diwaktu bersamaan dengan kebetulan? dan kamu juga cerita orang orang suruhanmu juga nggak terlihat batang hidungnya. bukankah ini mencurigakan?"
"Iya sih Kei, awalnya aku juga curiga. Tapi kan kamu tahu, setiap aku membawa laki laki atau janjian dengan laki laki pasti di restoran itu. dan ketiga orang tadi juga alesannya memang nggak sengaja melihat mobilku disitu. Cuma ya itu sih herannya kemana tiga karyawan restoran yang sudah aku bayar."
"Apa kamu nggak curiga sedikitpun? aku malah curiga kalau ini perbuatan?"
"Damar?" tebak Sonya saat Kei menggantungkan ucapannya. Dan pria itu mengangguk
"Bukanlah, orang dia aja nungguin aku? Tuh tadi banyak sekali panggilan dan pesan dari dia, bahkan dia juga mengirimiku foto kalau dia memang sudah dilokasi, nggak mungkin dia pelakunya.."
"Kok aneh ya?"
"Bisa jadi ini kerjaan istri istri mereka, awas saja, jika aku berhaasil menjerat orang yang paling berkuasa di negeri ini. Akan aku hancurkan mereka." sumpah Sonya berkali kali sembari menyebut keinginannya yang sepertinya sangat tidak mungkin terjadi.
"Ya sudah mending kamu sekalian aja jangan pakai baju?" titah Kei sembari tangannya mulai memainkan balon coklat muda kembar yang bertengger di tubuh wanita sebelahnya.
"Jangan dulu lah Kei, masih perih nih.."
Dan sayangnya Kei tak mungkin menghiraukan permintaan perempuan itu. dan Sonya harus pasrah kembali malam ini.
@@@@@
...Hai sobat Reader, gimana kisahnya? makin seru nih. Jangan lupa kasih dukungannya yah. Biar Author semangat ngetiknya....
...^^^Sambil nunggu episode berikutnya, tak salah dong kita baca yang lainnya dan ini bacaan lagi seru serunya loh, kunjungi yuk ^^^...
__ADS_1