MAWAR MILIK TUAN MUDA

MAWAR MILIK TUAN MUDA
Bagas Oh Bagas..


__ADS_3

"Sepertinya ada yang mau mengusik keluargaku.." Gumam Damar. Tangannya pun meremas bungkusan obat itu. Diapun segera memanggil sang asisten.


Begitu masuk, Bagas di kejutkan oleh wajah dan posisi Bosnya saat ini. Damar berdiri bersandar meja, kedua tangannya terlipat didada dengan tatapan membunuh yang ditujukan kearahnya.


"Panggil Fiza masuk dan suruh Rani berjaga agar tak ada yang masuk keruangan saya.!!!"


Deegg..


Jantung Bagas terasa mau copot mendengar perintah bosnya.


"Aduh, apa tuan muda tahu saya semalam sama Fiza, aduh gawat ini.." Ucap Bagas dalam hati. Dia pun beranjak kembali keluar memanggil salah satu sekretaris tuan muda.


Kini Bagas dan Fiza sudah berdiri di hadapan Damar. Melihat wajah Damar yang nampak sedang dalam kemarahan, membuat Fiza dan Bagas ketakutan setengah mati. Pikiran pikiran mereka pun berkelana dengan kejadian semalam dimana Bagas dan Fiza melakukan penyatuan bibir.


"Kenapa tuan muda nampak marah.? Aduh, apa dia tahu aku sama Fiza telah..." Gumam Bagas.


"ini Tuan muda kenapa.? kok kelihatan marah banget.? apa dia tahu aku sama pak Bagas sudah.." Kata Fiza dalam hatinya.


Tiba tiba ditengah ketegangan..


"Brakkkk...!!!!"


Bagas dan Fiza terlonjak. Damar menggebrak meja dengan tatapan penuh amarah.


"Kurang ajar, emangnya saya bodoh apa gimana.!!!" Ucap Damar lantang, hingga Bagas dan Fiza semakin merasa panik.


"Mau mencoba main kucing kucingan dengan saya.? oke saya ladenin. Tapi jangan salahkan saya, jika setelahnya ada kehancuran..!!!" Ucap Damar semakin terlihat garang menatap tajam ke arah Asiten dan sekretarisnya, tentu saja hal itu membuat Bagas dan Fiza semakin merasa tertekan dan ketakutan.


"Ya Tuhan, gimana ini.? Tuan muda beneran tahu aku sama Fiza ciuman, tolong hambamu ini Tuhan, aku mohon.." Rintih Bagas dalam hati.


"Tuan muda beneran tahu.? gila, bakalan dipecat aku, aduh gimana ini.." Rintih Fiza dalam benaknya juga.


"Fiza, mulai besok, kamu nggak perlu datang ke kantor lagi..!!!"


Sontak saja Bagas dan Fiza terkesiap bersamaan. Wajah mereka semakin panik.


"Maaf tuan muda, maafkan kami, kami nggak bermaksud main kucing kucingan di belakang tuan muda. Maafkan kami tuan.." Ucap Bagas yang seketika langsung berlutut.


"Iya, tuan, sumpah kami melakukananya nggak sengaja, Pak Bagas hanya berniat menolong saya tuan. saya mohon jangan pecat saya tuan.." Sambung Fiza dan diapun ikut berlutut.


"Maksud kalian.?" Damar tercengang dengan sikap bawahannya.


"Maaf tuan, sumpah, semalam benar benar kami tidak sengaja melakukannya. Kami tidak ada rencana apapun.." Ucap Bagas semakin panik.


"Benar tuan, saya tahu saya yang salah. Saya begitu saja mencium bibir pak Bagas. Tapi semata mata hanya untuk menyelamatkan saya tuan. Tolong jangan pecat saya. saya mohon ampun.." Rintih Fiza yang sudah mengeluarkan airmatanya.


Damar pun semakin tercengang dengan apa yang dia terdengar.

__ADS_1


"Apa.? Bagas ciuman.? Bagas.? berita bagus nih." Gumam Damar. Seketika Damar paham situasinya. Fiza dan Bagas salah paham dengan sikapnya sedari tadi. Entah kenapa tiba tiba muncul ide jahilnya.


"Kalian ingin saya ampuni.?" Tanya Damar dengan Aura kemarahan yang sekarang hanya sebuah akting.


Iya Tuan, ampuni kami, tolong jangan hancurkan hidup Fiza.? Biarkan dia yang tetap kerja disini, pecat saja saya tuan.." Ucap Bagas.


"Baik, saya tidak akan memecat siapapun jika kalian mau menuruti saya, terutama kamu, Bagas..!!!!"


Deggg.


