Melati Di Ujung Harapan

Melati Di Ujung Harapan
Hari patah hati Chia


__ADS_3

Episode 12


Kring kring kring...


Sebuah panggilan masuk terdengar dari ponsel Chia.


Chia yang masih tidur kemudian terbangun oleh suara dering ponselnya.


Sambil mengantuk tangannya meraih ponsel dan mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Halo Assalamu'alaikum...." Ucap Chia.


"Wa'alaikumsalam nak..." Terdengar suara yang tak asing bagi Chia.


"Ibu, Chia kangen ibu. Ada apa? tumben telpon Chia pagi banget" Tanya Chia.


"Ibu juga kangen sama Chia. Ibu minta maaf ganggu tidur Chia ya?" Jawab ibu.


"Ah nggak kok bu, cuma gak biasanya aja ibu telepon Chia sebelum shubuh gini" Balas Chia.


"Gini nak, Chia kan sudah lama gak pulang ke kampung. Ayah dan ibu jadi rindu sekali sama Chia, boleh gak kalau Minggu depan Chia pulang dulu nak, paling nggak dua atau tiga hari" Ibu Chia memohon.


"Ahh ibu! jangan ngomong gitu dong bu, Chia jadi merasa bersalah, sebenernya Chia juga udah kangen banget sama ayah dan ibu" Jelas Chia.


"Jadi gimana nak? bisa ?" Ibu memastikan.


"Chia usahakan bisa bu, Chia juga kangen masakan ibu, InsyaAllah Minggu depan Chia pulang ya bu." Chia tidak ingin ibunya bersedih.


"Oke sayang, hati-hati ya nak. Samapi ketemu nanti" Kata Ibu.


"Iya bu, Wassalamu'alaikum."Tutup Chia mengakhiri pembicaraan.


"Wa'alaikumsalam" Jawab ibu.


"Hem ada apa ya? ibu gak biasanya?" Gumam Chia.


Sebentar lagi memasuki waktu sholat shubuh, Chia bangun dan bersiap untuk menunaikan ibadahnya.


Sampai pagi harinya ia sarapan dan melakukan segala kesibukan seperti biasanya. Dan akhirnya waktu sore tiba.


Chia menutup kedai kue dan bersiap untuk pulang.


Tiba saat satu hari sebelum pulang ke Desa.


"Assalamu'alaikum Dio, besok aku mau pulang kampung, ibu nyuruh aku pulang" Kata Chia mengabari Dio lewat panggilan di telepon genggamnya.


"Wa'alaikumsalam! Oya kok mendadak, ada acara apa?" Tanya Dio.


"Sebenarnya gak mendadak sih, ibu kabarin aku udah seminggu yang lalu" terang Chia.

__ADS_1


"Oh oke, berapa lama disana?" tanya Dio lagi.


"Aku belum tahu pasti sih, mungkin tiga hari atau lebih" kata Chia.


"Oke salam buat ayah dan ibu ya, maaf aku gak bisa antar kamu, karena pekerjaanku masih menumpuk." Kata Dio.


"Gak apa kok, aku bisa pulang sendiri." Balas Chia.


"Hati-hati ya, nanti kabari aku lagi." Pinta Dio.


Teleponpun ditutup dan percakapan diakhiri dengan salam.


"Ya ampun, aku lupa sesuatu" kata Chia sambil menepuk jidat nya.


Chia mengabari Dio melalui pesan singkat bahwa ia ingin mengantarkan sesuatu.


Karena Dio tak juga membaca dan membalas pesannya nya, akhirnya Chia berinisiatif untuk pergi menemui Dio di kantor tempatnya bekerja.


Bermodal alamat perusahaan yang pernah dibagikan oleh Dio pada Chia, Chiapun segera menuju ke sana.


Dengan jasa ojek yang ditumpanginya, Chia telah samapai di kantor Dio.


"Ini pak ongkosnya, makasih banyak ya pak" Chia membayar jasa ojek.


"Sama-sama neng, kembaliannya neng!" kata tukang ojek sambil mberi kembalian.


"Wah makasih neng" senyum.


Chia mengangguk dan bergegas.


Perlahan Chia melangkah menuju ke ruang kerja Dio ,setelah sebelumnya bertanya pada bagian informasi.


Tiba di depan ruangan kerja Dio,


Chia megetuk pintu namun sepertinya tidak ada jawaban.


Seseorang melintas didepan Chia dan Chiapun bertanya, "Maaf mas mau tanya, pak Dio nya ada di dalam gak ya?" tanya Chia sopan.


