
Acara bulan madu ke dua tuan muda dan istrinya sudah berakhir beberapa waktu lalu. Sebenarnya bukan bulan madu namun lebih tepatnya mengabulkan permintaan sang istri yang sedang ngidam itu. Ngidam yang sangat aneh mungkin namun membahagiakan bagi keduanya. Ngidam yang justru saling merekatkan dan menguatkan jalinan cinta dan pernikahan mereka. Perwujudan ngidam yang rencananya hanya akan dilaksanakan selama seminggu tapi pada kenyataanya melebihi waktu yang direncanakan karena sang istri yang sepertinya masih sangat keberatan untuk pulang.
Dan seperti kebiasaan sebelumnya, Setiap pagi di kediaman keluarga Prapanca selalu nampak ramai di meja makan. Dann meski disana ada penghuni baru bernama Fiza, keluarga itu benar benar memperlakukan perempuan itu layaknya keluarga. apa lagi tugas Fiza yang memang menjaga dan menemani satu satunya menantu kesayangan dari tuan rumah di sana.
Adanya Fiza juga sangat membantu meringankan segala aktifitas Mawar. kini hampir tiap pagi si kembar selalu dibantu Fiza dalam mempersiapkan segala hal. Mulai dari mandi, berpakaian, dan menyiapkan segala keperluan serta bermain tiap pulang sekolah.
Seperti biasa setelah menyiapkan segala sesuatu untuk suaminya yang hendak bekerja. Mawar segera turun untuk bergabung mengurusi anak anaknya. Meski tanpa bantuannya anak anak sudah mulai bisa belajar mandiri, tapi bagi Mawar memberi perhatian juga sangat perlu untuk anak anaknya.
"Wah kakak sama adek sudah mulai sarapan ya? maaf ya sayang mamah terlambat.."
"Nggak apa apa mamah, kan kita sudah gede.." jawab Dian seperti biasa selalu menampakan wajah cerianya.
"Uhh kalian memang menggemaskan.." Ucap Mawar sembari mencium pipi keduanya.
"Gimana kandunganmu War?"
"Alhamdulillah sehat mih,.."
"Kalian kapan pindah kamar? "
"Nunggu akhir pekan mih, biar enak ngaturnya kalau ada mas Damar.."
Dan sang mamih hanya mangut manggut.
Sementara di kamar, Damar yang sedang bersiap siap tiba tiba mendengar nada khas dari sebuah ponsel. Dia pun merogoh sakunya. senyum sinisnya tersungging begitu melihat apa yang nampak di ponselnya.
"Dekatilah istriku semampumu, dan berjuanglah.."
Ternyata itu adalah pesan dari seorang pria yang sangat terobsesi dengan istri sang tuan muda. Setiap hari orang itu selalu bertanya kabar lewat akun media istrinya dan beruntungnya Mawar yang selalu terbuka pada suaminya memberitahukan hal itu. Hingga dia memutuskan menyadap ponsel istrinya dan menguasai akun medianya juga demi mengikuti permainan sang musuh. Damar pun segera turun dan bergabung dengan yang lain di meja makan.
Tak terasa pagi kini sudah berganti siang. Dan Damar kini kembali sibuk dengan rutinitasnya di ruang kantor bersama sang asisten. Mereka nampak sedang mengecek beberapa berkas bersama di sofa yang ada di situ.
"Bagas, apa kamu sudah siapkan apa yang aku perintahkan?"
"Yang mana tuan?"
"Hadiah buat pernikahan Sisil?"
"Hh, sudah tuan.."
"Baiklah, jadwal ku hari ini apa aja Gas?"
__ADS_1
"tTdak terlalu banyak tuan. hanya rapat direksi, kenapa tuan? apa ada masalah?"'
"Nggak sih Gas, aku cuma kepikiran istri.."
"Loh? apa hubungannya tuan?"
"Ya adalah gas, kalau aku nggak terlalu banyak kerjaan, akan lebih banyak waktuku untuk istri dan anak anak. " dan Bagas hanya mangut manggut sejenak melanjutkan pekerjaannya.
Bagas memperhatikan atasannya yang duduk dihadapannya berkali kali sembari mgusap wajahnya.
"Tuan kenapa? Ada masalah?"
"Kamu peka sekali sih Gas? "
"Ya jarang jarang tuan seperti itu wajahnya.."
