MAWAR MILIK TUAN MUDA

MAWAR MILIK TUAN MUDA
Berkumpulnya Tiga Pangeran..


__ADS_3

Mobil yang sempat terhenti beberapa menit itu kini mulai melaju kembali. Bagas mengulum senyum sedangkan Fiza perasaannya tak menentu setelah diperlakukan pria di sebelahnya beberapa saat tadi. Biar bagaimanapun Fiza perempuan normal. Dia sebenarnya begitu menikmati saat Bagas berbuat seperti tadi. Apalagi dia pernah mengakui kalau bibir sang asisten sangat nikmat. Bisa jadi ketakutan yang Fiza tunjukan tadi hanya ketakutan terselubung.


Berbeda dengan pemikiran Bagas. Pria itu sendiri mengakui betapa dirinya telah berubah karena wanita disebelahnya. Dia yang dikenal anak polos bahkan sering diledek oleh tuan mudanya kalau dia anak yang lugu, tidak pernah menyangka bisa berbuat seliar itu. Bagas sepertinya sangat kecanduan dengan bibir perempuan yang sedang terdiam menatap arah luar mobil. Jika Fiza tadi tidak mengingatkan kalau mereka belum halal, bisa saja khilaf akan terjadi diantara mereka berdua. Dan Bagas tidak ingin hal itu terjadi. Dia tidak mau mencoreng nama keluarganya di kampung.


"Kita beli makanan dulu ya." ucap Bagas memecah keheningan.


"Iya pak." ucap Fiza dan tentu saja Bagas langsung menoleh dan menatapanya tajam.


"Eh iya sayang." Ralat Fiza segera begitu ditatap tajam Bagas.


"Sepertinya kamu memang sengaja yah Za? biar aku tuh cium kamu terus?" tuduh Bagas


"Jangan sembarangan nuduh pak."Elak Fiza dan tentu saja lagi lagi Bagas melotot.


"Eh yang, maaf belum terbiasa, lagi latihan." Ucap Fiza lagi beralasan.


"Kalau minta dicium tuh ngomong, jangan bikin masalah. Bukankah tanpa meminta pun aku selalu memberikan?"


"Iya maaf." ucap Fiza sekenanya. Karena dia sendiri bingung mau jawab apa dari pertanyaan yang Bagas lontarkan.


"Mau beli makan apa?" tawar Bagas.


"Terserah kamu aja sayang." ucap Fiza akhirnya dan Bagas langsung tesenyum lebar.


"Nah begitu kan adem dengarnya. biar kita sama sama makin sayang." Fiza hanya mendengus mendengar ucapan jujur kekasihnya.


Mobil berhenti di sebuah taman kota dimana terdapat banyak sekali pedagang aneka makanan di salah satu sisi taman kota tersebut. Cuaca malam yang cerah membuat tempat itu begitu ramai.


Begitu turun dari mobil Bagas langsung menggenggam erat tangan Fiza dan menggandengnya menyusuri setiap gerobag penjaja makanan di tempat tersebut.


"Kamu mau beli apa sayang?" tanya Bagas yang kini juga sudah merubah kata panggilnya. Tentu saja perempuan yang sedang digandengnya tersipu.


"Kamu aja yang pilih. Kemarin kemarin aja kamu yang pilih aku suka." dan Bagas mengangguk.

__ADS_1


Disaat mereka asyik menyusuri keramaian tersebut, mata Fiza menangkap dua sosok perempuan dan laki laki yang dia kenal berada di taman tersebut.


"Bukankah itu mba Mita dan mba Sinta Yang?" tunjuk Fiza dan Bagas langsung menedarkan padanngannya ke arah yang ditunjuk kekasihnya.


"Ah iya, ada mas Dika dan mas Aldi juga. Gimana kalau kita menyapa mereka?" Usul Bagas dan Fiza langsung menyetujuinya.


"Mba Mita. Mba Sinta.!" seru Fiza dan kedua perempuan yang merasa terpanggil menoleh.


"Loh Fiza, Mas Bagas. kalian lagi ngapain? Mesra bener?" Tanya Sinta karena melihat tangan Bagas dan Fiza saling bertautan.


"Ya lagi kencan lah yang." Dika yang menjawab.


"Ah iya, mereka juga akan dinikah kan dengan kita." ucap Aldi.


"Za, bisa nggak jangan manggil kita mba? Kita lebih muda dari kamu loh. Harusnya kita yang manggil kamu mba, tapi terpengaruh mba Mawar jadi ikut ikutan deh." ucap Mita.


