
"Akhirnya sebentar lagi kita akan menikah." Ucap seorang pria dengan wajah yang penuh kegembiraan. Dirinya sedang menatap langit sore di atas rerumputan luas nan rapi.
Setelah puas menatap langit, pandangan mata pria itu berpindah ke gadis di sampingnya yang sibuk dengan makanan bulat dari bahan tepung kanji disiram saus dan kecap dalam sebuah mika. Entah karena itu pedas atau panas, bibir perempuan itu terlihat merah dan kadang memdesis.
Sang pria tersenyum manis. Dia masih tak menyangka akan tertarik dan jatuh hati pada adik angkat sahabatnya. Bahkan acara lamaran yang semalam di gelar, serasa itu adalah bagian hidupnya yang tak nyata.
Dulu dia dikenal sebagai casanova tengil. Parasnya yang rupawan dan sikapnya yang menyenangkan membuat banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Namun sayang, karena sifatnya yang kadang sok perhatian ke semua wanita, hubungan yang dia jalani tak pernah berlangsung lama. Satu bulan, adalah waktu terlama dia menjalin hubungan dengan wanita. Selebihnya bisa di hitung dengan jari.
Cuma dengan wanita disebelahnya ini, hubungannya berlangsung lama. Bahkan dia tidak menyangka akan melangkah ke jenjang yang lebih halal dengan wanita yang usianya terpaut tujuh tahun di bawahnya.
"Pedes banget apa?" Tanya pria itu kepada wanitanya yang terlihat mengeluarkan nafas dengan mulut secara kasar.
"Gila ini cilok, bikin jontor lidah, pedes banget." Ucap Wanita itu. Padahal dia doyan pedas namun kali ini sepertinya dia sangat kewalahan.
"Ya sudah jangan dihabisin ntar mules lagi perutnya." Dan sepertinya perempuan itu menuruti calon suaminya.
Setelah beberapa saat, rasa pedas di lidah pun berangsur berkurang. Dan wanita itu segera menyambar es teh dihadapannya.
"Tumben kamu pedesan Mit? Biasanya juga kalau makan bakso kaya minum kuah cabe."
"Hehhe nggak tahu ya mas. Ini aja aku heran. Di dalam ciloknya ada cabe halusnya gitu. Gila aja."
"Ya udah jamgan diterusin. Sekarang kita berangkat ke butik mamihku yuk. Kita disuruh kesana buat milih baju pernikahan." Ajak sang lelaki.
"Kok sekarang mas? Kata mamih besok?"
"Ya nih mamih sudah ngirim pesan, kita diminta kesana sekarang. Mungki ada sesuatu yang akan mamih bicarakan, jadi kita disuruh kesana sekarang."
Perempuan itu berpikir sejenak dan kemudian, "Baiklah, yok."
Dan mereka berdua pun beranjak menuju tempat parkir mobil.
Sementara itu, disuatu tempat. Seorang perempuan terlihat lincah dan ramah melayani para tamu yang datang dan ingin menikmati hidangan yang ada di restoran dimana dirinya berada sekarang. Meski perempuan itu tak akan lama lagi menyandang nyonya dari pemilik restoran itu, namun dia tak segan bekerja sama dengan karyawan calon suaminya. Dan para karyawan juga merasa nyaman dengan apa yang dilakukan calon istri dari bos mereka.
__ADS_1
Sementara sang calon suami, hanya tersenyum mengawasi segala sikap dan tingkah sang calon istri yang menurutnya sangat menggemaskan. Pria itu masih tidak menyangka, kalau perempuan yang dia sukai diam diam sekarang sudah berada ditangannya. Bahkan beberapa saat lagi mereka akan berganti status menjadi suami istri.
"Istirahat dulu sayang. Jangan terlalu cape." Ucap sang calon suami saat wanitanya mendekat dengan menenteng piring kotor di atas nampan.
"Orang lagi rame mas, kasian yang lain." Jawab sang wanita tanpa menoleh karena tatapannya fokus ke depan takut piringnya jatuh.
"Mba Sinta kalau mau istirahat dulu, nggak apa apa, kasian tuh pak bos, dari tadi manyun." Ucap salah satu karyawan yang kebetulan berada diantara mereka.
