
Sore itu cuaca yang sendu, irwan untuk pertama kalinya kembali ke cafe setelah hampir 1 bulan lebih ia bergelut dengan kasusnya.
Dengan berat irwan melangkah masuk ke dalam cafe, terlihat sedikit lenggang dengan beberapa pengunjung.
Seorang pelayan cafe menghampiri irwan dengan terkejut.
Pelayan cafe/"pak irwan?? apa kabar??ujarnya terlihat senang bossnya telah kembali
Irwan/"ah, aku baik, bagaimana selama ini??
Pelayan cafe/"hmm kurang lebih seperti yang bapak liat" ucapnya ragu
Irwan segera paham, bahwa pengunjung menurun, dan sudah pasti berimbas dengan omset.
Irwan/"oke, saya kekantor dulu"
Pelayan cafe/"baik pak"
Irwan melangkah ke arah samping lorong samping dapur dan segera meraih pedal pintu kantornya, namun ia bertemu dengan pak agus yang menyapa.
Pak Agus/"pak irwan?? gimana kabarnya??"menyapa dengan senang
Irwan/"eh, pak agus, saya baik,,"
Pak Agus/"bapak panjang umur, tadi baru juga mbak ines dari sini menanyai bapak"
Irwan/"ines??"ucap irwan terkejut
Pak Agus/"iya pak, beberapa waktu yang lalu sebelum bapak datang, mbak ines cuma masuk kantor sebentar dan terus balik"
Irwan/"ah, begitu yaa" ucapnya merasa tak tertarik lagi dengan urusan ines.
Namun tiba-tiba dering handphone irwan berdering, dan segera irwan meraihnya dari balik saku celanannya, dan terlihat nama Stella disana. Dan dengan memberi isyarat ke pada pak agus bahwa ia akan menjawab telfon sembari masuk kedalam kantor.
Irwan/"hallo,,".
Stella/"kau dimana?"
Irwan/"aku?? aku di cafe,, ada apa??"
Stella/"Ines, Ines akan pergi keluar negri sore ini"ucapnya suara agak tegang.
Irwan hanya terdiam, seraya melangkah masuk kedalam kantornya yang sedikit terlihat rapi, dari terakhir yang ia lihat setelah di obrak abrik oleh pihak kepolisian saat mengeledah.
Irwan/"hmm,," gumamnya seolah tak peduli
Stella/"kau,,tak peduli??"ucapnya sedikit kaget
Irwan/"hmm, aku harus membereskan cafe ku, kalo tidak ada hal lain, aku akhiri"
Stella/"baiklah"
Dan komunikasi itu pun terputus. Irwan menjatuhkan diri dikursi putarnya, seraya berpikir tentang ines. Nyaris dua bulan ia tak menjumpainya, dan sekarang ia ingin pergi??gumam irwan dalam hati, tapi seketika mata irwan teralihkan dengan sebuah foto yang tak pernah iya lihat sebelumnya menempel disana. Irwan bangun dan meraihnya.
__ADS_1
Seketika Irwan terdiam melihat foto yang merekam moment saat iya melamar ines di Prancis. Dan ia membalikkan foto itu dan terlihat tulisan tangan ines disana dengan tinta kesukaan gadis itu.
It’s only you
The person to fill my cold heart with warmth
My one and only love
It was you
Even after time passes
My feelings won’t go away
I love I
Dan Irwan terpaku dengan tulisan ines, tampa pikir panjang ia berlari keluar kantor menuju parkiran dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju bandara.
Ia yakin pasti ines masih dibandara, apa pun itu iya ingin mendengarkan penjelasan dari ines, sesakit apa pun ia percaya ines.
Irwan berkonsentrasi penuh dengan kecepatan yang tajam menuju tol bandara.
--------------------------------------------------------------------------
Ines memeluk mamanya yang menangis mengantarnya dibandara.
Mama Ines/"kau harus jaga diri, lupakan semua" ucap mama dengan sedih melepas anak semata wayangnya
Ines/"iyya, mama juga jaga kesehatan, salam sama papa" ucapnya seraya memeluk mamanya dengan suara parau
Juan/" iyya tante" seraya meraih lengan ines untuk masuk kedalam Bandara.
Dengan berat Ines melangkah masuk mengikuti Juan, namun sesekali Ines menoleh ke belakang seraya melambaikan tangan ke arah mamanya yang menangis. Hatinya berat untuk pergi. Dan ia masih berharap melihat Irwan untuk terakhir kalinya.
Ines terus melangkah masuk, didalam Bandara ines seperti gelisah. Ia menatap paspor ditangannya dengan nanar. Juan menghampiri seraya menarik ines untuk berjalan mengikuti irama langkah kakinya.
