
Jam di tangan sudah menunjuk pada angka dua belas lebih tiga puluh lima menit. Itu tandanya harusnya ini jam makan siang. Tapi di dalam sebuah ruangan nampak sepasang suami istri sibuk dengan urusannya masing masing. Sang suami sibuk dengan berkas dan layar laptopnya sedangkan sang istri sibuk menunggu suaminya makan siang. Hidangan sudah tertata rapi di atas meja dari tiga puluh menit yang lalu, namun sang suami nampaknya belum juga mau beranjak dari kursi kebesarannya guna istrahat untuk mengisi perutnya tepat waktu. Hal itu membuat sang istri berdecak kesal. Sang istri tahu suaminya sibuk tapi dia juga tak mau suaminya telat makan karena sebuah pekerjaan yang seharusny bisa ditinggal sejenak untuk sekedar mengisi perut.
"Pah.." panggil sang istri yang entah ke berapa kali dan nampaknya sang istri sudah mulai terlihat kesal.
"Iya mah.." sahut sang suami tanpa mengalihkan pandangannya dari layar dihadapannya.
"Mau nunggu berapa lama lagi?" tanya sang istri mulai gusar.
"Iya sebentar sayang, ini sedikit lagi selesai kok, bentar yah?" pinta sang suami tetap fokus pada laptopnya.
"Ini sudah mau jam satu.." Protes sang istri.
"Iya sayang, ini sebentar lagi selesai.." ucap sang suami masih dengan alasan yang sama.
Sang istri semakin kesal. Dia mengambil piring dan mengisinya dengan beberapa makanan terus membawanya ke arah suaminya. Sedangkan sang suami tak sadar kalau sang istri kini berada di sebalahnya. Dirinya terlalu fokus dengan pekerjaanya. Dengan kesal sang istri menyendok makanan yang dia pegang.
"AA..." ucap sang istri menyodorkan sendok berisi amakanan ke mulut sang suami. Suaminya kaget dan menatap sang istri sejanak. Wanita itu menunjukkan wajah kesal. Mau tak mau dia membuka mulutnya namun dia kembali menghadap layar laptop dan sang istri kembali memberi suapan demi suapan kepada suaminya yang masih fokus dengan pekerjaanya hingga makanan tinggal sedikit. Dan tak butuh waktu lama, makanan itu pun sudah berpindah ke dalam perut sang suami.
"Lain kali kalau mau mati, mati sendiri saja. Jangan ngajak anak anak yang menunggu ayahnya hanya sekedar ingin makan bareng." Celetuk sang istri sebelum beranjak mennggalkan suaminya.
Sang suami kaget dengan ucapan sang istri. Seketika dia langsung menghentikan pekerjaannya. Dia baru menyadari, istrinya sengaja menunggu dia makan namun dia dari tadi terlalu asyik dengan pekerjaannya. Diliriknya jam tangan yang melingkar. Disana menunjukan sebentar lagi jam satu tepat.
Penyesalan menghinggapi hati sang suami. Istrinya mengajaknya makan dari tadi namun dia abaikan. Padahal istrinya juga lapar, namun demi menyelesaikan pekerjaan kantor yang sebenarnya masih bisa dia tinggal sejenak, dia jadi mengabaikan orang yang paling dicintainya. Matanya menatap sang istri yang sedang mengemas kembali makanan yang sudah tersaji di meja. Dirinya segera beranjak menuju keberadan istrinya.
"Kenapa makannanya di beresin?" tanya sang suami. Namun tidak ada jawaban dari istrinya. amelihat wajah istrinya, sang suami tahu kalau istrinya sedang marah.
Dia duduk disebelah sang istri dan mengehentikan tangan istrinya yang sudah menata kembali makannan yang masih terlihat banyak. Sang istri menepis tangan suaminya dan dia berdiri membawa makanan namun tangannya ditahan sang suami.
"Mau kemana?" tanya sang suami.
"mau ngasih makanan ini ke sekretaris papah." jawab sang istri tanpa menoleh dan dia brerusaha melepas tangan suaminya.
Sang suami kaget dengan jawaban istrinya.
__ADS_1
"Mamah belum makan, kenapa dikasih ke orang?"
"Udah kenyang.." Jawab sang istri ketus. Namun suaminya tak percaya begitu saja. Dia mengambil alih makanan dari tangan istrinya.
