MAWAR MILIK TUAN MUDA

MAWAR MILIK TUAN MUDA
Masih Berani??


__ADS_3

"Kei.." Pekik perempuan itu lirih dan untung saja sang suami tak mendengarnya.


Sedangkan Kei sudah menunjukkan amarah lewat tatapan tajamnya. Dadanya naik turun, nafasnya menderu tak beraturan.


perempuan itu semakin pucat. Tentu saja dia kaget dan panik. Dia baru tahu orang kalau Yuda adalah ayah dari teman ranjangnya.


"Ini istri baru papih?" Tanya sang istri sedikit sinis tapi nampak acuh. Tidak terlihat sedikit pun raut wajah dan kecewa di sana. Dulu mumgkin rasa itu ada, namun semakin ke sini semakin menjadi maka dia memutuskan main belakang dengan laki laki lain untuk membalas sakit hatinya.


Namun ternyata, perbuatan itu tak membuat sang suami menyadari kesalahannya. Dulu meski hasrat dia sangat tinggi, bisa dikatakan hyper, Dia hanya mau melakukannya dengan sang suami. Namun sang suami malah bermain gila dengan berganti ganti wanita dibelakangnya. Sejak itu dia memutuskan melakukan hal yang sama tanpa meminta untuk bercerai. Jelas sekali dia tak mau bercerai. Harta suaminya melimpah dan hanya dia satu satunya istri sah dimata hukum negeri.


"Ya seperti yang mamih lihat." Jawab sang suami enteng. Mereka bersama duduk di sofa yang sama dengan sang istri dan Kei.


Meski Kei terlihat sangat marah, namun Kei tidak mampu mengeluarkan suara dari mulutnya. Jelas dia tidak terima. Wanita yang selalu menghangatkan dirinya ternyata menghangatkan ayahnya juga.


"Kenalkan Sonya, dia istriku dan itu anak tirimu. Dia tampan bukan?" Ucap Yuda.


"Iya.." Jawab Sonya canggung. Tentu saja dia takut dengan tatapan Kei yang seakan akan ingin membunuhnya.


"Ya sudah, kalau kamu mau istirahat. Kamar kamu di atas. ntar aku pangilkan bibi buat mengantarkan." Ucap Yuda dan dia segera berteriak memanggil sang asisten. Tak butuh waktu lama sang asisten Datang.


"Antarkan nyonya muda ini ke Kamar atas sebelah kamar Kei." Titah Yuda.


"Baik tuan, mari non."


"Kamu ke kamar dulu, aku akan keluar sebentar menemui seseorang. Aku akan secepatnya pulang, oke." Dan Sonya hanya mengangguk.


Sonya pun mengikuti sang bibi menuju kamarnya. Hal ini tentu saja menjadi kesempatan Kei untuk meminta penjelasan. Setelah sang papih beranjak pergi Kei langsung saja menuju kamar yang Sonya tempati.


"Kenapa kau memilih papihku untuk menjadi tambang uangmu, Sonya?" Tanya Kei sesaat setelah menggebrak pintu dan menerobos masuk memojokkan tubuh Sonya ke dinding.


"Maaf Kei aku nggak tahu dia orang tua kamu."


"Jangan bohong kamu, Kamu tahu kan keluarga ku sering masuk berita."


"Sumpah. Lagian kan kamu tahu, aku nggak pernah peduli dengan berita yang tersebar. Kamu tenang saja, aku tidak lupa dengan rencana kita." Ucap Sonya setenang mungkin.


"Rencana kita gagal total." Ucap Kei dan dia melepas cengkramannya.

__ADS_1


"Gagal? Maksudnya?" Tanya Sonya bingung.


"Rencana kita gagal total, Damar tahu rencana kita."


"Apa...!" Sonya syok, "Ini nggak mungkin, bukankah semalam kamu sudah berhasil sama Mawar?"


"Justru aku yang di kerjai habis habisan. Aku seperti kena pelet. Tidak bisa membedakan mana Mawar yang Asli dan yang bukan." Ucap Kei, dia mendudukan tubuhnya di atas ranjang namun Sonya masih mematung berdiri bersender dinding. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu dan benar saja matanya tiba tiba berbinar.


