
Disatu ruang kerja, terlihat seorang pria yang tengah serius membaca klausal tender yang akan perusahaannya ikut.
Namun tanpa di duga terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan fokusnya.
Tok..tok..
Wajah pria itu menatap pintu, dan pintu terbuka tanpa ijin dari sang pemilik. Sosok wanita muda pun masuk dengan senyum terkembang.
"Pagi mas Riyan" sapa Riya dengan berjalan masuk kedalam ruangan itu.
"Oh, kamu Riya, tumben pagi begini sudah ke kantor mas, ada apa??" Sindir sang kakak.
"Ikh, gitu banget sih kak mulutnya, ya wajar dong Riya main kekantor mas sekali-kali.. yaa siapa tau tar setelah tamat kuliah biar kerja disini juga" tutur Riya santai dengan melihat sekeliling ruangan yang tampak sedikit berantakan.
"Iya, kalau kamu nilainya bagus sih silahkan, tapi kalau enggak mohon maaf saja, kamu bisa cari perusahaan yang mau namun kamu" sahut Riyan dengan bergurau.
Riya tersenyum simpul.
"Tenang aja mas, Riya pasti bisa tunjukin sama maa jika nilai Riya layak buat masuk ke perusahaan mas, yakin 100% deh" tukas Riya percaya diri.
Riyan hanya tertawa kecil lalu kembali menatap berkas di tangannya.
"Jadi ada hal apa kamu kesini??"
Senyum Riya terkembang jelas dengan kian mendekat dengan sang kakak.
"Hmm mau minta uang plus.. minta izin untuk bisa magang di sini"
"Apa?? Magang??"
"He-em, magang sebelum kerjain tugas akhir.. boleh ya mas?? Kita gak rame kok, cuma ber4 aja" ujar Riya dengan memperlihatkan 4 jarinya pada sang kakak.
Riyan terbengong.
"Gak bisa" tolak Riyan cepat dengan meraih lembaran kertas lain lalu membacanya.
Riya terkaget ketika mendengar penolakan sang kakak.
__ADS_1
"Mas Riyan, please jangan bercanda mas.. Riya udah janji sama teman-teman, bisa kacau kalau sampai gak jadi magang disini" tutur Riya panik.
Riyan terlihat acuh tak acuh dengan ke susahnya sang adik.
"Please mas, tolong dong ijinin kita magang di sini yaa, janji gak rewel plus gak bergaji.. gak papa asal bisa magang disini" pinta Riya memohon pada sang kakak.
"Gak bisa, karyawan mas pada sibuk semua, gak sempat ngurusin anak magang kayak kalian yang pada manja begini" tutur Riyan dengan menatap sang adik.
Bibit Riya kian manyun.
"Jangan gitu dong mas, soal manja kan bisa di kondisikan kok.. yang penting mas terima dulu kita, tar kita bakal mandiri kok, gak bakal repotin, serius ini" cecar Riya mencoba meyakinkan sang kakak satu-satunya itu.
"No" tolak Riyan singkat jelas padat.
Riya kian jengkel dengan keteguhan sang kakak.
Namun tanpa sengaja, kedua bola mata Riya melihat lembaran kertas yang berada di tangan sang kakak. Ia melihat sekilas dengan tak tertarik.
Riyan menghela nafas berat ketika membaca kertas itu.
"Hm?? Oh ini, ada tander baru.. cuma dari saingannya dia lagi dia lagi..." celetuk Riyan yang terdengar kesal.
Riya mendelik untuk melihat kertas itu.
"Memangnya siapa?"
"Dewanta.. Rio Dewanta" sahut Riyan dengan meletakkan kertas itu diatas meja.
"Ooh" seru Riya hanya bergumam.
"Ah, ini pasti jadi sulit jika Rio juga ikut, ck.. dia ini benar-benar membuat mas pusing"
"Memang kenapa?"
Riyan hanya menghela nafas.
"Dia pintar dan idenya selalu berbeda dari yang lain, susah untuk di jelaskan tapi punya nilai plus" begitulah Riyan menggambarkan Rio Dewanta.
__ADS_1
Riya hanya mendengar tanpa menyela.
"Dewanta" bisiknya berpikir.
Namun seketika tiba-tiba ia mendapatkan ide yang cukup cemerlang.
Dan senyum licik pun terlihat jelas di wajah Riya yang seketika berbinar.
"Ya udah, Riya pulang dulu ya mas" seru Riya dengan berlalu pergi menuju pintu.
Riyan terkaget.
"Kamu gak jadi ambil uang??"
Seketika Riya berbalik dengan senyum manis.
"Transfer aja mas, yang banyak yaa.. mau shopping" ujar Riya dan ia pun hilang begitu saja dari ruangan itu.
Riyan hanya dapat menghela nafas pelan ketika melihat tingkah sang adik perempuan satu-satunya itu.
Namun seketika ia meraih handphone dan membuka layar mobile banking.
Ia harus mengirim uang bulanan untuk adik dan ibunya.
Seketika ia mengetik nominal 10 juta, namun sesaat ia berpikir. Lalu menghapus kembali angka 10 juta itu dan menggantinya dengan 15 juta.
Dan ia pun segera mengirim tanda kirim pada aplikasi itu. Uang 15 juta itu pun terkirim dengan sukses pada penerima Noveriya.
Lalu tak lama ia meletakkan handphonenya dan kembali melihat lembaran-lembaran kertas tander itu.
Pikirannya bimbang, jika ia ikut tander ini maka Dewanta akan berada di garis depan sebagai saingan.
Namun jika ia tak mengambil tander ini maka itu akan sangat merugikan, karena nilai yang cukup fantastis dan nilai produk dari brand yang cukup terkenal akan menaikkan nama perusahaan Riyan.
Riyan meletakkan kertas ia dan melirik jam tangannya. Ia teringat ada janji dengan seseorang yang sangat penting, kekasihnya Sella.
__ADS_1