
Episode 37
Hujan kala itu, menemani jerit tangis dan pilu, yang menghujam dengan keras pada diri seorang hamba.
Pedih menguliti rasa hatinya, Nesa tak kuasa menahan kesedihannya. Sambil bercermin, sesekali Nesa tersenyum, tertawa, menangis bahkan bicara sendiri.
Tok tok tok!
Suara pintu kamar Nesa diketuk, dari mulai pelan hingga berbunyi dengan sangat nyaring. Namun tak sepatah katapun Nesa menjawab atau membukakan pintu kamarnya.
"Nesa sayang! Buka pintunya nak, kamu belum makan lho." Seru seorang wanita paruh baya, yang merupakan mama dari Nesa.
Untuk beberapa kali mamanya Nesa memanggil dan membujuk anak semata wayangnya itu untuk makan, atau setidaknya membuka pintu.
Karena tak juga mendapat respon apapun dari Nesa, mama Nesa segera memanggil papa Nesa, kemudian mau tidak mau mereka harus mendobrak pintu kamar Nesa, untuk mengetahui dan memastikan keadaan anaknya itu.
Mama Nesa terlihat sangat panik, sementara papanya terus berusaha mendobrak pintu kamar Nesa.
Sampai akhirnya papa Nesa berhasil membuka pintu kamar Nesa itu.
Mereka terkejut melihat anaknya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Dengan wajah pucat pasih, rambut yang acak-acakan, serta tatapan mata yang kosong, Nesa meracau tak jelas.
Mama dan papa Nesa saling menatap, mereka tak pernah menyangka anak yang begitu mereka banggakan akan menjadi seperti ini.
"Sayang ini mama dan papa nak. Kamu ingat kan nak?" Ucap mama Nesa lirih sembari mengusap bahu anaknya itu dengan lembut.
Namun Nesa hanya menatap mamanya dengan mata penuh kebencian.
"Sayang, mama dan papa minta maaf ya nak. Mama tahu selama ini mama dan papa gak pernah ada untuk kamu. Tapi tolong ngerti nak, semua ini kami lakukan demi menjamin kebahagiaan kamu." Lanjut mama Nesa yang tersedu menahan tangis.
Kata-kata mama Nesa itu hanya membuat Nesa semakin meradang, Nesa yang semula hanya terdiam bagai patung, kini mulai bereaksi.
Nesa membanting benda apapun yang ada dihadapannya, termasuk memporak-porandakan kosmetik yang ada di meja riasnya.
"Kalian semua jahat! Aku benci kalian." Kata Nesa dengan amarah yang sangat menggebu.
__ADS_1
Mama dan papa Nesa merasa sangat hancur menyaksikan semua itu. Namun mereka tak bisa berbuat banyak.
Kedua orangtua Nesa pun menyadari, selama ini mereka hanya memanjakan anaknya itu dengan uang dan berbagai fasilitas yang ada, namun mereka lupa, bahwa sebenarnya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama anaknya itu adalah hal yang jarang bahkan hampir tidak pernah mereka lakukan.
Selama ini mereka hanya mementingkan sederet bisnis dan pekerjaan mereka saja, meski mereka selalu menuruti permintaan Nesa dalam bentuk materi, namun dalam hal kasih sayang dan perhatian yang utuh untuk Nesa, sangat kurang mereka hadirkan.
Sehingga sejak dulu Nesa selalu menjadi anak yang egois dan selalu memaksakan kehendak.
Kini kedua orangtua Nesa itu hanya bisa berharap, bahwa waktu masih belum terlambat untuk mereka mencurahkan kasih sayang yang tak pernah mereka berikan pada Nesa.
Meski mungkin prosesnya akan sangat sulit, namun mereka akan terus berusaha, sampai kebahagiaan akan kembali pada hidup Nesa.
Meski keadaan jiwa Nesa kini tidak stabil, namun kedua orangtuanya memilih untuk tetap merawat Nesa di rumah saja, hanya sesekali mendatangkan seorang dokter, psikolog atau psikiater untuk mengontrol keadaan Nesa.
Semua itu mereka lakukan demi menebus waktu yang terbuang tanpa memperhatikan anaknya.
