
Pagi ini seperti biasa, Bunda menyediakan sarapan pagi dan Saskia hanya tinggal makan saja, ia melihat kak Raniya seperti kurang fit.
" Kak kenapa??, " tanya Saskia yang khawatir melibatnya sedikit pucat.
" Ini pusing, pagi-pagi tadi muntah trus, " ucap kak Raniya lemah sembari meraih teh hangat di atas meja.
" Udah gak papa, itu hal biasa diawal-awal kehamilan, nanti kamu juga gitu,," celetuk Bunda yang menaruh undangan di depan Saskia.
Saskia meraih satu lembar undangan dan ia membaca ternyata ini undangannya sendiri, tertulis tinta emas nama mas Irwan dan nama Saskia disana, berikut tanggal nikah dan tempat resepsi.
Saskia hanya bisa mengusap undangan dengan sedikit hampa.
" Jadi empat hari lagi yaa aku menikah??".
" Besok siang kak Riyadh dan kak Aya datang, kamu tolong jemput yaa, besok Kia sudah cuti kan??" tanya Bunda pada Saskia.
" Ya Bunda, biar Kia aja yang jemput, kasian kak Raniya lagi sakit gitu," jawab ku yang terkaget dari lamunan memandang undangannya sendiri.
" Bun, Kia jalan yaa, kak semoga cepat sehat, dah, " ucap Saskia sembari berlari kecil mengambil sepatu di raknya.
🍃🍃🍃
Pagi ini rapat membahas langkah-langkah selajutnya untuk proyek yang sudah launcing.
Dan karena prospek dari launcing kemarin Direktur memberi hadiah pada tim gabungan ini untuk liburan 3 hari ke Puncak.
" Waaah syukur banget yaa dapat hadiah liburan, jadi balik-balik kerja udah ada ide baru," celetuk salah seorang rekan kerja dengan senang.
" Ia dua minggu kemarin terperas otak sampai tumpul mikir ya, kerja bagai kuda,," oceh yang lain menyambut sembari tertawa bersama rekan-rekan yang lain.
" Saskia, kamu kok diem aja,, gak seneng ke puncak??," tanya rekan yang lain.
" Senang kok, tapi aku gak bisa ikut kalian," jawab Saskia santai dan merasa Yovan melihat kearah dirinya dan menunggu penjelasan Saskia mengapa tak bisa ikut.
" Loh kenapa mbak Kia gak bisa ikut, gak seru donk,," jawab salah seorang rekan kerja penasaran.
" Karena di tanggal 3 November itu saya menikah,," jawab Saskia malu-malu dan disambut sorak tawa yang lain memberi kan selamat secara bergantian.
Tapi tidak dengan Yovan, raut wajahnya seperti marah dan kecewa ia pun keluar dari ruang rapat itu.
🍃🍃🍃
Part Yovan on
" Saskia menikah?? 3 November" gumam Yovan tak percaya seraya melongarkan dasinya dengan duduk di kursi sofa ruangannya.
Terlintas kenangan lama akan dirinya dan Saskia.
Flash Back On
Terlihat Saskia tengah asyik melihat-lihat majalah di sofa cafe dengan membolak balik lembaran itu dengan penuh kagum.
Yovan datang dan menghampirinya dengan dua mug es crem.
" Hey, apa yang kamu lihat sampai berbinar-binar begitu??, " tanya Yovan sembari memberi es crem Vanila untuk Saskia.
Dengan senyum hangat Saskia menyambut dan tertawa ringat dengan pertanyaan Yovan.
" Sini deh yang," Saskia menarik tangan Yovan untuk duduk disebelah ya dengan semangat.
"Liat deh ini, bagus yaa suasana pestanya, tema kebun jadi lebih dekat dengan keluarga gak kaku, aku suka begini, " ucap Saskia sembari menujukkan foto-foto konsep wedding di majalah tersebut.
" Gimana kamu suka??, " tanya Saskia lagi pada Yovan.
Yovan hanya menarik nafas saja dan memperhatikan isi majalah itu dengan raut wajah sedih.
" Itu bisa diomongin kalo udah keluar restu dari Bunda Kamu," ucap Yovan berat.
Seketika wajah riang Saskia tadi hilang ketika mendengar ucapan Yovan.
__ADS_1
" Benar, sampai sekarang Bunda belum setuju kalo Saskia menikah dengan Yovan."
