MAWAR MILIK TUAN MUDA

MAWAR MILIK TUAN MUDA
Bukan Pria Polos Lagi..


__ADS_3

Kini petang menunjukkan kuasanya. Menemani manusia kembali ke tempat dimana keluarga berada. Meski ada sebagian manusia yang justru mengawali rencananya menjelang petang.


Seperti rencana seorang pemuda yang hampir tidak pernah keluar malam. Kini pemuda itu terlihat berdeda dari biasanya. Dia nampak lebih tampan walau hanya memakai sweter hitam dan celana jeans berwana putih. ajenis pakaian yang jarang sekali dia pakai di hari hari biasanya. Tak lupa sepatu kets bewarna senada dengan clananya yang membungkus kakinya menambah pesona pria itu semakin membahana.


Pria yang menjabat sebagai asisten kepercayaan dan kesayangan seorang tuan muda, saat ini terlihat berdiri di depan gerbang kediaman tuan mudanya, menunggu salah satu penghuni kediaman tersebut. Bersandar di dekat pintu mobil yang dia bawa, dengan sabar dia menunggu seseorang yang akhir akhir ini menjadi penyemangat dalam hidupnya.


Berkali kali matanya melirik jam yang melingkar di tangannya. Wajahnya terlihat gusar. Padahal dia belum lama berada disana. Mungkin baru sepuluh menit dia menunggu. Tapi yang namanya rindu, menunggu itu seakan menjadi pekerjaan yang sangat menyebalkan yang dia jalani.


Tak lama kemudian, muncul lah sesosok perempuann yang terlihat sangat cantik meski hanya berbaut pakaian sederhana.


Senyum pria itu tersungging dengan manisnya menyambut kedatangan wanita pengisi hatinya.


"Maaf pak, kelamaan yah?" tanya perempuan itu tak enak hati.


"Enggak kok. langsung jalan aja apa gimana?" Tawar sang pria.


"Ya boleh.."


Dan mereka pun segera masuk mobil dan sejurus kemudian mobil itu melaju menembus jalan raya.


"Kita mau kemana Za?" tanya sang pria sesaat setelah mobil sudah berbaur dengan kendaraan lain di jalanan.


"Terserah pak Bagas. aku mah nurut aja.." jawab Fiza tanpa menoleh ke arah yang bertanya.


"Ya sudah kita ke hotel ya?" Tentu saja ajakan itu membuat sang gadis terkejut. Bahkan seketika dia langsung menoleh dan menatap tajam pria tanpa ekspresi disebelahnya.


"Yang benar saja pak? masa kehotel?" protes Fiza.


"Loh, katanya terserah saya." balas Bagas santai sambil tetap fokus dengan setirnya.


"Ya emang terserah bapak. Tapi ya jangan ke hotel dong, gila aja. kita belum halal pak." ucap Fiza sewot.


"Emang kalau ke hotel harus nungu halal dulu gitu?" tanya Bagas.


"Ya bagi saya begitu. nggak tahu bagi orang sebelah saya." sindiir Fiza membuat bagas tergelak.


"Emang kalau hotel kamu pikir kita mau ngapain? jangan biilang kamu berpikir yang tidak tidak." terka Bagas.


"Yang tidak tidak bagaimana?" tanya Fiza dengan dahi mengkerut.


"Ya seperti apa ang kamu pikirkan."

__ADS_1


"Lah terus kita kehotel mau ngapain coba?" tanya Fiza ambigu.


"Ya bisa aja kita sekedar ngopi atau makan direstoran hotel. Apa dalam pikiranmu kalau ke hotel itu harus ke kamar gitu? bukan kah kita juga kerja di hotel?" jawab Bagas dan seketika Fiza terbungkam. Bahkan dia mencebikkan bibirnya. Sedangkan Bagas menahan tawanya.


"Ya kan kali aja pak Bagas pengin yang lain." ucap Fiza membela diri.


"Loh, bukankah itu juga kesempatan buat kamu?"


"Kesempatan? kesempaatan apa?" tanya Fiza tercenung.


"Kemarin kemarin ada yang bilang sama tuan muda kalau bibir aku tuh enak. bukankah ini kesempatan nikmatin bibir aku sampai puas?"


Seketika wajah Fiza merona karena malu. Bisa bisanya dia bilang jujur seperti itu pada tuan muda. kini ucapannya malah dijadikan senjata oleh si pemilik bibir. Fiza terdiam. Dia berpaling menyembunyikan malunya. Sedangkan Bagas senum senyum sembari sesekali melirik gadis disebelahnya.


