
Sudah tiga hari Damar dan Mawar benar benar menikmati acara kencannya tanpa gangguan dari siapapun. Semua pekerjaan Damar lakukan dari kamar hotel. Beruntung Dian dan Dion juga tidak banyak protes. Mereka mengerti tentang apa yang dilakukan orang tuanya.
Selain karena sayang sama istri, Damar rela melakukan keinginannya karena dia juga teringat tentang almarhum ibunya si kembar. Mungkin dulu Intan juga mengalami ngidam yang tak terwujudkan.
Jika teringat masa lalu, begitu banyak kejadian yang membuat seorang Damar menyesal. Apalagi jika teringat perbuatannya pada Intan dan Mawar, sungguh, cuma ngilu yang dia rasakan.
Beruntung, Mawar orangnya tak mudah dendam. Bahkan dia dengan mudah memaafkan kesalahan Damar. Dan beruntung juga Mawar mau menerima dia jadi suaminya tanpa memandang kesalahannya.
Damar juga selalu bersikap waspada. Sejak kejadiannya beberapa hari yang lalu, kini Damar semakin mengerti kalau istrinya benar benar idaman setiap pria dan Damar tentu saja akan menjaganya dan juga menjaga hatinya hanya untuk istrinya. Damar juga mengutus orang orang khusus untuk menjaga keluarganya jika saat sedang berada diluar rumah termasuk buat si kembar. Damar tidak ingin kecolongan dan lengah yang akan membuatnya kehilangan istrinya.
Sementara itu hubungan asmara orang orang terdekat Damar Dan Mawar juga sepertinya terlihat cukup baik. Ķedua adik angkatnya sangat di terima oleh orang tua masing masing pasangan.
"Mamah ingin aku melamar kamu.." pertanyan itu muncul dari seorang pira yang sedang duduk berdua dengan gadisnya di bawah pohon tak jauh dari sebuah kampus tempat pacarnya kuliah.
"Serius?"
"Apa aku terlihat berbohong?"
"Hehhee, nggak tahu.."
"Cihh, kamu sebenarnya serius nggak sih Mit sama aku?"
"Yang harusnya bertanya itu kan aku ma?? Bukankah kamu seneng banget goda goda cewek lain? Bahkan didepanku aja seneng banget genitin cewek lewat. Seperti nggak mengangggapku ada. Nggak bisa menjaga perasaan banget."
"Hehehhe, ternyata kamu sering memperhatikan tingkahku ya?"
"Mau gimana lagi, Kalau kamu nggak selalu mengikutiku ya mana mungkin aku memperhatikan tingkah kamu itu.Nggak salah dong jka aku mempertanyakan keseriusanmu?"
"Tapi kan kamu tahu, hanya kamu yang aku perjuangkan.."
"Kamu itu yah, nggak peka apa emang nggak ngerti? bibir kamu bilang memperjuangkanku tapi tingkah kamu berkata banyak cewek yang diperjuangkan. mana bisa di percaya?"
"Itu kann karena aku hanya ingin mencari perhatianmu Mit. kamu tahu, bagi laki laki diperhatikan oleh seorang perempuan tuh kebahagiaan tersendiri loh.."
"Apa harus cari perhatian dengan genit ke cewe lain di depan mataku? "
"Habis aku bingung, entah harus pakai cara apa agar aku diperhatiakan sama kamu. Kamu terlalu cuek sama aku."
"Gimana aku nggak cuek mas Aldi, sejak awal aja kamu memang selalu genit. "
__ADS_1
"Ya kan itu alasannya Mit, aku hanya ingin di perhatikan sama kamu. Kamu tahu nggak, kamu tuh wanita terlama yang dekat sama aku, Biasanya aku kalau dekat dengan perempuan paling lama seminggu, tapi sama kamu hampir lima bulan. Itu karena kamu tuh berbeda dengan yang lainnya. Bahkan mamih sama papih aja langsung suka sama kamu, biasanya mereka akan ngasih pertanyaan pertanyaan yang menyudutkan jika aku membawa perempuan ke rumah, tapi sama kamu, mereka bener bener langsung gerak cepat agar aku menikahi kamu. Aku tuh berdoa, hanya kamu satu satunya wanita yang aku inginkan untuk merubahku dan bertahan lama hingga aku menua nanti.."
