Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Cinta dan patah hati


__ADS_3

Episode 20


Seringkali orang beranggapan bahwa menikah adalah garis finish dari sebuah perjalanan asmara, mereka belum tahu justru sebenarnya menikah adalah langkah awal untuk menempuh jalan yang lebih panjang lagi, jarak yang lebih jauh lagi bahkan mungkin lebih rumit dari itu.


Dua minggu pernikahan telah dilalui Chika dan Jamal, banyak hal mereka lakukan bersama seperti rumah tangga pada umumnya, sebagai pengantin baru, sejauh ini masih madu-madu cinta saja yang mereka reguk, setinggi doa pun telah mereka langitkan untuk kelanggengan hidup rumah tangga mereka ke depannya.


Ayah, ibu dan keluarga mereka merasa senang dan turut bahagia melihat kebahagiaan dalam biduk rumah tangga yang Chia dan Jamal jalani.


Segala doa tentang kebaikkan pun tertutur untuk mereka berdua.


"Semoga lekas dapat momongan ya" Ucap bibi sambil tersenyum.


"Dalam rumah tangga itu, kalau yang satu jadi api maka yang satu harus bersedia jadi airnya. biar nggak sama-sama panas." Paman memberi nasehat.


"Semoga Kalian bahagia dan mampu melewati apapun yang akan terjadi dihadapan kalian nanti." Bu RT mendoakan.


"Alhamdulillah Allah sudah menyatukan kalian dalam ikatan suci pernikahan, semoga kalian bisa tetap bersama dan saling menguatkan dalam segala keadaan." kata ayah dan ibu.


Dan masih banyak lagi doa-doa yang lain yang disambut dengan kata aamiin oleh Chia dan Jamal.


Chia dan Jamal berpamitan pada keluarga, untuk tinggal di kota sekaligus meneruskan usaha kue yang sudah Chia rintis.


Meski dengan berat hati keluargapun akhirnya mengizinkan putra dan putri mereka, dengan catatan harus menjaga komunikasi dengan baik.


Chia dan Jamal pun mengiyakan dan mengatakan bahwa siapapun anggota keluarga yang ingin menemui mereka di kota maka pintu akan selalu terbuka.


Semua persiapan telah dilakukan dan sepasang pengantin baru itupun bertolak ke kota.


Untuk sementara waktu ini mereka masih tinggal dan kembali ke kos an Chia yang lama, dan berencana mencari rumah yang lebih nyaman untuk mereka tinggali berdua.


Setibanya di kota, mereka beristirahat beberapa hari sebelum nantinya akan bekerja sebagaimana mestinya.


Chia masih duduk lemas di sofa, sementara Jamal mulai menata barang-barang yang mereka bawa dari desa.


Sesekali Jamal mencuri pandang pada bidadari nya itu, merasa gemas Jamal pun menghampiri dan membelai lembut kepala Chia yang masih tertutup kerudung sambil mencubit manja hidung Chia.


Mereka bercengkrama penuh kehangatan sampai tiba-tiba terdengar bunyi dari perut Chia yang menandakan bahwa ia lapar.


"Hmmm cacingnya mulai konser ya tuan putri," celetuk Jamal menggoda.


"Hehe iya nih kak, laper" Jawab Chia sambil mengelus perutnya.


"Oke kalau gitu kakak masak dulu ya" kata Jamal.


Chia menganggukkan kepala sambil tersenyum.

__ADS_1


Jamal melihat apa yang tersedia di lemari pendingin, akhirnya ia memutuskan membuat telur dadar sederhana yang diberi potongan buncis dan wortel dengan beberapa bumbu alakadarnya.


Setelah matang ia mengambil nasi yang memang sudah Chia masak sejak awal.


"Sementara kita makan ini dulu ya?" kata Jamal dengan piring makanan ditangannya.


Chia hanya menjawab dengan senyuman.


"Kita berdoa dulu ya" Lanjut Jamal lagi, ulahnya itu seperti sedang mengajari anak kecil saja.


Chia hanya menurut saja dalam hatinya ia merasa diperlakukan seperti anak kecil, namun Chia senang karena merasa Jamal sangat memanjakan dirinya.


Suapan demi suapan pun Chia habiskan, sesekali Jamal menyuapkan makanannya ke mulutnya sendiri.


"Emm ternyata suamiku ini pinter masak ya." Chia memuji Jamal.