Saskia pun hanya bernafas panjang, dan tak bernafsu lagi untuk memakan es crim yang tadi ia inginkan.
" Aku heran sama Bunda kamu, kenapa dia gak suka sama aku?? ketemu juga gak pernah atau jangan-jangan kamu udah di jodohin makanya Bunda gak setuju dengan hubungan kita," ujar Yovan sedikit frustasi.
" Maaf yaa sayang, kia bakal terus usaha bujuk Bunda," jawab Saskia lemah.
Tapi didalam hatinya ia tak bisa bercerita terus terang bagaimana Bunda begitu sangat menentang hubungannya dengan Yovan.
Bunda gak bilang soal harga karena bunda bilang ia menolak hubungannya dengan Yovan bukan soal harta dan uang, tapi memang Bunda gak mau, dan tidak suka. Padahal ketemu juga gak pernah, cuma mendengar nama Yovan, Bunda langsung berubah jadi keras, nyaris hampir setiap hari Saskia bertengkar dengan Bunda.
" Atau kita kawin lari saja," ujar Yovan seraya melihat pada Saskia.
" Kawin lari??,," ucap Saskia ragu mendengar ide Yovan.
" Iya kawin lari, nanti setelah kita udah nikah dan kamu hamil baru kita pulang," ucap Yovan serius
" lagian mana mungkin blBunda sekeras itu hatinya, apa lagi kalo liat kamu sudah hamil, pasti restu itu datang sendiri," timpal yovan yakin
saskia hanya terdiam membisu mendengar ucapan yovan
" Kawin lari?? benar-benar tak telintas dibenaknya,, bagaimana ini??"" batin kia bingung dengan ide yovan
" Gimana??," tanya Yovan menunggu jawaban Saskia
" Tapi," ucap Kia tergantung ragu.
" Kamu gak cinta sama aku?? kamu gak percaya sama aku?? liat aku Kia, aku sungguh mencintai kamu," Yovan meyakinkan kekasihnya itu.
" Bukan soal gak cinta sama kamu tapi..,aku," Kia tak bisa melanjutkan kata hanya bisa membatin.
" Bagaimana mungkin aku menjadi anak durhaka untuk bunda?? sedangkan Bunda bertaruh segalanya selama ini setelah ayah meninggal.."
Yovan mengapai jemari Saskia.
" Aku tau kamu masih bimbang, gak perlu buru-buru kita pikirkan matang-matang kalo kamu udah setuju dengan ide kawin lari ku ini, nanti kita ketempat bukde aku di cirebon," jelas Yovan sembari menarik saskia kedalam pelukannya dan mengusap lembut rambut kekasihnya itu.
Seketika handphone Yovan berdering dan buru-buru iya merogoh handphone itu dari saku celananya, dan raut wajahnya sedikit kaget lalu bangun untuk menerima telfon seraya menjauh dari Saskia yang ditinggal begitu saja.
Namun tak lama Yovan kembali dan mengajak Saskia untuk balik ke kantor mereka.
Saskia hanya mengikuti saja.
🍃🍃🍃
Sesampai di kantor, Yovan dan Saskia berpisah di lift karena mereka beda Devisi. Saskia berjalan dengan gontai, ia masih tidak percaya dengan ide kekasih ya itu " kawin lari??".
Tiba-tiba sebuah tepukan hangat menyadarkan dirinya , dan menoleh ke samping, Mira.
" Hay.., lemes banget, kenapa??"
" Iya gue tau tanggal gajian masih lama, tapi gak gitu-gitu juga kali horor muka lo," celetuk Mira pada Saskia
" Ikh.., gak ada hubungannya kali dengan gaji..,eh tapi bener juga dengar-dengar mau dapat bonus triwulan yaa Mir??," tanya Saskia penasaran.
" Yoi..,kata papa ku itu bonus," sahut Mira yakin.
" Waaah ,asik banget gue mau mulai cicil mobil," tukas Saskia semangat.
" Masa lo mau beli mobil lagi.., yang udah ada mau dikemanain??"
" Lo mah enak anak orang kaya, kapan aja bisa ganti mobil baru, nah gue mobil udah old model udah layak ganti beb 12 tahun sudah menemani itu Avanza," jelas Saskia pada sahabatnya yang akrab sedari awal masuk kedalam perusahaan ini.
