
Episode 10
Rasanya manusiawi jika Chia merasa sedih atas kejadian tak terduga yang menimpanya.
Sambil berjalan perlahan Chia meninggalkan kedai kue nya, dada Chia terasa sesak. Bukan karena ia cemburu pada wanita yang datang melabraknya, tapi ada sesuatu hal yang lain. Chia merasa dibohongi oleh orang yang seharusnya bisa dipercaya.
Waktu menunjukan pukul 19.00. Chia sudah berada di rumah kosnya.
Duduk sambil meneguk secangkir coklat hangat menjadi pilihan Chia untuk sejenak melepas penat.
Sambil duduk meluruskan kakinya di sofa, Chia meregangkan otot-otot yang tegang dan kaku.
"Hemm...Coklat hangat ini lebih baik dari pada janji manis seorang pria." Chia bicara sendiri, perasaannyapun kini sudah lebih baik.
Di waktu yang sama dalam ruangan yang berbeda, Dio terus memikirkan Chia. Ada apa sebenarnya? mengapa gadis pujaannya belum juga menghubungi atau setidaknya mengirimkan pesan singkat padanya?
"Apa mungkin Chiara memang seacuh itu?
Ahh rasanya tidak mungkin."
Dio bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Haruskah aku dikecewakan setelah sekian lama menumpuk rasa rindu?" bimbang Dio.
Pernahkah kalian merasa kecewa?
Tentu saja, aku rasa jawaban nya adalah iya.
Hal itu biasa datang kapan saja dan menimpa siapa saja. Namun yang tidak biasa adalah kekecewaan yang tidak pada tempat semestinya.
Misalnya, kecewa karena seseorang tidak membalas perasaan cinta pada kita, atau kecewa atas perlakuan seseoarang yang tidak sesaui dengan harapan kita.
huh semua itu adalah kelemahan.
Kembali pada suasana di dalam kamar Chiara.
"Coba ada ayah dan ibu disini, gigitan tikus di jempol kakiku pun rasanya tidak akan menyebabkan rasa sakit," Chiara berandai.
Nada dering panggilan masuk terdengar dari ponsel Chiara.
Sebuah nomer yang tidak dikenal!
Chiara mengangkat telepon...
"Halo Assalamu'alaykum, ada yang bisa dibantu?"
"Wa'alaykumsalam (seasing itukah aku baginya)?"
"Halo, iya siapa ya?"
"Chia, kamu belum simpan nomerku?"
"Ya ampun, aku lupa...maaf Dio" (Chiara mengenali suara Dio)
"Ku pikir aku sudah tercoret dari daftar orang yang kamu kenal" (kata Dio menyindir)
"Hey, aku rasa sebentar lagi aku yang aka terbuang dari hidup kamu Dio" (Chiara membalas).
"Kalau itu harus terjadi, kenapa aku harus bersusah payah mengumpulkan rindu ku untuk kamu Chia?"
"Aku bisa saja memberikan perasaanku pada wanita lain dan tidak perlu menunggu selama ini?"(lanjut Dio)
"Ya, dan kamu baru saja melakukannya Dio" (suara Chia samar)
"Maksudmu apa Chia?" (Dio memperjelas)
"Ohh gak apa-apa kok Dio hehehe" (Cengir Chiara)
"Oke, jadi mau cerita ditelepon atau mau bertemu saja?" (Dio menawarkan)
__ADS_1
"Cerita? tentang apa?" (tanya Chia lagi)
"Ya tentang kita lah, tentang aku sampai menemukan kamu disini, kamu beneran gak mau tahu?" (Dio merasa diacuhkan)
"Atau mungkin...." (Dio terhenti)
"Oke oke aku mau denger ceritanya" (potong Chia).
"Jadi, kok bisa kamu nemuin aku disini?" (kata Chia)
"Begini tuan putri, menemukanmu bukan lah sesuatu hal yang mudah ternyata ya. Sebulan yang lalu aku pulang ke Desa, aku datang menemui ayah dan ibu, aku berharap bonusnya adalah bertemu dengan kamu juga, tapi ternyata ibu bilang putri kesayangannya itu sekarang bukan anak remaja yang penuh kekonyolan lagi. Sekarang dia belajar berdikari sendiri dengan mencoba membuka usaha kedai kue. Dan ya, sepertinya dia sukses, setelah itu ibu memberi alamat kedai kue kamu ke aku sekaligus nomer ponselmu...ya begitulah ceritanya" (Dio menjelaskan).
"Waahh cerita yang hebat" (Chia meledek).
"Jadi sebenarnya kamu sudah punya nomer ponselku? tapi tidak menghubungiku untuk bertanya, supaya memudahkan pencarian kamu gitu?" (Ujar Chia)
"Kenapa Diorana?" (desak Chia merasa heran).
"Karena aku lebih suka berjuang sendiri dulu ketimbang memakai bantuan oarang lain hihi" (Dio berbangga).
"Kalau ada yang sulit, kenapa pilih yang mudah" (lawak Dio).
Mendengar cerita Dio, kesedihan Chia pun berkurang.
"Tapi Dio, seseorang datang ke kedai kue ku tadi siang, dia mengaku sebagai kekasihmu, dan.." (suara Chia mulai parau menahan tangis).
"Dan apa Chia?" (tanya Dio).
"dan menyiramku dengan sebotol air" (tangis Chiara pecah).
