
Pagi yang ribut pikir Saskia, ia masih mencoba menikmati tidurnya namun suara berisik itu mengusik ketentraman tidurnya.
Dan terdengar suara ketukan dari pintu luar kamarnya.
Tok.., tok.., tok
dengan berat akhrinya Saskia terpaksa bangun untuk membukakan pintu kamarnya.
" Alaya" terdengar suara mengemaskan memanggil dengan manja pada Saskia.
" Ya ampun sayang.., kapan sampai??" ucap Saskia sembari memeluk keponakan tunggalnya Shaira dengan hati senang itu.
" Alaya...,kaka ngantuk," ucap Shaira yang memeluk tante kecilnya dengan manja.
" Ya sayang.., ayuk sini tidur sama Alaya,," dengan sayang Saskia mengendong tubuh Shaira menuju ranjang besarnya.
" Kakak tidur terus yaa sayang, Alaya keluar sebentar yaa,,"
Cup..Saskia mengecup kening Sahira lalu meninggalkannya yang tertidur.
Saskia bergegas menuju ruang makan dan terlihat kak Aya juga kak Riyadh sedang menikmati wedang jahe buatan Bunda.
" Kak Aya, kak Riyadh?? kok gak kabarin pulang lebih awal??" tanya Saskia berkumpul diruang itu.
" Iya itu Shaira.., udah nangis-nangis mau pulang secepat mungkin, pusing deh dengerin bawelan dia," tukas kak Aya sembari meneguk wedang jahenya.
" Kamu sehat?? gimana dengan Irwan??," tanya kak Riyadh santai.
" Wiiih dikekep habis sama Saskia kak, udah gak usah dikhawatirkan lagi,," sahut kak Raniya serius.
Mata kak Aya dan Riyadh sontak kaget.
" Serius??" tanya kak Aya tak percaya.
" Ikh apa siih kak Raniya ini sok tau banget deh, gak kok biasa aja,, " balas Saskia sewot.
" Biasa gimana?? coba deh mikir mereka pulang dengan kondisi basah kuyup terus kemarin begitu juga pulang udah sorean banget,, terus apa coba kalo gak di pepet banget mas Irwan sama Kia,," jelas kak Raniya antusias.
" Syukur laah.., kaka pikir kamu bakal gak suka sama Irwan,, " ucap kak Riyadh seraya bangun dari kursi lalu menuju kamar atas.
" Serius ini?? cerita atuh dek,," goda kak Aya sembari tersenyum usil melihat Raniya
" Ikh apa siih, gak.., jangan mulai deh kalian menghayal gimana-gimana, oke,," ultimatum Saskia lalu membelakangi keduanya dengan menuju dapur untuk mengambil air putih.
" Ikh manten ngambek,, hihihi" goda kak Raniya lagi.
Saskia tak menghiraukan, lalu mencari sosok Bunda dan terlihat wanita itu tengah menyiram bunga.
Pagi itu menjadi hari yang hangat karena berkumpul lengkap, hanya tinggal tunggu kehadiran mas Bilal yang mungkin akan sampai sore ini.
Jarum jam seakan cepat sekali berlalu
suasana hati Saskia seperti dirundung dilema, entah apa yang menganjal di hati Saskia.
__ADS_1
Mungkin pernikahan ini akan benar-benar sederhana, tak banyak sanak saudara yang bisa hadir, karena ayah tak punya family lain.
Lagi pula saudara pihak Bunda hanya ada dua orang dan mereka sudah tiba namun memilih bermalam dihotel.
Tak ada malam berinai dan ritual-ritual lainnya, bukan tak di buat tapi Saskia yang tak ingin. Sehingga membuat kak Raniya dan kak Aya cemas, apa yakin begitu.
Saskia tau mereka masih khawatir akan dirinya. Tapi ia mencoba menyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja, dan memang tak mengelar ritual-ritual sebelum menuju esok paginya akat.
" Kia...,kamu lagi apa??, " tanya Bunda sembari masuk kamar Saskia yang terlihat sedang bercanda dengan Shaira.
" Kaka Shaira kok belum tidur?? besok acara Alaya, harus bangun cepet,, ayo tidur dulu yaa sayang,," bujuk Bunda pada cucu semata wayangnya, lalu Shaira pun keluar dari kamar Saskia untuk tidur.
" Bunda," panggil Saskia.
Bunda menghampiri Saskia lalu duduk di pinggir ranjangnya.
" Ini,,"Bunda menyerahkan kotak berbentuk hati berwarna merah.
Saskia hanya terkejut lalu mengambil kotak tersebut dan membukanya. Saskia terpaku melihat perhiasan gelang bermotif pintu aceh.
" Bunda ini??" ucapnya menggantung.
" Ini untuk kamu, perhiasan mahar dari Ayah untuk Bunda.., dan hanya hadiah ini yang bisa bunda beri untuk pernikahan kamu,," ucap Bunda seiring dengan jatuhnya air mata haru.
Pelan Bunda meraih jemari Saskia.
" Maafkan Bunda yaa Saskia, maaf kan Bunda selama merawat kamu, maafkan kerasnya bunda dalam menjaga kamu, maafkan bunda dalam menetang kamu, maafkan bunda, " ucap Bunda pelan
Saskia tiba-tiba bangun dan mencium lutut Bunda.
Saskia menyadari perjuangan Bunda dalam membesarkannya tanpa ayah.
" Bunda selalu memaafkan kamu, Bunda berdoa untuk kebahagian kamu dan nak Irwan, jadilah istri yang baik untuknya, dan tuluslah mencintai Irwan," pinta Bunda haru.
