Meet You Now

Meet You Now
16


__ADS_3

Ting, bunyi lift yang menandakan bahwa lantai yang Saskia tuju sudah sampai.


"Kia, ya ampun apa yang terjadi dengan mu?? di wa group personalia ada kabar kamu akan turun dua jabatan, ini tergila??," sambut Mila didepan Saskia dengan sejuta kecemasan di raut wajahnya.


Putra, Jalul dan Joya berdiri mengitari jalan Saskia menuju meja kerja yang harus ia benahi segera.


" Mbak Kia, baik-baik aja??, " tatapan Jalul mencemaskan Saskia.


Dan Saskia hanya mengangguk mengiyakan bahwa ia benar baik-baik saja.


" Kia, apa yang terjadi?? kenapa keputusan mereka sepihak, Pak Nurdin bagaimana?," tanya Mila tak puas.


" Mila, aku tau kamu cemas, tapi aku baik-baik saja,, Pak Nurdin sudah melakukan yang terbaik sebagai atasan," jawab Saskia sembari menaruh kardus untuk menyusun barang bawaannya.


" Mbak, aku tau kamu pasti bisa balik ke departemen akunting ini lagi," ucap Joya seakan memberi semangat pada Saskia, sehingga suasana cemas itu sedikit cair dengan rangkulan Mila pada Saskia dan Joya.


" Kamu pasti balik, aku yakin, " ucap Putra sembari menepuk-nepuk pundak Saskia.


" Kamu dipindahkan didepartemen apa??" tanya Mila sembari menyeka air matanya.


" Mungkin bagian HRD atau pendataan dokumen, dan mungkin nanti aku tidak sesibuk sekarang, " ucap Saskia sedikit tersenyum.


Setelah selesai mengepak barangnya ke dalam kardus, Saskia pum berpikir untuk meminta ijin pada Pak Nurdin. Walau berat tapi selama Saskia menjadi bawahannya Pak Nurdin adalah orang yang baik.


Tok..,tok..


Saskia mengetuk pintu ruangan Pak Nurdin, ia melihat pak Nurdin tengah melihat layar komputernya.


" Masuk Saskia".


Saskia pun bersegera masuk dan berdiri dihadapan meja kerjanya.


" Pak, Kia minta izin, terima kasih selama ini dan maaf kalau selama ini Kia membuat kesalahan," ucap Saskia dengan tulus. Ia tau Pak Nurdin tak bisa banyak membela dirinya di tengah rapat tadi karena bukan ranah kuasa Pak Nurdin.


" Maaf kan Bapak ya Saskia," ucap Pak Nurdin menyesal seolah-olah ia seperti orang tua yang tak bisa membela anaknya.


Saakia hanya bisa mengangguk, pamit memberi salam. Lalu ia keluar dari ruangan Pak Nurdin dengan hati berat.


Saskia berjalan menuju meja kerja untuk menggambil kotak kardus dan tasnya.


Mila menghampiri Saskia, diikuti Joya dan Jalul yang mengantarkan Saakia sampai di depan lift.


Lift menuju lantai 9 ruang departemen Personalia, dan Saskia di sambut dengan tatapan sinis warga departemen itu. Tak heran jika rumor yang beredar bahwa departemen ini angker ternyata itu benar. Bagaimana tidak setiap wajah menunjukkan kecurigaan yang terlihat jelas disana.


Saskia pun menuju salah satu meja karyawan disana, untuk menanyakan ruangan kepala personalia. Dan tampa basa basi si karyawan itu menunjukkan jalan untuk menuju ruangan Kepala Personalia.


Saskia pun jadi bergegas berjalan ke arah sana dan ia temukan Kepala Personalia diruangannya yang sedikit menyerupai kapal pecah, tersebar beberapa dokumen yang tak terurus di rak, dan beberapa lembaran kertas di atas meja kecil berserakan begitu saja, dan dengan segan Saskia mengetuk pintu ruangannya.


Tok..,tok.


" Permisi Bu".


Dan tatapan sinis Ibu Yayuk terpancar disana ketika melihat pada Saskia


" Masuk Saskia Rasya".


Saskia melangkah dengan enggan masuk keruangan angker itu.


" Karena waktu yang dadakan seperti ini, saya dan Pak Wakil Direktur belum tau ingin menempatkan kamu dimana, tapi sebelum keputusan keluar kamu akan ditempatkan dimana saja," ucapnya tegas.


