
"Euugghhh" terdengar suara lenguhan seorang perempuan dari lelapnya.
"Ughh, kepalaku, kenapa pusing sekali" keluh perempuan itu. dia mencoba bangkit. Namun saat matanya terbuka dirinya syok. tubuhnya polos terpampang tanpa adanya kain yang menempel. raut wajahnya berubah panik.
"Sudah bangun nona?" terdengar suara menggelegar. Wanita itu menoleh dan matanya lagi lagi membelalak. Ada tiga pria bertubuh tinggi besar menatap lapar ke arah dirinya. Seketika dia meraih sperei untuk menutupi tubuhnya.
"Siapa kalian? Kenapa aku ada disini? dimana aku?" tanyanya dengan penuh rasa takut.
"Apa kamu tidak ingat kejadian kemarin? atau mau saya ingatkan?"
"Aku tidak ingat? apa yang telah kalian lakukan padaku?"
"Baiklah.." ketiga pria itu berjalan mendekat dan mengelilingi perempuan itu.
"Apa mau kalian? " tanya sang perempuan semakin panik.
"Apa kamu tidak ingat? kamu telah menghina anak tuan muda Prapanca?"
Degg..
Wajah perempuan itu pias. Dia ingat kejadian itu. Kejadian dia menyebut anak haram kepada keturunan tuan muda Prapanca.
"Tolong maafkan aku, aku tidak salah, aku hanya disuruh.."
"kamu tenang saja, tuan muda sudah memafkan kamu.."
"Benarkah?" tanya perempuan sedikit berharap.
"Benar, namun sayang, tuan muda menyerahkan kamu kepada kami jadi ya kamu harus tetap disini.."
Byukk,
Wanita itu kembali ketakutkan, airmatanya luruh.
"Tolong, maafkan aku, bebaskan aku tolong, aku tidak bersalah, aku hanya disuruh.."
"Apa kamu sangat membenci anak haram? bagaimana kalau kamu membuat anak haram bersama kami? kamu jangan khawatir kami juga anak anak yang lahir namun tak di inginkan orang tua kami.."
Semakin pucatlah wanita itu. Ditambah ketiga laki laki itu memandang tubuh polosnya seperti singa lapar.
"Tidak, hiks hik, tolong, tidak, tolong, ampun, TIDAK..!!!!"
###
Hari pun berganti. Kini nampak keluarga besar Pranpanca sedang berada di sebuah pesta.
Pesta pernikahan salah satu pengusaha ternama dan juga teman dari tuan muda dan istrinya, siapa lagi kalau bukan pernikahan Alex dan Sisil.
Mereka kini sedang terlihat berada di atas pelaminan untuk memberi ucapan selamat.
"Mas alex? nggak jadi nikah sama mba Sisil?" Alex yang ditanya Mawar sedikit bingung.
"Lah ini?"
__ADS_1
"Ini bukan mba Sisil mas, mba Sisil nggak pernah secantik ini, pasti ini salah orang?"
"Mawar.." geram pengantin wanita dan mawar hanya menampilkan deretan gigi putihnya.
"Selamat ya mba, akhirnya.."
"Makasih Mawar, anak anak nggak ikut?"
"Enggak, lagi banyak tugas sekolah.."
"Yah, aku kan pengin foto sama mereka.."
"Ya elah, orang udah sering ketemu juga,"
"Ya beda Mawar.."
"Udah sih kalian ngobrolnya, nggak peka apa banyak yang antri?" Protes Damar.
"Hehe sorry pah, abis lama nggak ngobrol sama mba Sisil.."
dan satu persatu mereka menyalami sang pangenatin baru beserta kedua orang tua mereka.
Setelah mengucapkan selamat, mereka kini sedang menikmati acara yang lainnya. Damar dan Mawar terpaksa berpisah karena Damar di ajak bergabung dengan kolega koleganya serta teman teman lamanya dan juga ada Aldi dan Dika. Sedangkan Mawar memilih duduk bersama Mita Sinta dan Fiza.
Damar yang sedang asyik ngobrol tiba tiba dikejutkan oleh gelas yang entah darimana asalnya tersenggol tangannya hingga isinya tumpah mengenai dirinya dan seseorang yang terdengar memekik.
"Aduhh.." Dari suaranya kalau itu adalah seorang perempuan. Damar menoleh.
