MAWAR MILIK TUAN MUDA

MAWAR MILIK TUAN MUDA
Akhirnya Nikah..


__ADS_3

Monas. Salah satu monumen terkenal yang menjadi ikon kota bahkan ikon negara ini. Siapa yang tidak mengenal dengan monumen dengan pucuk berlapis emas tersebut. Yang pasti hampir semua warga negara ini tahu monumen itu meski banyak pula yang belum pernah kesana.


Hari ini ribuan orang dari berbagai kalangan terlihat mengerumuni tempat wisata murah tersebut. Jika biasanya mereka menikmati Monas dengan aneka kuliner dan berkumpul dengan keluarga, tapi hari ini mereka datang hanya sekedar untuk menyaksikan proses sakral dari tiga pria yang sudah ditunggu tunggu pelaksanaannya.


Pernikahan yang di gelar kali ini tak kalah spektakuler dengan pernikahan terdahulu yang dilakukan putra tunggal dari perusahaan ternama Prapanca grup.


Ya. Acara besar ini berlangsung di bawah naungan pemilik Prapanca grup makanya acara pernikahan ini begitu mewah dan meriah.


Karena sudah dipastikan, tiap keluarga prapanca mengadakan acara besar, acara itu tidak pernah dikhususkan untuk orang orang kelas atas saja namun berbagai kalangan boleh mengikuti dan merasakan kebahagiaan yang diberikan keluarga Prapanca.


Di sebuah ruangan nampak bidadari bidadari yang sudah di rias sedemikian rupa terlihat panik dengan acara sakral yang akan merubah kehidupan mereka.


Sementara sang menantu kesayangan terlihat terengah engah dengan perut yang sudah terlihat membuncit.


"Habis ngapain sih War, kok ngos ngosan gitu?" Tanya Sisil yang kebetulan juga ada disitu.


"Abis makan mba, laper." Jawab Mawar sembari perlahan mendudukan berat badannya pada sebuah kursi.


"Kirain habis ngapain sampai berkeringat gitu. Jangan terlalu capek War." Saran Sisil dan Mawar menunjukkan deratan gigi putihnya.


"Iya mba tahu, hehhe. Ceileehh adik adikku, sudah cantik bener. Udah siap dihujam benda tegang yah?" Ledek Mawar terkesan blak blakan dan tentu saja ketiganya nampak sangat malu.


"Apaa sih mba ih ngomongnya. Nggak bisa diperhalus dikit apa?" Tanya Mita.


"hahha nggak usah malu malu. kaya mba."


"Ya ampun War, namanya juga mereka belum pernah, ya wajarlah mereka malu malu. Tapi ntar kalau udah ngerasain enaknya, udah pasti tuh mereka bakalan minta jatah duluan hahha." Ucap Sisil dan tentunya membuat Sisil dan Mawar semakin ketawa kencang sedangkan ketiga calon pengantin hanya mesam mesem menahan malu dengan ucapan kedua perempuan yang sudah menkah itu.


"Bener banget mba, aku aja dulu malu malu kaya mereka tuh, tapi pas sudah merasakan punya mas Damar behh, tiga hari sekali nggak cukup mba hahha."

__ADS_1


"Mba mawar mba Sisil ih, apa apaan sih kalian, ada anak polos nih, ngomonginya yang bener dong." Protes Sinta.


"Tapi bener kok mba mba sekalian, perempuan kalau sudah menikmati enaknya rudal laki laki pasti bakalan selalu minta duluan, kaya aku." Celetuk tukang make up dengan gaya kemayunya. Padahal dia sendiri juga laki laki.


"Lah kamu kan laki laki? Masa kamu ketagihan punya nya laki laki sih?" Tanya Sisil antara heran dan ingin tertawa. Yang pasti dia syok dengan penuturan tukang make up tersebut.


"ylYa ampun mba, masa kamu nggak lihat betapa cantiknya aku. Tapi non Mawar seneng yah. Menjadi satu satunya wanita yan bisa merasakan indahnya tubuh tuan muda. Aku aja yang cuma ngebayangi ampe sesak nafas non, suami non Mawar terlalu sempurna."


Dan tentu saja semua yang disana tertawa mendnegar penuturan dari pria gemulai tersebut.


