
Episode 27
Nesa merasa kosong dan hampa, malam itu Nesa terus menangis didalam kamarnya hingga kedua matanya sembab.
"Kenapa? kenapa saat aku ingin menjadi orang yang lebih baik, justru dibuat patah sepatah-patahnya?" Nesa berteriak sendiri sambil meremas bantal yang ia gunakan untuk menutup wajahnya.
Nesa terus meratap, mengoceh dan memaki dirinya sendiri.
"Bodoh kamu Nesa bodoh" Maki Nesa menjambak rambutnya sendiri.
Sementar itu, setelah membuat hancur hati Nesa.
Dio berpamitan pada paman dan bibinya untuk pergi dari rumah, dan juga mengundurkan diri dari pekerjaannya. Meski awalnya paman dan bibi Dio keberatan dengan keputusan Dio yang tiba-tiba, namun pada akhirnya, mereka harus menerimanya juga.
Paman dan bibi sadar. Bahwa selama ini mereka terlalu memaksakan kehendak pada Dio, keponakan yang sudah mereka rawat sejak kecil.
"Bibi gak keberatan kalau kamu memang sudah yakin untuk keluar dari pekerjaan. Tapi kamu mau pergi kemana nak? Tanya bibi mengkhawatirkan Dio.
"Tenang aja bi, Dio sudah dewasa. Paman dan bibi tidak usah khawatir, Dio janji suatu saat, Dio pasti pulang ke sini lagi." Jawab Dio menenangkan bibinya.
Dengan berat hati, mereka melepas kepergian Dio.
Paman merangkul bibi yang sangat sedih dengan kepergian Dio dari rumah, selama ini mereka tidak memiliki anak, Sehingga menganggap Dio sudah seperti anak kandungnya sendiri.
Mata mereka terus tertuju pada setiap langkah kaki Dio. sampai Dio menghilang dari pandangan mereka.
"Sabar bu! Maklumi saja, namanya juga anak muda." Kata paman menghibur istrinya yang tengah galau.
Di ruang berbeda di rumah Chia dan Jamal;
"Kak, kabar Ari, Reno sama Tina dan yang lain sekarang gimana ya?" Tutur Chia yang sedang menikmati waktu santainya sembari tiduran dan menaruh kepalanya di pangkuan Jamal.
"Terakhir kakak denger sih. Reno sama Tina sudah lamaran dek." Jawab Jamal sambil membelai lembut rambut Chia yang tertutup kerudung.
"Serius ka?" Chia terkejut dan membelalakkan kedua matanya, masih dengan posisi berbaring.
"Serius lah masa kakak bohong." Balas Jamal.
"Bukan gitu kak, tapi kalau ingat mereka itu, aku jadi terkenang masa-masa kita dulu, waktu camping di Hutan Mahoni." terang Chia sembari tertawa geli, mengenang kejadian saat itu.
"Yang mana dek? yang kamu neriakin kakak buaya?" tebak Jamal.
__ADS_1
"Ih bukan yang itu kak." sangkal Chia.
"Terus yang mana dong?" tanya Jamal lagi.
"Yang kentut kak hahaha." tiba-tiba Chia tertawa dengan sangat lepas.
"Oh yang itu, iya kakak inget." timpal Jamal.
"Ngomong-ngomong, kok istri kakak seneng banget sih? sampai lepas gitu ketawanya hah."
Jamal menggoda Chia dengan menggelitikinya. Chia merasa geli dan terus tertawa.
"Kakak! ampun kak, geli banget hahaha." Chia meronta dan mencoba bangkit dan melarikan diri dari gelitikan Jamal.
Jamal mengejar Chia, dan terjadilah kejar-kejaran diantara mereka. Jamal menangkap Chia dan memeluknya.
"Kena kamu." Kata Jamal.
Gelak tawa dan kehangatan hadir diruangan itu. Jamal senang melihat tingkah gemas istrinya yang membuat Jamal semakin jatuh cinta pada Chia untuk kesekian kalinya.
Keesokan harinya. Saat Chia sedang menyiapkan bekal, untuk Jamal makan siang di tempat kerjanya, sesuai permintaan Jamal. Karena Jamal bertutur, bahwa dirinya rindu masakan istrinya setiap tiba waktu makan siang.
Akhirnya Chia berinisiatif untuk membuatkan bekal untuk Jamal bawa, supaya rasa rindunya pada masakan Chia siang nanti bisa terobati. Chia tidak mengetahui maksud sebenarnya dari Jamal. Jamal hanya ingin menciptakan suasan lebih harmonis saja dengan istrinya itu, dan dengan begitu, istrinya akan lebih bersemangat memasak setiap harinya.
