
"Kalian sudah tahu kan tugas yang harus dikerjakan?" Tanya seorang perempuan dihadapan ketiga pria berseragam pelayan.
"Sudah nona.." Jawab ketiganya serentak.
"Bagus, kalian pastikan obat yang sudah kalian pegang tercampur sempurna dengan hidangannya."
"Tapi ini aman kan nona? kalau ketahuan kita nggak bakalan dipecat kan?"
"Asal kalian tidak ceroboh dan melakukan kesalahan, kalian tidak perlu takut. lima puluh juta sudah aku transef ke rekening kalian, sisanya nanti setelah tugas selesai.."
Mendengar sejumlah uang yang mereka terima, rasa takut yang tadi menyergap pun seketika berubah menjadi semangat tanpa rasa takut dari wajah ketiga pelayan itu.
"Siap nona?"
"Ya sudah kalian boleh pergi.." dan ketiganya pun pergi dengan penuh suka cita.
"Tuan Damar, sebentar lagi kita bersatu.." Ucap perempuan itu dengan senyum jahatnya.
Sementara itu di kantor Damar, dua bawahannya yang tertangkap basah kini sedang berdiri sembari menunduk menahan malu. Damar menatap tajam ke arahnya sedangkan Mawar terdiam diatas sofa sembari sesekali mengusap perutnya karena menahan tawa.
"Apa hal itu sudah menjadi agenda wajib saat kalian ketemuan?" Tanya Damar dengan wajah seriusnya padahal perutnya geli menahan tawa.
Keduanya menggeleng.
"Terus tadi itu apa?"
"Tadi tidak sengaja tuan.." Ucap Bagas Ragu.
"Apa? tidak sengaja? dalam keadaan saling menikmati kalian bilang tidak sengaja? Apa kalian lupa peraturan di sini?"
"Ingat tuan.."
"Apa? katakan?"
"Dilarang melakukan tindakan dan perbuatan yang dapat menciptakan kesan buruk nama perusahaan.."
"Perbuatan kalian tadi menciptakan kesan nama buruk tidak?"
"Tapi saya dipaksa tuan.." Bela Fiza. Bagas menoleh dan melirik tajam pada gadis itu.
"Tapi yang aku lihat tadi tidak ada pemaksaan. Malah terkesan..." Damar menggantung ucapannya .
"Sungguh tuan, saya dipaksa, saya tadinya berniat keluar ruangan tapi tangan saya ditarik pak Bagas hingga pas saya berbalik badan, pak Bagas badannya maju terus tak sadar langkah saya terkunci di sisi sofa. Saya hilang keseimbangan dan tanpa sadar saya menarik dasi pak Bagas buat pegangan namun saya terjatuh di sofa dan terus terjadilah apa yang tuan muda lihat."
Mawar terkikik, Damar menahan geli dan Bagas wajahnya merah padam.
"Kenapa kamu tak menolak? Bukankah itu sama saja Bagas melecehkan kamu?"
"Awalnya saya menolak tuan, tapi..." Fiza menggantung ucapannya. Kepalanya menunduk.
"Tapi kenapa?"
"Tapi..."
"Tapi apa Fiza? ngomong aja? jangan takut sama Bagas."
"Tapi bibir pak Bagas enak tuan.."
__ADS_1
Bluss.. Wajah keduanya memerah.
"Dengan kata lain berarti kalian berdua saling menikmati tanpa peduli dengan peraturan yang ada? Oke, kalian siap siap saja menerima SP.."
Degg. Wajah mereka membelalak.
"Tuan tapi kita.."
"Sekarang kalian boleh keluar, SP nya nanti menyusul.."
"Tuan ampun, ini salah saya tuan, Fiza tidak salah apa apa"
"Tidak ada perdebatan, kalian tau kan konsekuensinya jika menerima SP di Prapanca grup?"
"Tapi tuan, biar saya saja yang menerima SP itu, Fiza tidak salah.."
"Kalian berdua bersalah, oke?"
"Tapi tuan.."
"Sudah kalian berdua keluar, saya ada kerjaan lain dengan istri saya.."
"Tapi tuan.."
"Kalian keluar dulu, dan jangan kemana mana sebelum saya ijinkan.."
"Baik tuan, permisi."
Dengan gontai dan lemas Bagas dan Fiza meninggalkan ruangan atasannya. Mungkin kalau hanya di kasih peringatan, mereka tidak akan segalau itu. Tapi jika seseorang yang bekerja di kantor manapun dan masih bagian dari Prapanca grup terus karyawan itu menerima surat peringatan, sudah di pastikan itu adalah gerbang kehancuran sebuah nama bagi yang melakukan kesalahan. Akan ada tahapan SP yang di berikan dan yang yang paling mengerikan jika tahapan SP itu sudah mencapai tahap akhir. Jangan harap bisa dipecraya dan bisa bekerja diperusahaan manapun.