Mirayuna adalah anak dari direktur pemilik perusahaan, tapi karena didikan yang keras Mira harus berjuang dengan karirnya sendiri dari bawah untuk dapat diakui oleh ayah dan kakak-kakaknya.
Saskia dan Mira pun bersenda gurau sambil menuju meja kerja masing-masing.
Saat jam menunjukkan jadwal pulang kantor Saskia turun dengan buru-buru dan berpas-pasan dengan satpam pak Yono.
__ADS_1
" Sore neng Kia,"
" Eh pak Yono, sore juga pak.., sehat pak??" Saskia bertanya sembari menunggu kendaran lewat dan akan menyebrang ke parkiran kantor.
" Sehat neng, oia neng pak Yovan mana?"
" Biasa pak masih lembur kayaknya,, yuk duluan pak,"
" Eh neng Kia, sebentar..,maaf ini masih pacaran dengan pak Yovan kan ya??
pertanyaan pak yono menghentikan langkah Saskia.
" Masih donk pak, Alhamdulillah masih,, kenapa Pak??," sahut Saskia kaget.
" Oh gak neng tanya aja, mungkin tempo hari saya salah lihat," seru pak Yono tersenyum.
Ucapan pak Yono aneh, tapi Saskia tak ambil fikir, yaa namanya orang udah tua kali aja agak-agak pikun, pikir Saskia yang hendak berlalu.
" Yuk Pak," dan Saskia pun berlari kecil menuju si hitam manis Avanza.
🍃🍃🍃
Sesampai dirumah Saskia terheran, kok ada mobil Kak Riyadh dirumah.
" Assalamualaikum, " seru Saskia pelan
lalu masuk dengan suasana rumah yang sepi.
" Kamu pulang juga, kenapa kamu gak angkat telfon?? Bunda sakit tuh,," ucap kak Raniya dengan raut muka cemas.
Dan tiba-tiba Kak Riyadh keluar dari kamar Bunda dengan wajah masam.
" Kamu ikut kakak ke atas," perintah tegas yang membuat Saskia mengidik takut, seumur-umur Kak Riyadh paling gak pernah marah.
Kak Aya dan Kak Raniya melihat Saskia cemas.
Saskia mengikuti Kak Riyadh kekamar atas dengan hati gelisah.
" Kamu tega yaa sakitin bunda, udah berani kamu yaa Kia?," ucap Kak Riyadh mengitimidasi.
" Maksud Kak Riyadh apa??" jawab Saskia bingung.
" Kamu masih sama si Yovan itu??"
Saskia terdiam.
"JAWAB JUJUR KIA," bentak Kak Riyadh pada Saskia yang menegang.
" Ya Tuhan..,Kak Riyadh," Saskia membatin.
Air mata Saskia jatuh dengan suara bergetar.
" Kakak tanya untuk terakhir kalinya, apa gak bisa kamu tinggalin dia.., Bunda gak suka, Kamu tau tadi Bunda pingsan, untung Raniya cepat pulang, " ucap Kak Riyadh.
Ucapan Kak Riyadh mengagetkan Saskia, bunda jatuh sakit karena dirinya, memang sudah 2 bulan terakhir ia terus perang dingin dengan Bunda bahkan pulang hanya untuk tidur saja, tak berbicara lagi satu sama lain.
" Kak!!, Kia gak ngerti kenapa Bunda jadi berubah begitu, Kia cuma ingin restu dari Bunda.., Yovan itu baik banget kak,, dia cowok yang serius," jelas Saskia sesugukan menangis karena kata-kata ini ingin ia tumpahkan
Dengan keras Kak Riyadh menampar pipi Saskia.
PLAK..
Saskia pun terjatuh dengan luka di ujung bibir.
" Ini kali terakhir kakak dengar bunda sakit.., kalau terjadi lagi, kakak gak akan segan-segan menghajar si brengsek itu, "
ancam Kak Riyadh meninggalkan Saskia di kamar.
Entah apa yang ada dipikiran Saskia. Ia membuka tas dan mengambil handphone lalu mengetik sebuah pesan untuk Yovan.
__ADS_1
" Yovan kapan kamu bawa Kia dari sini??, gak ada yang mau dengar Kia lagi,"
Pesan itu terkirim dan Saskia menangis sejadi-jadinya.