
Episode 22
Dirumah barunya, Chia dan Jamal menghabiskan waktu dengan segala hal yang mungkin mereka lakukan.
Kedai kue Chiara ia serahkan pada istri pak Heru dan anaknya untuk diurus, menimbang beberapa bulan yang lalu ia tinggalkan ternyata mereka mampu mengurus dan menghandle semuanya dengan baik.
Jadi Chia sudah tak perlu repot lagi menjaga kedai, ia hanya perlu datang sesekali untuk mengontrol.
Sementara Jamal mulai bekerja di sebuah perusahaan milik pakde nya, yang bergerak dibidang panel dan mesin.
Pagi itu Chia tengah menyiapkan sarapan untuk Jamal yang hendak berangkat kerja, nasi goreng dengan telur mata sapi sudah tersaji di meja makan.
Jamal menyantap sarapannya dengan penuh syukur, sesekali ia menyuapkan makanan pada mulut istrinya. Jamal memang selalu begitu, ia seperti tak bisa melalui hari tanpa melakukan hal romantis pada Chia.
Setelah selesai sarapan Jamal berpamitan untuk berangkat kerja, Chia menyalami dan mencium tangan Jamal, dan Jamal meninggalkan kecupan dikening Chiara.
Jamal kini bisa berangkat kerja dengan membawa kendaraan sendiri, karena kantornya memang memberikan fasilitas kendaraan roda empat untuk Jamal.
Setelah Jamal pergi melajukan mobilnya, Chia menutup pintu garasi dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Belum sempat masuk, Chia dikejutkan dengan kedatangan dua orang laki-laki yang tidak dikenal.
Mereka berusaha menangkap Chia, namun Chia berhasil memberikan perlawanan dan segera berteriak meminta tolong. untung saja Chia menguasai seni bela diri! kalau tidak, entah apa yang akan terjadi.
Akhirnya kedua lelaki itu diamankan oleh petugas keamanan komplek yang langsung bertindak saat mengetahui hal itu.
Dari interogasi yang dilakukan petugas keamanan, kedua laki-laki itu melakukan aksinya atas perintah seseorang untuk membawa Chia pergi.
Chia yang tidak pernah merasa punya musuh atau membuat kesalahanpun merasa heran.
Kring kring...
Dering ponsel Chia berbunyi, sebuah panggilan masuk.
Chia mengangkat teleponnya!
"Halo Assalamu'alaykum" Ucap Chia.
terdengar jawaban dari seorang wanita di telepon itu.
"Halo gadis kampung, punya nyali juga ya kamu" Sambil tertawa sinis.
"Maaf siapa ya?!" tanya Chia menyelidik.
"Kamu gak perlu tahu siapa saya, tapi ya...saya punya urusan sama kamu!" wanita itu mendesis kesal.
"Maaf mbak, kalau memang ada urusan yang harus diselesaikan dengan saya, kenapa gak datang aja temuin saya" Jawab Chia sedikit kesal.
__ADS_1
Lagi-lagi Chia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak pernah memiliki musuh atau menyalahi hak orang lain.
"Oh berani ya, kamu nantangin saya?" maki wanita itu.
"Ya jelas berani dong mbak, orang saya gak pernah merasa punya salah sama mbak atau menyalahi hak mbak, gak jelas banget jadi orang" Chia mulai terpancing emosi.
"Dasar perempuan kampungan, tidak tahu diri, awas ya kamu"...Wanita itu terdengar semakin kesal dan terus memaki Chia.
"Kenapa mbak? kesel ya? kasian!" Ledek Chia.
Wanita itupun mematikan teleponnya.
Chia merasa geram, apa sebenarnya yang telah ia lakukan sampai harus mengalami teror semacam ini.
Chia melihat kontak di ponselnya bermaksud untuk memberi tahu Jamal, namun ia mengurungkan niat.
"Nanti saja cerita langsung sama kak Jamal" katanya bicara pada diri sendiri.
Chia menaruh gawai nya itu, dan membantingkan tubuhnya di sofa.
Dengan perasaan yang penuh tanya dan bingung, ia memainkan jari-jari tangannya sembari berpikir, siapa kira-kira yang meneror dirinya.
Di rumah Dio!
Dio sedang duduk menyandarkan tubuh di kepala tempat tidurnya, hari ini ia tidak masuk kerja dan meminta izin karena sedang tidak enak badan.
Seseorang mengetuk pintu kamar Dio.
Ya, tak lain dan tak bukan seseorang itu adalah Nesa, si gadis nekad yang selalu mengejar-ngejar Dio.
Nesa menanyakan ini dan itu pada Dio, seperti bagaimana keadaannya, sudah makan dan minum obat atau belum, dan hal lain.
Namun Dio tetap diam seribu bahasa, jangankan untuk menjawab, mendengar suaranya saja Dio merasa muak.
