
Sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan, kini Mawar sudah berada di sebuah cafe yang sudah ditentukan oleh dirinya dan Kei.
Kalau bukan karena ingin hidupnya tenang, Mawar tidak mungkin melakukan hal konyol seperti ini. Dia tidak menyangka dari laporan laporan yang dia terima oleh beberapa orang orang kepercayaan suaminya, bahwa orang yang sangat dia kagumi berusaha mengusik ketenangan rumah tangganya.
Berkali kali Mawar melirik jam yan melingkar di tangannya. Dia gelisah bukan karena bahagia akan bertemu idolanya, namun dia gelisah karena takut rencana yang sudah disusun suaminya berantakan.
Tak selang berapa lama yang ditunggu menunjukan batang hidungnya. Pria itu langsung menampilkan senyum termanisnya saat matanya beradu dengan wanita yang sudah menunggunya.
"Hai Nona, udah lama?" tanya pria itu sembari mengajak berjabat tangan.
"Lumayan." balas Mawar setenang mungkin. Hatinya benar benar tak karuan. Meskipun du sudut cafe yang lain dan masih satu atap dengan cafe yang Mawar kunjungi juga nampak Fiza dan Santi mengawasi gerak gerik Mawar dan pria bernama Kei itu. Selain mereka berdua, orang orang suruhan Damar juga nampak berada di beberapa sudut cafe tersebut.
"Gimana kabar tuan muda?" Tanya Kei basa basi begitu dia mendudukan pantatnya dikursi berhadapan langsung dengan Mawar.
"Yah, seperti biasa, kabar dia baik." jawab Mawar dibuat lesu dan tak bersemangat hingga mengundang rasa penasan Kei.
"Jawabannya kabar baik tapi yang memberi kabar lesu gitu, kamu sakit?"
"Enggak, aku baik baik saja. Mungkin karena efek kehamilan kali jadi terlihat lesu." terlihat Kei hanya mengangguk dengan senyum yag tak pernah surut.
Pria itu memanggil pelayan dan memesan minuman sertabbeberapa cemilan untuk teman ngobrol.
"Ini kamu pergi kesini, apa nggak dimarahin suami kamu Non?" tanya Kei tetap jurus basa basinya makin gencar dilaksanakan. Dan sejujurnya dia juga sedang berpikir, bagaimana caranya mengambil sehelai rambut perempuan dihadapannya sekarang.
"Kalau dia tahu aku kesini ya yang pasti bakalan dimarahin lah mas. Apa lagi aku ketemuan sama laki laki, bisa bisa dicerai kali." dusta Mawar dan sukses membuat Kei terkekeh.
"Hahha, nggak mungkin lah dicerai, bukankah damar sangat menyayangi anda"
"Memang dia sayang. tapi sayang saja tidak cukup. aku juga butuh waktu banyak kan dengan dia. Tapi dia keseringan lembur. Waktunya lebih banyak untuk urusan kantor daripada urusan istri."ucap Mawar bebas tanpa hambatan. Bahkan Kei sama sekali tidak menaruh curiga kalau wanita dihadapannya sedang melakukan sandiwara.
"Mumpung pesanan belum datang, aku ketoilet dulu ya Kei. aku nitip tas." ucap Mawar dan Kei mengangguk
Mawar menaruh tas yang sengaja resletingnya terbuka dan menghadap ke arah Kei. Dia bergegas ke toilet.
Kei terus memperhatikan langkah Mawar hngga tubuh Mawar menghilang memasuki ruang bertuliskan toilet di atas pintu masuknya.
Kembali Kei terus berpikir bagaimana caranya mengambil rambut. Dia hanya butuh sehelai buat melancarkan aksiinya.
Kei melirik tas Mawar yang tergeletak di atas meja. Tiba tiba Kei sepertinya mempunyai ide karena matanya terlihat berbinar dan senyum terkembang. akei berpindah tempat duduk biar lebih dekat dengan tas milik Mawar. Sesekali dia menoleh ke arah toilet takut aksinya ketahuan.
__ADS_1
Perlahan Kei mengambil tas yang terbuka itu dan dia menyembunyikannya di kolong meja. Dia membuka tas tersebut dan melihat lihat isinya.
Mata Kei terbeblaalak. Disana ada alat perapi rambut. Dan yang membuat Kei bahagia, banyak rambut yang tersangkut dari alat itu. Dengan dada berdegup kencang, perlahan Kei mengambil benda itu kemudian menarik beberapa helai rambut yang tersangkut disana terus segera saja dia memasukkan helaian rambut ke dalam plastik yang sudah dia siapkan. Dan secepatnya dia menaruh kembali tas diposisinya sama seperti semula. Dia segera kembali ke tempat duduk seperti semula.
