
Prok prok prok..
Suara tepuk tangan mengejutkan seseorang pria yang sedari tadi terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Kei, setelah dirinya merasa terbang di awan awan karena berhasil melakukan penyerangan dan menangkap targetnya. Namun ternyata apa yang dia tangkap bukanlah apa yang dia harapkan. Laki laki dan wanita yang terikat di depannya ternyata orang lain. Bukan Tuan muda dan Mawar. Bagaimana mungkin anak buahnya tak mengetahui hal ini?
Dan yah sesuai dugaan, akan ada pengkhianat jika suatu pekerjaan hanya didasari ego. Apalagi jika sudah berhubungan dengan uang yang lebih banyak. Berkhianat adalah jalan terampuh demi sebuah bayaran yang jauh lebih besar.
"Bagaimana tuan Kei? pertunjukkan yang kau sajikan? Apakah sukses?" Ejek seseorang yang berdiri tak jauh darinya.
Wajah kecewa tentu saja terlihat jelas pada diri Kei. Dia menangkap orang yang salah dan di depan matanya, orang orang yang menjadi suruhannya bahkan berdiri tepat dibelakang orang yang sudah dianggap Kei musuh.
"Silahkan nikmati Mawar dihadapanku? Bukankah itu yang kamu inginkan?" Ucap orang itu lagi dengan ejekan yang tiada henti.
Sayang sekali, Mawar yang Kei inginkan bukan Mawar yang sekarang terikat di hadapannya. Mawar yang ini adalah Mawar yang sama yang pernah ikut Kei pulang ke rumah.
Kei benar benar diam tak berkutik. Mau lari pun tak ada nyali. Mau menyerang? Pakai apa. Dia tidak mempersiapkan sesuatunya dengan baik. Dia terlalu percaya diri kalau dia pasti berhasil mengecoh orang yang dia anggap saiangan cintanya.
Kei hanya diam mematung. Menatap pria dihadapannya dengan amarah yang sangat bergemuruh di dada.
"Ikat dia di atas ranjang." Dengan sekali perintah, anak buah yang sudah berkhianat kini menyerang Kei. Awalnya Kei melawan dan memberontak, Namun apalah daya Kei. Hidupnya hanya di isi dengan senang senang dan foya foya, mana mampu dia melawan beberapa tubuh kekar yang sekarang mengikatnya di atas ranjang yang teparnya mirip sebuah brangkar.
Sementara si Mawar paslu yang kini sudah terlepas dari ikatannya, dengan penuh hasrat mulai membelai wajah Kei dengan mata yang sangat lapar. Laki laki normal manapun pasti akan merasa geli melihat ataupun merasakan disentuh wanita abal abal. Begitu pun Kei, tubuhnya bergetar. Bukan karena menimati tapi karena jijik.
"Tunggu dong San, kan temen temen kamu belum pada datang." Ucap pria itu yang sekarang sedang duduk dengan angkuhnya di sebuah kursi yang seharusnya Kei duduki.
"Ah iya tuan muda, maaf, abis Santi gemes kalau lihat orang cakep di depan mata. Bawaannya penginnya langsung melahapnya aja sih." Jawab Santi genit dan pastinya jawaban itu membuat semua laki laki yang ada disana merinding dibuatnya.
"Lakukan sesukamu nanti, kan dia akan bersamamu dan teman temanmu selama satu minggu. Kalian pasti bakalan puas?"
__ADS_1
Sontak saja Kei syok mendengarnya. Satu minggu akan tubuhnya akan jadi santapan wanita jadi jadian di hadapannya dan lagi ada teman temannya.
"Maaf Tuan muda, tolong ampuni saya, saya janji, saya tidak akan mengganggu hidup tuan muda lagi, tolong.." Akhirnya meluncurlah ucapan permohonan dari mulut Kei. Dengan wajah panik luar biasa, Kei benar benar menjatuhkan harga dirinya demi mendapatkan pengampunan.
"Pengampunan? kamu meminta sama saya sebuah pengampunan? Bukankah saya sudah jelas jelas memperingatimu. Tapi apa yang kamu lakukan?"
"Saya tahu saya salah tuan, tolong demi nama baik anda biar tetap terjaga. Mohon lepaskan saya. Saya janji saya tidak akan mengusik kehidupan tuan muda lagi."