Ines/"Juan, sebentar aku ingin membeli buku"
Juan/"baiklah, kita masih ada waktu beberapa menit lagi"
Ines melangkah memasuki toko buku bandara, ia mencoba melihat-lihat dengan berlahan beberapa novel yang belum ia baca.
Namun pandangannya jatuh pada sebuah novel berjudul "All About You" by Lee Rim.
seketika ia menghela nafas panjang, novel ini mencerminkan cintanya kepada irwan.
Dan ketika akan menoleh kearah lain, Ines terpaku melihat sosok irwan berada disebrang kaca jendela bandara luar. Ia melihat irwan tengah berusaha menelfon dan terlihat dari raut wajahnya cemas. Dan reflek menjatuhkan novel, ia spontan berlari mencoba meraih irwan dengan mendekat kaca jendela bandara namun langkahnya terhenti ketika juan meraih lengannya secara kasar.
Ines/"irwan,," ucapnya terbatah melihat ke arah juan
Juan memberi isyarat dengan mengelengkan kepalanya.
Ines/"kumohon juan, sekali saja ijin kan aku untuk menemuinya,," dengan suara parau
"ku mohon" seraya melihat kearah irwan yang sedang melihat sekeliling bandara, seolah mencari sesuatu dengan gelisah
__ADS_1
Juan/"kau sudah berjanji pada papamu"ucapnya tegas
Ines/"ku mohon" ucapnya memelas
Juan/"kau ingin irwan terseret kedalam penjara lagi?? ia masih tahanan kota,, sewaktu-waktu ia bisa mendekam lagi didalam penjara"
Ucapan juan membuat ines lemas, tampa ia sadari airmatanya jatuh sembari melihat irwan didalam bandara dengan hati pilu.
Ines/"ijin kan aku untuk memberikan sesuatu padanya" ucap ines sedih
Juan/"kau??"
Ines/"aku berjanji tak akan bertemu dengannya, percaya kata-kataku" ucapnya seraya masuk kedalam toko buku dan meraih novel yang tadi ia jatuh kan, dan bersegera menuju casir dan ia menulis sesuatu didalam novel itu dan berlari menuju ruang pusat informasi bandara.
Ines menyerahkan novel dengan catatan yang ia tinggalkan kepada pegawai informasi.
Dan ia melangkah menuju juan yang melihatnya tak berkedip.
Dengan berat iya menoleh kesekitaran berharap sosok irwan datang dan ia dapat melihat untuk terakhir kalinya.
Ting,,
"diberi tahukan kepada pengunjung Pak Irwansya untuk dapat datang ke ruang informasi,, dari Nona Inessa Owen" suara penyiar informasi dengan dua kali panggilan yang sama.
Seketika irwan yang mendengarkan nama inessa owen, ia bersegera menuju pusat ruang informasi.
Dan ia menemui seorang petugas informasi, dan wajah irwan seketika kecewa ketika hanya menerima sebuah novel pemberian ines.
Dari sisi lain, ines menatap irwan dengan air mata, ia menutup mulutnya dengan tangan menahan suara tangisannya. Juan melihat itu dengan pedih.
Juan/"jadwal kita telah tiba" ujar juan menyadarkan ines
Ines/"aku tau" dengan suara parau, dan dengan pelan tangan juan mengapai lengan ines menuntunnya meninggalkan irwan yang masih berdiri terpaku menatap novel pemberian ines.
"aku mencintaimu" ucapnya berbisik dan ines berlalu menuju gate penerbangannya.
---------------------------------------------------------------------------
Irwan memarkirkan mobilnya di area parkir apartemen, ia turun dengan lesu. Dan berjalan menuju lift.
Masih terlintas jelas kenangan ines ketika ia membawa gadis itu pertama kali ke apartemen.
Langkah kaki irwan mengema didalam lorong apartemen, dan ketika akan menekan tombol password irwan terhenti, dan seketika melanjutkannya lagi.
Dan pintu apartemen itu terbuka, irwan masuk berlahan. Ia melangkah sembari membayangkan ilusi ines berdiri seraya tersenyum menyambutnya.
Ines/"kau pulang" ujarnya dengan senyum membingkai wajah cantik ines, melihat kearah irwan. Namun berlahan bayangan ines hilang dari hadapannya.
Hening, dan terlihat kini view malam jakarta dengan pancaran lampu berwarna warni. Seketika airmata irwan jatuh tampa ia sadar, dan ia tersadar berada diruangan kosong itu sendiri.
Irwan menangis dalam diam, hatinya sakit teramat dalam. Ia berusaha menyembunyikan tangisnya dengan menutup wajahnya dengan tangan yang bergetar dan tubunya roboh berlutut.
**Part Irwan dan Ines Selesai
Flash back Off**
__ADS_1