Sedangkan di ujung lain Fiza dan Santi turut tersenyum pula. Rencana Damar benar benar tak meleset sedikitpun.
Sementara di tempa lain, Sonya nampak gelisah karena seseorang yang dia tunggu belum datang juga. Padahap dia sudah dandan sedemikian rupa, dan juga dengan rencana yang begitu sempurna, namun sayang yang ditunggu belum menampakkan batang hidungnya dengan alsaan terjebak macet. Padahal tanpa Sonya sadari, oramg yang ditunggu Sonya sudah berda di lokasi parkir dimana Sonya berada.
Damar sengaja tidak segera masuk. Dia menunggu kedatanaan seseorang yang sudah dia tipu melalui anak buahnya untuk datang ketempat itu dengan tawaran bisnis dengan hasil yang menggiyurkan.
Tak lama kemudian orang yang Damar tunggu terlihat keluar dari mobil tak jauh dari keberadannya. Damar tak langsung turun. Dia menunggu waktu yan tepat untuk mensukseskan rencananya.
"Binggo, rencana berjalan sesuai yang aku inginkan." gumamnya dengan tersenyum puas.
Minuman yang Sonya pesen hampir habis namun orang yang dia tunggu belum juga keliahatan. Mata Sonya terus fokus ke arah pintu masuk tiba tiba telfonnya berdering. Donya melirik ponsel dihadapannya dan terpampang nama tuan muda dilayar tersebut. Bergegas dia menggeser tombol hijau.
"Hallo tuan."
"Iya nggak pap apa."
"Oh ya, iya udah deket."
"Bye,,"
Klik.
Panggilan berakhir. begitu dia hendak kembali menaruh ponsel di meja, Sonya dikejutkan dengan suara.
"Sonya...!"
Sonya mendongak dan matanya membulat.
"Mas Yuda?" ucap Sonya tak percaya.
Tanpa dipersilahkan Yuda langsung duduk dikursi yang posisinya dekat denagn Sonya. Sedangkan Sonya, dua benar bena merasa kaget dan pastinya kesal karena orang yang tak diharapkan malah bertemu di saat yang tidak tepat.
"Kamu sedang ngapain disini sayang?" tanya Yuda langsung memanggil sayang. Sedangkan yang dipanggil terpaksa menampakkan senyumnya
"Lagi nunggu temen mas." dusta Sonya.
__ADS_1
"Selingkuhan ya Sayang?" sontak saja Sonya terperanjat. Bagaimana dia menjawabnya. Bisa bahaya jika Yuda tahu Sonya akan bertemu dengan siapa. Bisa bisa tambang uangnya hilang.
"Bukanlah mas, orang temen perempuan."
"Oh, kirain laki laki, jangan nakal loh yang, kita sebentar lagi nikah." Sonya kembali tersenyum dengan sangat terpaksa.
Dari arah pintu masuk, Sonya dikejutkan dengan hadirnya pria yang sedang dia tunggu. Wajahnya langsung menegang.
Sedangkan di pintu masuk dengan santainya Damar melenggag. Dia tahu keberadaan Sonya dimana, namun dia pura pura tak melihatnya dan matanya berkeliling seakan saakan dia mencarinya.
"Aduh Damar datang, gimana ini? bisa hancur rencanaku? " gumam Sonya panik.
Yuda yang melihat raut wajah sonya berubah tentu saja jadi penasaran.
"Sayang? kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Yuda khawatir.
"Eh, egh engak mas,.." jawab Sonya sedikit gugup.
"Tapi kamu panik gitu?"
"Enggak kenapa kenapa mas, bener. mas Yuda kesini mau ngapain?"
"9h, Aku ada janji sama seseorang, mau ngajakin bisnis, lumayan dia investor yang saya butuhkan."
Sonya hanya mengangguk sekenanya saja. Pura pura mengerti perkataan Yuda. Padahal matanya terus mengawasi Damar yang sekarang duduk di sudut yang lain dan membelakanginya.
"Emang janjianya jam berpa?" tanya Sonya lagi namun matanya terus memandang jauh ke pria yang menjadi incarannya.
Di saat Yuda hendak menjawwab pertanyaan Sonya, tiba tiba ponsel Sonya berdering. Mata snya terbelalak karena ponselnya berada dihadapan Yuda juga. begitu juga Yuda langsung menoleh ke arah ponsel didepannya.
"Tuan muda?"
@@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....
__ADS_1