
Di dalam sebuah kamar terdengar orang sedang melakukan percakapan dalam telfon setelah beberapa saat tadi sempat berbalas chat.
"Hallo.." sapa laki laki.
"Hallo, tuan Damar.." balas suara perempuan dari sebarang sana.
"Ada apa?" tanya Damar dengan nada kesal.
"Beneran ini aman? istri anda nggak ada?" tanya perempuan itu agak ragu.
"Apa mau melakukan panggilan video? okeh.." tantang Damar.
"Nggak, nggak perlu, saya percaya kok tuan Damar jujur." balas dia mantap.
"Ada apa?"
"Maaf kemarin sudah mengecewakan tuan Damar, saya tiba tiba ada acara sama temen." bohong perempuan itu.
"Temen apa temen? sampai nggak bisa balas pesan satu pun?" tanya Damar seakan akan sedang merajuk membuat wanita diseberang sana kegirangan.
"Temen tuan, sungguh, temen perempuan." bohongnya lagi.
"Oh.." balas Damar singkat.
"Tuan marah?" tanya wanita itu
"Ya marah lah, orang udah seneng seneng dan nyempetin waktu buat ketemuan eh gagal tanpa kabar, seperti sedang dipermainkan saja." balas Damar masih dengan nada seakan akan kecewa banget.
"Maaf tuan, sungguh aku nggak ada niat mempermainkan tuan Damar. aku serius ingin membuat tuan senang dan bahagia.."
"Nggak tahu lah, aku jadi ragu.." jawab Damar yang pastinya membuat perempuan diseberang sana ketar ketir.
"Sumpah tuan, aku serius. sejak pertama aku melihat tuan, jujur aku sudah suka sama tuan. Dan seandainya aku di jadiin yang kedua aku siap tuan, asal aku bisa bikin tuan senang.."
Damar menyeringai, " Cih,percaya diri sekali kamu Sonya" umpat Damar dalam hati.
"Tuan, kok diam?" tanya Sonya gelisah. pikirannya sudah kemana mana dan pastinya takut mangsa besarnya lepas begitu saja.
"Apa?" jawab Damar singkat.
"Gini aja deh tuan, kasih aku kesempatan sekali lagi, aku janji kali ini aku nggak akan ingkar. Aku siap menyenangkan tuan Damar yang tak pernah tuan Damar dapatkan dari wanita manapun."
__ADS_1
"Emm, jujur sih tubuh kamu memang sangat menggoda, tapi apa kamu yakin? jangan jangan ada laki laki lain dalam pelukanmu?" dan perempuan di seberang sana gelagapan.
"Tidak tuan, saya sudah hampir tiga tahun menyendiri." bohongnya. padahal saat ini ada laki laki yang memeluk erat dirinya.
"Baiklah, nanti aku pertimbangkan.." jawab Damar.
"Oh begitu, ya sudah saya tunggu kabar baiknya ya tuan, jujur saya nggak pernah ada niat mempermainkanmu tuan.."
"Iya iya, ya sudah nanti saya telfon lagi, saya mau keluar takut istri dan anak anak menunggu."
"Baik tuan, saya tunggu kabar tuan loh ya.."
"Oke, dah dulu ya Sonya cantik."
"Oke tuan muda, bye. Muach.."
Klik.
dan keduanya sama sama tersenyum namun berbeda pemikiran.
"Tunggu kejutan dari saya sonya"
perempuan itu tersenyum puas dan dia meletakkan ponselnya di atas meja sebelah ranjang. Dia mangulas senyum licik. Kemudian berbalik menatap pria yang memeluknya.
"Kamu dengar tadi Kei? Damar tak mencurigai apapun? dan sepertinya dia sudah jatuh hati sama aku.." ucap Sonya dengan sangat yakinnya. Sementara laki laki itu semakin mendekatkan tubuh poloasnya.
"Baiklah aku percaya, namun kamu harus hati hati. Jangann sampai kecolongan lagi kaya kemarin.." balas Kei.
"Terus rencana kamu apa Kei? aku sudah nggak sabar pengin jadi nyonya Prapanca satu satunya?"
Kei tersenyum penuh arti.
"Sabar Sonya. yang pasti aku sudah siapkan semua apa yang sudah aku rencanakan. Tinggal nunggu kesempatan. begitu ada kesemptan. boom, keinginamu terwujud. Tapi kamu juga harus benar benar bisa menundukkan Damar dan buat dia ragu mengenai istrinya."