Jamal merasa senang karena Chia menyukai masakan sederhananya itu.


"Maaf ya kak, kalau Chia belum menjadi istri seperti yang kakak harapkan." Ucap Chia.


"Menyadari kenyataan bahwa kamu sudah menjadi istri kakak dan juga menerima kakak, itu saja sudah cukup membahagiakan buat kakak" jawab Jamal.


Kata-kata Jamal membuat Chia menangis haru, ia tidak tahu lagi bagaimana harus berterimakasih dan bersyukur bahwa lelaki yang menikahinya begitu baik.


Jamal yakin, suatu saat Chia akan menyadari bahwa Jamal adalah yang terbaik untuk Chia.


Jamal menyeka air mata Chia tanpa bertanya mengapa ia menangis, seolah sudah mengerti apa yang Chia rasakan.


Chia memeluk Jamal dan melanjutkan tangisannya dalam dekapan Jamal.


"Makasih ya kak" Ucap Chia lirih.


Jamal mengusap lembut kepala Chia dan mengecup keningnya.


Malam pun tiba, sekitar jam delapan malam setelah Jamal dan Chia menunaikan Sholat isya berjamaah.


Tok tok tok...


Ada yang mengetuk pintu, Jamal bergegas membuka nya, dan terlihat Dio berdiri sambil membawa bucket bunga dan sebuah kado.


Sambil mengucap salam dan melemparkan senyum Dio menyapa Jamal.


"Maaf ganggu." kata Dio merasa tak enak.


"Oh gak ganggu kok, silakan masuk." kata Jamal ramah.

__ADS_1


"Emm nggak perlu bro, saya mau langsung pergi masih ada urusan." kata Dio.


"Oke, sebentar saya panggilkan Chia dulu." Jamal memanggil istrinya.


"Siapa kak?" tanya Chia.


"Emm lihat aja dek" jawab Jamal singkat.


Chia terkejut melihat Dio, ia merasa khawatir Dio akan membuat kekacauan lagi. dengan ekspresi penuh tanya sesekali Chia melemparkan pandangannya pada Jamal.


Jamal memberikan kode dengan menganggukan kepalanya tanda baik-baik saja.


"hey...maaf kalau ganggu waktu kalian, aku kesini bukan buat mengacaukan kok, cuma mau kasih ini dan sekali lagi aku minta maaf karena waktu itu aku gak bisa hadir diacara pernikahan kalian." Dio menyerahkan bucket bunga dan kado yang ia bawa.


Meski awalnya ragu akhirnya Chia menerimanya.


"Makasih ya..." kata Chia terbata.


"Selamat ya, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang utuh." Dio berkaca-kaca menahan patah hati yang ia sembunyikan.


Chia tersenyum dan menundukan pandangannya.


"Oke kalau gitu aku pamit, bro selamat ya" Ucap Dio lagi yang disambut pelukan oleh Jamal.


"Makasih ya bro" Kata Jamal.


Dio pun pergi setelah memberi selamat dan hadiah atas pernikahan Jamal dan Chia.


Sebuh bucket bunga yang indah, dengan rangkaian kata-kata dan doa, dan sebuah kado berisi sepasang jam tangan dan juga satu set seprai.


Meski merasa cemburu Jamal berusaha menyembunyikannya, dan menyuruh Chia menyimpan hadiah dari Dio sebagai bentuk menghargai pemberian orang.


Di jalan, Dio melajukan mobilnya dengan kencang...ia menepikan mobilnya di sebuah tempat yang sepi dan melampiaskan perasaannya yang kacau dengan berteriak dan menangis.


Tak bisa dipungkiri bahwa hatinya kini benar-benar patah, harapan untuk bersama dengan Chia kini telah pupus.


Dio terus menyalahkan dirinya, dan menyesali semuanya. mengapa semua ini harus ia alami, hati Dio terasa lebam membiru.


Andai waktu dapat terulang, pastilah Dio tidak akan melakukan kebodohan yang membuatnya kehilangan cinta nya itu.


Namun setinggi apapun angan, sebanyak apapun ia berandai-andai, semuanya tak akan bisa terulang.


Hanya waktu yang akan merubah semuanya, meski Dio tak yakin apakah perasaan cinta nya pada Chia akan pupus atau justru semakin bertambah.


Malam yang sangat panjang dan menyakitkan bagi Dio...menyaksikan cinta dan harapannya lepas dari genggaman.

__ADS_1


__ADS_2