"Ya sudah kamu yang pilih tempat kita kemana?" tanya Bagas.


"Nggak tahu pak, bingung."


"Kita beli makanan aja trus kerumahku gimana?" Fiza kembali menoleh dan matanya nenatap tajam kembali ke arah Bagas.


"Rumah bapak tuh sepi, bisa bahaya."


"Ya ampun Fiza. Kamu tuh kenapa mikirnya ke hal hal yang lain sih? kamu disuruh milih tempat bingung. Giliran aku yang memilih tempat kamu berpikir buruk. aapa perempuan memang seribet ini?"


"Aku masih doyan kamu Fiza. jangan coba coba nantangin kamu. Yang ada kamu ntar kewalahan." sungut Bagas.


"Katanya nggak mau ribet?" tanya Fiza tak mau kalah.


"Haduhh, ya udah oke, sekarang terserah kamu kita mau kemana. Mau keurmah ku ayok, kehotel boleh, di dalam mobil ngabisin bensin ya ayuk. Aku pasrah aja deh." ucap Bagas dengan nada sedikit kesal. dan justru sikap ini membuat Fiza semakin bingung. dan untuk sesaat mereka terdiam.


Dan waktupun berlalu. kini mereka berada dirumah Bagas setelah tadi berdebat lagi akhirnya keputusan jatuh dirumah pemuda itu dengan membawa beberapa jajajan.


Rumah Bagas memang terlihat nyaman. Meski Bagas hanya tinggal sendiri namun rumah itu nampak rapi. Kini mereka sudah duduk bersebelahan di ruang tamu sembari menikmati aneka makanan yang mereka beli di jalan tadi.


"Pak?"


"Hum? apa?"


"Bapak sudah dengar apa yang dinginkan tuan besar?"


"Yang dinginkan tuan besar? maksudnya?" tanya Bagas dan kini mata mereka beradu.

__ADS_1


"Tua besar ingin menikahkan kita." seketika mata Bagas membola dan dia menaruh kembali martabak yang sedang digenggamnya.


"Kamu yakin?" tanya Bagas memastikan.


"Iya, malah katanya akan dijadiin satu dengan pernikahan Mita dan Sinta. "


"Aduh, bisa berabe nih.."ucap Bagas nampak khawatir.


"Kenapa? bapak nggak mau menikah?" terka Fiza sedikit keewa dengan sikap Bagas.


"Bukan begitu Za. aku takut jangan jangan om Iksan sudah melihat video kita yang direkam tuan muda. Apa kata keluargaku coba? ntar dikira aku berbuat yang tdak tidak gimana?"


"Bukankah itu benar? bapak melakukan hal yang tidak tidak ke saya?" ucap Fiza sembari menggigit martabak yang penuh dengan coklat tanpa menoleh ke pria yang sedang tercengang dengan ucapannya.


"Tapi kan saya tdak memperkosa kamu. apa kamu mau diperkosa? ayo, mumpung sepi." gantian Fizza yang mengernyit.


"Mana ada pemerkosan pakai pamit? haduh pak Bagas aja ada aja."


Bagas tergelak dan dia iuga kembali menyantap kembali martabaknya.


"Tapi kan kamu juga menikmatinya Za. Apalagi kamu terang terangan bilang kalau bibir aku enak." Fiza mendengus dan menoleh sejenak pada pria yang senyum senyum itu.


"Nggak perlu di ingatkan terus kali pak. bangga bener kelihatanya."


"Iya dong bangga."


Bagas menoleh. Fiza begitu lahap menikmati martabak manis topping coklat kacang hingga dia tak sadar coklatnya menempel dibeberapa sisi bibirnya. Bagas tesenyum dia mengambil tisue bermaksud membersihkan bibir Fiza. Namun ide nakalnya muncul. Dia mendekatkan kepalanya perlahan dan dia bersuara lembut.


"za."


Fiza spontan menoleh dan pas perempuan itu dalam posisi yang sempurna, Bagas langsung menyambar bibir Fiza dan menahan tengkuknya. mata Fiza membulat. Bagas cukup lama menempelkan bibirnya kesegala sisi dan bahkan sedikit menggigit dan menyesapnya hingga coklat yang menyebar di bibir Fiza habis tanpa sisa. dirasa cukup, Bagas melepas bibir itu.


"Makan coklat aja belepotan kemana mana." ucap Bagas cuek sembari kembali menyantap martabaknya sedangkan Fiza mematung dengan debaran di dada yang membahana.


@@@@@


...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....


...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....


__ADS_1



__ADS_2