
Sementara di sebuah ruangan, semenjak Tuan mudanya pergi menikmati waktu berdua dengan istrinya, Sang asisten dibuat semakin sibuk dengan tugas tugasnya. Bagi Asisten itu, mungkin ini hal biasa yang sering dia lakukan selama menjadi asisten tuan muda Damar tapi tidak untuk saat ini. Hari ini sang asisten tidak bekerja sendiri. Dia ditemani mantan sekretaris yang sudah beralih tugas menjadi pendamping istri tuan muda. Bukannya sang asisten tidak suka, tapi kecanggungan karena sebuah tragedi ciuman itu masih terasa hingga detik ini. Kalau yang pertama mungkin bisa dikatakan itu tak sengaja dan bisa ditolenransi karena kejadiannya begitu mendadak. Tapi ciuman kedua itu sungguh yang paling mendebarkan bagi pria polos itu. Menggandeng tangan perempuan saja dia belum pernah, apa lagi dengan sengaja berciuman. Meski naluri laki lakinya berkata dia menikmati tapi tetap naluri malunya mendominasi.
Sejak kejadian itu, setiap bertemu dengan sang perempuan pencuri ciuman pertama, jantung sang asisten selalu tak bekerja dengan semestinya. Debarannya semakin kuat bahkan hanya dengan memandangnya sekilas.
Dan detik ini mata yang seharusnya fokus dengan berkas berkas yang berada di depannya, malah teralih dan fokus dengan gerakan gerakan tingkah perempuan dengan rambut bergelombang. Bibirnya sesekali tersenyum dengan sendirinya.
"Pak Bagas, pak..." Suara lembut itu membuyarkan lamunannnya.
"Eh, iya, ada apa Za??" Jawabnya kegalagapan.
"Ini sudah selesai.."
"Oh.." Jawabnya dengan perasaan yang masih kacau balau.
"Mana lagi yang harus saya kerjakan?"
"Huumm??" Sahut pak Bagas seperti orang kebingungan membuat perempuan di hadapannya menautkan kedua alisnya.
"Mana lagi yang harus saya kerjakan pak Bagas?"
"Oh, ntar.." Jawabnya sembari mengecek berkas berkas yang berserakan.
"Pak Bagas sakit?"
"Enggak Za.." Dan perempuan itu hanya manggut manggut.
"Kamu betah tinggal di rumah tuan muda?" Tanya sang asisten mencoba mencairkan suasana hatinya. Dulu saat masih kerja disatu ruangan, dia tak pernah secanggung ini menghadapinya. Tapi insiden ciuman yang dua kali terjadi membuat pria ini berasa malu jika bertemu.
"Betah pak, semuanya baik.."
"Syukur lah, terus reaksi mamah tiri kamu gimana?"
"Yang pasti keberatan lah pak, tapi ya mau gimana lagi, itu pekerjaanku.."
"Syukurlah, kamu punya pacar nggak sih?" Pertanyan konyol itu tiba tiba terlontar begitu saja dari mulut Bagas tanpa ada rencana.
"Hhehhe, nggak punya pak, bapak mau jadi pacar saya?" Tanya dia balik membuat Bagas sedikit terkejut. Tapi dengan gaya jaimnya dia hanya tersenyum
"Jangan becanda kamu Za.."
"Loh siapa yang bercanda? aku kan tanya?"
"Maaf, saya tak bisa jawab.."
__ADS_1
"Yah, apa susahnya sih pak, tinggal jawab doang, kalau mau pacaran sama saya yak ayok. toh kita sudah pernah ciuman.."
Bluuss, wajah Bagas memerah. Hatinya berdegup kencang kalau mengingat soal ciuman itu.
"Kamu kok tingkahnya seperti wanita nakal? mana ada perempuan duluan yang ngajak pacaran? yang ada laki laki yang harusnya ngajakin, biar kelihatan jantan.."
"Emang Pak Bagas Jantan?"
Skak.. Bagas seketika mati kutu. Dia mengakui dia tak pernah berani menyatakan perasaannya kepada perempuan. Namun sepertinya perempuan bernama Fiza ini sedang mengujinya.
"Kamu ingin tahu seberapa jantan saya?" Tanya Bagas seakan akan tertantang dan tak terima kejantananya dipertanyakan. Fiza malah tertawa renyah seakan akan mengejeknya.