Melihat keadaan didalam rumah Chia dan Jamal.
"Kakak!" Teriak Chia dengan keras dari dalam kamar mandi.
"Sayang! Kamu kenapa?" Tanya Jamal panik, sembari menggedor pintu kamar mandi.
"Hehe, aku lupa bawa handuk." Jawab Chia polos, sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
"Ya Allah sayang, kamu bikin kakak panik aja." Ucap Jamal seraya mengelus dada.
Jamal mengambilkan handuk untuk Chia, kemudian Jamal kembali sibuk dengan ponselnya. Namun baru beberapa saat Jamal pergi, Nesa langsung berteriak memanggil Jamal lagi.
"Kakak!" Kata Chia dengan lantang.
"Apalagi sih sayang? Kan handuknya udah kakak ambilin." Jawab Jamal sembari tetap fokus pada layar ponselnya.
"Aku gak mau ya, sekarang perhatian kakak untuk aku mulai terbagi!" Tutur Chia menggerutu manja.
"Astaghfirullah, kakak minta maaf ya sayang, kakak sampe lupa meehatiin kamu." Jamal menghampiri Chia dan langsung menaruh ponselnya.
__ADS_1
Chia tersenyum melihat suaminya yang merasa bersalah. Sebenarnya Chia mengetahui bahwa Jamal memang tengah sibuk dengan pekerjaannya, tapi bukan Chia namanya bila tidak usil.
Jamal mendaratkan kecupan dikening istrinya itu, kemudian membopong Chia.
"Manja banget istri kakak, udah mulai berani protes ya sekarang." Kata Jamal sembari menggelitiki Chia.
Gelak tawa pun terdengar dari mulut Chia dan Jamal.
Perasaan itu terkadang sangat rumit, meski tampaknya sangat sederhana.
Terkadang cinta datang tanpa menyakan tempat, dan pergi tanpa menanyakan jalan.
Meski begitu, tak semua orang bisa dengan mudah menerima kehadiran seseorang dalam hidupnya.
Meski cinta begitu mudah hadir pada Jamal dan Chia, namun tak begitu pada Dio yang tak juga menerima kehadiran Nesa begitu saja dalam hidupnya.
Seperti terjebak dalam sebuah perangkap, kemudian terlepas dan mendapat kebebasan. Mungkin keadaan itu yang sempat Dio alami. Nasib baik bagi Dio karena ia kini bisa terlepas dari obsesi cinta Nesa.
Sayangnya, hal berat lain datang pada Dio, yakni belum juga dapat berpindah ke lain hati. Hanya Chia saja, wanita yang selalu bertenggeng dalam ingatan Dio.
Bagai sebuah pohon yang sudah berakar kokoh, dengan dahan dan ranting yang tak mudah dipatahkan, saat ini seorang insan disiksa rasa cinta pada seseorang yang bukan untuknya.
Merasa tak seberuntung Jamal, namun Dio lebih memilih doa sebagai obat rindu pada pujaan hatinya, berbeda dengan Nesa, yang tak pernah lelah melawan takdir. Iri hati, dengki dan nafsu selalu menguasai akal sehatnya.
Dalam hidup ini, tentu saja tak ada orang yang memilih untuk tak bahagia dalam takdir hidupnya.
Meski sebenarnya, semua itu hanya tentang bagaimana setiap orang menerima apapun yang datang dan bagaimana melepas apapun yang harus pergi darinya.
Agar tak lelah hati memaksa, agar tak teriris perih dijiwa, agar tak sebak rasa didada.
Kembalikan pada-Nya segala urusan yang tak mampu kita selesaikan, karena hanya kepada-Nya lah segala urusan dikembalikan.
Menghambakan diri pada sang maha kuasa, tentu lebih tepat ketimbang menjadi hamba nafsu semata.
Malam menjelang, Jamal dan Chia tampak masih betah duduk berlama-lama dalam berdoa dan bertasbih kepada-Nya.
__ADS_1
Dan entah mengapa, rasanya Chia selalu jatuh cinta lagi pada Jamal , setiap kali melihat Jamal sedang berdoa.