Tiba-tiba ibu Yayuk bangun dari kursi kerjanya dan berjalan melewati Saskia dan menuju pintu ruangannya, lalu mulai memanggil seseorang.


Dan tiba-tiba seorang gadis hitam manis datang lalu mulai mendengarkan intruksi dari Ibu Yayuk sembari melihat pada Saskia. Setelah dirasa cukup Ibu Yayuk menyuruhku dengan segera mengikuti Dini.


Saskia yang canggung, mencoba membuka suara dengan berkenalan dengan Dini agar lebih akrab.

__ADS_1


" Mbak Dini, saya Saskia Rasya," sembari mengikuti langkah Dini.


" Ternyata kamu yaa orang yang menghebohkan pagi departemen Personalia," ucapnya sembari tersenyum pada Saskia.


Saskia hanya bisa nyegir mendengar perkataan mbak Dini, tapi syukurlah ia dipertemukan dengan mbak Dini, setidaknya didepartemen ini masih ada yang ramah.


Setelah berjalan melewati beberapa meja, Mbak Dini berhenti di ruangan agak ujung dan terlihat beberapa meja dan rak-rak filling cabinet tersusun rapi disana.


" Oke, sekarang ini meja kamu, dan aku di sebelah kamu, semoga kita bisa berkerjasama yaa Saskia, " ucap mbak Dini.


" Iya Mbak, apa disini cuma kita aja Mbak??," tanya Saskia sembari menaruh kardus yang sedari tadi ia bawa.


" Iya, dulu ada Wulan, tapi dia sudah mengundurkan diri, jadi hanya aku yang bertahan disini dan itu cukup sulit, tapi sekarang ada kamu, jadi bersemangatlah".


Saskia hanya mengangguk mendengar perkataan Mbak Dini, dan tak berniat untuk melanjutkan pertanyaan karena sepertinya ada banyak tumpukan dokumen kerja di atas mejanya.


" Nah sekarang, tolong input data ini, data terbaru riwayat karyawan yang up great golongan dan yang akan menuju pensiun, " ucap Mbak Dini sembari menaruh empat map dokumen pada atas meja kerja Saskia.


" Tolong disiapkan sore ini, karena akan di cek oleh Ibu Yayuk sebelum di tanda tangani Direktur besok pagi."


Saskia hanya terpaku mendengarkan penjelasan mbak Dini.


" Karyawan yang up great golongan?? sedangkan aku?? malah turun jabatan," gumam batin Saskia.


" Baik Mbak," jawab Saskia dan memcoba menghidupkan layar komputer.


" Saskia, ini sebenarnya sudah siang, bagaimana kalo kita makan dulu, setelah itu baru melanjutkan pendataan?, " ajak Mbak Dini sembari membereskan meja dan tasnya.


" Iya Mbak, tapi Kia masih agak kenyang, gak papa Mbak duluan aja Kia mau coba pendataan dokument ini dulu" .


" Ah begitu yaa, ya udah kalo gitu Mbak duluan yaa".


Saskia pun jadi mengingat Mila, Jalul, Putra dan Joya.


" Biasanya mila selalu menawarkan jasanya bila aku tak ikut turun makan, " seketika hati saskia sedih.


" Saskia, nanti kalo pulang hati-hati yaa, sepertinya di beberapa ruas jalan sudah mulai tergenang air karena hujan lebat" Bunda.


" Baik Bunda" balas Saskia


Dan Saskia mengotak ngatik playlis dan mulai mendengar kan lagu Lee Hi - BREATHE


Breathe in deeply


Until both sides of your chest get numb,


Exhale more,


Until they start to hurt a little


Until you feel like


There’s nothing left inside of you


It’s okay if your breath gets short


No one is blaming you


You can make mistakes from time to time


Everyone else does too


If I tell you it’s alright


I know that it’s only words

__ADS_1


When someone sighs


How can I understand


Such deep breaths your sigh


Even though I won’t be able to understand its depth, that’s okay


I will embrace you.


Alunan suara merdu Lee Hi menganyutkan Saskia dengan tumpukan dokumen didepannya.


🍃🍃🍃


Waktu pun berlalu dengan Saskia yang tak menyadari bahwa jam telah menunjuk jam pulang kantor.