"Apakah dia seorang wanita berambut panjang dan berpakaian terbuka?" (tanya Dio). Chia merespon dengan isakan.
"Apa menurut kamu mungkin, aku memberikan perasaan yang sudah aku pelihara dengan susah payah ini, pada perempuan yang bahkan dirinya saja tak ia hargai?" (Dio terus menanyai Chia tanpa memberi celah untuk menjawab).
"Tuan putri Chiara, aku kira aku harus memperkenalkan lagi diriku. Kenalkan aku Diorana, aku bukanlah seorang lelaki yang mudah jatuh cinta, kecuali pada satu orang wanita saja. (Gombal Dio).
"Tentu saja dia, yang sedang mendengarkan celotehan ku ini," (Dio merasa puas).
"Jadi aku harus apa?" (kata Chira)
"Dua minggu lagi aku temuin kamu" (Balas Dio).
"Sekarang pasti kamu capek kan? istirahat lah.
biar ku pinjam sebentar sedihmu itu, dan jangan menangis lagi." (Dio menenangkan Chia).
"Assalamu'alaykum..." (tutup Dio).
"Wa'alaykumsalam..." (Chia membalas).
panggilan berakhir!
Chia kembali membaringkan tubuhnya diatas kasur, seperti nya sebak didadanya sudah mulai lega sekarang.
Perasaannya terselamatkan, matanya menyerah dan terpejam.
Satu...
Dua...
Tiga...
Tiga hari berlalu dengan aktifitas yang sama seperti itu lagi dan lagi.
Semuanya aman terkendali, sepulang dari kedai kue, Chia membeli sekitar dua puluh bungkus nasi dan ayam untuk ia bagikan pada yang membutuhkannya.
Hal itu memang biasa ia lakukan sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas rezeki yang ia terima.
"Assalamu'alaykum pak Heru. Ini nanti biasa ya, bapak boleh kasih siapa aja yang mau, kalau bapak mau bawa pulang buat ibu dirumah juga boleh, jangan lupa bapak makan juga ya." Chia menitipkan semua makanan untuk dibagikan oleh pak Heru.
__ADS_1
Seorang juru parkir minimarket yang letaknya bersebelahan dengan kedai kuenya.
"Wa'alaykumsalam neng Chia, aduh Alhamdulillah makasih banyak ya neng." Kata pak Heru berterima kasih.
"Iya pak sama-sama. Oh iya pak, yang ini titip untuk anak-anak di panti dekat rumah bapak ya, dan ini untuk uang bensinnya...hehehe"
Chia menitipkan satu amplop berwarna coklat untuk anak-anak di panti asuhan dan beberapa lembar uang diberikan untuk pak Heru.
"Wah! makasih banyak neng, tambah lancar ya usahanya." Pak Heru bersyukur.
"Aamiin! Iya pak sama-sama, Chia juga makasih ya sudah dibantu." Balas Chia.
"Siap neng Chia." Kata pak Heru antusias.
"Kalau gitu Chia pamit pulang ya pak." Chia bergegas pergi.
"Iya neng hati-hati ya." Pak Heru melambaikan tangan.
"Oke pak, Wassalamu'alaykum" tutup Chia.
"Wa'alaykumsalam." Jawab pak Heru.
Chia dan pak Heru, sudah saling kenal sejak pertama Chia membuka kedai kue nya.
Dalam perjalanan pulang, Chia dihadang dua laki-laki berwajah mutam alias muka tampolan.
"Heh, serahin uang loe," kata mereka menodongkan pisau.
Chia tetap tenang mencoba menguasai situasi.
"Woy denger gak? serahin tas loe atau gue..." Laki-laki itu mengancam.
Namun sebelum selesai laki-laki sialan itu bicara.
Dengan bekal dan kemampuan bela dirinya. Chia melawan para penodong itu.
"Hiaaaaaa dezzz wa deziggggg..." Tendangan, pukulan dan sikutan pun berhasil Chia daratkan pada kedua pipi dan perut para pencemar nama baik laki-laki sejati itu.
Merekapun kabur terbirit-birit kewalahan menerima perlawanan dari Chia.
"Huh dasar lelaki lemah..."Chia meledek.
prok prok prok jadi apa? ehh salah!
Prok prok prok suara tepuk tangan terdengar dari arah belakang Chia, saat Chia menoleh ternyata ada dua pengamen cilik yang menyaksikan adegan seru Chia melawan dua preman liar itu.
"Wah! kakak keren. Terima kasih ya kak" Kata mereka.
"Lho kok makasih dek?" Tanya Chia terheran.
"Iya kak, kakak berhasil ngasih pelajaran sama dua orang tadi kak."Jawab mereka polos.
"Memangnya mereka siapa?" tanya Chia menyelidik.
"Mereka itu tukang malakin orang kak, kasihan kalau yang dipalak ibu-ibu atau wanita lemah. Malahan nih kak, uang yang kita dapet aja kadang diminta sama mereka." Terang kedua bocah itu.
"Wah gak beres tuh dek" Ujar Chia.
"iya kak mangkanya." Kata dua bocah itu lagi.
"Oke, nih buat kalian." Chiamemberi satu lembar uang pada masing-masing anak.
"Terima kasih banyak ya kak..." Kedua bocah itu mengambil uangnya.
"Sama-sama..." Jawab chia sembari tersenyum.
"Kalian hati-hati ya, kakak pulang dulu." Chiapun bertolak menuju rumah kosnya.
Hari yang penuh tantangan.
__ADS_1