"Apa? Demi nama baik saya? Hahhhaha..!!!" Damar menjeda ucapannya. Dia berdiri dan melangkah mendekati Kei.
"Nama baik saya, tetap akan selalu baik, tanpa campur tangan kamu pun nama baik saya akan selamanya baik. Jadi jangan terlalu percaya diri kamu Kei."
"Tapi tuan muda. Saya mohon kali ini ampuni saya. Saya janji saya tidak akan mengusik hidup tuan muda lagi. Saya janji." Ucap Kei dengan ketakutan yang sudah sampai di ubun ubun. Bahkan airmatanya pun mulai luruh saking takutnya.
"Santi sepertinya teman teman kamu sudah datang." Ucap Damar dan benar saja. Saat semuanya menoleh teman teman yang sealiran dengan Santi terlihat bergerombol. Bukan hanya wanita palsu, diantara mereka juga ada yang berpenampilan laki laki namun dengan langkah meliyuk liyuk seperti layangan kena angin.
Makin paniklah wajah Kei melihat itu semua. Di mencoba melepas jerat tali yang mengikatnya namun apa daya, jeratan di kedua tangan dan kakinya terlalu kencang.
"Bukankah kamu sangat tergila gila dengan Mawar. Tuh, di hadapanmu semuanya bernama Mawar. Kamu bisa puas mau melakukan apa saja dengan Mawar." Ucap Damar dengan santainya.
"Tuan muda, lebih baik anda masukan saya saja ke penjara tolong. Hukum saya dengan hukum yang ada. Apapun hukumanny akan saya terima tapi tidak seperti ini. Tolong." Rintih Kei masih berusaha memberi penawaran.
"Loh, ini hukuman enak daripada di penjara loh. Kamu bisa mencicipi semua Mawar sampai kamu puas."
"Tuan saya mohon, hiks hiks. Saya mohon ampuni saya."
"Sudahlah. Santi lakukan tugasmu dengan benar. rawat dia baik baik. Dia akan bersama kamu beberapa hari ini." Ucap Damar kepada Santi.
"Baik tuan, sudah pasti aku akan menjaganya tanpa lecet sedikitpun."
__ADS_1
"Ya sudah, Kei saya pulang yah. Selamat menikmati hari panjang bersama Mawar hihihi.."
"Tidak, tidak tuan muda, tolong jangan tingggalkan saya, tuan, maafkan saya, Tuan Muda...!!!"
Sayang sekali Damar melenggang dengan senyum kemenangan layaknya mafia.
Sedangkankan semenjak kepergian Damar, Santi dan kaumnya mulai mengelilingi Kei dengan tatapan penuh hasrat.
"Siapa dulu nih yang mau mencicipi?" Tanya salah satu dari mereka. Dilihat dari postur tubuhnya. Dia tampan dengan tubuh menawan tapi sangat disayangkan kalau pria setampan itu menyimpang.
"Sebagai pemimpin yang pasti aku dulu dong." Ucap Santi. Dan tentu saja Semau ucapan yang terlontar dari sekeliling Kei membuat Kei begitu ketakutan.
"Tolong lepaskan saya. Saya janji saya akan memberikan uang yang banyak untuk kalian."
"Maaf tuan, simpan saja uang mu, Tuan muda sudah memberi kamu uang yang cukup. Dan kami nggak mau berkhianat." Ucap Santi santai. Tangannya merogoh Tas yang dia pakai.
"Tarrraaaa...!!" Sebuah gunting besar Santi acungkan. Tentu saja Kei makin panik dibuatnya.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tenang tuan. Saya tidak akan melakukan apa apa."
Santi memegang ujung celana Kei dan
Kresss...
Gunting itu memotong celana yang Kei gunakan. Tentu saja Kei makin panik. Sudah pasti dia tahu kalau dia akan telanjangi.
Dengan lincah Kei menggunting setiap kain yang melekat pada tubuh Kei tanpa sisa. Sontak saja mata yang tertuju pada tubuh Indah Kei langsung meneguk ludahnya. Hasrat yang tinggi langsung mengiringi mereka melampiaskan pada tubuh polos di depannya.
__ADS_1
"Tidak, tolong, jangan lakukan. Tidak.. Tidak...!!!"
@@@@