
Tepat jam lima sore seluruh acara selesai, yaa lebih cepat karena memang tamu yang di undang pun tidak ramai.
Kak Raniya, mas Bilal, kak Aya tengah duduk digazebo hotel yang berhadapan dengan kolam renang. Mereka berkumpul bersama Bunda dan ibu Nur yang terlihat Shaira tertidur lelap disana.
Saskia menghampiri dengan berjalan agak susah menarik gaun yang panjang.
" Cantiknya anak Bunda,," puji Bunda.
Diikuti bu nur yang mengangguk
" Kalian pasangan yang serasi, tapi nak Irwan mana??" tanya ibu Nur pada Saskia.
" Itu mungkin masih menemani beberapa tamu lagi didepan," jawab Saskia menebak.
" Bun yuk pulang,,??" ajak Saskia yang terlihat lelah.
" Kamu masih belom sadar ya?," tukas kak Raniya cepat sembari memukul punda Saskia pelan.
" Ya kalo mau pulang tunggu suami kamu laah,,"
Saskia melongo saja, " Oh iyya yaa, tunggu mas Irwan, " gumam Saskia polos.
" Aih mulai masuk pada ranah yang semua peraturan diputuskan oleh suami?," gumam batin Saskia.
Akhirnya sosok kak Riyadh dan mas Irwan datang berbarengan sembari senyum masing-masing.
" Yuk pulang," ajak mas Irwan.
" Sekalian ini mas jangan lupa dibawa pulang istrinya, "sambil medorong Saskia ke hadapan mas Irwan.
Saskia yang tak siap, agak terhuyung dengan dorongan kak Raniya sehingga membuatnya reflek meraih lengan mas Irwan untuk berpegang.
Kejadian itu membuat Bunda dan bu Nur tersenyum di ikuti mas Bilal kak Rniya juga kak Riyadh.
" Yuk pulang," ucap kak Riyadh pada istrinya kak Aya lalu beralih melihat pada Shaira yang tertidur dengan pulasnya.
" Kalian hati-hati yaa," pesan Bunda pada Saskia dan Irwan
" Irwan ibu pulang dulu yaa, sekali lagi selamat untuk mu yaa nak, Saskia ibu titip nak Irwan yaa semoga kalian bahagia selalu," doa bu Nur.
Setiba diparkiran terlihat kak Riyadh mengambil koper Saskia dan menyerahkan ke mas Irwan
" Mas Irwan, tar pelan-pelan yaa dan semoga top cerrr," celetuk kak Aya sembari memberi tanda jempol dua yang di ikutin tawa kecil suaminya.
Saskia hanya tercengang saja mendengar celotehan kak Aya, untungnya kak Raniya udah duluan jalan sama mas Nilal, kalau enggak bisa duo maut ini membully Saskia dan mas Irwan.
Mobil kak Riyadh berlalu begitu saja meninggalkan Saskia dan mas Irwan.
"Yuk.." seru mas Irwan yang mengagetkan Saskia.
" Ah.., iiya mas," sahut Saskia dengan canggung lalu berjalan menuju mobil sedan sporty putih mas irwan.
" Sejak kapan?? kesepakatan nginap ditempat mas irwan yaa??" gerutu batin Saskia berpikir seraya mengikuti mas Irwan dari belakang.
" Bukannya dimana-mana kerumah pihak wanita dulu yaa???," pikir Saskia.
Awalnya ia berniat protes tapi sudah terlelah, ia mersakan kaki sakit sedari tadi menahan lecet karena memakain hak tinggi 12 cm.
Saskia membuka pintu mobil dengan berat lalu duduk dengan nafas terhela kasar, sesak karena korset yang mengikat sedari tadi pagi.
Ketika mas Irwan masuk kedalam lalu melihat pada Saskia.
" Kamu kenapa??"
" Ah, gak Mas ini karena bajunya udah gak tahan mulai buat gerah,," sahut Saskia cepat.
Dan mas Irwan membalas dengan ber "Oo" saja, yang membuat Saskia berpikir.
" Ini mas Irwan mikir kemana yaa?? jangan dikiran gue udah gak tahan itu, gak tahan dan gerah disini akibat korset yang dipakainkan kak Raniya dengan tenaga extra" gumam Saskia dalam hati lalu mengalihkan pandangannya pada luar jendela mobil mas Irwan.
Dengan mulus mobil sedan itu melaju walau terjebak macet dibeberapa titik, tapi tidak membuat laju mobil itu melamban sampai di gedung apartemen mas Irwan, Saskia menarik nafas berat,,
" Udah sampai aja,," pikir Saskia.
Saskia turun dan merasa kakinya semakin sakit lalu ia memutuskan untuk melepaskan sepatu weddingnya dan memilih untuk bertelanjang kaki.
Namun karena hal itu mas Irwan memperhatikan Saskia dengan aneh.
__ADS_1
" Kaki kamu kenapa??," tanya mas Irwab lembut lalu berjalan menghampiri Saskia.