"Jangan jangan pertemuan aku dan papahmu ulah Damar juga?" Ucap Sonya dan tentu saja Kei terkejut.


"Maksudmu.."


"Jadi gini..." Sonya menceritakan semua kejadian dari awal dia bertemu Yuda dan sampai menikah.


"Jangan jangan, datangnya tiga pria tambang uangku dulu, ulah Damar juga." Ucap Sonya semakin syok.


"Sial, jadi dari awal rencana kita sudah dia ketahui, ah brengsek." Maki Kei.


"Kita harus bagaimana? nggak mungkin dong kita diam aja Kei, kita harus membalasnya."


"Brengsek..!!!!" Teriak Kei. sampai Sonya pun terlonjak. Dia penasaran apa yang baru dilihat Kei. Dia melangkah ke arah Kei dan merain ponselnya.


Mata Sonya ikut membelalak. Disana terpampang foto foto mesra Kei dengan Sonya dan juga malam panas dengan Santi. Sonya juga membaca tulisan di antara foro foto itu.


"Mau terus melawanku? silahkan. Siapa yang akan hancur duluan. Aku atau keluargamu.."


Tentu saja, wajah keduanya nampak khawatir. Damar benar benar tidak akan pernah main main dengan ucapannya.


"Gimana ini Kei? Ini nggak bisa di biarin? Kalau papih kamu tahu hubungan kita gimana?"


"Nggak, nggak, aku nggak akan biarkan hal itu terjadi, aku sudah punya rencana sendiri. Dan kali ini aku pastikan, aku akan berhasil."


"Tapi kamu sedang di awasi Kei. Jangan nekad." Ucap Sonya memperingati.


"Aku bisa mengelabui mereka, tenang saja. Aku pastikan lebih cerdik dari dia." Ucap Kei yakin dengan senyum jahatnya.


"Terserah kamu Kei, tapi kamu hati hati."

__ADS_1


"Pasti. Dan sekarang kita main, puaskan aku. Biar suasana hatiku tenang." Pinta Kei.


"Gila kamu Kei, nanti papih kamu tahu."


"Nggak bakalan, dia bakalan pulang malam, sudah cepet, puasin aku."


"Baiklah.."


Sementara di tempat lain.


"Pah, nanti kalau Kei berbuat yang enggak enggak gimana? Dia pasti akan balas dendam." Tanya Mawar begitu mereka selesai melakukan ritual suami istri.


"Jangan khawatir sayang, papah sudah tahu itu, Dia nggak akan pernah mau kalah. Sudah kebaca, mamah tenang aja."


"Beneran?" Mawar makin mengeratkan pelukannya.


"Beneran, udah, mamah jangan terlalu mikirin, itu sudah jadi urusan papah, mamah fokus aja sama anak kita."


"Syukurlah, makasih ya pah."


"Nggak perlu makasih mah, itu udah kewajiban papah memberi rasa aman. Terutama buat mamah." Ucap Damar, salah satu tangannya mengusap lembut perempuan yang paling di cintainya dan sangat berharga di hidupnya.


"Mamah pikir, nasib mamah nggak akan seberuntung ini. eh ternyata ditakdirkan dengan papah adalah takdir yang paling mamah syukuri."


"Papah juga mah, papah kira papah tidak akan pernah berani mencintai wanita lagi karena trauma. Tapi mamah membuka hati papah. Awalnya papah juga nggak yakin dengan perasaan papah. Tapi semakin lama papah sadar. Betapa papah nggak ada artinya jika nggak ada mamah. Mamah selalu menyadarkan papah untuk tidak langsung berpikira buruk dulu. Mamah nggak pernah dendam. Mamah juga selalu tulus."


"Mungkin karena mamah orang baik kali pah, jadi jodoh mamah juga orang baik. Dan papah bukan hanya sekedar orang baik, tapi papah memang yang terbaik."


"Mamah juga yang terbaik, nggak ada perempuan yang setulus mamah mencintai papah bukan harta papah."


"Dan kita keluarga yang terbaik."


"Papah setuju, mah belalai gajah masuk sarang lagi boleh?"


"Dengan senang hati.."


@@@@@@

__ADS_1


__ADS_2