
Sudah hampir lima belas menit Mawar bermain main di kolong meja sang suami. Entah kenapa hal ini bisa terjadi. Damar pun tak tahu alasan yang pasti. Sebelum sebelumnya Mawar tidak pernah mau melakukan hal seperti ini meski sedang berhubungan suami istri.
Selain heran, tentu saja Damar sangat bahagia dengan apa yang Mawar lakukan. Bahkan raut keenakan serta lenguhan lenguhan nikmat jelas terbaca dari wajah tampannya.
Disaat sedang asyik asyiknya menikmati pelayanan sang istri, tiba tiba dua sahabat Damar masuk keruangannya tanpa permisi. Tentu saja Damar terkejut bukan main. Damar mendengus, kegiatannya terganggu. Bukannya dia tidak suka dengan kedatangan Aldi dan Dika. Tapi mereka datang disaat yang tidak tepat. Istrinya masih berada dikolong meja dan dia juga tidak mungkin langsung berdiri dengan keadaan celana terbuka. Sedangkan Mawar otomatis sebisa mungkin tak bersuara dan tertahan dikolong meja.
"Mar ada yang perlu aku tanyakan?" ucap Dika dan tanpa diperintah keduanya langsung duduk di kursi depan meja Damar. Beruntung bagian depan meja kolongnya tertutup hingga ke bawah. Jadi mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan Mawar di bawah sana. Seketika Damar memajukan kursinya agar kedua sahabatnya tidak mencurigainya apa yang sedang dia lakukan. Meski dia melakukannya dengan sang istri tetap saja ini harus dirahasiakan.
"Kenapa kesini nggak kasih kabar dulu sih?" tanya Damar ketus.
"Sorry Mar. aku tahu kalau jam segini kamu lagi sibuk sibuknya, tapi ini terpaksa aku lakukan mengenai hubunganku selanjutnya dengan Sinta?"
"Lah terus apa hubungannya denganku Dik?" tanya Damar. sungguh dia sangat tersiksa. Disini lain dia sangat menikmati perlakuakn istrinya namun dia juga tak mungkin menunjukkan wajah kenikmatan dihadapan kedua sahabatanya.
"Aku cuma pengin tahu, Om Kusuma ngasih peringatan apa sama Mita dan Sinta Mar? kita sudah siap melamar loh." kini giliran Aldi yang bersuara.
"Sebenarnya bukan peringatan melarang atau apa Al, papih cuma nggak mau hubungan mereka ntar diluar batas. Papih menyuruh mereka fokus kuliah dulu. Tapi kalau kalian benar benar mau mengambil alih tanggung jawab mereka ya papih nggak nolak." jelas Damar agak terbata karena harus menahan rasa nikmat yang menjalar ditubuhnya.
"Berarti Om Kusuma ngijinin Mita sama Sinta menikah meski masih kuliah?"
"Ya untuk lebih jelasnya kalian ke kantor papih aja. Atau nanti malam ke rumah."
"Baiklah, nanti aku coba kesana." ucap Dika.
"Istri kamu kemana Mar? dia nggak ikut ke kantor?" tanya Aldi sembari matanya berkeliling.
"Eh, anu Mawar lagi keluar sebentar beli jajan." bohong Damar.
"Gimana urusan dengan Kei Mar? apa dia masih bertingkah?"
"Makin menjadi mereka. Mana mau pakai dukun lagi buat melet mlMawar. eh kalian jagain Mita dan Sinta loh."
"Tenang saja Mar. aku sudah nyuruh beberapa orang untuk terus menjaga amita."
"Sama, Sinta juga aman dijaga orang orangku. "
"Syukur kalau gitu. Sekarang silahkan kalian sekarang balik, aku masih punya banyak kerjaan." usir Damar. Padahal dia sudah tidak tahan ingin mengeluarkan rintihan nikmat yang berasal dari kolong meja.
"Ya elah Mar. tumben amat kamu ngusir? biasanya juga kita dibiarin disini sampe sore."
__ADS_1
"Ya kan itu dulu Dik, sekarang sudah ada istri. beda cerita lagi." ucap Damar mencari alasaan.
"Baiklah, nanti malam aku coba kerumah kamu.."
