
Sarapan pagi bersama. Mungkin tidak semua manusia mampu melewatkan waktu untuk melakukan sarapan pagi bersama keluarga. Bahkan bisa saja ada seseorang yang yang tidak pernah melakukan sarapan pagi bersama bersama keluarga karena dipengaruhi beberapa faktor yang menjadi pendukungnya. Maka itu, di kediaman Prapanca, saat sarapan adalah waktu terpenting bagi setiap anggota keluarganya. Karena waktu sarapanlah yang menjadi sarana musyawarah yang penuh keterbukaan dan kehangatan dengan nama keluarga.
Dan seperti hari ini, semua sudah mengitari sisi meja makan dengan segala hidangan yang sudah di siapkan.
"Mar, kamarin Iksan tanya, apa Bagas kerjanya stabil?" tanya Kusuma.
"Stabil pih, makin bagus malah, kenapa?"
"Enggak, soalnya Iksan lagi merasa heran aja, katanya Bagas sering melamun dan bahkan sering senyum senyum sendiri, takutnya ada tekanan mental dengan pekerjaan.."
Seseorng yang mendengar ucapan tuan besar pun sedikit panik. Rasa sarapan yang sedang dia kunyah berubah menjadi tak enak, bahkan susah untuk di telan.
"Ya elah pih, wajarlah, namanya juga lagi jatuh cinta." Ucap Damar enteng sembari melirik kearah seorang perempuan yang sedang menunduk.
"Jatuh cinta? Bagas punya pacar Mar?" tanya Airin ikut menimpali.
"Iya mih, Bagas lagi jatuh cinta. iya sih akhir akhir ini Bagas kurang fokus dan sering melamun dan natapin layar ponsel mulu, eh taunya jatuh cinta beneran tuh anak.."
"Wah mamih bakalan punya mantu lagi dong, eh kamu tahu nggak siapa ceweknya Bagas? harus di lihat asal usulnya loh Mar, kasian Bagas, dia anak lugu.."
"Nggak perlu khawatir mih, pilihan Bagas tepat kok.."
Mita Sinta dan Mawar hanya bisa senyum senyum melihat tingkah salah satu perempuan yang seandainya mampu, mungkin saat ini dia memilih tenggelam ke dalam tanah.
"Mita, Sinta, bagaimana dengan kalian?"
degg
Kedua perempuan yang sedari tadi asyik menertawakan perempuan lain kini seketika terdiam.
"Maksudnya om?"
"Hubungan kalian dengan kedua teman damar?"
degg
Mereka berdua terkesiap.
"Jangan dikira om diam itu om tidak tahu loh ya? om kan pernah bilang om akan selalu menjaga apa yang sudah menjaadi keluarga Prapanca.."
"Maaf om, bukannya kita lancang nggak menuruti saran om, tapi.."ucap Mita menggantung sembari melirik Sinta.
"Om tahu, orang tua mereka juga sudah menemui om."
"Apa?"
"Jika kalian sudah siap? nanti kalian akan om nikahkan bersamaan,"
__ADS_1
"Apa om? nikah?"
"Iya, daripada kalian berpacaran nggak jelas.."
"Apa kita boleh berpikir dulu om?"
"Baiklah, silahkan kalian pikirkan dulu matang matang, sekalian nunggu sampai om tahu siapa kekasih Bagas.."
"Kekasih Bagas? apa hubunganya pih?" tanya Damar.
"Ya biar nanti ketiganya papih nikahkan sekalian Mar. Bagas kan secara langsung juga tanggung jawab papih. Kasian kalau dilimpahkan ke Iksan. anaknya udah tiga dia, belum keadaan orangtua Bagas dikampung.."
"Gimana Za? apa kamu siap nikah sama Bagas?" pertanyaan Damar yang tiba tiba membuat gadis yang sedari tadi menunduk seketika terkesiap. Dan pastinya Kusuma dan Airin pun terkejut.
"Fiza? maksud kamu Mar?"
"Iya mih, kekasih Bagas ya gadis itu.."
"Astaga.."
Dan tak lama acara sarapan bersama pun selesai beberapa waktu yang lalau. Kini Damar nampak sedang serius melakukkan pekerjaan di dalam kantornya.
