MAWAR MILIK TUAN MUDA

MAWAR MILIK TUAN MUDA
Ancaman Dari Bagas..


__ADS_3

Malam kini telah hadir. Rembulan nampak mempesona dan terlihat bulat sempurna mewarnai langit di temani bintang bintang.


Namun keindahan itu nampaknya tidak mewakili dengan apa yang dirasa oleh seorang pemuda yang nampak sedang gelisah berdiri di depan gerbang sebuah rumah bersandarkan pada pintu mobil yang dia bawa. Berkali kali matanya melirik ke jam tangan yang melingkar manis.


Pemuda itu hanya menggunakan sandal selop dengan celana pendek selutut dan kaos ketat yang menegaskan kalau tubuh yang berada dibalik kaos itu terbentuk sempurna.


Tak jauh dari keberadaannya muncul lah pengendara sepeda motor yang berhenti tepat di depan pintu gerbang. Nampak seorang perempuan turun dari belakang pengemudi motor berjaket hijau lambang aplikasi layanan online.


Pemuda itu tersenyum begitu manisnya saat tahu siapa yang baru turun dari ojeg tersebut.


"Pak Bagas?" sapanya dengan wajah sedikit terkejut. Sepertinya perempuan itu sedikit terkejut melihat pria yang akhir akhir ini bermain di dalam pikirannya berada di hadapan dia.


"Udah lama?" tanya perempuan itu lagi menghampiri pria tampan yang nampak tenang tak segelisah beberapa saat lalu.


"Lumayan. ikut yuk, ada yang harus kita bicarakan." ajak pria bernama Bagas.


"Loh kemana? aku baru pulang, nggak enak sama tuan besar dan yang lain." Ucap perempuan itu lagi.


"Aku sudah ijin sama tuan besar dan tuan muda. Tuan muda juga belum pulang kan?"


"Beneran sudah ijin?" dan Bagas mengangguk dengan yakin. Perempuan itu akhirnya menyetujui ajakan Bagas.


"Kamu tadi kemana aja Za?" tanya Bagas begitu mobil yang dia kendarai meluncur di jalan raya.


"Tadi habis nemenin non Mawar, aku pergi jalan jalan sama Santi dan ketemu sama teman teman dia."


"Kamu nggak risih gitu deket sama Santi?"


"Enggak pak, risi kenapa. orang orang kaya Santi tuh asliya baik loh, memang cara mereka salah seperti mengingkari kodrat namun itu sudah menjadi pilihannya. Coba sih pak Bagas sekali kali gabung sama mereka, pasti betah."


"Aku? gabung sama mereka? yang ada aku yang takut Fiza. tatapan mereka seperti mau menelanjangiku." ujar Bagas bergidik. dan Fiza hanya tergelak.


"Mau bicara apa sih pak? dan kita mau kemana ini?" tanya Fiza.


"Kita nyari tempat buat ngobrol. ini menyangkut masa depan hubungan kita Za."


Fiza tercenung dan dia menoleh, "hubungan kita?"


"Iya, seperti yang kita bahas pas malam itu."


"Soal pernikahan?" dan Bagas mengangguk.

__ADS_1


Entah tempat mana yang dituju Bagas. hingga beberapa menit berlalu mereka masih berada dalam kendaraan.


"Kita kerumah aku aja ya Za. bingung aku kalau mau cari tempat." ucap Bagas setelah beberapa menit berlalu dan mobil tetap berada ditengah jalan raya tanpa ada niat berbelok atau menepi. Padahal kakan dan kiri jalan yang mereka lewati berjajar tempat temapat yang bisa digunakan untuk sekedar ngobrol.


Fiza hanya pasrah saja. Lagian membantah pun percuma. Pria disebelahnya tidak akan pernah mau menurutinya


"Mau beli makanan dulu engak?" tawar Bagas.


"Terserah bapak aja lah." jawab Fiza agak malas.


"Kalau terserah aku, aku malah mending nggak beli. Aku mah makan bibir kamu aja kenyang Za." Ucap Bagas santai sembari mengulum senyum.


Fiza langsung melirik tajam dan mencebikan bibirnya hingga Bagas terkekeh.


"Za, kitakan ada hubungan, bisa nggak kamu jangan panggil aku bapak? Kita nggak lagi di kantor loh. Lagian apa aku sudah sangat tua sampai kamu selalu memanggil bapak dimanapun berada, bahkan saat di chat." Protes Bagas panjang lebar hingga Fiza terperangah dibuatnya.


"Trus manggilbya apa? orang panggilan itu sudah terrbiasa." Jawab Fiza polos.