"Eh maaf, nggak sengaja." ucap Damar.
"Ini trik kalian? baiklah aku ladenin?" uap Damar dalam hati.
Wanita itu berjongkok namun matanya terus melirik ke arah Damar dengan wajah kebingungan.
"Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Kena" seru perempuan itu dalam hati.
"Aku mau berdiri tapi aku malu, pakaianku basah tuan.."
"Ayo buka jas mu tuan." teriak perempuan dalam batinnya.
Damar pun bangkit dia membuka jas ya, dan menyuruhnya memakainya. perempuan itu pun meraihnya dan segera memasang jas itu di depan tubuh atasnya. Setelahnya perempuan itu berdiri.
"Makasih tuan kalau begitu saya permisi dulu" dan perempuan itu pun pergi.
"Berhasil, sekarang tinggal mencari waktu yang tepat mengembalikan jass ini hihii.." gumam perempuan itu sembari tetawa jahat.
"Kenapa permainanya mudah sekali di baca?" gumam Damar.
Sedangkan di tenpat yang sama
"Hallo nona mawar?" sapa seoraang laki laki dengan ramahnya.
__ADS_1
"Mas Kei? wahh kebetulan sekali?"
"Iya nih, appa aku boleh bergabung..??"
"Oh silhakan" pria itu pun duduk tak jauh dari kursi yang diduduki Mawar. Sementara ketiga perempuan yang ada di dekat Mawar nampak bingung dan aneh. Pasalnya anak petinggi yang mereka lhat sekarang terlihat ramah hanya kepad Mawar,
"Kenapa sendirian mas Kei?' tanya Mawar yang awalnya sedikit canggung.
"Iya, nggak ada temen, tadi mau pulang eh lihat kamu jadi aku memutuskan gabung disinii.."
"Ohh, mas Kei temannya mba Sisil apa Alex sih? kok aku baru tahu?"
"Alex, cuma jarang ketemu.."
"Aku sengaja kesini War, hanya pengin ketemu kamu.." batin Kei.
"Suami kamu mana nona Mawar?' tanya Kei senjutnya.
'"Oh itu disana lagi sama yang lain.."
"Itu yang ngga pakai jas?" Mawar yang asal tunjuk pun terengang. Damar tidak pakai jas? ucap Mawar dalam hati. Matanya pun mencari Damar. abenar saja jas damar tidak ada.
"Mungkin sedang di lepas sejenak, kepanasan kali."
"Panas? adem adem begini? atau mungkin dia sedang meminjamkan kepada seseorang?" tanya Alex seperti sedang memprovokasi. Mawar dan ketiganya pun semakin tercengang. Bukan karena soal jasnya tapi ucapan dari seorang Kei.
Seolah membenarkan ucapan Kei, disebelah sana ada seorang perempuann yang membawa jas Damar ditangannya mendekat kearah dimana Damar berada. Mawar tercengang itu jas suaminya.
Sedangkan di posisi Damar
"Tuan.." panggil perempuan tadi. dan Damar menoleh.
"Eh iya ada apa?'
"Inii jas tuan, terimakasih.."
"Oh sudah, iya sama sama,"
Tanpa diduga perempuan itu mendekat dan berbisik
"Disaku jas tuan ada nomer ponsel saya.."
"Baiklah.." ucap Damar sembari tersenyum nakal. padahal dia tahu betul apa maksud perempuan itu.
Sedangkan di meja lainnya, Mawar dan ketiga perempuan yang satu meja dengannya nampak kaget saat melihat perempuan itu tanpa tahu malu berbisik kepada suami orang. Mawarpun naik pitam, tapi dia menahannya.
"Sepertinya suami kamu ada hubungan dengan perempuan itu sampi membawaan jasnya?" ujar Kei dengan jelas banget sedang memprovokasi.
"Sepertinya nggak ada lah mba, bang Damarnya aja biasa saja gitu.." Bela Mita yang sudah nampak tidak suka dengan ucapan laki laki yang katanya anka petinggi itu.
"Ya kan siapa tahu, mana ada laki laki yang mau memijnaman jasnya untuk seorang wanita kalau nggak ada maksud lain.."
Sedangkan Mawar terus menatap tajam suaminya
__ADS_1
"Awas kau pah kalau main api.."
@@@@@