" Gak mas gak papa, bener gak papa," mencoba menutupi kaki Saskia dengan ujung gaunnya.
Deg..,deg.., jantung Saskia berdebar tak karuan.
Mas Irwan mendekat lalu menunduk dan menyibakkan ujung gaun Saskia untuk melihat hal yang sembunyi kan.
dan terlihat kaki putih Saskia dengan tanda kemerah-merahan bahkan di ujung kelingking kaki Saskia sudah lecet berdarah.
" Ya ampun, kenapa bisa sampai begini??," mas Irwan cemas.
" Ah..,gak papa Mas bener gak papa," sela Saskia buru-buru mencoba menutupi kakinya tersebut.
" Masih sanggup jalan??"tanya mas Irwan yang berdiri lalu menatap Saskia.
" Masih mas, asal gak pakek sepatu ini lagi," sahut Saskia sambil menunjukkan tangan yang menenteng sepatu weddingnya dengan senyum kaku.
Mas Irwan hanya mengela nafas panjang lalu beralih ke belakang bagasi mobilnya, dan mengeluarkan sepasang sendal jepit lalu meletakkannya di hadapan kaki saskia.
" Pakai ini yaa,," mas irwan lembut
Saskia seakan terhipnotis dengan perlakuan mas irwan, dan akhirnya menurut saja perintah suaminya itu.
" Yuk,," ajak mas Irwan seraya mendorong koper Saskia yang medium itu lalu berjalan berdampingan menuju lift.
Kali ini perasaan Saskia berbeda dari waktu pertama kali ia datang ke apartemen mas Irwan waktu itu.
Saskia melihat bayang mas irwan pada dinding lift yang yang terpasang cermin itu dan terlihat pria itu tengah menatap layar handhponenya.
" Sekarang dia suamiku,," gumam batin Saskia.
Lalu ia beralih melihat sosoknya sendiri yang berada dibelakang mas Irwan. Dan merasa bersalah pada diri sendiri.
" Bisa kah kau jatuh cinta pada pria ini??," tanya Saskia pada dirinya sendiri.
Ting.., bunyi lift itu seperti mengangetkan lamunan Saskia dan mas Irwan.
Keduanya turun lalu berjalan menuju pintu apartemen mas Irwan.
Pintu apartemen itu terbuka setelah mas Irwan menekan nomor password.
Saskia masuk lalu melihat suasana apartemen ini masih tak berubah masih sama dengan terakhir kali ia pergi. langkah kaki Saskia seiraman dengan mas irwan berada ditengah ruangan dan mas Irwan berbalik menghadapnya.
" Masuk laah kekamar lalu mandi ??," ujar mas Irwan pada Saskia yang masih sedikit terpaku dengan sekeliling apartemen itu.
" Iya mas," sahut Saskia cepat dan terlihat mas Irwan berlalu menuju disofa lalu menjatuhkan diri seraya mengeluarkan handphone. Namun aktifitas berhenti lalu ia melihat pada Saskia yang masih berdiri disana.
" Kenapa??," ucap mas Irwan bingung.
" Hmm itu," gumam Saskia ragu.
" Itu mas Irwan tidur dikamar sebelah kan???" ucap batinnya tapi tak terucap di bibir Saskia yang keluh.
" Apa??" tanya mas Irwan lembut.
" Mati deh gue?," mau ngomong aja susah pekik batin Saskia dilema.
" Gak diomongin gak mungkin," gumam batinnya lagi seraya berpikir.
" Mas bisa bantuin Kia lepasin jepitan rambut yang banyak ini gak?," tanya Saskia spontan
dan menyesali ucapannya
Jleb..
" Ampun Saskia, ?? kamu mau goda mas Irwan ya??," rutu batin Saskia mengutuk dirinya sendiri.
Mas Irwan menyambutnya dengan senyum.
" Oooh.., ya udah sini," seru mas Irwan seraya melepaskan jas nikah lalu meletakkan handphonenya di atas meja.
" Aiiih, Mas Irwan ini buka jas aja keren," batin Saskia terkagum lalu berjalan menuju sofa dan duduk didepan lutut mas irwan dengan wajahnya menghadap ke layar TV.
Dan terdengar hembusan nafas panjang mas Irwan.
" Kenapa mas??," tanya Saskia penasaran.
__ADS_1
" Mas belum pernah melakukan hal ini, jadi apa yang harus mas lepaskan??, " tanya mas Irwan serius berpikir dan menatap rambut sanggul Saskia.
Hihihihi..,,terdengar suara Saskia tertawa kecil.
" Kamu ketawain Mas yaa??" tanya mas Irwan seraya mencoba meneliti lagi sanggul Saskia.
" Hmm," gumam Saskia sembari menyembunyikan tawa dengan tangannya.
Namun mata Saskia melirik sesuatu dari balik jas mas Irwan lalu ia mencoba meraihnya.