"Duduklah, biar papah yang suapin.." pinta sang suami sembari membuka kemasan makanan lagi. Sang istri yang sudah terlanjur marah memilih beranjak meninggalkan suaminya.
"Mah.." panggilnya namun sang istri tak peduli. Dia masuk kamar yang ada dirungan itu.
Sang suami sacara kasar menghembuskan nafasnya. Dan pasti dia meraa bersalah karena mengabaikan istri dan juga anak yang masih berada dalam kandungan.
Dia mengambil beberapa makanan ke dalam piring dan membawanya menyusul sang istri.
Dihatnya, sang istri sedang berbaring miring. Dia mendekat dan duduk di tepi ranjang
"Mah, makan yah.." pintanya pelan namun tak ada respon. Wanita itu diam pada posisinya.
"Mah.." panggilnya lagi namun tetap tak ada reaksi dari wanita yang membelakanginya. Membuat suami sedikit frustasi.
"Mamah makan dong, kasian anak anak.."
"Tapi mamah belum makan. makan dulu baru istirahat.." titah sang saumi.
"Kenapa papah peduli mamah belum makan atau sudah? udah sanah lanjutin pekerjaan papah, bukankah itu sangat penting? jangan meninggalkan sesuatu yang penting demi sesuatu yang tak penting." sindir sang istri dan suaminya tertohok mendengar sindiran itu.
"Mah.." bujuk sang suami lagi dan suaranya kini terdengar melemah. Wajahnya pun menunjukkan kalau dia benar benar merasa berslah mengabaikan permintaan istrinya tadi.
"Udah sanah, pekerjaan sudah menunggu.." Balas istrinya tanpa menoleh sidikitpun.
Sejenak sang suami terdiam memandangi punggung istrinya. Rasa cintanya yang begitu besar membuat dia mau mengalah denga sikap istrinya. bahkan dia benar benar merasa bersalah karena mengabaikan tiga nyawa sekaligus.
Dia meletakkan makanan di meja sebelah ranjang. Dia juga membuka jass dan sepatunya. Kemudian dia merebahkan tubuhnya dibelakang sang istri dan memeluknya dari belakang. Dia menghisap aroma rambut sang istri dan mengencangkan pelukannya.
"Maaf.." bisiknya dan sang istri tetap terdiam pada posisinya.
__ADS_1
"Maafin papah yah?" bisiknya lagi.
"Papah nggak salah, harusnya mamah yang tahu diri. Harusnya mamah tetap diam dirumah seperti biasanya. biar papah tak terganggu disini."
"Mamah jangan ngomong kaya gitu, Mamah tidak pernah gangguin papah. Papah yang salah dan nggak peka. Papah lupa kalau ada anak anak yang menungu papahnya untuk makan bersama."
"Mamah cuma nggak mau papah sakit. Mamah mau papah makan teratur dimanapun berada. Kalau papah sakit, siapa yang paling sedih coba. Papah bekerja demi mengurusi hidup banyak orang namun papah mengabaikan hidup papah sendiri.."
"Iya iya maaf, papah salah, maaf ya?" dan suami istri itu sejenak terdiam kembali menenangkan hati masing masing melalui dekapan tangan.
"Sekarang mamah makan ya? papah juga nggak mau mamah sakit, apalagi didalam sana ada anak kita. makan ya mah.." dan sang istri mengangguk.
Mereka bangkit dari tidurnya. Sang suami meraih makanan yang dia bawa dan perlahan menyuapi sang istri. Dengan telaten dia menyuapi sesendok demi sesendok makanan kemulut istrinya dengan senyum damai di bibirnya. Tak butuh waktu lama, makanan dalam piring pun habis dan sang suami memberi minum tanda acara makan selesai.
"Dah sekarang mamah mau istirahat atau gimana?"
Sang istri menatap lekat wajah suaminya.
"Mamah istirahat aja yah, papah mau melanjutkan pekerjaan papah sebentar." sang suami hendak beranjak namun tangannya ditahan oleh sang istri.
"Kenapa? mamah mau ditemani?" sang istri menggeleng, " terus?"
Sang istri menatap wajah suaminya dan tanpa beban dia berkata.
"Anak anak pengin di tengokin, papah nggak kangen sama mereka.."
Seketika wajah sang suami tersenyum penuh arti dan belalai gajah siap beraksi
@@@@
...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....
__ADS_1