Sementara di ruangan lain para pangeran juga nampak begitu was was. Apalagi Aldi. Pria yang biasanya terlihat tengil itu nampak sekali kalau dia benar benar gugup.


"Ya ampun Al, masa kamu pucat gitu? Ntar jangan jangan kamu pingsan lagi pas ngucapin akad." Ledek Damar


"Apaan sih Mar, engga lah biasa aja. " Ucap Aldi dusta. Padahal siapapun tahu dan bisa melihat dengan jelas kegugupan tingkah yang di timbulkan seorang Aldi.


"Tenang apaan, mereka dari tadi juga gugup kali Mar, lihat tuh kaki mereka, gemeter tak beraturan."


Dan benar saja, Damar langsung terbahak begitu meliha apa yang ditunjukkan Aldi, sedangkan ketiganya hanya mendengus sebal ditertawai oleh seorang damar.


"Nggak inget dia, dulu juga dia sampai keluar keringat dingin pas mau akad. Sok sokkan menasheti kita huy." Sungut Dika.


Dan tak lama kemudian waktu untuk pelaksanaan janji suci pun tiba. Masing masing mempelai sudah nampak siap dan duduk di depan meja yang akan dijadikan tempat berlangsungnya ijab masing masing.


"Sahh...!!!!"


Teriak semuanya dan dengan tercetys kata tersebut, maka bergantilah status ketiga pria yang paling dekat dengan tuan muda itu.


Acara selanjutanya pun berjalan secara tertib dan teratur. Acara foto bersama dan pengucapan selamat dari para tamu undangan pun terlihat begitu terarah. Hampir semua yang datang sangat menikmati apa yang disuguhkan dari acara pernikahan akbar tersebut.

__ADS_1


Hingga tak terasa waktu acara pun usai. Kini semuanya kembali ke kediaman masing masing.


Fiza langsung di boyong ke rumah Bagas karena Bagas memang sudah punya rumah sendiri. Mita dan Sinta pun langsung pindah tempat tinggal mengikuti suaminya. Sekarang di kediaman keluarga Prapanca nampak begitu sepi.


Di tengah malam terdengar suara isakan dari salah satu kamar. Suara pilu antara bahagia dan kehilangan sungguh dirasakan oleh nyonya muda rumah itu. Bagaimana mungkin dia tidak menangis sedangkan dua perempuan yang sudah dia anggap sebagai adik kini hidup terpisah. Sejak di panti asuhan, Mita dan Dinta memang yang paling dekat dengan Mawar setelah Intan. Jadi mereka sudah terbiasa menjalani hidup bersama selama bertahun tahun. Dan kali ini mereka harus berpisah karena telah menemukan jalan hidup masing masing.


Bukannya Mawar tidak bahagia dengan pernikahan kedua adiknya, tapi yang namanya sudah terbiasa bersama tiba tiba harus terpisah, siapapun pasti akan merasa sedih.


"Udah dong sayang, mereka kan sudah bahagia dengan dengan suami mereka, harusnya kamu bahagia juga sayang." Ucap Sang suami membelai lembut rambut sang istri yang sedang membenamkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Mamah tahu pah, mamah juga bahagia mereka mendapat laki laki yang tidak salah, tapi kan mamah juga kehilangan pah."


"akan mereka masih bisa main kesini."


"Iya mamah tahu, tapi kan rasanya tetep beda pah, ih." Ucap Mawar gemas dan tangannya langsung melayangkan cubitan ke pinggang suaminya.


"Aduh, kok papah malah dicubit sih sayang?"


"Ya abis papah gemesin, bukannya nenangin mamah malah bikin gemes." Gerutu Mawar dan tentu saja Damar malah tergelak.


"Duh yang udah hamil gede, kok jadi mudah ngambekan sih? biar ngambeknya cepet ilang, enaknya ngapain yah?"


"Jengukin anak papah dong. anak anak kangen karena papahnya sibuk." Dan lagi lagi Damar tergelak.


"Baiklah, papah juga kangen sama anak anak,"


Dan acara jenguk menjenguk pun terjadi saat itu juga.


@@@@

__ADS_1


__ADS_2