"Mas Dika dan mas Aldi, sudah lama apa disini?"


"Belum lama Gas."


"Kalian juga sudah siap nikah Gas?" Dika bertanya sembari menerima suapan siomay yang Sinta berikan.


"Aku sendiri sih siap mas. Tapi enggak tahu nih Fiza. belum ada kepastian." jawab Bagas. Dan setelahnya, dia memanggil pedagang es yanng lewat dan membeli minuman yang dibawa pedagang itu.


"Nggak siap kenapa Za?" Kini Mita yang melontar pertanyan.


"Masalah keluarga. " Bagas yang jawab. dan semuanya nampak berkata "oh."


"Jangan terlalu dipikrkan Za. Bukankah bang Damar dan om Kusuma akan membantumu?" Tanya Santi.


"Iya Za. Di tangan mereka semua akan baik baik saja dan lancar kok. Kamu tinggal mikirin kesiapan hati kamu aja. Lagian kasian Bagas juga kan, pengin disentuh perempuan." ucap Aldi yang ujung ujungnya hanya meldek sang asisten dari sahabatnya.


"Iya mas, mba. Aku juga sebenarnya sudah siap, cuma ya itu yang jadi pemikiran aku tuh keluarga aku." ucap Fiza akhirnya yang membuat Bagas senang mendengarnya.

__ADS_1


"Nah mumpung kita berkumpul di sini, kita bahas saja sekalian pernikahan kita. Bukankah om Kusuma ingin kita menikah bersamaan? kita bahas aja disini nanti biar pihak laki laki yang menyampaikan ke om Kusuma." usul Aldi dan mererka semua setuju.


Sebenarnya orang tua Aldi dan Dika agak keberatan acara pernikahan anak anaknya dilangsungkan bersama tapi mengingat yang akan jadi besan mereka adalah tuan besar Prapanca, mereka akhirnya pasrah saja. Itu semua juga pasti akan mendongkrak bisnis keluarga mereka biar lebih maju karena keluaraga Aldi dan Dika tahu, siapapun yang menjalin hubungan baik dengan keluarga Prapanca akan berpengaruh baik pula pada orang oang di sekitarnya.


Maka itu sepanjang sejarah perusahaan Prapanca berdiri, Hampir tidak pernah ada pengkhianatan yang terjadi di dalam perusahaan tersebut.


Tuan Kusuma juga mengambil tanggung jawab pernikahan Bagas karena pemuda itu keponakan dari asisten kepercayaan tuan Kusuma yang bernama Iksan. dan Iksan pula yang mengenalkan Bagas saat Damar membutuhkan seorang asisten.


Mereka berenam nampak serius membicarakan sesuatu yang sangat penting bagi kehiduapn mereka selanjutnya.


Hal serius juga nampak ditunjukkan oleh sepasang suami istri yang kemesraanya selau membuat iri bagi yang melihatnya.


Kini mereka berdua sedang menikmati film yang ditayangkan pada sebuah layar yang begitu besar dengan pencahayaan ruangan yang hampir gelap. Tangan mereka selalu bertautan dan sepertinya enggan terlepas. Film yang mereka tonton adalah film romantis dimana setiap ada adegan ciuman, sang suami selalu meminta istrinya meniru adegan tersebut. Beruntung mereka duduknya di deretan kursi paling belakang dan pengunjung bioskop tidak terlalu ramai, jadi mereka asyik saja melakukan ciuman di tempat itu.


Seperti halnya saat ini. adegan dalam film menunjukan ciuman panas dari pasangan pemeran utama yang sedang melihat lihat mobil kuno. Dalam adegan tersebut, sang aktor perempuan menarik paksa aktor laki laki masuk kedalam mobil antik dan langsung mengajaknya berperang bibir dan lidah dengan sangat bergairah.


Dan sepasang suami itu pun melakukan hal yang sama karena permintaanbsang suami.


"Pah, kita lagi di bioskop." ucap sang istri mengingatkan karena sang suami benar benar sedang terbakar hasrat.


"Ah iya, papah sampai nggak sadar. Ya sudah kita pulang saja yu mah, kita lanjutkan di kamar."


"Ayo pah."


"Tapi sebelum keluar, kasih papah cium sekali lagi dong." Dan sang istripun dengan patuh memberikan apa yang diminta sang suami dan perang panas bibir dan lidah pun terjadi lagi.


@@@@@


...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....


...Visualnya tuan muda...


__ADS_1



__ADS_2