"Ya kalau di kantor boleh boleh saja sebagai bentuk keprofesionalan. Lah kalau sedang kencan begini, masa pak pak mulu. Kayak tuan muda dan non Mawar tuh. Apa pun yang mereka lakukan selalu bikin iri."


Lag lagi Fiza tergelak dengan sikap pria tampan disebelahnya. Tangan Fiza terangkat dan dia menjulurkan ke arah abagas dan dengan gemasnya dia mencubut pipi Bagas.


"Aduh, sakit Za." Pekik Bagas. spontan tangan satunya mengusap usap pipi yang kena cubit.


"Nah seperti itu manggilnya. kan adem dengernya." ucap Bagas.


"Ih ogah." tolak Fiza.


"Nggak mau?" tanya Bagas dan Fiza dengan entengnya menggeleng.


"Beneran nggak mau panggil aku sayang?" dan Fiza seakan akan meledek Bagas, dia tetap menggeleng.


Tiba tiba Bagas menepikan mobilnya. Dia menghentikan mobilnya dan membuka sabuk pengaman.


Fiza tentu saja terkejut. Dia melirik wajah Bagas dan kelihatannya pria itu marah karena permintaanya tidak terkabulkan.


Dengen sekali gerak, Bagas membawa tubuhnya mendekat ke arah Fiza. Tentu saja perempuan itu kaget. Bagas terus mencondongkan wajahnya perlahan dan tangan Bagas meraih alat pengatur jok mobil dan menariknya hingga sandaran jok mobil yang diduduki Fiza berubah posisi lebih rendah.


Fiza yang kepalanya terus mundur akhirnya mentok di sandaran dan tak bisa bergerak lagi. Sedangkan wajah Bagas kini tepat berada dihadapannya.


Fiza terlihat panik. Dia bahkan mangatupkan bibirnya saat sorot tajam Bagas menatap manik matanya dengan kilatan amarah.

__ADS_1


"Ngga mau mangil aku sayang?" Tanya Bagas dan hembusan nafasnya begitu terasa menyentuh wajah Fiza.


Perempuann itu tetap menggeleng.


Cupp.


Bagas langsung menempelkan bibirnya. Bukan sekedar menempelkan tapi juga sedikit menggigit bibir bawah Fiza. Perempuan itu langsung membulatkan matanya. Tangannya berusaha mendorong tubuh Bagas namun dengan sigap tangan itu ditahan oleh tangan blNagas hingga Fiza tak dapat memberontak.


"Pannggil akubsayang, cepat..!" perinah Bagas. namun Fiza tak segera merespon malah semakin menggigt bibirnya sendiri hingga Bagas dibuatnya gemas.


"Cepat panggil aku sayang..!' perintah Bagas lagi namun tetap Fiza tak meresponnya. Hingga dengan senang hati Bagas kembali medaratkan bibirnya di atas bibir Fiza dan bermain main disana.


Cukup lama bibir dan lidah Nagas menjelajahi bibir Fiza hingga perempuan itu tersengal sengal.


"Mau nggak mangil sayang?" tanya Bagas sekali lagi denga tatapan tajam dan kali ini Fiza mengangguk.


"Bener?" dan lagi lagi Fiza hanya mengangguk.


"Coba ucapkan?" perintah Bagas. Wajah keduanya masih saling dekat hingga mereka merasakan hembusan nafas yang menderu dari keduanya.


Fiza terdiam. Namun manio matanya terus menatap manik pria tampan dihadapannya.


"Cepat katakan.!" perntah abagas meski lirih namun masih terasa tajam.


"Sa... yang.."ucap Fiza lirih dan terbata.


"Nggak denger, ulang..!!" perintah Bagas. Sebenarnya dia mendengar, tapi dia begitu menikmati wajah panik wanita didepannya ini jadi dia berniat sedikit mengerjainya.


"Sa.. yang.." kali ini ucapan Fiza sedikit keras hingga Bagas tersenyum.


"Lain kali kalau kita sedang berdua, kata kata itu wajib keluar dari mulut kamu. Kalau tidak, kamu tahu apa yang terjadi?" ancam Bagas dan Fiza menganggu lemah.


"Dan terimalah hadiahnya karena kamu nurut sama saya." Bagas kembali menempelkan bibirnya ke bibir Fiza dan kali ini Bagas terlhat rakus menikmatinya.


@@@@


...Hai reader, gimana ceritanya? seru nggak? kritik dan sarannya dong, tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa, dukungan juga seperti like vote rate fave, biar makin semangat nulisnya....


...Sambil nunggu yang ini up, ngga ada salahnya dong baca cerita lainnya yang tak kalah uwuw, nih ada karya bagus dan romantis sangat....


__ADS_1



__ADS_2