" Jangan bergerak dulu, mas lagi copotin jepitan kecil-kecil ini," perintah mas Irwan yang terdengar serius.
" Auuuw..," seringai Saskia ketika merasa tarikan jepitan itu menarik rambutnya.
" Sakit yaa??, makanya kamu jangan gerak-gerak," ujar mas Irwan sedikit bernada marah.
Namun Saskia hanya tertawa lucu mendengar mas Irwan menyuruhnya diam seolah Saskia ini anak kecil.
Karena gerakannya tadi Saskia berhasil meraih jas mas Irwan. Ia menggambil dua buku kecil berwarna hijau dan merah. Saskia menatap kedua buku itu.
" Buku nikah suami, " ujar Saskia lalu melihat biodata mas Irwan yang tertulis disana.
" 6 january 1981?? waah mas udah tua juga yaa,," celetuk Saskia santai.
" Tua tapi awet kan??," balas mas Irwan menimpal.
" Iihh narsis banget, ini mah udah sekelas om-om tau gak??," sahut Saskia.
" Laah kamu sendiri kenapa mau nikah sama om-om??," sahut mas Irwan membalas dan akhirnya ia menemukan punca permasalah sanggul Saskia. Terlihat sebuah jepitan besi kecil tapi panjang yang mengait-gaitkan rambut Saskia, lalu mas Irwan menariknya sehingga rambut saskia jatuh terurai sampai ke pinggang.
Sesaat mas Irwan terpaku pada gerai rambut Saskia.
" Mas Irwan ini bisa ngeledek juga rupanya, l percaya dengan penampilannya yang cuek " pikir Saskia lalu ia pun bangun setelah merasakan masalah rambutnya beres.
" Makasih mas,," ucap Saskia seraya beranjak bangun. Namun langkahnya terhenti ketika tangan mas irwan menarik tangan Saskia sehingga ia limbung dan jatuh di atas pangkuan suaminya.
Rambut yang tergerai pun jatuh memperindah wajah saskia dengan riasan make up yang natural.
" Ya Tuhan," pekik hati Saskia yang merasakan tangan mas Irwan berada di lingkar pinggangnya. Kini terlihat jelas garis wajah mas Irwan yang menawan membuat hatinya berdebar.
" Mas,," seru Saskia suara pelan.
" Ya Tuhan apa aku terlalu sombong menolak suamiku sendiri?," gumam batin Saskia yang mulai goyah.
" Peluk mas,," pinta mas Irwan seraya mencium sisi tangan Saskia dan menatap wajah Saskia dalam.
Saskia terpanah dengan tatapan mas irwan yang sendu dan untuk pertama kalinya merasa tubuhnya sepanas dingin ini didekap mas Irwan.
Iya merasakan tangan mas irwan dengan lembut membelai rambut dan wajahnya. Berlahan wajah mas Irwan mendekat dan mulai ******* bibir Saskia yang tak berkutik dengan ciuman itu.
Saskia merasakan tangan mas Irwan diantara lehernya dan terasa panas, namun Saskia menghentikan ciuman itu dan menatap mas Irwan.
" Mas sakit??," tanya Saskia cemas menatap wajah pria itu lalu meletakkan tangannya didahi mas Irwan dan ia menyadari pria ini demam.
" Hmm, mungkin karena lelah," sahut mas Irwan yang meraih tangan Saskia dari dahinya.
" Dengar..,Mas tau kamu gak cinta sama Mas,, dan kamu gak mau melakukan "itu" sekarang, Mas gak akan maksa, tapi yang perlu kamu tau Mas benar-benar cinta sama kamu, kamu adalah jawaban doa yang mas minta,," pengakuan jujur pria yang terlihat tulus dimana Saskia.
Hati Saskia tersentuh, " pria ini suami yang mencintainya, apa lagi yang aku tuntut??," gumam Saskia bergulat dengan dirinya sendiri.
Pelan tangan Saskia pun menyentuh wajah mas irwan dan terlihat senyum tulus pada suaminya.
" Maaf mas, Kia salah, Kia akan belajar untuk jatuh cinta sama mas.., walau sedikti terlambat," ucap Saskia pelan.
" Dan soal "itu" Kia gak akan menunda, tapi kalo mas sakit begini, pasti ketunda juga ya??" celetuk Saskia jahil.
Wajah mas Irwan terpanah
" Maksud kamu??," tanya mas Irwan bingung.
Saskia mencoba bangun dari pangkuan mas Irwan yang terlihat berpikir dengan pernyataan ambigu Saskia.
" Yaa kan mas lagi sakit, jadi gak bisa malam pertama juga kan??, " ucap Saskia sambari berlari kecil meninggalkan Mas Irwan lalu masuk kekamar.
Mas Irwan tercenggan dengan pernyataan Saskia yang bersedia untuk malam pertama.
" Hey kamu pikir stamina mas seburuk itu??," sahut mas Irwan yang terlihar senang lalu mencoba mengejar Saskia kedalam kamar.
__ADS_1