
Damar masih tergelak di atas kursi kebesarannya. Setelah tadi sukses mengerjai sang asisten yang menurutnya sangat jauh dari yang namanya wanita. Entah karena dirinya yang takut dipecat atau karena ingin melindungi Fiza, yang pasti baru kali ini Bagas menunjukkan sisi lainnya.
Fiza adalah salah satu sekretaris Damar. Selain cantik dan pintar, dia juga sopan dan cekatan. Dia tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya. Ayahnya sering sakit sakitan sedangkan ibu tirinya, meski tak pernha bermain fisik tapi suka mengucapkan kata kata kasar dan semaunya sendiri. Dari pernikahan ayah dan ibu tirinya, Fiza mempunyai dua adik yang masih sekolah. Maka itu Fiza seperti menjadi tulang punggung keluarga. Ibu kandung Fiza telah meninggal saat dia berusaha sepuluh tahun.
Yang mampu buat Fiza bekerja lama adalah, Fiza bukan tipe tipe perempuan yang selalu menggunakan berbagai cara untuk memikat lawan jenis. Bahkan dia seperti tak berminat dengan Damar maupun Bagas, meski dia tahu ketampanan bosnya bisa melelehkan hati siapa saja, Dan pesona Bagas juga mejelit tak jauh beda dengan dengan Damar.
Bagas juga sudah terbiasa berngcengkrama dengan Fiza dan Rani, salah satu sekretaris Bagas yang sudah mempunyai anak satu di depan. Maka itu Bagas tak pernah canggung dengan Fiza karena tempat kerjanya di satu ruangan yang sama.
Kini kedua orang itu menatap sebal ke arah atasannya yang masih terpingkal. Meski volumenya sedikit demi sedikit menurun.
Dan setelah Damar menguasai dirinya dan tenang, kini Damar kembali menunjukkan wajah seriusnya.
"Mulai besok, kamu nggak perlu kerja di kantor lagi Fiza.."
Fiza dan Bagas kembali terhenyak.
"Tapi Tuan..???"
"Tunggu dulu, saya belum selesai ngomong.."
"Oh, baiklah.." ucap Fiza pasrah.
"Mulai besok kamu bekerja di rumah saya.."
"Dirumah.? maksud tuan.?"
"Dari data riwayat yang saya baca, bukankah kamu seorang ahli bela diri.? saya minta kamu menjaga istri saya.."
"Menjaga istri tuan.? Kenapa tuan.?" Bagas kini yang bertanya.
"Saya hanya ingin berjaga jaga, saya nggak mau kecolongan jika ada yang berniat jahat sama istri saya seperti pagi tadi.."
Bagas dan Fiza tercengang mendengar penuturan atasannya.
"Pagi tadi saya menemukan paket yang ditujukan untuk istri saya, setelah saya buka ternyata nih, isinya beberapa butir obat dan disitu tertulis pesan dengan nama dokter kandungan istri saya.." Ucap Damar sembari menunjukan barang yang dia ceritakan.
"Apa.? kok bisa tuan.?"
"Kalau Mawar yang menerima ini, bisa saja dia percaya ini dari dokternya sedangkan kita tidak tahu ini obat apa. Dan dengan bodohnya si pengirim itu mengirimkan paketnya pagi pagi. Soalnya kemarin ngga ada yang ngasih tahu ada paket untuk istri saya.."
"Iya ya tuan, itu aneh.? itu paket dari perempuan apa laki laki tuan.?"
"Entah ini dari perempuan atau laki laki, yang pasti saya takut ini bertujuan tidak baik untuk istri saya, lagian istri saya nggak pernah beli barang secara online sejak menikah. Terus mana ada paket di kirim pagi pagi.."
"Jadi apa rencana tuan.?"
__ADS_1
"Rencana saya, tentu saja saya akan menyelidikinya. jika obat ini adalah obat yang berbahaya, aku akan cari sampai manapun orang itu."
"Terus tugas Fiza.?"
"Untuk Fiza, kamu mulai besok jaga dan temani istri saya dirumah, kamu juga bisa tinggal disana, nanti kamu akan di bantu Bagas.."
"Masa saya tuan.?"
