
Jarum jam dikantor menunjukkan 11 siang. Saskia yang sedang membereskan berkas-berkas teringat akan janji dengan mas Irwan. Ia meraih handphone dan mulai mengirim pesan.
" Assalamualaikum Mas.., maaf menggangu waktunya, siang ini bisa ketemu??" tulisan pesan Saskia untuk Mas Irwan.
Dan pesan itu pun terkirim pada Mas ilIrwan, sembari menunggu Saskia menyambung beres-beres berkas dimejanya. Sesaat terdengar notif dari handphone miliknya. Dengan segera membaca pesan Mas Irwan.
" Wa'alailkumsalam.., oke, sejam lagi mas jemput," balasan pesan dari Mas Irwan.
Saskia pun teringat untuk mengunjungi departemen Akuting untuk memberi undangan.
Dengan buru-buru ia mengambil undangan lalu melangkah menuju lift.
Namun tanpa disangka ia berpas-pasan dengan Putra dan Jalul.
" Mbak Saskia,, apa kabar? mau kemana Mbak??" Jalul bertanya sembari bersiap-siap hendak menekan tombol lift untuk tujuan Saskia.
" Eh, kalian,, kebetulan banget, sama tujuan kita," sahut Saskia sembari tersenyum pada Jalul.
" Waah udah balik ke devisi kita ya mbak??," sambut Jalul senang
" Belum.., hehe,, doain yaa biar cepat balik ke geng Akuting lagi,," pinta Saskia memelas.
Ting.., bunyi pintu lift menunjukkan lantai tujuan sudah sampai, dengan langkah seirama mereka keluar dari lift bersamaan.
Saskia dengan mantap melangkah pada meja sahabatnya Mila.
Tok..., tok.., ketuk jemari Saskia pada meja kerja Mila. Mila terkaget ketika melihat sosok Saskia berada dihadapannya.
" Kyaaaaak..., kiaaa" jerit Mila kegirangan
" Ya ampun, lo udah balik kedevisi kita lagi yaa?" tanya mila senang.
" Gak mbak Mila," sahut Jalul menyahut pertanyaan Mila.
Saskia hanya tertawa kecil melihat tingkah keduanya.
" Yaaaah.., gue kirain lo udah balik kesini..,tapi gue seneng lo bisa kesini, gimana aman disana??," tanya Mila yang kembali stabil setelah kegirangan.
" Aman..," sahut Saskia sambil mengancungkan jempol.
" Sebenarnya aku kesini mau kasih ini.., " ucap Saskia sambari memberikan undangan pada masing-masing sahabatnya.
" Undangan??, ya ampun lo nikah???" tanya Mila bengong
"Serius ni kia??" seru Mila lagi sembari membuka undanga dengan berbinar-binar
Dan Saskia hanya mengangguk saja seraya
memperhatikan reaksi teman-temannya.
Namun tanpa disadari tiba-tiba pelukan hangat dari Mila yang seperti hendak menangis mengejutkan Saskia.
" Akhirnya hati mu berlabuh juga.., gue turut senang mendengarnya," ujar Mila terharu seraya menyeka air mata.
" Hey.., ini bukan kabar sedih kan, kenapa nangis siih??, " ucap Saskia yang juga ikut terharu melihat temannya begitu tulus.
" Jadi kalian wajib datang semua yaa, Put, Joya, Jalul," sembari melihat bergantian pada sahabat-sahabtnya
__ADS_1
" Selamat yaa mbak,," seru Jalul memberi selamat.
" Selamat Kia," sambung Joya ikut senang.
" Selamat," ucap Putra singkat dengan khasnya yang ketus.
" Kalau begitu, tolong titip ini untuk Pak Nurdin yaa,," sembari memberi 1 undangan pada Joya.
" Gue balik dulu, hari nie aku cuma mau bagi undangan aja.., balik yaa semua, "
ucap Saskia sembari berjalan meninggalkan sahabatnya dan menuju lift.
Didalam lift Saskia melihat notif dari Wa masuk.
" Dua puluh menit lagi Mas sampai,," isi pesan dari mas Irwan.
Saskia hanya melihat saja, tapi enggan untuk membalas, Saskia hanya berpikir untuk segera bersiap-siap turun ke bawah.
Tak lama setelah siap Saskia menyapa teman-teman timnya untuk berpamita.
Dan tanpa sengaja ia berpas-pasan dengan Yovan.
Saskia hanya melihat sekilas dan berlalu pergi begitu saja menuju lift, namun Yovan terus menatap Saskia hingga bayangannya gadis itu hilang dari matanya.
🍃🍃🍃
Mas Irwan sudah sampai di lobby kantor Saskia dan menunggu gadis itu muncul. Ia menyandarkan lengannya di pagar kaca sembari melihat sekeliling lobby tersebut.
Dan terdengar langkah suara sepatu yang mendekat pada Irwan.
" Mas!!, " seru Saskia memanggil pelan.
" Maaf lama ya,," ujar Saskia tak enak.