"Lagi rame mba, lagian mana berani dia mecat saya." Ucap Sinta enteng dan si pria yang mendengarnya cuma mengulum senyum.
Ketika piring sudah berada di tempatnya, Sinta bergegas melangkah ke depan lagi, namun saat tubuhnya tepat dihadapan calon suaminya, sang pria langung menarik tanganya dan dengan erat memeluk pinggangnya.
Tentu saja karyawan yang melihatnya hanya senyum senyum melihat tingkah bosnya yang sedang di serang bucin akut. Sementara Sinta sungguh salah tingkah. Apalagi beberapa mata menatap ke arahnya.
"Mas Dika, lepas." Pekik Sinta lirih.
"Kita tuh baru ketemu sore ini loh yang. Kok kamu malah cuekin aku sih?" Rengek Dika yang sudah tak peduli pamornya runtuh akibat ulahnya yang bucin saat ini.
"Nggak peduli, ayo ikut aku. Nggak ngertiin banget orang lagi kangen apa." Dika melepas pelukannya namun tangannya segera menggenggam jari wanitanya menuju ruang pribadinya dengan disaksikan para paryawan yang senyum senyum melepas kepergiannya.
"Ah Si bos, bikin iri aja." Keluh salah satu karyawan pria.
"Makanya nyari sana. Jomblo dipiara." Ledek rekannya diringi ketawa.
Dan di tempat lain, terlihat sang pria sedang asyik menatap seorang wanita yang sedang asyik menyupas mangga berukuran lumayan besar.
Pria itu tidak menyangka kalau wanita yang dulu menjadi rekan kerjanya, sebentar lagi akan berganti status menjadi rekan hidupnya dalam mengarungi rumah tangga. Dia tidak pernah menyangka, ciuman mendadak yang wanita itu lontarkan, menjadi awal keberaniannya mendekati seorang wanita.
Bahkan berita mengenai dirinya yang sudah melakukan lamaran kepada seorang wanita di kampung sangat disambut antusias oleh keluarganya. Bagaimana tidak, mereka juga sangat menginginkan dirinya segera memiliki istri untuk mengurusi hidupnya di kota.
"Selesai." Ucap sang wanita puas. Dia segera beranjak, namun tangannya ditarik hingga dia terjerembab dan mendarat dipangkuan pria itu. Tangan pria itu langsung melingkarkan tangannya pada pinggang ramping calon istrinya.
"Yang, awas lepas dulu." Ronta sang wanita.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya pria itu tanpa mau melepas pelukannya.
"Cuci tangan, ini lengket." Rajuk sang wanita, namun sang pria tetap tak mau melepas pelukannya. Bahkan salah satu tangannya meraih jari tangan wanitanya dan mengarahkan jari itu ke dalam mulut sang pria.
"Manis.." Ucap sang pria begitu jari wanita itu keluar dari mulutnya.
"Jorok ih, ini awas dulu. Nggak tahan ini lengket." Perempuan itu makin meronta.
"Pake tisue dulu itu. Dan suapi aku."
"Astaga, tinggal colok itu pake garpu yang."
"Ngga mau, cepat, orang aku lagi pengin mangga."
Sang wanita pun pasrah. Dia mengambil garpu.
"Jangan pake garpu."
Sang wanita menghela nafas dan dia pun menurutinya. Diambilnya sepotong mangga kemudian diarahkannya ke mulut pria.
Dengan senang hati pria itu menerima potongan demi potongan mangga dari tangan calon istrinya. Bahkan dia dengan jahil menggigit jari sang wanita hingga dia mendapat pelototan tajam dari wanitanya.
"Kamu juga makan dong yang." Ucap pria itu.
"Ya ntar ngupas lagi. Ini kan kamu yang minta tadi."
"Minta mangga aja dikabulin, apa lagi kalau minta cium ya yang." Ucap Sang pria dengan tatapan yang disertai naik turun kedua alisnya.
"Tau ah.." Ucap wanita itu meski tersenyum malu.
Dan acara menyuapi manggapun mereka lanjutkan.
@@@@
__ADS_1