" Waah kamu bisa gila kerja juga yaa, udah sore yuk pulang, " ajak mbak Dini seraya merapikan kertas-kertas di mejanya.


" Hah??, udah sore ya Mbak??," tanya Saskia kaget karena tak meyadari ternyata jam sudah menunjukkan pukul enam lewat.


" Iyya udah sore nyaris mau malam, tuh liat yang lain udah pada kosong, " ujar Mbak Dini sembari menunjukkan ruangan yang benar-benar sudah tinggal dua karyawan begitu juga aku dan Mbak Dini.


" Yuk, hari ini hujan lebat sekali, dari info traffic sudah ada beberapa jalan yang tergenang air hujan, bakal macet parah nie," ujar mbak Dini.


" Ah iyya Mbak, tapi ini Kia masih punya 1 item lagi, gak papa Mbak duluan aja,, setelah ini baru kia pulang," jawab Saskia yang mulai menghitung berapa data lagi yang harus ia input.


" Gitu yaa, oke Mbak duluan yaa, kalau gak siap juga bawa pulang saja, kerjakan dirumah," saran Mbak Dini.


Setelah Mbak Dini berlalu, Saskia memulai lagi pendataan dan sekilas melihat jam.


🍃🍃🍃


Dan ketika pekerjaan ini selesai ruangan kantor benar-benar kosong dan Saskia sedikit merenggankan otot-otot lengannya yang sedari tadi mengetik tak henti. Ia pun melirik jam menunjukkan jam 7.15, dan ia pun berpikir pas untuk pulang dijam itu sekarang.


Saskia turun dengan lift menuju lantai dua lobby kantor.


Ketika lift terhenti di lantai yang ia tuju, Saskia turun dan berpas-pasan dengan rombongan Wakil Direktur. Dan Saskia pun reflek dengan cepat menghindar seraya bersembunyi di balik tiang besar di depan lift.


Tampa sengaja ia mendengar perbincangan dan tawa hangat dari rombongan itu, dan ia sedikit merasa mengenal suara wanita yang seperti tak asing di telingannya.


Selang beberapa menit rombongan itu berlalu,


Saskia mencoba berjalan pelan-pelan untuk memastikan bahwa rombongan tadi sudah berlalu. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan terpaku dengan sosok yang berdiri didepannya.


" Mira.., Mirayuna" lirih Saskia.


" Lama tak bertemu Saskia Rasya, " Sapa Mira dengan angkuhnya.


Sesaat seperti hawa dingin mengeliligi sekitaran Saskia, dan ia hanya bisa mengepal jemarinya untuk tak goyah, Saskia berusaha berjalan untuk melewari Mira.


" Jadi selama ini kamu bersembunyi diperusahaan ini??, pantas Yovan menyetujui kerjasama dengan perusahaan ini," ucap Mira yang menarik tangan Saskia agar berhenti.


" Apa kamu masih menyukai Yovan??, " tanya Mira dengan menatap tajam Saskia.


" Itu bukan urusan mu," jawab Saskia menahan amarah seraya berusaha melepaskan tangan dari Mira.


" Aku harap kamu menyimpan cintamu itu, karena Yovan akan menikah dengan ku," ucapnya bangga.


" Itu lebih baik, setidaknya kamu menikah dengan yang sejenis dengan mu, PENGHIANAT," ucap Saskia tajam.


PLAK,, sebuah tamparan mendarat di pipi Saskia dengan tatapan mata Mira memerah karena ucapan Saskia.


" Aku bukan penghianat,, semua terjadi karena kamu tak bisa membuat kepastian untuk Yovan, dia benci ketidak pastianmu, dan aku bisa memberi segala yang ia butuh," ucap Mira sembari berteriak keatas pada Saskia.


Namun seketika Saskia menampar balik Mira dengan cukup keras.

__ADS_1


PLAK..


"CUKUP,, kau ingin membuat seolah aku yang bersalah?? aku harap kau bisa menjaga Yovan untuk tak terlihat di depan ku lagi, " ucap Saskia dengan marah, lalu ia berjalan meninggalkan Mira dengan tatapan marahnya menuju pelataran parkiran kantor, dan diluar gedung Saskia berlari kecil karena hujan yang lebat ini seolah membuat ia tak kuat membendung kekesalan hatinya yang sedari tadi ia pendam.


__ADS_2