Meet You Now

Meet You Now
part 17 tersentuh


__ADS_3

Hampir 30 menit berlalu dan Saskia masih berada didalam mobil tertahan diderasnya hujan.


" Gak papa, gak papa Saskia" gumam Saskia seolah menguatkan dirinya.


" Jangan menangis untuk penghianat itu, " ucap Saskia lagi sembari menahan air mata yang seolah-olah ingin tumpah.


Ia mencoba untuk mengontrol amarahnya karena bertemu dengan Mira. Yaa, Mira sahabat Saskia yang tega menikam dirinya dari belakang yang tega memutar balikkan fakta dengan kejam.


Tiba-tiba suara deringan dari handphone saskia pun mengusikanya dan layar itu pum tertera nama Bunda.


" Assalamualikum Bunda".


" Wa'alaikumsalam Kamu dimana??," ucap bunda cemas


" Kia masih diparkiran kantor Bun, ini mau jalan, ada apa??," tanya Saskia mencoba tenang, dan ia melirik jam tangan dan baru tersadar ini nyaris sudah jam sembilan malam.


" Kia, Bunda dapat info banjir sudah di sepanjang arah jalan pulang, Bunda cemas kalo kamu tetap pulang, lebih baik kamu menginap dihotel sekitaran kantor, semoga besok cepat reda hujannya," ucap Bunda yang cemas akan keberadaan Saskia diluar jangkauannya.


" Baik, tapi Bunda gimana dirumah??," tanya Saskia ikut cemas.


" Bunda gak papa, para bapak-bapak warga sudah ada yang berjaga, jika air banjir mulai naik mereka akan menginfokan, Bunda juga udah beres-beres apa yang penting".


" Tapi kamu baik-baik saja kan nak??, " tanya Bunda mungkin curiga dari nada suara Saakia yang berat.


" Ii,,iiya Bun," jawab Saskia terbatah seolah mencoba menahan gemuruh di hatinya yang terluka, memang insting seorang ibu tak kan pernah salah.


" Baiklah, Bunda tunggu kabar kamu lagi yaa, " dan komunikasi itu terputus dengan Saskia mematung.


Seakan kosong pikiran ini didukung oleh cuaca yang benar-benar buruk hujan yang turun seolah tak akan berhenti sampai tengah malam. Saskia pun bergegas melaju dari parkiran untuk mencari hotel, Saskia berpikir memang tak mungkin bisa pulang jika info banjir sudah tersebar tak mungkin ia mengambil resiko seorang diri.


Namun tiba-tiba laju mobil Saskia seakan berat ia rasa dan ia rasa nyaman dalam mengendarainya.


Lalu ia parkirkan mobil di pinggir jalan yang tak jauh dari arah kadanrnya dan ia pun turun di tengah derasnya hujan mencoba mengecek apa yang terjadi.


Dan Saskia benar-benar kaget melihat pada dua ban mobilnya yang kempes.


Terlihat Saskia tak bisa berpikir lagi, ia hanya masuk kedalam mobil dan mencoba meraih handphone untuk mencari info layanan grab.


Tapi tak ia temukan grab yang beredar diseputaran itu.


Tiba-tiba handphone Saskia berdering dan layar itu tertera nama Mas Irwan.


Deg.

__ADS_1


" Assalamualikum, Kia kamu dimana??, " nada cemas tersirat dari mas Irwan.


Seketika lisan Saskia kaku untuk menjawab.


" Iyya Mas,," jawab Saskia berat.


" Kamu dimana??, "nada tegas dan cemas mas Irwan membuat jantung Saskia goyah.


" Kia, kia,,masih diseputaran jalan kantor, ban mobil kempes," jawab Saskia lemah.


" Tunggu Mas disitu".


Dan Saskia hanya membisu, entah apa yang bergejolak di hatinya ini dengan gelisah Saskia menunggu mas Irwan. Hujan pun masih turun walau tak sederas tadi, tubuh Saakia pum kedinginan karena baju yang ia kenakan sudah basah sedari tadi.


Tampa ia sadari waktu berlalu empat puluh menit dan tiba-tiba ada suara ketukan dari jendela mobilnya, Saskia pun menurun kan kaca jendela dan terdengar sayup suara cemas pria itu, mas irwan


" Kia, " panggil mas Irwan.


Dan Saskia pun terteguh, ia mengintruksi Saskia untuk turun dari mobil, Saakia hanya mengikuti saja tak sanggup berpikir lagi dengan keadaan berantakan dan basah Saskia turun dengan hanya membawa tas yang sudah ia masukkan apa saja yang perlu. Saskia berdiri di samping pria itu dibawah payungnya dan berjalan mengikutinya menuju mobil sedan putih yang terparkir tepat dibelakang mobil Saskia.


" Kamu baik-baik saja??, " tanya mas Irwan yang cemas melihat keadaan Saskia.


