
Episode 54
Chiara sibuk membaca lembaran buku yang ia baca di atas tempat tidur. Tidak menghiraukan Jamal yang sedang memandanginya sejak tadi. Jamal berdeham mencoba mengalihkan perhatian Chia dari lembaran kertas itu.
"Ehem" deham Jamal lagi setelah berulang kali dan tetap tidak dapat menarik perhatian Chia. "Sayang ... Kamu lagi apa sih asik banget sampe Kakak dicuekin?" tanya Jamal kali ini mendekatkan bibirnya ke telinga Chia hingga suaranya terdengar sangat jelas. "Hem... Apa sih, Kak? Ganggu aja" jawab Chia tanpa menoleh.
"Huh! Malang sekali nasibku ini" gerutu Jamal seraya menarik selimut dan membenamkan tubuhnya. "Chia melirik dengan ekor matanya ke arah Jamal. "Aku lagi cari nama yang bagus buat anak kita nanti," kata Chia mendekatkan wajahnya ke wajah Jamal.
Jamal terkejut mendengar penuturan Chia. "Apa maksudnya, Dek? Kamu hamil?"Jamal langsung bangkit dan melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya. "Ih, Kakak... siapa yang hamil sih, " ketus Chia. "Itu tadi apa? Katanya lagi siapin nama buat anak kita," protes Jamal.
Chia langsung tertunduk lesu. "Aku tahu Kak, kamu hanya pura-pura tenang dengan keadaan ini. Pasti di dalam hati kecil Kakak, Kakak juga ingin seorang anak yang mengisi hari-hari kita dengan penuh celoteh ceria," batin Chia.
"Sayang, kok diem?" tanya Jamal. "Gak apa- apa, Kak ... Chia ngantuk mau tidur dulu" Chia menaruh buku yang di bacanya lalu membaringkan tubuhnya di sisi Jamal. Jamal merasa ada yang aneh dengan istrinya itu.
Ingin rasanya Jamal bertanya lebih jelas lagi namun, Ia khawatir akan membuat Chia lebih murung. Akhirnya Jamal hanya memeluk Chia dari arah belakang. Meski hati Jamal dipenuhi tanda tanya.
"Sabarlah, Sayang. Takdir Allah tidak pernah datang terlalu cepat pun tidak terlambat. Semua akan tiba pada saat yang tepat," batin Jamal seraya membelai lembut rambut Chia.
Chia memejamkan matanya dengan butir-butir air mata yang membasahi pipinya. Getir rasanya mendamba sesuatu yang sama sekali bukan dalam kendalinya. Seandainya keinginannya itu hanya sekantung buah apel niscaya ia akan pergi membelinya walau sudah malam hari tapi, ini tentang seorang buah hati.
Perasaan tak sederhana itu melemahkan kepercayaan diri Chia. Hampir 3 tahun berlalu dirinya tak juga dikaruniai momongan. Padahal ia merasa usahanya dengan Jamal sudah makimal.
__ADS_1
Chia mulai menempatkan dirinya pada titik lemah hidupnya. Perasaan bersalah pun kerap menghampiri dan terlintas dalam pikirannya. Meski sebenarnya itu bukan lah hal yang perlu dirinya rasakan.
Pekatnya malam menutupi seluruh penglihatan. Chia tak dapat tidur dengan perasaan yang tenang. Mungkinkah dirinya terlalu banyak mengukur nikmat orang lain hingga melupakan nikmat yang Tuhan berikan padanya.
"Sayang... tidurlah, jangan memikirkan apa yang tidak mampu kita raih dengan nalar" bisik Jamal. Lalu perlahan mata Chia mulai terpejam. Jamal mengecup mesra pucuk kepala Chia.
Entah mengapa Jamal merasa tak tenang melihat sikap Chia yang belakangan ini sering murung. Dirinya tak ingin istri yang begitu dicintainya itu merasa hampa dalam dekapan yang harusnya memberikan ketenangan. Gundah gulana ternyata tak bisa dihindari jua.
Di atas cahaya lampu yang meremang Jamal memancarkan harapan yang lebih terang dari pada seribu bintang. "Kamu sempurna bagiku, Chia. Tak ada satu hal pun yang membuat mu kurang di mataku termasuk bila Allah tidak menakdirkan mu untuk melahirkan anak sekali pun.
Jamal terus berkecamuk dengan pikirannya. Hingga matanya mulai menyerah pada rasa kantuknya. Kini ia terlelap dengan jemari yang tetap menggenggam tangan Chia.
Keesokan harinya, Jamal terbangun dan tidak mendapati Chia di sisinya. Ia tersentak kaget setengah mati. Sungguh Jamal khawatir dirinya lalai menjaga Chia.
Ia bangun terburu- buru menyapu ruangan dengan terus memanggil nama Chia. "Chiaaa! Kamu di mana sayang? Jangan tinggalin Kakak" ucap Jamal frustasi. Ia bingung kemana lagi harus mencari istrinya, seluruh rumah sudah di geledah namun, wajah Chia tak nampak jua.
Jamal menjambak rambutnya dan menggelepakan tubuhnya pada sebuah sofa. "Chia, pulanglah sayang jangan membuatku khawatir" gumam Jamal sambil terus menjambak-jambak rambutnya sendiri. Kemudian Jamal pergi ke kamar untuk berganti pakaian karena saat itu ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong.
Dengan cekatan ia berganti baju dan berencana mencari Chia keluar. Semua sudah rapi dan siap lalu jamal bergegas keluar. "Mau kemana Kak? Rapi banget" suara itu menghentikan langkah Jamal.
"Nyari kamu Sayang!" jawab Jamal sembari terus berjalan menuju pintu keluar. "Nyari siapa?!" bentak Chia meninggikan nada bicaranya. "Nyari istri Kakak," ucap Jamal saking paniknya ia sampai tak sadar bahwa yang sedang berbicara dengannya adalah Chia.
__ADS_1
Chia mencubit perut Jamal dengan kencang. "Cari siapa?" ucap Chia lagi. "Sayang, kamu dari mana? Kakak panik nyariin kamu sampai ke bawah kolong meja makan tapi, gak ketemu juga" jawab Jamal. "Gak lucu, Kakak!" kata Chia sembari memelintirkan cubitannya membuat Jamal meringis kesakitan.
"Ampun Sayang, sakit" Jamal memohon agar Chia melepaskan cubitannya. "Bilang aja Kakak mau mencari istri baru" ketus Chia curiga. "Astaghfirullah Chia, sumpah Kakak nyariin kamu" kekeh Jamal jujur.
"Lagian kamu beli bubur Ayam di luar gak bilang Kakak, Kakak kira kamu pergi ninggalin Kakak," tandas Jamal. Namun, Chia terlanjur salah paham dan sulit dibujuk. Kecurigaannya pada Jamal semakin menjadi-jadi.
Hai guys... sembari menanti update selanjutnya, mampir juga ya di karya temanku yang pastinya seru dan bikin kalian penasaran. 👇👇👇
Judul : Istri kecil Dosen Muda.
Napen : Susi similikity.
Seoarang mahasiwi polos, cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya yang tak lain dengan dosennya sendiri yang begitu dingin. Tapi siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya.
Bagaimanakah sikap mereka di kampus?
Akankah mereka saling mencintai?
Apakah sang Dosen akan menerima jika dia tau jati diri gadis itu yang sebenarnya?
__ADS_1