"Apa sangat kelihatan?"
"Iya tuan. Kalau boleh tahu ada masalah apa tuan?
"Orang orang kurang kerjaan Gas, yang ingin mengusik ketenangan rumah tangga saya.."
"Loh? bukankah...?"
"Lah terus?"
"Aku heran saja Gas, kok ya sampai begitunya hanya karena sangat menginginkan istriku. Rela melakukan apa saja termasuk dengan cara kotor. Dia bahkan sudah sering mengirim pesan ke istriku. apa nggak gila?"
"Kenapa nggak ditegur langsung tuan? "
"Orang seperti itu harus dikasih pelajaran Gas. percuma kalau cuma menegur. Jijik aku. Menyukai kok milik orang lain.."
"Terus apa yang akan tuan lakukan?"
"Untuk sementara aku akan mengawasinya gas, tapi yang membuat aku bingung, bagaimana aku bilang sama istriku? Mawar sangat mengidolakan anak petinggi itu. Apa lagi itu orang setia banget kirim pesan mencari perhatian. Apa nggak memuakkan?"
"Iya ya tuan, dia kaya raya dan terkenal, tapi kenapa malah kelakuannya kaya gitu?"
"Namanya manusia gas, kadang aku mikir apa ini karmaku atau bagaimana.."
"Saya rasa bukan tuan. Ini adalah obsesi dari orang itu."
__ADS_1
"Jujur Gas, sebagai pria aku sudah benar benar ingin menghajar orang itu. Beruntung istriku sangat terbuka. Coba kalau tidak, bisa salah paham aku salah dia.."
"Baguslah tuan, dan tuan juga harus terbuka sama istri anda. Jangan samapai istri anda juga nanti akan ada salah paham sama anda.."
"Pasti itu Gas, pasti. Dan aku benar benar harus ngasih pelajaran sama anak ini, cuma nggak saat ini, aku nggak akan gegabah. Aku akan ikuti permainan dia."
"Baiklah tuan, apapun yang tuan lakukan selalam itu yang terbaik buat keluarga tuan saya siap mendukungnya.."
Sementara itu di sebuah sekolah, Nampak Dian dan Dion sedang asyik bermain bersama teman temannya. Sepertinya ini adalah jam istirahat. Dian yang saat itu sedang main perosotan, melihat salah satu temannya sedang menyendiri. Karena sifatnya yang memang selalu penasaran, gadis kecil itupun mendekat menghampiri temannya.
"Kamu kenapa Via? kok nggak ikut main?" anak itu menoleh sejenak emudian menunduk.
"Aku lagi sedih Dian.."
"Kenapa?"
"Aku akan punya adiik.."
"Loh? punya adik kan harusnya seneng? kenapa kamu sedih?"
"Kata tante dan om ku, kalau nanti adikku lahir, mamah sama papahku nggak akan sayang sama aku lagi Dian." Tuturnya dengan wajah cemberut khas anak anak.
"Katanya hanya adik yang akan lebih di sayang. sekarang saja, mamah jarang membantu aku, setiap pagi yang nyiapin keperluan sekolah aku bukan mamah tapi bibi. Mamah malahh sering pergi sama papah demi adik yang masih di perut."
Degg
Pikiran Dian pun berkelana. Ucapan temannya seketika mengingatkan sesuatu hal yang sama. Sejak hamil mamahnya juga berubah. Tak membantunya seperti dulu. Bahkan sekarang yang menyiapkan segala keperluannya tiap pagi juga bukan mamahnya. Mamah dan papah juga pergi lumayan lama katanya demi sang adik meski bilangnya pergi ke dokter. Dan akhirnya gadis kecil itu menyimpulkan kalau orangtuanya sekarang juga membohonginya. Dengan perasaan kacau, Dian beranjak menghampiri kakanya. Dion yang melihat sang adik tiba tiba murung jelas sekali penasaran. Apa lagi sepertinya Dian ingin sekali menangis membuat Dio segera mendekati adiknya.
"Kamu kenapa dek?"
"Kak, mamah bohong sama kita? Dion tercengang.
"Bohong kenpa dek?"
"Mamah sudah nggak sayang lagi sama kita kak, mamah sayangnya sama dedek yang ada diperut mamah. mamah bohong hwahhwaa hwahaa.."
Degg
@@@@@
...Karya Baru Gaesss, ikutin yuk...
__ADS_1