"Kakak berangkat dulu ya sayang, nanti kalau kangen telepon aja." Jamal menggoda Chia dan mendaratkan ciuman di keningnya.
"Hati-hati ya kak, jangan lupa bekalnya dimakan." Ucap Chia.
"Pasti dong sayang." Jamalpun melajukan mobilnya dan berangkat kerja.
Chia kembali ke dalam rumah, untuk merapikan dapur dan mencuci piring kotor sisa sarapan dirinya dan Jamal.
"Permisi" Terdengar suara seseorang dari depan rumah Chia.
Chia menunda sejenak pekerjaannya, untuk melihat siapa yang datang.
Chia membuka pintu dan...!
"Hai" Sapa tamu yang ternyata adalah Nesa itu.
"Hey. mbak Nesa! Silakan masuk mbak, maaf rumahnya masih berantakan. Maklum belum sempat beres-beres, soalnya suami saya baru berangkat kerja." Tutur Chia sembari mempersilakan tamunya.
__ADS_1
Mendengar penuturan Chia dan sikap ramahnya, Nesa hanya menyunggingkan senyuman.
"Silakan duduk mbak Nesa. Oya mau minum apa? saya buatin teh hangat ya." Chia menawarkan.
"Oh iya, makasih ya." Nesa tersenyum.
Saat Chia ke dapur untuk membuatkan Nesa teh, mata Nesa tertuju pada sebuah bingkai foto, yang menempel di dinding ruang tamu Chia. Nesa pun bangkit dari duduknya dan beranjak agar dapat melihat lebih dekat potret siapa yang ada dalam foto itu.
Nesa berdiri dan matanya terpaku, memandangi foto sepasang pengantin yang sedang tersenyum dan tampak sangat bahagia itu.
"Itu saya dan suami saya mbak." Chia datang membawa minuman yang dibuatnya.
Nesa sedikit kaget dengan kehadiran Chia dibelakangnya. "Kalian serasi ya!" Ucap Nesa memberi pujian.
Chia hanya tersenyum dan mempersilakan Nesa untuk duduk dan minum teh buatan Chia.
Nesa menyeruput teh yang masih sedikit panas itu, dan menghirup wanginya.
"Hem. seger ya tehnya, kamu pinter juga buatnya." lagi-lagi Nesa memberi Chia pujian.
"Alhamdulillah kalau mbak suka. Sebenernya bukan saya yang pintar buatnya, tapi teh nya memang enak. Itu teh tubruk mbak, mangkanya seger. kalau teh celup saya gak begitu suka, hehe." Terang Chia sembari tertawa kecil.
"Oya, mbak Nesa dari mana? mau kesini kok gak kasih kabar dulu sih? Tadinya kan saya bisa siapin masakan dulu buat mbak Nesa." Tanya Chia.
"Makasih Chia. kamu baik banget sih, aku dari rumah, Sengaja pingin kesini aja." Terang Nesa.
"Boleh kan aku kesini? atau aku ganggu kamu gak ya?" Ujar Nesa khawatir kedatangannya membuat Chia terganggu.
"Boleh dong mbak. Sama sekali gak ganggu, Malah saya seneng ada teman ngobrol." Jawab Chia mereda kekhawatiran Nesa.
"Terbuat dari apa hati wanita ini? mengapa ia begitu baik padaku, seorang yang asing dan pernah menyakitinya. Tapi dia bisa bersikap seolah aku tidak pernah melakukan kesalahan pada dirinya." Gumam Nesa dalam hati.
"Mbak...mbak Nesa! kok malah bengong?" Ucap Chia sambil mengembalikan fokus Nesa dengan telapak tangan menyapu udara di depan wajah Nesa.
"Eh iya...hehe! aku lupa, Nih aku bawain kamu buah. tadi di jalan lewatin toko buah jadi aku beli aja." Tutur Nesa yang salah tingkah, sembari memberikan satu kantong berisi pir dan mangga.
"Wah jadi merepotkan. Makasih ya mbak, Ini buah pir kesukaan saya." Chia menerima dan meletakkan buah tangan yang dibawa Nesa untuknya.
"Sama-sama, Syukur dech kalau kamu suka." Timpal Nesa.
Sebenarnya Nesa datang ke rumah Chia bukan serta merta ingin main, ia datang dengan tujuan yang lain, yaitu menceritakan kejadian yang membuat sesak jiwanya.
__ADS_1
Nesa bingung kepada siapa ia harus bercerita, sementara ayah dan ibunya selalu sibuk dengan pekerjaannya.