"Oke." dan kedua sahabat Damar berlalu tanpa curiga sedikitpun dengan sikap damar.
"Huft, akhirnya." Damar kembali memperhatikan sang istri yang masih memegang benda kesayangannya.
"Nggak cape mah?"
"Enggak pah. Gemes. belum pengin meludah pah?"
"Belum lah, papah kan kuat. Kalau mamah capek ya berhenti aja dulu." saran Damar. Namun Mawar hanya menggeleng. Damar pun pasrah. Toh dia juga bahagia melihat istrinya senang bermain dengan belalai gajah miliknya.
Damar kembali memeriksa dokumen dokumen yang ada di mejanya. Namun tak lama kemudian muncullah Bagas menghampirinya.
"Akh gangguan lagi." gerutu Damar.
"Tuan?" tanya Nagas begitu dia sudah berdiri dihadapan Damar.
"Ada apa Gas? bukankah hari ini nggak ada agenda penting?" Tanya Damar kesal.
"Masalah pribadi?" dan Bagas mengangguk. Dia langsung duduk dihadapan atasannya.
"Tentang rencana tuan besar yang akan menggelar pesta pernikahan saya tuan."
Damar nampak berpikir sejenak kemudian kepalanya manggut mangut. Sedangkan di kolong meja Mawar kembali berusaha tidak mengeluarkan suara.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Maaf sebelummnya tuan. apa benar saya sama Fiza akan segera dinikahkan?"
"Iya kenapa? kamu nggak suka?"
"Bukannya nggak suka tuan. Tapi ini mendadak banget. Saya takut keluarga saya dikampung pada salah paham tuan."
"Justru ini jalan terbaik buat kamu Gas. jujur sejak kamu dekat dengan perempuan, aku lihat sisi liarmu kemarin. Itu yang membahayakan Gas. Mungkin menurutmu kamu bisa menahan hasrat tapi nyatanya, bisa jadi apa yang kamu lakukan sama Fiza kemarin bisa diluar batas. Maka itu bukankah lebih baik menikah? kamu bebas ngapain apa saja tanpa harus merasa bersalah sama orang tuamu."
"Tapi tuan.."
__ADS_1
"Gini aja Gas, kalau kamu nggak siap, mending kamu bubar aja sama Fiza. Dari pada nanti kamu ujung ujungnya malah zina."
Bagas terperanjat. Tentu saja dia menolak saran atasannya.
"Nggak mungkin tuan, saya nggak akan melepaskan Fiza begitu saja."
"Maka itu, menikahlah. Biar apa yang kamu lakukan itu sudah berlabel halal."
"Terus saya harus bagaimana nanti menghadapi orang tua Fiza tuan? tuan kan tahu mereka bagaimana."
"Biar nanti itu jadi urusan saya dan papih. Kamu siapin aja mental kamu dan untuk waktunya kamu bicarakan sama om Iksan dan nanti om Iksan yang menyampaikannya sama papih." Bagas sepertinya mengerti dan dia hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ya sudah tuan terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu." Damar hanya menjawab dengan kepala sebagai isyarat. Bagas pun berlalu.
Beberapa saat kemudian.
"Pah belum pengin keluar? kok lama banget?" tanya Mawar masih berada di dalam kolong meja.
"Bagaimana mau keluar sayang. Orang dari tadi ada gangguan. mamah capekk? kalau capek ya sudah berhenti dulu. Papah ngga mau mamah kecapean."
"Enggak capek kok pah, mamah penasaran pengin lihat belalai gajah meludah." Damar terkekeh mendengar penuturan lugu dari sang istri.
"Ya sudah dilanjut. Papah akan konsentrasi biar cepat keluar."
"Ntar pah, mulut mamah pegel tahu." ucap Mawar sembari tangan satunya memijat pipi dan rahangnya.
"Hhahaha. katanya nggak capek?"
"Capek sih engga pah. Lihat nih punya papah gedenya kaya apa, wajar dong bikin pegel, tapi bikin ketagihan juga."
"Hahaah ya sudah terserah mamah aja. Papah akan konsentrasi biar mamah liat dia meludah."
"Oke pah." dan Mawar melanjutkan aksinya diiringi erangan kenikmatan dari mulut sang suami.
@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....
__ADS_1