"Oh masuk saja mbak, mungkin pak Dio sedang di toilet, makanya gak denger ketukan pintunya" Kata seseorang itu memberi tahu.


"Oke mas, maksih banyak ya" Ucap Chia.


"Sama-sama mbak." kata lelaki itu.


"Di.....o"


Tiba-tiba bibir Chia tertahan, lidahnya tak bisa berkata-kata.


Chia terkejut bukan main melihat Dio yang setengah telanjang, sedang becumbu dengan seorang wanita. Sepertinya Chia pernah melihat wanita itu. Ya, dia wanita yang tempo hari memaki dan menyiram Chiara dengan sebotol air.

__ADS_1


Betapa hancurnya perasaan dan hati Chiara, menyaksikan pemandangan yang mengotori matanya. Terlihat Dio dan wanita itu saling berbalas ciuman dan tidak menyadari kehadiran Chia disana.


Perasaan Chiara kacau, tidak percaya Dio melakukan hal menjijikan itu dengan wanita yang katanya hanya partner kerjanya.


Entah harus percaya atau tidak tapi semua itu telah jelas disaksikan oleh mata kepala Chia sendiri.


Tak ingin lebih lama menyaksikan semua itu, Chiapun beranjak keluar meninggalkan ruang kerja Dio.


Awalnya Chia bermaksud memberi hadiah itu,agar Dio tidak lupa waktu dan selalu ingat pada sang maha Cinta, yang dengan takdir-Nya telah mempertemukan mereka kembali setelah sekian lama terpisah tanpa kabar. Tapi kejadian memalukan itu, membuat Chia mengurungkan niatnya.


Dengan langkah kaki gamang, Chia berlari, matanya tak sanggup lagi menahan desakan bulir bening yang akan segera jatuh dan terbias membasahi pipinya.


"Tega ya" kata Chia bicara sendiri.


Setelah sampai di rumah kosnya, Chia pun berkemas menyiapkan apa saja yang akan ia bawa pulang ke desa.


Setelah semuanya rapi, Chia memutuskan untuk pulang hari itu juga tanpa menunggu keesokan harinya.


Masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Chiara merasa heran, mengapa laki-laki yang ia cintai harus berbohong.


Padahal andai kata Dio jujur rasanya itu lebih baik bagi Chia, karna Chia tak perlu banyak berharap dan merasakan patah hati.


Bukan tentang apa yang sudah Dio lakukan dengan wanita itu, tapi tentang kebohongan dan harapan palsu yang Dio berikan pada Chiara yang membuat Chiara semakin sakit.


Chia terus memikirkan apa yang menimpanya, bertanya-tanya mengapa secepat ini ia harus merasakan patah hati, padahal rasanya baru beberapa jam yang lalu ia merasakan kebahagiaan.


"Sesakit inikah patah hati?, ah tidak tidak, bukan patah, lebih tepatnya dikoyak dengan paksa sampai-sampai tak ada lagi yang tersisa." batin Chia meratap.


Sepanjang perjalanan menuju kampung halamannya, Chia lebih banyak diam melamun, sesekali ia melihat lagi hadiah yg semula akan diberikan pada Dio.


Chia tersenyum getir, ia merasa bodoh sudah mempercai semua omongan Dio.


Mungkinkah ini sebuah pertanda bahwa Chia harus mengakhiri hubungannya dengan Dio, dan menghapus semua rasa yang pernah ada.


Bahkan saat lamanya terpisah tanpa kabarpun, rasa itu tetap terjaga dengan baik, terkemas rapi dalam balutan rindu-rindu yang mengisi setiap ruang kosong dihatinya.


"Seringkali jari jemari ini menggenggam terlalu erat apa yang seharusnya dilepas, hingga akhirnya tanganku terluka oleh cengkraman ku sendiri!


Mungkin aku terlalu cepat merasa bahagia, atau mungkin rasa sakit itu yang terlalu cepat datang." Chia berkata-kata dalam hatinya.


Bersyukur, cinta kedua orangtua Chia selalu membersamai selama hidup Chia. Sehingga saat cinta yang lain mematahkan hati nya, cinta kedua orangtuanya tetap utuh tanpa cacat sedikitpun.


Hidup memang tak bisa ditentukan oleh keinginan, tapi kita masih punya pilihan untuk tetap merasa bahagia.


Jika tidak bisa memiliki apa yang kita cintai, maka cintailah apa yang kita miliki.


Ini hanya separuh dari perjalanan yang mungkin lebih panjang.


Patah hati itu manusiawi bukan?

__ADS_1


__ADS_2