
"Eugghh."
Lenguhan berat seorang pria terdengar dari salah satu kamar rumah di kawasan super elit. Tidurnya sangat lelap akibat rasa lelah yang ditimbulkan dari sebuah permainan yang sangat panas semalam.
Pria itu menggerakkan tangannya dan meraba bagian sebelahnya. Dalam sisa rasa kantuknya dia tercengang. Di sampingnya tidak di temukan siapa siapa. Dia pun segera bangkit dan ternyata benar perempuan yang semalam bersamanya sudah tidak ada. Di edarkannya pandangan matanya ke segala penjuru kamar.
"Mawar kemana? Apa dia di kamar mandi?" gumamnya. dengann berat pria itu turun dari ranjanganya dan melangkah menuju kamar mandi.
"Mawar? apa kamu di dalam?" Teriaknya. Namun hening tak ada jawaban. Dia semakin heran. Dibukanya pintu kamar mandi dan matanya membulat. Tidak ada orang di dalam sana. Segera dia mengambil baju yang berserakan dilantai terus memakainya. Dia segera keluar
"Bi, lihat perempuan yang ada di kamar aku nggak?" Tanya pria itu pada sang asisten rumah tangga yang sedang sibuk membersihkan ruang tengah.
"Tadi saya lihat dia keluar jam lima pagi tuan" Jawab sang asisten.
"Lah kok dibiarin keluar sih bi. Dia itu calon istri saya loh." Sontak saja mata sang asisten membulat. Terkejut dengan ucapan sang majikan.
"Yang benar saja tuan, dia calon istri tuan?" Tanya sang asisten dengan rasa yang tak dapat diartikan. Bagaimana bisa majikannya menyukai perempuan berjakun.
"Bener, dia calon nyonya di rumah ini, masa dibiarin keluar." Rengek pria itu sambil menghempaskan tubuhnya di sebuah sofa.
"Ntar dulu, ntar dulu, tuan nggak salah pilih?"
"Maksud bibi?"
"Tuan nggak punya perilaku yang menyimpangkan?" Terka sang bibi.
"Sembarangan bibi kalau ngomong. Perilaku apaan?" Tanya pria itu kesal.
"Masa tuan mau menikah sama wanita jadi jadian?"
Pria itu terkesiap dan seketika emosinya sedikit naik.
"Bibi kalau ngomong hati hati ya, dia itu wanita sempurna bi. Wanita paling baik di muka bumi ini. Wanita jadi jadian darimana. Bibi mau saya pecat?"
Gantian sang bibi yang syok mendengar penuturan majikannya.
"Ya ampun tuan? tuan lagi nggak kena pelet kan?"
Gegg.
Lagi lagi pria itu terkejut.
"Maksud bibi apa?"
"Nih ya tuan, ini bibi ngomong jujur loh. Kalau nggak percaya tuan bisa tanya asisten yang lain atau penjaga pintu gerbang, tanyain siapa wanita yang keluar dan masuk semalam bersama tuan. Kalau perlu cek tuh cctv." Ucap bibi panjang lebar dengan sangat yakin dan tentu saja pria itu semakin terkejut. Dia langsung mengambil langkah panjang menuju kamar mengambil ponselnya dan segera saja membuka aplikasi yang terhubung dengan seluruh cctv di rumah. Matanya membulat sempurna dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Brengsek..!!" teriak pria itu. Amarahnya seketika menggema tatkala dengan mata kepalanya sendiri pria itu melihat siapa wanita yang dia bawa.
Prak, pyak, byuk..
Berbagai benda yang ada di kamarnya dihancurkan. Amarahnya benar sudah memuncak.
"Ramar..!! tunggu pembalsan saya.."
Sementara itu di rumah mewah yang lain.
"Hhahhaha." suara tawa menggema dari dalam sebuah kamar.
"Udah sih pah, ketawa mulu." Ucap sang istri yang sedang sibyk mempersiapkan baju kerja suaminya.
"Ngga kebayang ntar reaksi Kei kaya apa kalau dia sadar. Apa lagi jika foto foto itu kesebar."