Hati Bagas semakin tak karuan. Wajahnya sedikit pucat.


"Silahkan tuan, katakan apa yang harus saya lakukan.?" Tanya Bagas dengan wajah tertunduk.


"Berdiri kalian..!!!!


Bagas dan Fiza mendongak kemudian saling pandang lalu perlahan bangkit.


"Coba ceritakan.!!!"


"Ehmm cerita apa tuan.?" Tanya Bagas gugup.


"Yang terjadi diantara kalian, dan alasan apa kalian sampai kalian berciuman..!!!


Lagi lagi Fiza dan Bagas saling pandang seakan akan memberi isyarat dan mengatakan "Bagaimana ini.."


Fiza dan Bagas kembali terlonjak medapat bentakan Damar.


"Cepat ceritakan..!!!!"


"Ba_baik tuan.." Jawab Bagas gugup dan dia pun mulai menceritakan kejadian yang dia lalui semalam dengan Fiza berikut alasan Fiza.


Damar sebenarnya ingin tertawa melihat asistennya saat ini begitu terlihat ketakutan. Bagas yang menurut Damar laki laki suci yang tak pernah ternoda selama dia mengenalnya, tentu saja sangat terkejut mendengar Bagas ciuman. Tidak terbayang wajah gugupnya sang asisten kala itu.


"Begitu tuan.." Ucap Bagas mengakhiri ceritanya. Damar nampak manggut manggut.


"Apa itu benar Fiza.?"


"Eh ehm Be_benar tuan.."


"Baiklah, saya akan ampuni kalian, tapi..." Ucap Damar sengaja memotong perkataannya. Hal itu menbuat Fiza dan Bagas pun semakin panik juga penasaran.


"Tapi apa tuan.?"


"Saya butuh bukti.."


"Bukti.? Bukti apa tuan.?"

__ADS_1


"Lakukan reka ulang adegan ciuman yang kalian lakukan.!!"


Bagas dan Fiza lagi lagi terhenyak bersama.


"Tapi tuan.." Bagas hendak protes tapi jari telunjuk Damar menghentikan ucapannya.


"Cepat lakukan..!!!"


Fiza dan Bagas kembali saling lirik, namun mereka ragu untuk mendekat.


"Jadi kalian tidak mau melakukannya.? Oke, jangan salahkan saya jika hidup kalian benar benar hancur.." Ancam Damar terlontar begitu santainya namun cukup menakutkan bagi kedua manusia di hadapannya.


Bagas dan Fiza tahu benar, jika Taun mudanya bisa mengahancurkan hidup seseorang hanya dengan sekali perintah.


"Masih diam.? Okeh saya akan telfon orang orang saya.!!!" Desak Damar sembari pura pura hendak menelfon seseorang.


"Baik tuan baik, iya akan kami lakukan.." Ucap Bagas seketika begitu terdengar sedikit lantang.


"Ya sudah cepat, jangan uji kesabaran saya.!!!" Perintah Damar.


Perlahan Bagas Dan Fiza pun mendekat. Jelas sekali keringat mulai membasahi wajah mereka. Jika ciuman yang semalam tanpa sadar mereka lakukan, tapi detik ini, mereka dengan kesadaran penuh harus melakukanya di depan Tuan muda.


Sesekali mereka melirik Damar dan ternyata Damar menatap tajam ke arah mereka.


Damar benar benar mati matian menahan suara tawa yang ingin dia keluarkan. Perutnya pun sudah mulai sakit. Tapi ini kesempatan langka untuk mengerjai asistennya.


Bagas dan Fiza pun kini sudah saling berhadapan. Mereka tak berani saling pandang. ditambah lagi degupan jantung yang tak seperti biasanya, menambah kadar kepanikan di wajah mereka.


"Cepat..!!!


Mendengar perintah atasannya, mau tak mau mereka pun saling pandang. Dan mereka hampir bersamaan menghela nafas begitu dalam. Dan dengan gaya seperti semalam, Diza perlahan mengangkat tangannya dan menaruhnya di kepala belakang Bagas. Meski ragu namun akhirnya


Cupp..


Bibir mereka kembali bertemu diantara keringat dingin yang berucucuran.


Dan di saat bibir Bagas dan Fiza menyatu tiba tiba


"HAHHHAAHAHHHA.......!!!!!!" Suara tawa Damar pecah begitu keras membuat Bagas dan Fiza tercengang.


Mereke berdua pun bergegas melepas bibirnya dan menoleh


"Selamat, anda kena prank, hahhaah.."


Fiza langsung menutup mukanya karena malu sedangkan Bagas langsung mendengus geram


"Dasar tuan muda nggak ada akhlak.."

__ADS_1


@@@@@


__ADS_2