Mita hanya tersenyum mendengar ocehan pria menjelang tua disebelahnya. Hatinya pun seakan terbang mendengar penuturan lugu dari pria genit dan suka tebar pesona itu.
Sementara di sebuah restoran, seorang laki laki juga terlihat nampak begitu bahagia. Dirinya juga sudah mengantongi restu dari orangtuanya untuk segera meminang gadis yang sekarang tiap pulang kuliah ataupun sedang libur, memilih membantunya bekerja di restorannya.
Seperti hari ini, perempuan itu sedang merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerja sang atasan sekaligus kekasihnya itu akibat capek melayani pengunjung restoran yang seakan tiada henti datang dan pergi.
"Capek yah?" Tanya sang pria tersenyum senang sembari duduk dipinggiran sofa dimana perempuan itu terbaring.
"Namanya kerja mas, ya capek lah."
"Makanya kamu nerima yang dari aku dong Sin, hitung hitung itu uang kerja kamu disini?"
"Hehe kalau aku nerima uang kamu, sama aja aku nggak ikhlas membantu kamu. lagian uang dari Om Kusuma cukup kok mas.."
"Ini nih sifat kamu yang seperti ini nih, yang bikin mamah sama papah tuh nyuruh aku cepet cepet nikahin kamu.."
"Hmm modus.."
"Siapa yang modus? orang nyatanya gitu, kamu juga pernah denger sendirikan orangtuaku ngomong apa pas ketemu kamu?"
Sang perempuan hanya tertawa renyah.
"Hehhe, ya coba aja ngomong sama Om Kusuma kalau berani?"
"Bukanya aku nggak berani, tapi kan aku juga menghormati kamu. aku nggak mau egois Sin. kamu kan juga punya mimpi juga, walaupun aku berharap ada nama aku dalam mimpi mimpimu.."
"Tunggu tunggu, sejak kapan sih Mas Dika jadi pandai gombal begini?"
"Malah dikatain gombal, aduh sayang, akutuh jujur,."
"Apa mas Dika nggak nyadar? bukakah nggak perlu mimpi? sekarang aja Mas Dika nyata bersama aku.."
"Tapi kan aku nggak tahu khayalan kamu Sin, bisa saja kan kamu membayangkan menikah dengan pria lain?"
"Astaga..!! Hhaha Mas Dika tuh lucu. Mana ada yang kaya gitu? masa pacarannya sama siapa membayangkannya sama siapa? dapat pemikiran dari mana itu?"
"Ya habisnya, tiap bicara lamaran dan menikah kamu sepertinya menghindar."
__ADS_1
Sinta kembali tertawa renyah dan tanganya tiba tiba
Cekitt..!!
"Akhhh, aduh, sakit sayang, seneng banget sih nyubit pinggang.."
"gemes tahu mas sama kamu.."
"Gemes tuh dicium bukan di cubit, sama Dian dan Dion aja kalau gemes kamu nyium, masa gemes sama pacarnya malah nyubit. ngga adil.."
Dan lagi cubitan melayang dipinggang pria itu
"Sakit Sinta..!!! " Pekik Dika dan Sinta hanya tertawa.
"Sekarang aku jadi tahu kenapa mba mawar sangat mencintai bang damar.."
"Kenapa??"
"Pria kalau lagi cemberut itu menggemaskan,.."
Dika yang awalnya memasang wajah cemberut tiba tiba tersenyum sumringah membuat Sinta yang sedang terbaring mengernyit.
"Berarti kamu sangat mencintai aku dong??"
Sinta terkesiap, dia seketika tengkurap.
"Pede banget, siapa yang semakin cinta.."
Dika tergelak. Dia tahu kekasihnya malu makanya berbalik badan. Dengan iseng Dika menusuk nusuk pinggang Sinta.
"Geli mas ihh.."
"Ngaku aja deh nggak usah ngelak gitu.."
"Pede banget sih ih, geli mas.."
"Ngaku nggak? kalau nggak nagaku ya udah jangan harap aku berhenti.."
"Ogah, Mas Dika ihh berhenti, geli.."
__ADS_1
Dan Dika tidak peduli rengekan sang kekasih. Bagi Dika, ini adalah hal yang jarang terjadi selama dekat dengan wanita yang sedang bersembunyi dari rasa malu itu.
@@@@@