Entah dapat keberanian darimana, Bagas bangkit mengarah pada sofa panjang yang Fiza duduki. Setelah dekat Bagas duduk di sebelah Fiza. Seketika gadis itu terkesiap. Apalagi Bagas memegang kedua bahunya dan mendorongnya hingga dia terbaring. Tubuh Fiza terkunci oleh kedua lengan Bagas. Wajah mereka begitu dekat. Bahkan hembusan nafasnya pun begitu terasa di kulit mereka masing masing.
"Pak Bagas, ini..." Ucap Fiza terbata sembari mencoba melepaskan diri dari kungkungan tubuh kekar sang Asisten.
"Kenapa? Katanya pengin tahu kejantanan saya?" Ucap Bagas dengan tenang. Padahal hatinya juga tak setenang sikapnya. Namun tetap dia harus menjaga wibawanya sebagai laki laki yang tak terima dipertanyakan tentang kejantannya.
"Maksud saya bukan.."
"Bukan apa?"
Fiza semakin gugup. Apalagi Bagas semakin mendekatkan wajahnya. Ada rasa sesal dalam benaknya. Niat hati ingin meledek malah dapat perlakuan seperti ini.
"Pak, nanti ada yang lihat?"
"Biarin, aku tinggal jawab, sedang membuktikan ke jantananku, bukankah disini ada cctv?"
Fiza langsung terkesiap, rasa khawatir tiba tiba menderanya.
"Pak, tolonglah jangan kayak gini, nanti aku dikira perempuan nggak bener.." Bagas malah tertawa renyah mendengar penuturan Fiza.
"Biarin, kan kamu tadi nantangin kejantanan saya.."
Fiza lagi lagi terkejut. Rasa takut semakin menggerogoti hatinya. Meski dia sudah beberapa kali pacaran, tapi tak pernah berada di posisi seperti saat ini. Dan Fiza tipe perempuan yang tidak pernah suka berada di tempat sepi selama berpacaran biar tidak terjadi hal hal yang tak di inginkan.
"Pak, tolong lepasin? plis.." Mohon Fiza frustasi karena dari tadi mencoba menggeser tangan Bagas benar benar tak bergeser satu incipun.
"Katanya pengin membuktikan kejantanan saya?" Tanya Bagas dengan seringainya membuat perempuan itu semakin gelisah.
"Maaf, tadi saya hanya bercanda.."
"Apa kejantananku pantas buat bahan candaan?"
__ADS_1
"Pak, tolong, maaf, lepasin.."
"Nggak mau, enak aja, katanya pengin tahu saya jantan apa engga?"
"Bapak mau memperkosa saya?"
Bagas terperangah sejenak kemudian tertawa renyah.
"Kalau iya kenapa?" Ledeknya. "Biar kamu tahu saya jantan apa tidak.."
Wajah Fiza semakin panik. Bahkan seperti hendak menangis.
"Lepasin dong pak, tolong, kalau enggak saya teriak..!!" Ancamnya membuat Bagas terkekeh.
"Silahkan kalau bisa.."
Fiza bersiap mengeluarkan suaranya namun tiba tiba
Cupp..
Fiza membelalakkan matanya. Kecupan sekilas yang dilakukan oleh pria dihadapannya menghentikan niatnya untuk berteriak. Fiza tak pantang menyerah. Dia hendak mengeluarkan suaranya lagi namun tiba tiba
Cupp..
"Pak Bagas..!!" Geram Fiza.
"Silahkan, katanya mau teriak.."
Lagi lagi Fiza mencoba bersuara namun Bagas lagi lagi berhasil membungkamnya dengan memberi kecupan di bibirnya.
"Ya udah kalau pak Bagas mau perkosa saya ya silahkan.." Ucap Fiza pasrah. Dan Bagas hanya tergelak.
Sejenak dia menikmati wajah ketakutan Fiza. Mata Fiza sudah berkaca kaca.
"Aku tidak akan pernah merusak perempuan, jangan pernah bercanda soal kejantanan pada pria lain. itu bisa fatal akibatnya, paham??" Fiza mengangguk.
Bagas mengusap air yang sudah menetes dari sudut mata Fiza. Sebelum Bagas melepas kungkungannya, dia kembali mengecup bibir Fiza namun dalam durasi sedikit lebih lama.
Bagas bangkit menuju kursi kerjanya dan Fiza bangkit segera beranjak keluar ruangan.
Senyum Bagas tersungging sempurna. Degup jantungnya membahana.
"Apa aku jatuh cinta??"
__ADS_1