MAWAR MILIK TUAN MUDA

MAWAR MILIK TUAN MUDA
Si Kembar Pun Tahu..


__ADS_3

"Mamah sudah nggak sayang lagi sama kita kak, mamah sayangnya sama dedek yang ada diperut mamah. mamah bohong hwahhwaa hwahaa.."


Sang kakak pun tercengang mendengar penuturan adiknya.


"Kamu ngomong apa sih dek?" Tanya sang kakak dengan ekspresi biasa saja.


"Mamah pasti nggak sayang kita lagi kak, kata Via, dia juga akan mempunyai adik, semua sayang untuk adiknya. mamah juga pasti akan begitu kan kak?"


"Mamah tidak mungkin begitu lah dek, mamah akan sayang kita terus.." ucap sang kakak. Bocah yang selalu irit bicara itu akan berubah menjadi lebih banyak bicara jika sudah menyingung soal mamahnya.


Dan tak jauh dari keberadaan mereka tiba tiba


"Yang dibilang adikmu itu benar. mamah kalian tuh nggak sayang sama kalian, apa lagi jika kalian punya adik.."


Kedua kakak beradik itu menoleh ke sumber suara. Dan sang pemilik suara dengan anggunnya duduk di sebelah mereka.


"Itu nggak mungkin tante. mamah kita akan tetap sayang sama kita.." bela Dion sedikit emosi.


"Apa benar? hahaha." perempuan itu mengejek.


"Itu benar tante, mamah kita akan selalu sayang sama kita."


"Kalau nggak percaya ya buktiin saja..." cibirnya.


Dion semakin jengkel dengan perempuan itu. Tapi dia hanya anak kecil yang sudah diajarkan oleh Mawar harus tetap sopan kepada yang lebih tua.


"Ayo dek kita pergi, jangan duduk disini, kita ke kantor eyang saja.."


Mereka berdua pun beranjak, namun sebelum jauh perempuan itu berkata.


"Bagaimana mungkin mamah kalian akan tetap sayang kalian sedangkan kalian bukan lahir dari perut mamah kalian itu.."


Degg..


Kedua anak itu seketika menghentikan langkahnya menatap perempuan yang sedang tersenyum sinis.


"Kalian itu anak haram papah kalian yang sengaja mamah kalian rahasiakan.."


Degg


Hati Dian dan Dion tersayat. Hinaan itu terucap kembali setelah sekian lama mereka tak pernah mendengarnya. Ditambah lagi mereka mendengar mereka bukan anak yang lahir dari perut mamahnya membuat hati mereka semakin perih meski meraka hanya anak kecil.


Tangis Dian semakin menggema sedangkan kakaknya terdiam tak bisa berkata apa apa untuk menenangkan adiknya seperti biasa.


"Tinggal tugas selanjutnya.." gumam perempuan itu sembari melenggang penuh kemenangan dan sayangnya tak jauh dari posisisnya.


"Kamu telah salah memilih lawan nona. aku akan dapat bonus besar nih. Anda siap siap sengsara, dan saya siap siap bahagia hahha.." gumam orang itu sembari mengambil ponselnya dan melakukan panggilan ke seseorang.


Sementara itu di tempat lain.


"Hallo.."


"gimana?"

__ADS_1


"kerja yang bagus, bayaran segera meluncur dan berisaplah untuk tugas yang lainnya.."


klik..


Dan laki laki itu tersenyum miring.


"Dari siapa?" tanya perempuann yang sedang merebahkan kepalanya di dada laki laki itu.


"Orang yang akan mempermulus jalanku.." jawab laki laki itu dan sang perempuan hanya ber oh saja sembari mengencangkan pelukannya di tubuh lelaki tanpa busana itu.


"Apa kamu juga sudah siap denga tugasmu?" Tanya laki laki itu sembari mengusap rambut perempuan yang memeluk dirinya.


"Jangan khawatir, aku tidak pernah gagal dalam menjerat laki laki. kamu tahu kan kemampuanku.."


"Baguslah.."


dan suasana di ruang itu menghening, sehening ruangan yang tak jauh dari keberadaan dua orang insan itu. Hanya senyuman sinis yang tersungging dari seseorang yang telah berhasil mendapat sesuatu yang sangat menguntungkan dari tugasnya menguntit dua orang yang berencana menghancurkan keluarga tuannya.