Tapi kali ini ada yang beda. Didalam kantor, Damar tak sendiri. disana ada sang istri sengaja ikut datang karena sebuah misi.
Disaat Damar sedang asyik dengan berkas berkasnya, Mawar juga asyik berkirim pesan dengan seseorang. Tapi kali ini bukan wanita yang semalam, melainkan orang lain yang akan menyempurnakan rencananya.
Dengan bantuan Damar, apa yang diinginkan mawar menjadi sangat mudah, termasuk mencari perempuan perempuan korban dari perbuatan seorang Sonya.
Mawar memberi dukungan kalau mereka bisa menuntut hak dari suami suami zhalim hanya karena ulah seorang wanita.
Damar yang sesekali melihat ekspresi istrinya hanya geleng geleng kepala. Kadang terlihat tertawa, kadang sedih, kadang marah marah. Mungkin itu adalah ungkapan yang dia rasakan saat membaca curhatan wanita wanita tersakiti. Kebanyakan alasan mereka bertahan adalah anak. Apalagi para wanita itu juga kebanyakan menggantungkan urusan ekonominya kepada suami.
"Mamah heran loh pah, sama sikap laki laki yang suka dengan sengaja menyakiti wanita? apa mereka tidak sadar? bagaimana perjuangannya dulu.."
"Emang kenapa mah?" jawab Damar sembari membawa laptopnya pindah ke sofa dimana istrinya berada.
"Ya ini ada wanita yang cerita. dulu merintis usaha bersama, giliran sedikit sukses, malahh suaminya main serong sama sanyo sanyo itu.."
"Sonya mah,,"
"Ya intinya itulah namanya pah. Nggak bisa dikasih rejeki lebih. makin kaya malah makin belagu. gemes aku tuh.."
"Haahhah, mamah tu lucu deh, niat nolong malah sebel sendiri.."
"Ya gemes aja pah sama laki laki modelan kaya gitu."
"Yah, namanya laki laki mah. Laki laki tuh lebih mengandalkan emosi ketimbang hati, beda sama perempuan selalu pakai hati dulu sebelum pakai emosi. "
__ADS_1
"Kaya papah dong.."
Skak..
"Tukan papah kena lagi.."
"Ya kan papah dulu juga gitu, langsung emosi melihat Mamah sama papih, nggak pakai hati dan pikiran dulu.."
"Iya iya, papah salah.."
"Hhahaha, gemes kalau papah sudah cemberut. penginnya gigit.."
"Ah tu kan papah jadi bingung mau ngomong apa, ih mamah ni.."
"Tapi mamah seneng sih sekarang papah sudah banyak berubah,"
"Ya harus dong, kalau papah kaya dulu lagi bisa bisa papah kehilangan mamah, nggak mau.."
"Papah belum telfon Sonya?"
"Belum, ntaran aja, main slow dong mah,"
"Lah, kelamaan pah.."
"Jangan gegabah mah, ingat, di belakang Sonya ada Kei, mamah mau mereka curiga? terjadi hal buruk? papah melakukan kaya gini juga sambil menjaga mamah. orang seperi kei bisa nekat dengan kekuasaan yang dimilikinya."
Dan firasat Damar memang tepat. saat ini Kei memang sedang merencanakan sesuatu.
"Sudah kamu siapkan obat yang dibutuhkan?"
"Sudah dong sayang.."
"Baguslah. kapan kamu akan mengajak Damar ketemuan?"
"Slow, kita main cantik, jangan terlalu terburu buru. biar nasib kita nggak seperti Lucky, aku ingin Damar yang mengejarku, tunggu saja."
"Baiklah, aku percaya sama kamu Sonya. yang penting kita sama sama diuntungkan dalam hal ini."
"Kamu nggak takut Kei? kalau gagal, nama orangtuamu jadi taruhannya loh.."
"Nggak mungkin gagal. Kamu tahu kan apa yang aku iinginkan selalu aku dapatkan. Begitu juga saat ini. Dan aku sangat menyukai tantangan."
"Ckckck..ini kita nggak main lagi? mumpung aku belum pakai baju.."
"Main lagi dong, baru juga dua kali."
"Baiklah, kamu memang nggak ada capeknya Kei.."
__ADS_1
"Itulah hebatnya aku."
@@@@