"Nggak perlu disuruh, kita lihat saja nanti hasilnya. kamu pasti akan merasa bangga."
"Dan saya tunggu rasa bangga itu datang.." balas Kei dan untuk merayakan rencananya, kini mereka saling bercumbu satu sama lain.
Tak beda dengan Sonya dan Kei, Damar juga sudah memilikii renana untuk mematahkan ambisi kedua pasangan yang hanya mementingkan obsesinya. Semua sudah terpikirkan dengan matang dan Damar tidak mau ada kesalahan sediikitpun yang membuat kecolongan. Beruntung, selain dia punya kuasa, Damar juga dikenal sebagai orang kaya yang baik. Makanya dia dengan mudah mendapat bantuan dari pihak manapun.
Sejak rencananya melakukan perlawanan kepada orang orang yang berniat menghancurkan rumah tangganya, Damar selalu membawa istrinya ke kantor. Dan seperti saat ini, terlihat Damar sudah dalam satu mobil dengan sang istri menuju kantornya.
__ADS_1
"Pah, kalau mamah ke kantor terus, kasian Fiza dong pah, nggak ada kerjaan.." ucap Mawar.
"Nanti akan papah tarik dia kembali ke kantor, namun untuk sementara biarlah seperti ini dulu. papah belum puas ngerjain Bagas." ucap Damar dan dia pun tergelak sedikit mengingat tingkah asistennya saat kepergok kemarin.
"Papah serius mau menjatuhkan SP buat mereka?"
"Ya enggaklah mah, Fiza dan Bagas tuh orang orang terbaik yang ada di kantor papah. Apalagi Bagas, dia tuh sudah seperti adik papah."
"Ya syukurlah, kirain papah beneran.." ucap Mawar lega.
"Tappi kemungkinan papih akan menikahkan mereka. Apa lagi papih tahu kisah Fiza bagaimana."
"Oh iya pah, bicara soal nikah, terus Mita dan Sinta bagaimana? apa papih serius mau menggelar pesta pernikahan buat mereka? dan lagian Sinta dan Mita kan masih kuliah? apa mereka siap?"
"ahmmm. Mamah sudah tahu papih gimana kan? kalau papih sudah memutuskan pasti itu akan terjadi, iya kan? jadi ya sudah pasti Mita dan Sinta akan dinikahkan."
"Tapi kan mereka masih kuliah pah?"
"Ya kalau Aldi dan Dika nggak keberatan ya nggak apa apa, toh lagian banyak juga yanng sudah nikah tetap kuliah. Seenggaknya Mita dan Sinta juga ada yang menjaganya mah. Dan tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Mamah tahu kan kisah papah dulu gimana." dan Mawar mangut manggut.
"Nah maka itu, kita serahkan semuanya sama papih, pasti papih akan melakukan yang terbaik buat mereka. Mamah jangan terlalu mikirin. Papah tahu Sinta dan Mita berharga banget buat mamah."
Mawar hanya terdiam. dia merebahkan kepalanya di senderan jok mobol dan matanya menatap suaminya yang fokus menyetir yang sesekali menoleh kearahnya.
"Mamah kenapa? ko mandanginnya begitu banget?" tanya Damar merasa heran deengan tatapan mawar.
"Mamah hanya sedang melihat malaikat tanpa sayap di sebelah mamah, mana malaikat itu tampan banget lagi.." balas Mawar yang dan tentu saja Damar tersanjung dipuji istrinya.
"Sayangnya malaikat ini belum dapat cium dari istrinya." goda Dmar.
"Ah kebiasaan deh, kalau minta nggak lihat tempat, lagi nyetir juga." dengus Mawar.
"udah, jangan protes, kasih papah cium, nggak lam ini" dan Mawar memang tidak pernah menolak permintaan suaminya ini. Bagi Mawar, memberikan ciuman saat suaminya meminta itu kewajiban yang harus dipenuhi. Dan Mawar bahagia melakukannya.
@@@@
...Gimana ceritanya? Makin Seru tak? Jangan lupa dukungannya ya reader? biar makin semangat othor nulisnya....
...Sambil nunggu yang ini up, ayok deh ikuti cerita lainnya yang tak kalah seru loh, seperti cerita di bawah ini...
__ADS_1