
Episode 39
Harum semerbak melati, menghias sanggul pengantin muslimah, dalam balutan gaun putih yang khas, seorang gadis mengenakan serangkai melati sebagai hiasan, diatas kepalanya yang terbalut hijab.
"Cantik seperti orangnya." Kata seorang perias pengantin yang mendandani Bunga.
Bunga hanya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
Sementara dari ruangan lain terdengar, suara pengantin pria yang sedang mengucap janji untuk mengambil tanggung jawab yang besar, dengan menikahi putri dari seorang ayah.
Janji sakral pernikahan, yang ia ucapkan, bukan sekedar disaksikan oleh manusia semata, melainkan para malaikat yang turut hadir menyaksikan.
Pintu langit terbuka menembus Arsy, hingga doa apa saja akan mudah sampai kala itu.
"Sah" Kata semua saksi yang hadir.
Dio kini telah sah menjadi suami Bunga, dan mengambil alih peran ayahnya, untuk menjaga, mengayomi, dan tentu saja menjadi imam dsn pemimpin yang mampu bertanggung jawab penuh atas janji yang telah ia ikrarkan dalam ikatan suci pernikahan.
"Barakallahu Laka Wa Baarakaa Alaika Wa Jamaa Bainakumaa Fii Khoir."
Artinya: “Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal dan mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi).
Doa itu pun terlantun syahdu ketika ijab qabul telah selesai dilakukan.
Dan saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, dimana pengantin wanita dihadirkan dan dipersatukan dengan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.
Tak terasa air mata Dio terus menetes, membasahi pipinya. Sesekali ia tersenyum dalam tangisnya itu, menyambut bidadari syurga yang kini telah sah ia persunting menjadi istrinya.
"Ya Allah, kini taggung jawabku semakin besar, kuatkan pundakku ya Rab, luaskan ikhlasku, dan panjangkan lagi sabarku." Gumam Dio dalam batinnya.
Suasana harupun memenuhi ruangan itu, Dio menyentuh ubun-ubun sang istri sembari berdoa sesuai dengan tuntunan yang ada.
Saat pertama kali mata mereka bertemu tatap, Bunga pun tak sanggup menahan tangis bahagianya.
"Entah siapa dirimu sebelumnya, aku tidak tahu apalagi mengenalmu. Tapi kini kau adalah istriku, dan aku adalah suamimu." Kata Dio dalam hati.
Segenap tamu yang hadir pun turut hanyut dalam nuansa bahagia yang penuh haru tersebut.
"Selamat ya bro. Alhamdulillah, sekarang sudah gak jadi sad boy lagi." Ucap Hendra seraya memeluk Dio.
__ADS_1
"Makasih ya bro, lain kali hati-hati kalau ngomong. Soalnya kebanyakan omongan loe bener." Kata Dio sembari membalas pelukan sahabatnya itu.
Merekapun tertawa dan saling meledek.
"Kejutan." Kata Hendra.
Dio kaget bukan main, ternyata disana bibi dan paman Dio pun turut hadir menyaksikan pernikahannya. Dan ada tamu lain yang tak kalah mengejutkan Dio, yaitu Jamal dan Chia yang ternyata justru menjadi bagian dari tim sukses terlaksananya pernikahan Dio dan Bunga.
Tangis Dio semakin pecah, Dio bersimpuh dikaki paman dan bibinya seraya menyampaikan maaf yang dalam.
"Bibi, paman! Maafin Dio tidak pernah mengabari kalian. Dio merasa gagal untuk menjadi kebanggaan paman dan bibi." Ucap Dio sembari tersedu.
"Bangun nak, jangan bilang begitu sayang. Paman dan bibi sangat bahagia, bahkan jika hanya sekedar mengetahui kamu baik-baik saja." Kata paman.
"Nyaris seperti nabi Ya'qub yang buta karena sedih yang berkepanjangan akibat kepergian nabi Yusuf, begitulah keadaan bibi setelah kamu tinggal pergi nak." Kata bibi menyampaikan luka batinnya yang ditinggal pergi oleh Dio kala itu.
"Tapi sekarang, bahkan penyakit bibi yang lainpun sembuh, menyaksikan kamu bahagia dengan pengantinmu yang sangat ayu ini." lanjut bibi sembari mengusap pipi Bunga, yang sedari tadi masih menyimak drama keharuan suaminya dengan orang yang sudah Dio anggap sebagai orangtua kandungnya sendiri.