"Kamu sudah mencium dia, ya kamu harus tanggung jawab. Lagian kalian tidak boleh tinggal bersama. Kalian belum menikah dan berbeda jenis. Apa kamu mau Om iksan murka mengetahui kamu tinggal serumah dengan perempuan.?"
Mendengar apa yang di ucapkan Damar, sontak saja Bagas langsung menggeleng. Dia tidak mau mencoreng nama baik keluarganya. Apa lagi Iksan.
"Apa ada lagi tuan yang harus kami lalukan.?"
"Kamu cari sekretaris baru dari salah satu karyawan saja Gas, cari yang memenuhi kualitas dan juga nggak kegatelan.."
"Nggak kegatelan.? maksudnya.?"
"Kamu tahu kan, banyak kasus atasan main hati dengan sekretarisnya.? Saya nggak mau ada orang orang seperti itu di kantor saya. dan ini juga akan saya terapkan menjadi peraturan baru. Meskipun perselingkuhan itu masalah pribadi, saya tetap akan memecat karyawan saya karena itu juga dampaknya akan berpengaruh pada kinerjanya."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi.."
"Oh iya Gas, nanti temenin saya ke dokter kandungan istri saya.."
"Baik Tuan.." Fiza dan Bagas pun beranjak. Bersamaan dengan itu, telfon Damar berdering. Damar segera meraih ponselnya dan tersenyum saat membaca nama si penelpon, dia segera mengangkatnya. Dan percakapan dalam telfon pun terjadi.
"Pah, mamah kangen.."
"Astaga, baru juga tiga jam papah dikantor, udah kangen aja nih istri papah.."
"Orang tiap detik kangennya gimana dong.? berarti kangennya lamakan.,?"
"Hahha paling bisa ya mamah ini, mamah lagi ngapain sekarang.?"
"Lagi nonton drakor, eh si aktor malah buka baju, otomatis dong, mamah langsung ke inget tubuh indah papah dan pengin peluk, makanya mamah telfon.."
"Ahhaha, ada ada aja mamah ih, ya udah, sabar ya, mamah hari ini jangan keluar rumah loh ya.?"
"Iya sayang, keluar rumah juga ngga ada tujuan.."
"Baguslah, besok Fiza sudah mulai kerja sama mamah, jadi mamah dirumah nggak kesepain.."
"Okeh sayang, eh pah jangan lupa, sepeda anak anak.."
"Iya, papah ngga lupa kok, nanti juga sampai sepedanya.."
__ADS_1
"Ya sudah dulu pah, papah kerja baik baik, jangan nakal loh ya.."
"iya sayang, ya udah papah tutup ya telfonnya, Love you.."
"Love you too.."
Klik..
Dan Damarpun tersenyum manis menatap ponselnya.
Tak lama kemudian seperti yang sudah di rencanakan Damar dan Bagas kini berada di rumah sakit tempat praktek dokter kandungan istrinya.
"Bagaimana Tuan muda.? " Tanya sang dokter, begitu dia duduk dikursinya.
"Ini dok, obat yang saya ceritakan tadi pagi." Tunjuk Damar dan dokterpun menyernyit.
"Ini sepertinya bukan obat buat kandungan tuan.."
"Terus obat apa dok.?"
"Untuk lebih jelasnya, biar saya bawa ke laboratirum dulu yah, saya cek.."
"Silahkan dok.."
"Baik, mohon ditunggu tuan.."
Setelah mendapat anggukan, dokter itu pun bergegas menuju laboratorium.
Setelah menunggu cukup lama, dokter itupun kembali dengan beberapa kertas ditangannya.
"Gimana dok hasilnya.?" Tanya Damar yang sudah sangat penasaran.
"Apa tuan mempunyai musuh.?" Tanya dokter.
"Musuh.? maksud dokter.?" Tanya Damar dengan dahi berkerut.
"Dari hasil lab yang tertulis disini dan keterangan ahli obat di laboratorium, ini obat berbahaya Tuan."
Damar dan Bagas pun nampak kaget mendengarnya.
"Berbahaya.? Berbahaya gimana.?"
"Obat ini mungkin dirancang khusus untuk melumpuhkan ingatan seseorang tuan, dengan kata lain, obat ini digunakan untuk menghilangkan ingatan seseorang tuan.."
Deggg
__ADS_1
Amarah Damar seketika menggelora.