
Senja kini menpakkan keindahannya. Warna alami seperti api kini terlukis indah disudut langit. Tuhan memang seniman terbaik yang tak pernah ada tandingannya. Dan Tuhan pula yanh menciptakan sebuah rasa yang bisa memporak porandakan isi hati seoang manusia. Seperti hati yang sedang menggalau dalam diri insan yang sedang dilanda asmara dan insan itu kini sedang duduk duduk disalah satu sudut taman kota. Dia tidak sendiri. Ada orang spesial yang duduk bersila kaki dihadapnnya. Gaya tengil yang diitunjukkan orang dihadapannya justru menjadi magnet tersendiri bagi beberapa hati manusia yang terpesona. Termausk hati wanita yang kini sedang memandangnya.
Wanita itu tidak pernah menyangka kalau dirinyalah yang menjadi pilihan terakhir seorang pria tengil dengan sejuta pesona dan suka sekali menebar pesona kepada gadis gadis yang curi curi pandang ke arahnya.
Wanita itu sendiri heran, dia awalnya benar benar tak suka dengan gaya tengil pria itu, tapi kini dia justru sekarang malah sering dibuat gila dan gelisah gara gara ketengilanya.
"Apa yang kamu pikirkan? kok siomaynya cuma di aduk aduk gitu?" tanya sang pria yang merasa heran dengan sikap wanitanya sejak beberappa jam yang lalu. Helaan nafas berat juga terbaca pada wajah manis yang entah kenapa lebih banyak diam dari biasanya.
"Aku kepikiran perkataan om Kusuma aja.." jawab wanita itu gusar. Tangannya mulai memasukan potongan siomay ke mulutnya.
"Kenapa dipikirin? apa kamu sangat terganggu?" Tanya pria itu dengan wajah sedikit kecewa.
"Terganggu banget sih engga. Dan juga wanita mana sih yang tak menginginkan pernikahan? tapi kamu tahu kan usia aku aja belum genap dua pulluh. apa aku bisa menjadi istri yang baik?"
Sang pria tersenyum renyah. Diq meraih sendok garpu yang digunakan wanitanya dan dia juga menusuk potongan siomay dan memasukka potongan siomay itu kemulutnya.
"Usia tak bisa jadi patokan Mita. banyak loh yang usianya dibawah kamu sudah pada menikah."
"Tapikan banyak juga yang berakhir dengan perceraian. Aku nggak mau itu terjadi. Apa lagi kamu selalu tebar pesona ke cewek cewek, bikin bimbang tau nggak mas.."
"Hahha, jadi itu maslahnya? astaga Mita sayang. aku harus ngomong berapa kali sih agar kamu percaya hatiku cuma ada kamu loh, apa perlu aku membelah dada ini?"
"Cihh, gaya gayaan membelah dada, kemarin aja kena silet kejer teriaknya.." cibir Mita dan pria bernama Aldi terbahak keras hingga beberapa mata menoleh kearahnya dengan tatapan heran dan pastinya terganggu.
"Kamu mah malah buka kartu, aku kan pengin bisa puitis juga Mit." Dan Mita hanya mendengus.
"Mas, berarti kalau mas Aldi lihat darahnya aja pusing, ntar pas kita nikah nggak ada malam pertama dong?"
Aldi menghentikan senejak makan siomaynya karean tertegun dengan pertanyaan wanitanya.
"Apa hubungannya? enak aja ngak ada malam pertama.." gerutunya.
"Ya kan mas Aldi suka pusing lihat darah. Ntar kalau darah keperawananku pecah gimana? bisa bisa mas aldi pingsan."
Aldi seketika melongo seperti orang bego. Bagaimana bisa wanitanya berpikir sejauh itu.
"Itu beda kali ceritanya. Enak aja. Malam pertama tuh malam yang paling ditungu. Apa kamu butuh bukti aku bakalan pingsan apa enggak? ayo kita ke apartemenku, aku buktikan bahwa aku bisa menghadapi darah perawanmu."
__ADS_1
Cetak..
"Aduh..!! kok malahh jitak sih Mit?"