Saskia tak bisa berkata, hanya isyarat mengangguk dan air mata yang terus mengalir bahwa semua keinginan Bunda coba ia penuhi.
" Bunda tidur sama Kia yaa malam ini, biar Kia bisa memeluk Bunda kayak dulu," pinta Saskia manja.
" Kamu ini, udah besar besok juga sudah jadi istri orang masih mau tidur sama Bunda, " celetuk Bunda menyeka air matanya dan tersenyum.
" Bunda, Kia sayang Bunda,," ucap Saskia sembari mencium tangan wanita paruh baya itu.
Dan kdeua perempuan itu pun tidur,, tapi disela-sela itu terdengar pertanyaan saskia yang mengagetkan bunda
" Bun.., dulu Ayah romantis gak??" tanya Saskia penasaran
" Ikh kamu ini,, pertanyaan apa itu?," celetuk Bunda mengelak.
" Ya kan penasaran gitu ayah gimana sama Bunda waktu awal-awal nikah?? romantis gak??" Saskia mengoda Bunda.
" Kamu ini, hhmm.., Ayah itu gak romantis, tapi dia pengertian seakan tau apa yang Bunda ingin dan butuh, gak pernah nuntut yang muluk cukup dengan merawat kalian ayah membalas dengan penuh perhatian terhadap Bunda,," kenang Bunda mengingat suaminya.
" Ayah gak kaya gak banyak uang, tapi bunda gak pernah kesusahaan, setiap apa yang bunda ingin ayah pasti penuhi, yaa sewajarnya siih,," jelas Bunda.
__ADS_1
" Kangen Ayah ya Bun,," ucap Saskia merasakan rindu yang dalam akan Ayah, hingga airmatanya jatuh lagi dan memeluk tubuh Bunda.
" Iyya, Bunda juga rindu Ayah, rindu tawanya dan keponya Ayah," sahut Bunda membesarkan hatinya.
🍃🍃🍃
Pagi tanggal 3 November.
Subuh yang sibuk.
Kak Raniya sudah siap dengan alat tempur make upnya dan Saskia jadi sasaran marahnya karena gara-gara nangis semalaman bersama Bunda menyebab matanya sembab dan agak bengkak.
" Kamu ini yaa, jadi gemes udah tau paginya mau acara pakek adengan nangis-nagis semalam suntuk, ini mau gimana nge covernya coba, cepet kompres," perintah Raniya kesal.
Raniya bukan make up artis, tapi dalam bidang permake upan ia bisa diandalkan. Semua berawal setelah ia resing dari kantornya, kak Raniya ingin mengembangkan hobi make upnya.
Dan hal itu mendapat dukungan oleh mas Bilal. Banyak class-class make up dengan MuA ternama yang di ikuti kak Raniya untuk mendalami hobbynya.
Sehingga Saskia mempercayakan make upnya pada Raniya yaa hitung-hitung gak repot-repot cari MUA yang cocok. Saskia pun ingin make up natural face saja, seringan mungkin karena akan seharian dari pagi sampai sore.
Jantung Saskia tak karuan sedari tadi, ditambah lagi Shaira yang mondar mandir didepannya. Bunda pun tak mau kalah ikut-ikut mengecek sudah sampai mana make up Raniya.
" Kak, jangan menor yaa,," pinta Saskia menahan matanya yang tertutup karena akan dipasang bulu mata.
" Iya,, percaya sama gue,," celetuk Raniya judes.
Dan terdengar suara Via sahabat Saskia, yang masuk tanpa permisi
" Gila yaa lo, apa-apa suka banget yang dadakan dan gak info apa-apa langsung ba bi bu maen nikah-nikah aja," protes vVa sedikit kesal karena mendapat info sahabatnya akan pesta baru 3 hari yang lalu.
" Hay kak Raniya, sehat kak??"sapa Via
Saskia pun hanya tertawa kecil mendengar celoteh Via.
" Lo cerita garis besarnya aja cepet,," pinta Via yang penasaran
" Namanya mas Irwan,," ucap Saskia jeda karena akan di pakaikan lipstik pada bibirnya oleh jemari Raniya.
" Iyya gue tau namanya Irwan, udah baca undangan lo kok, spesifik kapan ketemu dimana?? orangnya gimana sampai bisa luluhi hati kamu itu yang menbatu, " cecar Via bertubi-tubi bertanya pada Saskia dengan penasaran.
Seketika Raniya tertawa mendengar ocehan Via.
" Kakak pikir cuma kaka aja yang mikir kalo hati Saskia ini keras bagai batu, ternyata kamu juga yaa,,"
" Ikh apa siih, sapa juga yang bebal seperti batu, belom tau aja kalian," ucapnya sembari melirik pada cermin, dan telihat pantulan wajahnya yang berbeda dengan sanggul rambut berhias mawar pada sisi sampingnya.
" MasyaAllah cantiknya anak Bunda," puji Bunda terkagum.
Kak Aya dan shaira juga ikut terpanah melihat kecantikan Saskia.
" Makasih yaa kak, make upnya gue suka," ucapnya sembari memeluk kakaknya dari belakang yang tengah membenah alat-alat make upnya.
" Syukur deh kalo lo suka, ini udah seminimalis mungkin seringan mungkin,, nanti bisa di touch ulang. Oke kaka beres-beres Bunda sedikit dan kak Aya, biar pas foto cantik,, eh tapi janji tuh jangan nangis tar gue gak tanggung.." celetuk Raniya memperingatkan.
__ADS_1
Saskia memgangguk, dan iya pun dibantu Via mengenakan selendang tile yang menambah kecantikannya.
Lalu ia memegang buket bunga tulip putih dan mawar putih yang menyatu indah.