"Dio...emang apa sih lebih nya gadis kampungan itu dibanding aku?" Nesa meninggikan suaranya karena merasa kesal diabaikan oleh Dio.
"Denger ya perempuan laknat, jangan pernah menyebut namanya seperti itu, asal kamu tahu! kamu tidak sebanding dengan dia bahkan walau hanya seujung kuku! walaupun dia berasal dari desa, tapi etika nya jauh lebih baik dari pada kamu, dia jauh lebih baik dari segala hal." balas Dio tak kalah kesal.
"Oh jadi kamu bandingin aku?! oke fine, tunggu aja, aku gak akan biarkan kamu terus begini." Nesa masih terus bicara.
"Keluar!" kata Dio dengan nada tinggi dan mata yang memerah menahan amarah.
Nesa yang melihat Dio seperti itu merasa sedikit takut, meski sebenarnya ia sudah biasa dengan penolakkan dari Dio, namun kali ini Dio terlihat benar-benar marah.
Akhirnya Nesa mencari aman, dan keluar meninggalkan Dio yang sedang dirundung emosi.
"Aaarrrrghhh..." Dio memekik dan menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Nesa berlari ke mobil dan masuk sambil berlinang air mata, ia memegangi setir sambil memukul-mukulkan tangan nya.
"Diorana...berani-beraninya kamu meninggikan suara sama aku" ucapnya dengan bibir bergetar penuh amarah.
"Lihat aja, aku gak akan biarin kamu lolos dari aku." Ancam Nesa mengomel sendiri.
Nesapun pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Waktu bergulir meninggalkan siang menuju petang.
Jamal pulang bekerja dan disambut dengan senyuman oleh Chia. rasa lelah Jamal seketika hilang melihat senyuman terbaik dari bidadarinya.
Chia tak berkata apapun hanya menyiapkan secangkir kopi dan beberapa potong kue produksi kedai kue nya.
"Diminum kak kopi nya, Oya tadi aku minta tolong pak Heru untuk ambilin beberapa kue di kedai. kamu cobain ya, ada dua macam yang paling baru...yang ini dan ini" kata Chia menunjukkan potongan kue pada Jamal.
"Makasih ya sayang, pasti enak banget" kata Jamal sembari tersenyum.
"Gimana hari kamu, ada cerita apa?" Sambil meneguk kopi dan mengamb sepotong kue, Jamal membuka obrolan dengan istrinya, setiap hari Jamal memang selalu berusaha mengobrol, dengan begitu ia berharap Chia bisa menceritakan apapun yang ingin Chia katakan...supaya tidak memendam uneg-uneg.
Chia menarik napas dalam....
"Sebenernya ada yang mau aku ceritain sama kakak, tapi pasti kakak masih capek! kan baru pulang kerja" Ucap Chia.
"Mau cerita apa sayang? cerita aja gak apa, lihat istri kakak yang cantik udah cukup kok buat ngilangin rasa capek kakak." seperti biasa, jawaban Jamal selalu membuat Chia lega dan merasa paling dicintai.
Chia menceritakan semua yang terjadi dipagi hari tadi. saking kesalnya gak terasa Chia bercerita sambil menangis.
Jamal yang menyimak cerita Chia dengan seksama mencoba menenangkan istrinya itu dengan memeluk dan mengecup keningnya.
Jamal membiarkan istrinya itu meluapkan emosinya tanpa banyak bicara, setelah dirasa Chia sudah cukup lega, barulah Jamal bicara.
"Untung istri kakak jago bela diri ya." goda Jamal mencairkan suasana.
Chia pun tertawa kecil!
" Mulai sekarang, kalau ada apa-apa langsung kabarin kakak ya, jangan tunggu sampai kakak pulang dulu." pinta Jamal.
'Iya kak"...Chia mengangguk.
"Kakak janji gak akan biarin sesuatu yang buruk terjadi sama kamu" lanjut Jamal menenangkan Chia.
"Makasih ya kak" Chia mengeratkan pelukannya pada Jamal.
Kedewasaan Jamal, cinta dan kasih sayang serta ketulusannya, perlahan-lahan mampu membuat Chia sungguh-sungguh jatuh cinta.
Meski awalnya Chia hanya sekedar melakukan kewajibannya, namun sikap baik, perlakuan lembut dan penuh perhatian Jamal pada Chia, berhasil menumbuhkan butir-butir cinta di hati Chia.
__ADS_1
Seharum melati pengantin diujung harapan seoarang lelaki yang mendamba cinta, akhirnya cinta Jamal pada Chia bak dayung bersambut.
"Jangan sedih lagi ya, nanti hati kakak bisa hancur." Kata Jamal memeluk dan membelai istri yang sangat ia cintai itu.