Dan di kantor utama hotel Narata, sang tuan muda juga tak kalah terlihat mengerikan setelah mendapat laporan tentang anak anaknya.


"Baikklah, bersenang senanglah dulu kalian, tunggu saatnya vicenzo casanonya indonesia ini melakukan hal mengerikan buat kalian.." gumamnya.


"Tuan.." sapa sang asisten mengejutkan atasannya.


"Iya Gas, ada apa?"


"Ada Non Sisil dan Tuan Alex.."


"Suruh langsung masuk Gas.."


"Hai Mar, gimana kabarmu?"


"Yah yang pasti sangat bahagia dong.." ucap Damar sembari beranjak menyambut tamunya.


"sSenengnya yang mau dapat momongan lagi?"


"Diam kamu lex, aku masih membencimu." orang yang di maksud hanya tergelak.


"Kalian jadi mengunakan hotel ini?" sambungnya.


"Jadi dong Mar, makanya kita kesini.."ucap Sisil.


"Ya baguslah, kalian hubungi saja bagas kalau perlu apa apa,"


"Tadi juga sudah ngobrol dan lihat lihat tempatnya, ya mumpung lagi disini sekalian aja mampir ke ruanganmu, gimana kabar Mawar? sehat? aku udah lama nggak main sama dia.."


"Mawar baik, tapi aku lagi melarang dia keluar rumah."


"Loh kenapa? apa nanti dia ngak bosen?'


"Bosen sih pasti tapi semua ini untuk kebaikannya. Aku nggak mau terjadi apa apa sama dia, apa lagi setelah kasus Lucky kemarin.."


"Ah iya, itu gimana kelanjutannya Mar?"

__ADS_1


"Teman temannya masih saja mengincar Mawar. heran aku.."


"Tapi kamu sudah berjaga jaga dong?"


"Ya pasti lah Lex, mereka sudah bergerak mengganggu anakku.."


"Apa perlu aku bantu?"


"Belum deh, aku masih bisa mengatasi tikus tikus itu.."


"Baiklah, kalau butuh apa apa bilang saja.."


Dan mereka pun bercakap cakap sejenak ke hal hal lainnya hingga saatnya kedua tamu itu undur diri karena masih banyak yang harus mereka lakukan.


Tak terasa waktupun beranjak menuju sore. Di dalam perjalanan pulang Airin nampak heran dengan dengan kedua sikap cucunya. Mereka terdiam selama dalam perjalanan. Dan saat ditanyan pun mereka hanya menggeleng bahkan enggan menjawab.


Begitu juga saat sampai rumah, mereka sama sekali tak menyapa mamahnya, namun langsung mengunci diri. Tentu saja sikap Dian dan Dion yang tiba tiba berubah membuat Mawar, Airin dan Fiza heran.


"Dian Dion, buka pintunya sayang.." Pinta Mawar sembari berkali kali mengetuk pintu dan memanggil anaknya namun tak ada sahutan.


"Mih, mereka pada kenapa sih?" Tanya Mawar frustasi.


"Mamih juga nggak tahu, kata gurunya semenjak selesai jam istirahat mereka murung di kelas.."


"Apa nggak berkelahi sama teman temannya??"


"Kalau berkelahi, pasti sudah ada yang lapor War. Apa lagi tadi di sekolah juga banyak orang tua murid yang datang menghadiri rapat. Jadi mana mungkin ada perkelahian.."


"Sayang, kalian kenapa sih? Kalau nggak di buka mamah marah nih?"


"Udah War, biarin aja dulu, mungkin mereka capek.."


"Baiklah mih.." Mawar pun nampak frustasi. Dia hendak beranjak. Namun tiba tiba pintu kamar anak anak terbuka kemudian muncullah Dian dan Dion dengan wajah yang masih sama.


"Kalian kenapa? bicara sama mamah? kenapa kalian begini?" Tanya Mawar lembut. Dan kedua bocah itu saling tatap sejenak.


"Mah.."


"Iya sayang? Ada apa? ngomong sama mamah?"


"Apa benar jika adik adik lahir mamah tidak sayang kita lagi?"


Mawar seketika terperangah. begitu juga Airin.


"Kata siapa nak?"


"Apa benar kita bukan anak yang lahir dari perut mamah, makanya dulu kita disebut anak haram?"


Degg


Airin dan Mawar terperangah.


@@@@@@

__ADS_1


Hai gaes, karya baru ini, coba di simak yuk, sepertinya seru..



__ADS_2