Mas Irwan hanya menatap Saskia saja, sehingga membuat gadis itu terlihat canggung
" Ayo mas,," ajak Saskia
🍃🍃🍃
Mobil sedan sport Civic itu melaju sedang mengitari jalan kota. Suasana hening didalam mobil, hanya terdengar sayup-sayup kecil suara musik.
" Mas kita ke daerah A yaa, di dekat rumah Kia,," ucap Saskia memberi arahan dan mencoba melirik mas Irwan.
" Kok nie cowok diem aja yaa?? "gerutunya melirik mas Irwan.
" Bikin hati gak tenang, " gumam batinnya lagi sembari sedikit memperbaiki posisi duduk.
Dan mobil itu pun melajut cepat sehingga selang 30 menit tempat yang di tuju sampai, ada sedikit rawut aneh dari mas Irwan.
Saskia menyadarinya itu. Namun ia tak menjelaskan, biar nanti Mas Irwan melihat sendiri. Setelah mobil terparkir rapi, mereka pun turun.
" Ayo Mas," ajak Saskia seraya menuntun arah langkah menuju sebuah makam. Dan langkahnya pun terhenti di batu nisan " Zulfan Rasya".
Pelan Saskia turun untuk duduk di sisi pusara itu. Tatapannya berubah sedih.
" Ini ayah," ucap Saskia yang mulai menyabut-nyabut ilalang yang memenuhi makam ayahnya.
__ADS_1
Mas Irwan tak berkata, ia hanya mengikuti apa yang Saskia lakukan.
" Ayah.., maaf kan Kia yang jarang membersihkam makam Ayah, tapi doa Kia selalu terpanjat untuk Ayah,," ucap Saskia dengan suara parau, tanpa ia sadari jatuh air matanya.
" Ayah, ini mas irwan,," sembari mengusap air matanya.
" Semoga Ayah disana mendoakan Kia dan Mas Irwan dalam berumah tangga nanti,," dan tangis terisak Saskia disamping makam ayahnya, tak bisa lagi ia mengeluarkan kata-kata
Dan tiba-tiba rangkulan lembut Mas Irwan membelai punggung Saskia.
Ketika tangis Saskia berhenti, ia bangun dan membersihkan sedikit ilang-ilang dipinggir makam ayahnya.
Setelah semua dirasa cukup Saskia dan Mas Irwan pun kembali.
Disepanjang jalan kembali, Saskia sedikit gelisah melihat mas Irwan yang sedari tadi tak memberi komentar.
" Maaf ya mas Iwan," ucap Saskia ragu.
" Untuk apa?" jawab mas Iwan singkat
" Karena ngajak ke makam Ayah,,"
" Hmm,,"
" Iikh...,ini cowok pelit banget buat ngomong,," gerutu batin Saskia.
" Tar gimana waktu berumah tangga yaa?? jangan bilang bakal sepi kayak kuburan??,," pikir batinya membayangkan dengan seram.
" Mas gak pernah merasakan punya orang tua,," ucap mas Irwan mengagetkan Saskia yang termenung.
" Mas iri liat anak yang mempunyai keluarga,, hmm, dulu Mas pernah pergi kemakam orang tua dari teman Mas, tapi dia gak nangis kayak kamu,," ucap Mas Irwan seperti menelangsa jauh.
" Setelah melihat kamu, mas jadi berpikir ulang ternyata kehilangan orang tua itu benar-benar menyedihkan, mungkin teman mas tipe yang tegar jadi tak merasa kehilangan," ucapnya datar.
Ucapan Mas Irwan membuat Saskia terteguh.
" Maaf yaa Mas,," ucap Saskia tak enak.
" Maaf kalau menyinggung perasaan Mas,,"
" Gak kok, Mas malah berterima kasih karena kamu udah bawa mas ke makam ayah, jadi ini benar-benar keluarga seperti yang Mas bayang-bayangkan,," ucapnya dengan senyum manisnya yang membuat Saskia terpukau.
" Jadi kamu sudah cuti?," tanya Mas Irwan mengalihkan topik pembicaraan
" Iyya tadi juga udah kasih undangan ke teman-teman tim dan devisi Akunting juga,," sahut Saskia santai.
" Hmm,,begitu ya," gumam Mas Irwan sembari berpikir, hingga beberapa saat mas Irwan larut dalam pikirannya sendiri.
Sehingga suasana tenang didalam mobil itu begitu kentara.
" Mas mau tanya, kamu mau hadiah apa??," tanya mas Irwan dengan melihat pada Saskia.
Namun diluar dugaan ia melihat gadis itu telah tertidur dengan lelapnya, dan dia hanya tersenyum sembari mengeleng-gelengkan kepala.
Tanpa pikir panjang Mas Irwan tiba-tiba menepikan mobil pada pohon rindang, dan membetulkan arah kepala Saskia yang tertidur, lalu ia meyelimuti tubuh Saskia dengan jas miliknya.
" Semoga setelah bersama ku, kamu tak akan menangis lagi,," doa mas Irwan dalam hati.
__ADS_1
Tak lama mas Irwan kembali melanjutkan laju mobilnya namun dengan kecepatan lambat, iya ingin Saskia tidur lebih lama.