"Om Iksan pasti akan murka.." Gumam Bagas.
"Mungkin sudah takdirku jadi istri ke empat rentenir tua langganan ibuku.." gumam Fiza.
Semetara sepeninggal Fiza dan Bagas, Damar justru terbahak bahak bersama istrinya.
"Kamu jahat banget pah, kasian mereka itu.."
"Nggak apa apa mah, seneng aja ngerjain Bagas. Tu anak bener bener sudah tidak polos lagi.."
"Hmm terserah papah deh, trus gimana urusan Sonya? tuh dia sudah kasih kabar waktu dan tempatnya?"
"Mamah sudah bales pesannya?"
"Ya belum lah, nunggu papah yang ambil keputusn, kan yang mau ketemuan papah.." ucap Mawar sembari cemberut.
Damar menatap istrinya yang cemburu. Dia mengceup pipi istrinya sekilas.
"Makanya nanti mamah ikut.."
"Kalau mamah ikut ya bakal ketahuan lah pah.."
"Nggak bakalan, karena akan ada pertunjukkan besar.."
"Pertunjukkan besar? apaan itu?"
"Ya makanya ikut, ayo.."
__ADS_1
"Baiklah.."
Dan mereka berdua pun beranjak. Tak lupa Fiza dan Bagas mereka ajak untuk membantu dan menemani istrinya nanti jika diperlukan. Tak lama kemudain mobil yang dikendarai Damar dan yang lainnya pun meluncur. Mata mata yang sudah Damar kirim sebelumnya pun sudah memberi laporan dan di pastikan semuanya akan berjalan lancar.
Sementara di tempat lain. Tepatnya di sebuah restoran, seorang perempuan sedang bercermin dan mempertebal riasannya. Perempuan itu duduk sendiri disebuah ruang tertutup khusus pelanggan yang kadang lebih suka mengunakan tempat yang bersifat pribadi. Begitu juga perempuann itu. Dia memilih privat room sebagai tempat untuk menjalankan rencananya.
Ponselnya berdering. dia segera mengangkatnya saat tahu siapa yang melakukan panggilan.
"Haloo tuan muda.."
"Iya, saya sudah ada di lokasi.."
"Tenang saja tuan, tempatnya aman.."
"Benar.."
"Baiklah, saya tunggu tuan.."
"Enggaklah tuan, buat tuan muda, nggak apa apa menunggu sedikit lebih lama.."
"Hehhe, bisa dong,"
"Oke, baik tuan, saya tunggu.."
klik
Bersamaan dengan itu senyum jahatnya tersungging.
"Akhirnya, mimpiku untuk jadi nyonya prapanca selangkah lagi akan terwujud.."gumamnya.
"Ini restorannya?" tanya Mawar begitu mobil mereka nyampai dipelataran parkir sebuah restoran.
"Iya mah.."
"Waaw, mewah sekali. ya udah yuk turun?"
"Turun? ngapain turun? kita lihat saja dari sini. nanti pas dramanya hampir selesai mamah lihat akting papah ya?"
"Kita nggak turun?"
"Nggak perlu.."
"Teerus kita gimana ngerjainya pah?"
"Lihat saja, sebentar lagi mamah pasti tahu.." dan Mawar hanya mengangguk, sedangkan Fiza dan Bagas matanya tajam memandang kedepan untuk mengawasi.
Beberapa saat kemudian diruangan privat itu, terlihat Sonya sedang asyik membenarkan kerut kerut baju sexy nya. Baju yang kainnya hanya menutupi bagian tubuh dari bawah ketiak hingga ke bagian bawah sekitar satu jengkal dari pinggangnya.
Saat sedang bersiap tiba tiba pintu ruangan vip itu terbuka. Dengan penuh suka cita Sonya berdiri dan hendak menyapa tamu yang sudah dia tunggu. Namun saat matanya melihat siapa yang datang, seketika senyumnya memudar.
"Sonya? " ucap orang itu sumringah. dan Sonya seketika langsung salah tingkah.
"Sial kenapa orang tua ini bisa tahu aku disini?" gumamnya.
@@@@
Hai raeder menyapa nih, selamat tahun baru ya? Maaf jika Authornya terkesan cuek. Sebenernya bingung sih menjalin interaksi dengan pembaca. Selain kata terima kasih, bingung mau ngomong apa lagi hihhi. Intinya makasih yang sudah setia dan terus mendukung karyaku ini. makasih banyak dan jangan lupa tinggalin jejak pilss..
__ADS_1