"Ngomongnya kurang lantang, lihat tuh semua orang menoleh.." Sungut Mita dan Aldi malah tersenyum garing seperti tak punya dosa.
"Ya abis kamu mikirnya aneh aneh aja. Mana ada aku pingsan gara gara lihat darah perawan. Padahal aku sangat menunggu, waktu dimana kamu kehilangan keperawannanmu karrena aku."
Cetak..
"Aduhh.. sakit Mita!!"
Pemandangan yang berbeda di senja yang sama. Terlihar seorang pemuda tampan dengan tinggi 184 cm dan tubuh tegapnya memeluk erat pinggang gadis mungil dengan tinggi hanya sekitar 160 saja. Keduanya menikmati senja di atas atap sebuah restoran milik sang laki laki. Mungkin ada istilah yang berkata jatuh cinta ity serasa dunia milik berdua dan yang lain cuma numpang nafas saja. Negitu pula yang terjadi pada dua insan tersebut.
Padahal di jam itu suasana restornn begitu rame dan karyawan nampak sedikit kewalahan, namun sang pemilik justru asyik berduaan dengan sang kekasih tanpa peduli restorannya yang sedang riuh dibawah sana.
"Jadi kapan aku bisa melamarmu Sin?"
Sang kekasih memutar tubuhnya dan dia mendongak menatap wajah pria tampan bertubuh kekar dengan bibir mengerucut.
Pria itu mengangkat tubuh kekasihnya dan mendudukannya di atas tembok pembatas hingga kepala mereka kini terlihat sejajar. Wanita itu melingkarkan tangannya di leher sang kekasih agar aman meski sang kekasih juga menahan tubuh wanita itu dengan memegang pinggang bagian balekang.
"Apa aku bisa jadi istri yang baik mas? aku masih terlalu muda loh.."
Sang pria tertawa renyah.
"Emang kenapa kalau terlalu muda? contohnya banyak kan yang nikah diusia muda.?"
"Tapi aku takut mas?" rajuk wanita bernama Sinta itu.
"Takut kenapa?" tanya kekasihnya heran.
"Kamu itu pria tampan dan sukses, aku takut setalah menikah, kamu bakalan bosan sama aku, sedangkan aku belum punya keahlian apa apa"
Cetik..!!
"Aduh.! sakit mas.." pekik Sinta sembari mengusap keningnya yang baru saja disentil kekasihnya bernama Dika.
__ADS_1
"Kamu berharap aku selingkuh gitu?"
"Ya bukan begitu mas."
"Bukan begitu terus apa maksudmu ngomong kaya gitu?"
Sinta terbungkam. hanya bola matanya yang larak lirik tak beraturan seperti mencari kata yang pas untui menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Bagaimana mungkin aku bisa selingkuh sayang. Kamu tahu kan, untuk dekat sama satu wanita saja aku kayak orang demam. Menggigil tak bisa berkata kata. Masa iya aku akan mudah selingkuh? mana mungkin, orang cintamu aja sudah cukup bagi aku.."
"Tapikan tetep saja mas, pesona kamu mengundang banyak wanita lingin dapat perhatian dari kamu."
"Ya kan salah mereka sayang, bukan slah aku. Masa iya aku harus pakai topeng." Dika benar benar dibuat gemas oleh kekasihnya.
"Entah lah mas, aku mah lihat wanita yang sedang memandangmu saja aku cemburu." ucap sinta jujur. Dan Dika benar benar tersentuh dengan kecemburuan wanitanya. Diapun merengkuh tubuh itu kedalam pelukannya.
"Cemburu ya boleh, aku seneng malah kalau kamu cemburu.."
"Ih, cemuru kok seneng sih mas?"
"Ya iyalah seneng, itu tandanya kamu cinta banget sama aku. Dan aku semakin yakin ingin segera melamarmu.."
"Kamu yakin sudah siap menghadapi om Kusuma?" tanya Sinta tanpa melepas pelukannya. Dengan dagu tertancap dpundak sang kekasih.
"Kapan pun aku siap selama kamu sudah yakin mau menikah dengan ku.."
"Baiklah, aku tunggu pembuktianmu.."
@@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....
__ADS_1