Bunga menyalami bibi dan paman Dio, tapi bibi menolak berjabatan tangan, ia justru memeluk erat Bunga sembari menciuminya bak mencium seorang balita.
"Jadilah syurga bagi suami dan keluargamu nak." Ucap bibi lirih
Kini giliran Jamal dan Chia yang memberikan selamat pada kedua pengantin baru itu.
Jamal memeluk Dio, begitupun Dio membalas pelukan Jamal. Sementara Chia saling berpelukan dengan Bunga.
"Kak Chia, makasih ya udah bantuin Bunga nyiapin semuanya." Kata Bunga yang masih mendekap Chia.
"Sama-sama cantik, jadi istri yang shalihah ya." Ucap Chia.
"Aku bahagia untuk kamu dan Bunga Dio, semoga kamu mampu mengemban amanah yang besar ini dengan baik." Kata Chia.
"Atas doa-doa yang baik juga, aku kini telah sampai dititik ini, makasih Chia, karena kamu tidak pernah membenciku." Ucap Dio.
"Bro makasih banyak ya sekali lagi, aku gak tau lagi harus bilang apa." Kata Dio pada Jamal.
Sebelum bersahabat dengan Dio, ternyata Hendra adalah sahabat Jamal saat Jamal tinggal di pondok pesantren pakdenya itu.
Selama ini Jamal sudah tahu bahwa Dio ada disana, dan dengan ketulusannya memperhatikan Dio, selama ini Jamal selalu bertukar kabar melalui Hendra dan menanyakan bagaimana keadaan Dio.
__ADS_1
Sebagai sesama laki-laki yang sempat jatuh cinta pada satu wanita yang sama, yaitu Chia yang kini telah resmi menjadi istri sah Jamal sejak hampir satu tahun lamanya.
Jamal mengerti bagaimana patahnya hati Dio, karena Chia telah menjatuhkan pilihan untuk hidup bersama Jamal.
Dengan segenap pengetahuan Jamal tentang cerita hidup Dio, rupanya diam-diam Jamal terus memantau Dio.
Lalu siapa Bunga?
Bunga adalah wanita yang sempat dijodohkan dengan Jamal, namun Jamal menolaknya karena hatinya telah jatuh pada Chia.
Semua yang terjadi dalam hidup, memang bukanlah sebuah kebetulan.
Bahkan jika harus sakit dan terluka, semua itu sudah ditentukan oleh-Nya.
Tak ada masalah yang terlalu besar bagi Allah, saat semua urusan dikembalikan pada-Nya, tentu dengan sekejap masalah yang sulit bagi manusia pun, akan sangat mudah bagi Allah untuk dijadikannya baik-baik saja.
"Bro, ini kado kecil-kecilan dariku dan istri. Semoga bisa bermanfaat." Jamal menyerahkan sebuah kotak.
"Wah bro, makasih lagi ya." Kata Jamal seraya menerima sebuah kotak kecil yang Jamal berikan.
Ternyata isinya adalah sebuah kunci sepeda motor, lengkap dengan STNK ( Surat Tanda Nomor Kendaraan ) dan BPKB ( Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor ).
Tentu saja Dio dan bunga sangat bahagia menerimanya.
Rencananya setelah ini Dio dan Bunga akan tetap tinggal di pondok pesantren untuk beberapa waktu, sebagai pengabdian dirinya pada sang guru yakni pakdenya Jamal atau yang mereka sebut pak Kyai.
Tanpa perhitungan, kue-kue yang tersedia dalam acarapun, ternyata disiapkan oleh Chia dari kedai kue Chia sendiri.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" Satu kalimat yang tepat untuk nikmat Allah yang tak henti-hentinya Dio dan Bunga terima.
Dengan tatapan malu-malu Dio dan bunga saling melemparkan senyuman.
"Bro, ini dari saya. Jangan dilihat isinya ya." Kata Hendra memberikan sebuah bingkisan kecil.
"Makasih bro, loe sahabat terbaik gue." Kata Dio.
Dua buah buku, yang berisi tentang fiqh pernikahan bagi laki-laki dan wanita.
Tanpa memperdulikan apapun isi hadiah yang Hendra berikan, yang jelas Dio akan menerimanya dengan sangat senang dan penuh syukur, mengingat selama ini, Hendra lah yang selalu ada menemani hari-hari Dio.
__ADS_1