Saskia hanya sanggup mengangguk, dan tiba-tiba mas Irwan melepaskan coat/mantel woal miliknya lalu dengan sigap ia menyelimuti Saskia yang ke dinginan.


setelah itu mas Irwan melajukan mobilnya yang entah kemana akan dibawa.


" Ini dimana?? ini daerah apa??," gumam batin Saskia seraya melirik mas Irwan dan menunggu penjelasannya yang sedang mengepaskan posisi parkir mobil.


" Ini apartemen Mas," jawabnya sembari melihat mata Saskia.


Saskia diam dan menatapnya lama pada mas Irwan.


" Percaya sama Mas, " ucapnya seolah mengerti isi pikiran Saskia.


Dan ia pun turun dari mobil, seraya berlari kecil ke arah pintu Saskia, lalu membantu membukakan pintu mobil untuk Saskia.


Saskia pun turun dengan berat.


" Ayo," ucap Mas Irwan yang membantu jalan Saskia.


🍃🍃🍃


Sampai di pintu apartemen yang di tuju, mas Irwan membuka kode pintu dan pintu itu pun terbuka, dengan canggung mas Irwab menyuruh Saskia masuk.

__ADS_1


Saskia hanya bisa mengangguk saja, kering sudah tenggorokan ini ditambah tubuh seperti mengigil kedinginan.


"Kamu masuk kekamar Mas aja, dan mandi dulu," ucap mas Irwan yang membuka pintu kamarnya.


Saakia masuk seraya melepaskan high heels dan melihat sekitaran ruang apartemen mas Irwan. Apatement ini terlalu besar dan rapi untuk ukuran lajang. Nuansa maskulin pada penataan yang simpel dan hangat membuat nyaman siapa pun yang melihat.


Tiba-tiba mas Irwan menghampiri Saskia seraya memberikan handuk pada tangan Saskia.


" Ini handuknya," ucap mas Irwan yang tiba-tiba terpaku melihat dan reflek menyentuh pipi bekas tamparan Mira tadi.


" Kamu," ucap mas Irwan yang penasaran.


Saskia menghindar dengan menunduk, dan berlalu masuk kedalam kamar yang tadi ditunjukkan mas Irwan lalu menutup pintu kamar itu lalu berbalik badan seraya meraba jantungnya berdebar tak karuan.


Saskia melirik sekitaran kamar Mas Irwan rapi dan nuansa biru kental terlihat. Ia pun berjalan menuju kamar mandi setelah meletakkan tas ku diatas tempat tidur.


🍃🍃🍃


Selesai mandi air hangat, Saskia merasa tubuhnya lelah sekali, dan dengan hanya di lilit handuk Saskia keluar kamar mandi dan baru menyadari bahwa tidak ada baju ganti, bajunya tadi sudah basah.


Ia mencoba melirik ruang wardrobe/ruang pakaian mas Irwan dan lagi-lagi Saskia dibuat tercengang dengan kerapian pria ini.


Saskia berpikir untuk meminjam baju mas Irwan saja. Setelah memilih-milih akhirnya ia mengambil kemeja putih berlengan panjang dan setelah ia memakainya Saskia baru menyadari betapa longgar dan besar baju kemeja itu ditubuhnya yang kecil.


Namun, tiba-tiba suara deringan telfon membuat Saskia terlonjak lalu berlari kecil ke arah tempat tidur dan merogoh handphone didalam tas.


Tertera nomor asing disana, ia berpikir sudah malam nomor siapa ini.


" Hallo,,??"


"Saskia," jawab suara yang tak asing bagi Saskia.


Deg.


" Yovan," lirih Saskia.


"Cukup, aku katakan cukup Yovan, jangan menelfon lagi," ucap Saskia bergetar menahan amarah yang akan meledak.


" Maafkan aku,, aku masih mencintaimu,," ucap Yovan.


"CUKUP !!," bentak Saskia dengan keras dan handphone itu pun terjatuh seiring dengan robohnya tubuh Saskia yang ikut lemah seolah tak tertahan kan lagi rasa sakit di hatinya hingga ia tak bisa mengontrol tangis yang tumpah.


Tiba-tiba mas Irwan masuk dan terkejut melihat kondisi Saskia yang menangis terduduk di samping ranjangnya, lalu berjalan kearah Saskia dan seketika ia memeluk tubuh wanita yang menangis ini kedalam dekapannya.

__ADS_1


" Maaf,,maaf,,maaf,," ucap Saskia sembari menengelamkan isakan tangis kedalam pelukan mas Irwan tak bisa lagi ia tahan gejolak hati yang sedari tadi pedih.


Mas Irwan hanya memeluk Saskia dan melingarkan tangannya di pingang dan tangannya yang satu membelai lembut kepala Saskia dengan sayang.


__ADS_2