Ya. sebelum pergi, tugas Santi adalah memotret kemesraan yang dilakukannya dengan Kei diatas ranjang dan wajib dengan bagian kamar Kei yang juga kelihatan. Agar suatu saat nanti Kei bertindak, Damar bisa mengunakan foto foto itu untuk menekan Kei. Apa lagi foto foto itu di ambil dari rumahnya Kei, tidak mungkin Kei akan bisa mengelak.
Sang istri hanya geleng geleng kepala melihat suaminya yang sejak pagi terlihat bahagia.
"Udah siang ini pah."
"Iya sayang." Sang suami pun segera bangkit dari ranjangnya. Bukannya segera masuk kamar mandi, dia memilih meraih tubuh sang istri kedalam pelukannya.
"Udah siang papah. Anak anak ntar nunggui tuh."
"Astaga." dan tanpa penolakan sang istri pun selalu memberikan ciuamn terbaiknya.
Setelah ritual ciumnya selesai, sang istri segera keluar begitu suaminya masuk kamar mandi. Dia menghampiri kamar anak anak yang memang sekrang lebih dekat.
"Udah siap semua?" Tanya Mawar begitu masuk kamar si kembar.
"Sudah non." jawab Fiza.
"Ya udah, sekarang waktunya sarapan." Ajak Mawar sambil menggandeng keuda anak kembarnya.
"Mah, kaka kapan sunatnya?" tanya Dioa dalam langkahnya.
"Tanya papah saja nanti atau tanya eyang, mamah juga belum di kasih tahu."
"Emang kakak bener bener ingin di sunat?" kini sang adik yang bertanya.
"Iya lah, biar cepet gede. Kan sebentar lagi kaka punya adik lagi. Tanggung jawab kakak lebih besar." Mawar terkekeh mendengar penuturan Dion. Anak itu selalu bisa bersikap dewasa dalam usianya yang masih bocah.
"Ughh, mamah jadi makin sayang deh sama kalian. Tapi nanti kalau adiknya lahir, dijagain bener bener, jangan dinakalin."
__ADS_1
"Siap mamah."
Dan tak butuh waktu lama mereka semua kini sudah mengelilingi meja makan. Damar pun sudah terlihat berada disana.
"Mita, Sinta, Fiza, kalian sudah bicarain kapan rencana kelian nikah?" Tanya om Kusuma seperti biasa membuka obroaan hangatnya.
"Sudah om, minggu depan mereka akan datang bicara sama om."' jawab Mita.
"Fiza juga nanti hubungi keluargamu. Nanti utusan saya kerumahmu."
"Baik tuan."
"Emang kalian rencananya kapan akan melangsungkan pernikahan?" Tanya Damar.
"Kalau kita sih penginnya ntar nunggu mba Mawar lahiran. Tapi semua juga tergantung keputusan om Kusuma." Jawab Sinta.
"Ya sudah serahkkan semuanya saja ke om, biar nanti om yang bicara sama keluarga laki laki." Jawab Tuan besar.
"Terus sunatnya Dion kapan?" kini sang bocah yang bersuara denga wajah yang sudah di tekuk.
"Sunatnya Dion nanti sekalian sama acara empat bulaan calom adik Dion." Jawab Airin.
"Kapan?"
"Satu bulan lagi.."
"Kakak. sudah nggak sabar yah pengin dapat amplop banyak?" Ledek sang adik.
"Tapi ka kalau kaka dapat amplop juga adek pasti minta kan?"
"Iya dong, kan kakak sayang sama adek."
Yang merasa dewasa hanya senyum senyum mendengarkan obrolan dua bocah diantara mereka.
"Ngga kebayang deh nanti Dion kalau sunat dapat amplop berapa tu bocah." ucap Sinta.
"Kayaknya bisa buat beli pulau ya Sin." Jawab Mita.
dan semuanya tergelak. Bisa saja hal itu terjadi. mengingat siapa orang orang dibalik bocah tersebut.
Sementara itu dikamar sebuah perumahan elit nampak pria itu masih dengan kilatan amarahnya mencoba menenangkan diri. Dirinya benar benar tidak pernah menyangka akan di kerjai Damar habis habisan. Dan pastinya sekarang dia tahu selama ini Damar mengawasi gerak geriknya.
"Kali ini aku harus balas kamu Damar. harus.."
@@@@@@
__ADS_1
Ini karya baru saya, mampir yuk, bikin hareudang loh..